oleh

“Manusia Bunglon” Simbolisasi Kemunafikan

OPINI, suluhdesa.com | Bunglon adalah hewan reptil dari genus Bronchocela. Hewan ini sering dihubungkan dengan tindakan manipulatif manusia karena keunikan yang dimilikinya. Kemampuan bunglon untuk meniru warna atau yang dikenal dengan mimikri, menjadi rujukan analogi tindakan bebal manusia dalam memanipulasi suatu fakta. Sehingga dapat kita temukan umpatan-umpatan dengan label “manusia bunglon.” Hal ini merupakan bentuk protes dan kritik terhadap manusia yang hidup dalam kemunafikan.

Mimikri secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata mimetikos artinya tiruan atau tindakan suka meniru. Dalam pelajaran IPA terpadu di SD, kita telah diajarkan bagaimana bunglon mempertahankan diri, yaitu dengan mengubah warnanya sesuai dengan lingkungannya berada. Hal ini dapat kita lihat juga dalam sistem pertahanan militer saat agresi terjadi. Proses manipulasi seperti ini dapat menjadi keuntungan tersendiri. Sebab musuh atau mangsa tak menyadari keberadaan kita. Lantas apakah tindakan seperti ini dapat berlaku dalam kehidupan sosial masyarakat? Sampai pada tahap ini kita akan melihat perbedaan esensi dalam tindakan-tindakan tersebut.

Dalam ilmu semiotika (ilmu tentang tanda) kita mengenal istilah signifikansi dan komunikasi. Signifikansi sendiri terbagi dua, yaitu tahap denotatif dan konotatif. Sehingga bunglon dalam tahap denotatif kita mendefinisikannya sebagai bunglon apa adanya. Bunglon dilihat sebagai hewan reptil yang mampu menyesuaikan warna tubuh dengan lingkungannya. Sedangkan pada tahap konotatif, kita melihat bunglon sebagai para penipu di tengah masyarakat. Tahap konotatif ini melekat dengan sejarah pemakaiannya. Hal ini kemudian sampai pada semiotika komunikasi, yaitu penyebaran informasi bahwa bunglon adalah tanda kemunafikan. Maka beredarlah pemakaian kata bunglon sebagai representasi para penipu.

Kisah Injil Yohanes 8:1-11 tentang perempuan yang kedapatan berzinah menyiratkan kemunafikan para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka menghakimi tanpa menyadari kesalahan diri sendiri, hal ini menjadi kunci Tuhan Yesus dalam mematahkan intensi buruk dalam pikiran mereka.

Saya akan sedikit mengulas alur perikob Injil ini. Kisah dimulai dengan iringan para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah kepada Yesus. Ada hal yang harus kita perhatikan, yaitu dalam konteks Yahudi, orang yang kedapatan berzinah harus dirajam sampai mati. Akan tetapi pada masa ini juga kaum Yahudi berada di bawah penjajahan kekaisaran Romawi, yang menentang orang Yahudi menjatuhi hukuman mati. Sehingga tentunya akan ada sanksi bagi Tuhan Yesus jika menyetujui hal tersebut.

Bagian yang sangat menarik terjadi di sini, kita menyimak perkataan Yesus: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (ayat 7). Hal yang terjadi setelah perkataan ini adalah mereka pergi satu-per satu mulai dari yang tertua meninggalkan perempuan itu.

Sesuai dengan signifikansi konotatif dapat kita sebut para ahli taurat dan orang farisi ini sebagai bunglon. Dalam kitab suci pun banyak ungkapan-ungkapan yang mendeskripsikan sikap munafik, misalnya ungkapan tentang melihat selumbar di mata orang tetapi balok di mata sendiri tidak dilihat (bdk. Mat.7:3) atau menyamar seperti domba tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas (bdk. Mat.7:15) atau hidup yang menyerupai kubur, bagus luarnya tapi dalamnya penuh kebusukan (bdk. Mat.23:27).

Kembali mengulas kisah perempuan yang kedapatan berzinah tersebut, kita melihat respon mereka yang langsung pergi mulai dari yang tertua. Urutan dari yang tertua menyatakan banyaknya dosa dalam diri. Mereka menghakimi tanpa menyadari bahwa diri mereka pun pantas dihakimi. Perbedaan mereka dengan perempuan yang mereka tangkap adalah soal kelicikan mereka untuk bersembunyi. Mereka pantas disematkan julukan bunglon.

Ovidius seorang penyair Romawi dalam puisinya menulis demikian “Cultus humum sterilem Cerealia pendere iussit munera, mordaces interiere rubi.Pengolahan memerintahkan tanah mandul membayar anugerah. (Ovidius,, Mario F. Lawi, 2020:3). Penggalan puisi tersebut berasal dari kumpulan puisinya yang berjudul Medicamina Faciei Feminae atau Ramuan bagi Wajah Perempuan.

Puisi ini menunjukkan pemakaian kosmetik pada wajah perempuan yang memperindah. Sehingga pengolahan yang dimaksud adalah kosmetik yang mempercantik wajah. Pemakaian kosmetik dan kemampuan mimikri bunglon memiliki esensi yang mirip. Sebab keduanya sama-sama melakukan “kamuflase.”

Bagi ovidius ia melihat wajah perempuan sebagai humus sterilis (tanah yang tandus), sehingga kosmetik mengolah tanah yang tandus itu untuk memperoleh anugerah. Pengolahan menjadi baik adalah sasarannya, kosmetik untuk kejahatan adalah kesalahan sebagaimana yang ditampilkan ahli taurat dan orang-orang farisi.

Pepatah serigala berbulu domba bisa melekat pada siapa saja, sebab kurangnya kesadaran untuk mengoreksi diri sendiri. Hal ini mengakibatkan degradasi nilai keadilan dan persaudaraan, sebab demi kepentingan yang egois kita cenderung melupakan kesejahteraan bersama (bonum commune). Sesama adalah saudara bukan mangsa apalagi pelampiasan amarah dan tumbal dari kesalahan yang tak pernah dibuatnya.

Pernyataan Tuhan Yesus, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” menjadi bahan refleksi bahwa seringkali kita lolos karena menjelma “bunglon.” Ironi dari penghakiman tanpa intropeksi diri adalah menjatuhi hukuman pada diri sendiri. Nampaknya orang lain terhakimi tetapi sebenarnya kita menghakimi diri sendiri.

Bunglon melakukan mimikri untuk mempertahankan diri. Tindakan ini mencerminkan bentuk pengolahan terhadap humus sterilis atau tanah yang tandus, sebab kesuburan yang didapat adalah keselamatan. Sedangkan para Ahli Farisi dan Ahli Taurat melakukan mimesis untuk menyembunyikan kebobrokan dan tetap mendapat stereotip baik dalam masyarakat. Namun hidup adalah proses. Jika sempat jatuh bangkitlah dan berjalan kembali. Sebab kasih Tuhan selalu menyertai dan tak lekang oleh waktu.

Pada ayat 11 Yesus berkata: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Jaminan diberi namun komitmen adalah konsekuensi, maka jalanilah hidup dengan kemurnian diri. (*)

Penulis: Fransiskus Aryanto Narang (Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

Komentar

News Feed