oleh

Upaya Pencegahan Kasus Korupsi di Indonesia

Oleh: Veronika Da Silva Tate

(Mahasiswa Semester VI Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undana Kupang)

==========================

 

Korupsi di Indonesia

Kasus korupsi hingga saat ini masih sering terjadi di Indonesia. Kerugian negara akibat korupsi mencapai triliunan rupiah. Modus yang digunakan oleh koruptor pun berbagai macam. Mulai dari kalangan masyarakat biasa, media massa menyoroti persoalan ini.

Koruptor atau pelaku korupsi bisa menjerat siapa saja dengan berbagai latar belakang status sosial. Kasus korupsi terjadi dari hal yang paling sederhana sampai yang lebih kompleks.

Untuk mengetahui mengapa bisa terjadi korupsi kita harus memahami apa sebenarnya korupsi itu sendiri. Korupsi merupakan penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara untuk keuntungan pribadi atau orang lain atau suatu korporasi. Sejatinya perilaku konsumtif masyarakat dan sistem politik yang berfokus ke materi, memicu  penyebab terjadinya korupsi.

Secara umum korupsi terjadi karena adanya faktor kekuasaan dan monopoli yang tidak dibarengi dengan akuntabilitas. Adapun juga terjadinya korupsi karena adanya kesempatan (Opportunity) pada faktor kesempatan ini berkaitan dengan kesempatan untuk melakukan kecurangan, Kebutuhan (Needs) pada faktor kebutuhan ini  berkaitan erat dengan individu untuk menunjang kehidupan yang wajar, dan pengungkapan (Ekspose) faktor pengungkapan ini berkaitan dengan tindakan atau konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku ditemukan melakukan kecurangan.

Penyebab Korupsi

Menurut saya terjadinya korupsi dapat di lihat dari dua sisi yaitu sisi internal dan sisi eksternal. Faktor internal merupakan faktor penyebab terjadinya korupsi, yang berasal dari dalam diri pribadi seseorang. Seperti sifat tamak atau rakus. Tamak adalah sifat manusia yang selalu merasa kurang dengan apa yang telah dimiliki, atau bisa pula disebut kurangnya rasa bersyukur.

Orang tamak memiliki hasrat untuk menambah harta dan kekayaan dengan melakukan tindakan yang merugikan orang lain seperti korupsi. Moral yang tidak kuat, orang yang tidak memiliki moral kuat, tentunya akan mudah tergoda untuk melakukan korupsi.

Ketika seseorang memang sudah tidak memiliki moral yang kuat, atau kurang konsisten bisa tergoda dengan mudah. Banyak pengaruh dari luar yang masuk dalam dirinya. Selain itu gaya hidup yang konsumtif.

Seperti yang kita ketahui, manusia kerap kali ingin memenuhi keinginannya yang terbatas. Gaya hidup secara berlebihan, tentu menjadi salah satu penyebab terjadinya korupsi. Saat seseorang memiliki gaya hidup yang konsumtif dan pendapatan yang lebih kecil dari konsumsinya tersebut, maka hal ini akan terjadi korupsi.

Selain faktor internal, ada faktor eksternal. Faktor ini lebih condong terhadap pengaruh dari luar. Misalnya sikap masyarakat terhadap korupsi. Penyebab terjadinya korupsi dari sisi eksternal ini ialah saat nilai-nilai di masyarakat itu kondusif untuk terjadinya korupsi.

Masyarakat tidak menyadari, bahwa yang paling rugi atau korban utama dari adanya korupsi adalah mereka sendiri. Masyarakat menganggap bahwa korban yang mengalami kerugian akibat terjadinya korupsi adalah negara, padahal sebaliknya justru kerugian terbesar dialami adalah masyarakat sendiri.

Contoh, akibat korupsi anggaran pembangunan transportasi umum terbatas masyarakat juga rugi besar padahal sudah patuh membayar pajak. Ekonomi, penyebab terjadinya korupsi dilihat dari aspek ekonomi. Kita dapat mengetahui pada aspek ini lebih diprioritaskan pada pendapatan seseorang. Pendapatan yang dinilai tidak mencukupi, bisa menyebabkan terjadinya korupsi dilakukan seseorang.

Politis, penyebab terjadinya korupsi karena kepentingan politik serta kehausan, ingin meraih dan mempertahankan jabatan. Dalam aspek politik ini bisa membentuk rantai-rantai korupsi yang tak  terputus dari seseorang kepada orang lainnya.

Organisasi, penyebab terjadinya korupsi dari aspek organisasi, terjadi karena kurang adanya sikap keteladanan pemimpin, tidak adanaya kultur budaya organisasi yang benar ,kurang memadainya sistem akuntabilitas, kelemahan sistem pengendalian manajemen.

Faktor hukum, hukum bisa menjadi faktor terjadinya korupsi dilihat dari dua sisi, disatu sisi dari aspek perundang-undangan, dan disisi lain dari lemahnya penegak hukum.

Hal lain yang menjadikan hukum sebagai sarana korupsi adalah tidak baiknya substansi hukum, mudah ditemukan aturan-aturan yang diskriminatif dan tidak adil, rumusan yang tidak jelas dan tegas sehingga menimbulkan multi tafsir, serta terjadinya kontradiksi dan overlapping dengan aturan lain.

Inti kedua faktor di atas adalah korupsi terjadi karena orang tamak memiliki hasrat untuk menambah harta dan kekayaan dengan melakukan tindakan yang merugikan orang lain seperti korupsi. Orang yang tidak memiliki moral kuat, tentunya akan mudah tergoda untuk melakukan korupsi.

Solusi Cegah Korupsi

Menurut saya, mencegah korupsi adalah suatu pekerjaan yang berat untuk dilakukan, memberantas korupsi harus dilakukan secara bersama-sama dan membutuhkan komitmen nyata dari pimpinan tertinggi, selain itu strategi pencegahan korupsi diperlukan agar bahaya korupsi dapat ditanggulangi dan celahnya dapat ditutup.

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi korupsi yaitu:

Pertama, membangun supermasi hukum dengan kuat. Saat hukum tidak sanggup lagi menegakan sendi-sendi keadilan, maka runtuhlah kepercayaan publik pada institusi ini. Ketidakjelasan kinerja para penegak hukum akan memberi ruang pada koruptor membuat berkembang dengan leluasa.

Pendidikan Anti Korupsi

Upaya pemberantasan korupsi melalui jalur pendidikan harus dilaksanakan, karena tidak bisa dipungkiri kalau pendidikan merupakan wahana yang sangat strategis buat membina generasi muda supaya menanamkan nilai-nilai kehidupan termasuk anti korupsi.

Hukuman Berat

Memberikan hukuman bagi koruptor akan memunculkan efek jera, hal ini dapat menjadi pelajaran bagi seluruh kalangan agar tidak melakukan hal yang serupa. (*)

Komentar

News Feed