oleh

Setiap Kali Badai Menghantam, Alor Selalu Bangkit, Belajar dari Kepahitan yang Dalam

“Hari pertama sejak tiba di atas “Tanah Kenari-Seribu Moko”, saya menuju ke Bukapiting, kota kecil di timur Alor, yang beberapa wilayah pedesaannya di pesisir sungai habis tersapu banjir. Sebuah perkampungan yang cukup padat yang saya kunjungi, Maipiting, nyaris tak ada rumah yang selamat dari terjangan banjir.”

 [Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage]

======================

ALOR, suludesa.com | Bencana itu datang dua pekan lalu, persis pada Hari Raya Paskah,hari umat Kristiani mengenang kebangkitan Isa Almasih. Tepat sepekan pasca bencana, saya tiba di Alor. Dan kota itu, tampak baru pulih dengan sisa kepiluhan yang menggunung.

Di banyak tempat yang saya singgahi, cerita tentang badai yang mengamuk itu masih tergambar jelas, lengkap dengan pengalaman masing-masing yang mengharu biru.

Saya mendengar saat hari bencana datang, di beberapa penjuru, kondisinya nyaris hancur lebur, situasi yang sebetulnya tidak jauh berbeda dengan kondisi di Kupang, tempat tinggal saya, atau di beberapa tempat lain di Povinsi Nusa Tenggara Timur.

Sisa-sisa sampah yang terbawa arus banjir di beberapa titik masih terlihat, juga beberapa infrastrukur publik yang nyaris ambruk berkeping terpampang di depan mata.

Seorang rekan perawat, Linda, rumahnya yang persis di bibir kali di sudut Ibu Kota Kalabahi, sebagian halaman rumahnya hilang disapu banjir, sepertiga badan rumah nyaris ambruk. Ia tak akan mungkin menempati rumah yang ia bangun dengan keringat dan darah itu lagi.

Rekan perawat lainnya, Made, di daerah Lembur, dua jam dari pusat Kota kalabahi, setengah rumahnya roboh tertimpa pohon besar, kira-kira dua kali pelukan orang dewasa.

Ketika saya tiba, Linda sedang mengungsi ke rumah kerabatnya dengan perabot rumah yang berserakan, sedangkan Made dan keluarganya sedang berupaya menata ulang rumahnya.

Saya khawatir bahwa kelak tak ada yang benar-benar pulih dari akibat buruk badai ini, dan sebuah perasaan aneh menyergap saya.

Cerita tentang kematian massal di beberapa titik terparah akibat sapuan badai, juga kisah hancurnya harta benda, boleh jadi membuat siapa saja yang masih hidup dan berdiri di antara jenazah kerabat yang kaku dan puing-puing tempat tinggal, akan melihatnya sebagai kenyataan yang mendadak “normal”, dan justru menjadi hidup adalah “tak normal”.

Hari pertama sejak tiba di atas “Tanah Kenari-Seribu Moko”, saya menuju ke Bukapiting, kota kecil di timur Alor, yang beberapa wilayah pedesaannya di pesisir sungai habis tersapu banjir. Sebuah perkampungan yang cukup padat yang saya kunjungi, Maipiting, nyaris tak ada rumah yang selamat dari terjangan banjir.

Sisa endapan lumpur, air yang keruh, debu yang berterbangan, batu, dan pepohonan mati masih berserak dan merendami rumah warga.

Posko yang didirikan untuk menerima para donator dibangun seadanya, dengan barang yang menumpuk akibat data korban dan protap penanganan bencana yang simpang siur.

“Kami kesulitan merelokasi warga pada satu titik kumpul, ancaman penularan COVID-19 bisa naik berkali lipat, jika kita paksakan untuk mengumpulkan masyarakat pada satu wilayah pengungsian, seorang pegawai Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) bercerita kepada saya soal kesulitan menerapkan upaya mitigasi bencana.

Melihat kondisi yang ada, saya membayangkan tempat ini akan menjadi sarang penyakit karena sanitasi yang buruk juga stressor lingkungan yang tinggi.

Ancaman penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), malaria, demam berdarah, diare atau bahkan yang lebih buruk, masalah gangguan jiwa akan menjadi bencana kedua yang menyerang masyarakat jika upaya mitigasi tidak dilakukan dengan serius dan komprehensif.

Keadaan serba darurat, dan saya berada dalam keadaan “tak normal”, hidup menjadi aneh di tengah kematian dan kehilangan lalu apa yang harus ditakutkan?

Saya melihat seorang lelaki di Mainang, duduk di sudut dengan tatapan kosong, menjauh dari kerumunan ketika musyawarah masyarakat sedang berlangsung, belakangan saya tahu dia kehilangan anaknya dan bertengkar hebat dengan istrinya karena gagal menolong anaknya dari timbunan longsor. Dia jelas sedang berada dalam kondisi psikologis yang buruk.

Di posko bencana Malaipea, tak jauh dari Mainang, tempat yang saya kunjungi di hari kedua, saya bertemu Eliazar Mabilehi, yang rumahnya hancur, ia menceritakan segalanya dengan terbata-bata.

Tak pernah terbayangkan: rumahnya musnah! Sebulan lalu ia masih bisa tidur nyenyak. Kini tinggal selembar seng yang menuding langit. Seluruh bagian rumah hilang terkubur longsoran tanah yang runtuh dari bukit di dekat rumahnya.

Di pekarangan, tak ada lagi taman kesayangan istri. Bunga suplir, anyelir, dan rumput jepang yang dulu hijau subur itu kini tumpas.

Dari pelbagai penjuru, gunungan tanah dan sampah kayu seperti berebut masuk ke pemukiman warga. Padang lumpur membenamkan puing dan reruntuhan. Jalan dan lorong-lorong kampung lenyap. Semua korban seperti mendadak kehilangan ruang. Dan juga sejarah.

Bencana itu sudah hampir dua pekan berlalu. Tapi ada cerita yang tersiar mayat di beberapa kampung yang tersapu banjir dan longsor belum bisa ditemukan. Di lini masa, kita melihat kisah tentang orang terpaksa menggotong ibu hamil ke Puskesmas karena akses jalan bagi kendaraan remuk tak berbekas.

Sejauh mata memandang, perkampungan lain bernasib sama. Air menyeret semua benda hidup dan mati, lalu melemparnya ke segala arah, di atas perkampungan. Di Pantar, wilayah yang terpisah dari Alor daratan orang-orang bercerita, banjir batu melindas semua hal yang ia lewati hingga semua tandas tak bersisa. Kampung padat mendadak lenyap dari peta. Tumpukan material hanyut hingga menghilang ke laut lepas.

Di depan warga yang datang untuk menerima bantuan yang kami bawa, saya tercenung. Mereka mengucap terima kasih dengan terbata dan mata berkaca ketika paket sembako dan uang tunai kami berikan.

Jumlahnya tidak besar memang, tetapi mereka mengatakan baru kali ini mereka dikumpulkan dan dipanggil untuk menerima bantuan, mereka merasa didengarkan.

Terima kasih khusus untuk semua donatur yang membantu: Dewan Pimpinan Wilayah Persatuan Perawat Nasional Indonesia Provinsi NTT, Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kabupaten Alor, Masyarakat diaspora Indonesia Kuwait, Tupperware, Sophie Martin, Yayasan Arnoldus Wea dan semua orang per orang yang tak bisa disebutkan yang telah memberikan bantuan.

Kisah tentang badai bencana adalah cerita yang menyejarah sejak berdirinya Alor. Tentang kerjaan kuno Munaseli yang mengirim lebah ke Abui, sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli hingga kisah tentang gempa Alor yang memakan banyak korban jiwa dan harta benda satu dekade lalu.

Namun, setiap kali badai menghantam dan merusak banyak hal, semua selalu kembali pulih. Alor selalu bangkit, selalu ada ruang untuk belajar dari kepahitan yang dalam.

Tentang bencana dan kepiluan yang menyertai, saya teringat akan pesan Samuel Amkay, pria tua di Maipiting:“Tak ada kesedihan yang Tuhan ciptakan dengan sempurna, ada ruang lain yang Tuhan sisahkan untuk kita untuk belajar dari setiap musibah yang datang, agar kita bisa semakin kuat dan tegar memikul penderitaan”.

Terima kasih Alor untuk semua pelajaran yang bisa kami pelajari, lebih-lebih soal pelajaran mengenai ketegaran dan bangkit dari keterpurukan. (*)

Komentar

News Feed