oleh

Perayaan Kamis Putih di Kapela Bimoku, Umat Diajak Saling Membasuh Kaki

KUPANG, suluhdesa.com | Ratusan umat Katolik di Kapela Hati Kudus Yesus (HKY) Bimoku, Paroki Santo Yoseph Pekerja Penfui di Keuskupan Agung Kupang, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur merayakan Ekaristi Kamis Putih, Kamis (01/04/2021) Pukul 18.00 Wita. Perayaan Kamis Putih ini dipimpin oleh RD John Subani dengan protokol kesehatan yang ketat.

RD John Subani yang merupakan Dekan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ini membawakan pesan Injil yang sangat menyentuh.

Kotbah Kamis Putih ini direfleksikan RD John Subani dari bacaan-bacaan kitab suci sesuai dengan penanggalan liturgi Katolik untuk perayaan Kamis Putih tahun 2021.

Bacaan pertama diambil dari Kitab Keluaran 12:1-8.11-14. Bacaan kedua dari 1 Korintus 11:23-26. Sedangkan bacaan Injil dari Yohanes 13:1-15.

Pantauan Media SULUH DESA, tema kotbah ini adalah bukti cinta, pelayanan tanpa pamrih.

“Hari ini kita mengawali tiga hari suci paskah Kristus. Paskah di mata orang Yahudi adalah suatu perayaan dan juga suatu tanda bahwa Allah tetap membimbing dan membebaskan umat-Nya. Paskah yang dirayakan setiap tahun adalah suatu peristiwa syukur atas pembebasan yang telah dilakukan Allah kepada umat-Nya. Israel mengucap syukur atas karya agung Allah yang membebaskan mereka dari perbudakan Mesir (Ul.16:1-3),” kata RD John Subani.

Dosen Kitab Hukum Kanonik ini menegaskan, malam menjelang keberangkatan, umat Israel merayakan paskah menurut tata cara yang disampaikan Allah kepada Musa.

Makanan paskah adalah roti tak beragi, daging anak domba yang dipanggang dan sayuran pahit. Umat Israel makan dalam pakaian perjalanan, ikat pinggang, berkasut dan tongkat di tangan dalam sikap tergesa-gesa (bacaan pertama, kel.12:11-15.17).

Cara makan paskah yang demikian menyebabkan perayaan paskah disebut juga “Pesta siaga untuk perjalanan.”

“Mereka harus siap siaga melintasi Laut Merah dan padang gurun yang gersang dan melelahkan. Itulah cara Israel memperjuangkan kebebasannya dari perbudakan Mesir. Seperti umat Yahudi merayakan paskah sebagai kenangan akan pembebasan mereka oleh Allah dari perbudakan Mesir, demikian juga seturut perintah Kristus, Gereja merayakan dan memperingati paskah Kristus, beralih dari dunia kepada Bapa (Yoh.13:1),” ungkapnya.

Angel Ila Tha, Orang Muda Katolik Kapela HKY Bimoku

Ekaristi adalah suatu perayaan syukur atas pembebasan yang dialami itu. Umat bersyukur karena Allah menerima penyerahan diri Kristus dan Allah merelakan setiap orang Kristen untuk menyampaikan pujian dan syukur kepada-Nya.

“Ya kita bersyukur atas anugerah penyerahan Tubuh dan Darah Kristus untuk damai kita di dunia ini. Dengan perayaan Ekaristi malam ini kita menunjukkan bahwa kita menyatukan diri dengan Kristus dalam hidup dan karya pelayanan cinta kasih-Nya, dalam tubuh dan darah-Nya. Kita pun mau menyatu dengan-Nya dalam penderitaan yang dialami-Nya. Setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari piala ini kamu mewartakan kematian Kristus. (1 Korintus 11:11-25),” tandas RD John Subani.

Pada malam Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid-Nya, Dia melakukan suatu tindakan sekaligus contoh yang terbaik untuk para murid-Nya dengan membasuh kaki para murid-Nya. Pembasuhan kaki biasa dilakukan oleh seorang hamba atau budak tetapi dilakukan oleh Yesus kepada para murd-Nya.

Ini pertanda atau bukti cinta-Nya kepada para murid-Nya tanpa pamrih.

Kristus menyerahkan diri dalam pelayanan kasih tanpa pamrih-tanpa syarat. Dia yang adalah Tuhan dan Guru membuktikan cinta-Nya tanpa syarat kepada para murid-Nya dengan membasuh kaki para murid-Nya.

Ia sungguh mencintai para murid-Nya dengan sepenuh hati. Cinta sepenuh hati berasal dari lubuk hati tanpa paksaan. Yesus sanggup menerima para murid  dan keadaan mereka apa adanya tanpa menuntut rupa-rupa. Cinta tanpa pamrih atau tanpa syarat dapat dicapai dengan komunikasi yang jujur, timbal-balik dan transparan dari dua arah, seperti komunikasi Yesus dengan Petrus dalam peristiwa pembasuhan kaki dalam kisah Injil.

“Tuhan hendak membasuh kaki saya? Jawab Yesus, Apa yang Ku perbuat sekarang ini belum kau mengerti maknanya, kelak akan kau pahami.” Kata Petrus kepada-Nya “Tak pernah Tuhan boleh membasuh kaki saya.” Tetapi Yesus menjawab “Kalau Aku tidak membasuh kakimu, engkau tidak lagi menjadi pengikut-Ku.” Lalu Petrus berkata” Kalau begitu Tuhan, jangan hanya kaki saya, tetapi basuhlah juga tangan dan kepala saya.”

Komunikasi yang jujur seperti ini membuat Petrus mengerti apa yang mau dilakukan dan menambah kepercayaan-Nya pada Yesus, “Jangan hanya kaki saya, tetapi tangan dan kepala saya.” Melalui komunikasi tadi, Yesus mengembangkan kekuatan keyakinan dan kepercayaan Petrus sebagai murid yang dicintai-Nya. Komunikasi ini memampukan Petrus untuk terus mencintai Yesus dalam keterbatasannya sebagai manusia.

“Dengan demikian cinta tanpa pamrih atau tanpa syarat ini selalu bersumber dari dua pihak. Dengan ini pula selalu tidak ada alasan untuk mencintai dari dua orang itu. Ketika yang seorang mencintai yang seorang tidak butuh alasan mengapa ia mencintai pasangannya. Rela menjadi hamba bagi orang yang dicintai itu. Rela menjadi pelayan setia kepada yang dicintai tanpa pamrih,” ajak RD John Subani.

Ia menandaskan, inilah yang seharusnya menjadi sikap dasar seorang murid Kristus dalam pelayanan mereka terhadap sesama manusia.

Setiap kita hendaknya menyerahkan diri dalam pelayanan kasih kepada sesama mencontohi pola hidup Yesus Sang Guru. “Aku telah memberikan teladan hidup bagimu, supaya kamu juga berbuat yang sama seperti yang telah Aku lakukan.”(Yoh.13:15). Rela menjadi hamba, mengangkat dan mencuci kaki para rasul, mengangkat beban hidup orang lain, mencintai sesama sehabis-habisnya sebagaimana dilakukan Kristus kepada para murid-Nya.

“Bukti cinta kita kepada Tuhan dan sesama adalah pelayanan tanpa syarat, melakukan tugas dan tanggung jawab kita tanpa syarat ini dan itu, tanpa alasan ini dan itu. Mencuci kaki, sebetulnya suatu panggilan dan perutusan kita sebagai  murid Yesus yang ke-13 saat ini. Setiap kita hendaknya merasa terpanggil untuk melayani sesama tanpa pamrih dengan cara hidup dan karya kita tanpa syarat apapun, tanpa menuntut balasan, tanpa menuntut bayaran. Kita hendaknya terpanggil untuk mencuci setiap noda dalam hidup sesama khususnya membersihkan noda-noda keluarga, menguduskan pasangan hidup dengan introspeksi diri,” uca dia.

RD John Subani mengajak seluruh umat untuk merefleksikan, mencuci cara berpikir, cara berkata dan cara bertingkah laku. Seperti Yesus mencuci kaki para rasul yang kotor itu hendaknya setiap umat belajar untuk mengabdi sesama dengan segala kekurangannya dengan tulus hati.

“Sebagai aplikasinya malam ini bapak-bapak mencuci kaki ibu-ibu sebelum tidur sebagai bukti cinta tanpa pamrih, tanpa syarat. Orang yang berstatus kakak dalam keluarga malam ini juga mencuci kaki adik-adik sebelum tidur tanpa syarat apa pun. Saya cuci kakimu tetapi mulai besok jangan terlalu cerewet ya…..ini bersyarat. Para bapak harus mencuci kaki ibu-ibu tanpa pamrih, syarat apa pun,” jelas RD John Subani.

RD John Subani mengingatkan bahwa, kalau orang sungguh mencintai seseorang dia melakukan sesuatu kepada orang yang dicintai itu tanpa dia tahu alasan mengapa dia melalukan hal itu. Suatu tanda dia tetap mencintai orang yang dicuci kakinya meski dia melihat sisi buruk orang yang dicuci kakinya, tanda dia ingin mendewasakan hubungannya yang makin erat dengan orang yang dicuci kakinya, tanda dia menerima apa adanya orang yang dicuci kakinya, tanda pertobatannya menjadi pribadi yang lebih baik bersama dia yang dicuci kakinya, memantapkan kepercayaan dan dukungan satu terhadap yang lain untuk hidup menyerupai Cinta kasih Kristus kepada setiap pribadi apa adanya.

“Melakukan sesuatu yang paling hina dengan semangat hidup tanpa pamrih adalah bukti cinta kita yang tulus kepada orang itu. Semoga rahmat Allah hidup dan berkarya dalam hidup dan karya kita masing-masing, menyanggupkan kita untuk membuktikan cinta dengan melayani tanpa pamrih-tanpa syarat, untuk saling menyucikan, saling menguduskan dalam segala keterbatasan manusiawi kita,” tutup RD John Subani.

Usai menyampaikan pesan Injil, perayaan Ekaristi Kamis Putih ini dilanjutkan RD John Subani dan diiringi koor dari Komunitas Umat Basis Santo Lukas.

Perayaan Ekaristi berakhir Pukul 19.00 Wita dalam suasana yang aman dan tertib.

Salah satu Orang Muda Katolik (OMK) HKY Bimoku, Angel Ila Tha, usai perayaan Ekaristi, saat ditanya oleh media ini tentang makna Kamis Putih menyampaikan bahwa, Kamis Putih merupakan kenangan akan kasih Tuhan Yesus kepada umat-Nya.

“Kamis Putih ini merupakan malam cinta. Hal ini mengajarkan supaya semua manusia harus saling mengasihi satu sama lain. Yesus yang membasuh kaki para murid itu sebenarnya hal yang paling penting tentang ajakan untuk saling mencintai. Bukankah sebagai manusia sifat mencintai itu adalah hal yang paling mendasar?,” ungkap Angel sambil tersenyum. (idus/idus)

Komentar

News Feed