oleh

Mawar, Engkau Tahu, Aku Mencintainya Tapi Aku Juga Mencintai Panggilanku

-Religi, Sastra-450 views

Oleh : Yuventus Falo

=============================

           

Aku kembali terdiam, mengenang setangkai senyum cintanya yang elok. Bibirnya menyimpan sejuta cerita tentang cinta yang tak pernah terbantai sepi.

“Sampai kapan aku meredam rasa ini dalam kesepian bathinku? Aku ingin membelai rambutnya yang semampai dan mengambil segenggam senyum untuk menemani kesepianku di pondok ini”   janjiku pada rembulan malam itu. Tetapi desahan angin merintih. Seolah menyindir senyumku. Aku dilema bintang pun mulai mengintip.

“Aku salah jatuh cinta?”Tanyaku pada bintang. Dia diam. Aku berontak dalam diam. “Apa cintaku tak sesuci air zam-zam dan sebening embun seperti seorang pria di lorong kebisingan itu? Dia diam dan aku pun menatapnya lama.

Aku terhanyut dalam lamunan yang membuat aku terpaku diam. Aku bangkit dari kepedihan hatiku. Bathinku tiba-tiba menghukum aku dalam rasa bersalah. Aku baru tersadar bahwa sebulan lagi aku harus mengikrarkan kaul perdanaku. Tapi bagaimana dengan cintanya? Tanyaku pada diriku. Aku juga mencintainya. Sebab aku pernah memetik setangkai senyumnya. Dan sungguh dialah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Aku tahu dia pasti tersiksa dalam duri-duri kerinduan kepadaku. Walaupun dia tak jujur menyatakannya. Tapi bola matanya menulis sebait namaku. Dan Yesus yang sering aku cari setiap hari belum pernah tersenyum padaku. “Apakah dia mencintaiku, seperti aku mencintai makluk sempurna itu? Aku terus menyesaki diri dalam aneka pertanyaan.

Belum lama ketika aku menerima jubah kebiaraan, cintanya datang menemui sahabatku. Pertemuan itu harus membuatku mengisi teka-teki tentang cintanya dan panggilanku. Aku sulit mengisinya dalam kesendirian. Aku memiliki jubah putih. Apakah aku harus mencintai Tuhan atau cinta makhluk sempurna itu dengan setulus hatiku? Pertanyaan itu selalu membayang dekat. Aku tak bisa mengabdi dua tuan.”

Aku masih meraih setangkai mawar di kolam itu. Aku pun berbisik padanya, Mawar, engkau tahu, aku mencintainya tapi aku juga mencintai panggilanku. Sebulan lagi aku harus mengikrarkan kaul. Ke mana aku harus berlabuh? Mawarku diam. Bola matanya menggelinding tak terarah , tatkala medengar pertanyaanku yang dilematis. Mungkin ini padang gurun panggilanku, seutas kata-kata peneguhan untuk diriku sendiri. “Tapi apakah harus menjalaninya selama 40 tahun seperti bangsa terpilih itu?”

Aku masih sendiri melewati malam ini. Hanya kolam dan setangkai mawar yang mengerti nada-nada cintaku. Lalu setangkai mawar itu memeluk tanganku dan berbisik : Cristian, hidup itu pilihan. Memilih di antara pilihan itulah jalan hidup. Terkadang kita berhadapan dengan situasi sulit yang sulit. Tanyakan pada dirimu apakah cintanya ataukah panggilan Tuhan yang ada di pondok ini? Hidup tak seindah senyum juga tak sepahit amarah. Kalau engkau tantang dalam hidup, engkau bukanlah emas yang murni. Bila mawar tak berduri, dia bukanlah setangkai bunga. Bila pilihan tanpa tantangan itu bukanlah impian.  Hatiku luluh mendengar bisikan mawar itu. Aku pun segera berlari mengejar Salib di ujung pondokku dengan setetes air mata yang tersisa. Aku harus pergi mengejar Salib itu. (*)

Komentar

News Feed