oleh

Komisi Kitab Suci KAK Gelar ‘Bakisu’, Peserta Terbanyak dari Timor Leste

KUPANG, suluhdesa.com | Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Kupang kembali mengadakan kegiatan Diskusi Kitab Suci secara online yang dikemas dalam bahasa Kupang ‘Bakisu’ – Baomong Kitab Suci, Jumat (26/03/2021).

Fokus diskusi kali ini adalah pengenalan Surat-surat Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru. Sekitar dua puluhan pecinta Kitab Suci ikut ambil bagian dalam kegiatan ini di mana sebagian besarnya berdomisi di Timor Leste.

Kegiatan rutin mingguan ini merupakan bagian dari “Week End With The Bible” yang telah dijalani selama ini. Berhubung tidak bisa dilaksanakan pada hari Sabtu, maka dimajukan pada hari Jumat.

Di awal kegiatan, John Bahy yang berperan sebagai moderator menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran Kitab Suci secara online ini laksana “Di bawah pohon Ara.” Ia mengutip pernyataan Yesus kepada Natanael dalam Injil Yohanes 1:48.

“Ungkapan di bawah pohon Ara merupakan satu simbol mempelajari Taurat. Orang-orang Yahudi biasanya duduk di bawah pohon Ara sambil membaca dan merenungkan Taurat. Mereka belajar Kitab Suci,” ungkap John.

RD Sipri Senda Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Kupang yang menjadi narasumber menjelaskan secara garis besar ketiga belas Surat Rasul Paulus, yakni: Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon.

Para peserta yang mengikuti kegiatan diskusi Kitab Suci secara online

“Ada tiga belas Surat Paulus. Sembilan Surat untuk jemaat dan empat surat untuk pribadi yakni surat kepada Timotius, ada dua surat, kepada Titus dan kepada Filemon. Surat-surat ini ditulis dalam bahasa Yunani. Isinya berupa refleksi teologi Paulus mengenai Kristus Yesus sebagai inti pewartaan injil, dan tanggapan pastoral Paulus atas masalah-masalah yang dihadapi umat. Bagian akhir dari setiap surat umumnya Paulus memberikan nasihat praktis hidup kristiani sesuai injil yaitu hidup dalam kasih, ” jelas RD Sipri Senda.

Dalam pemaparannya, RD Sipri Senda menjelaskan juga bahwa Rasul Paulus mengelilingi seluruh daerah Asia depan dan Yunani untuk mewartakan injil. Sesudah mewartakan injil dan mendirikan jemaat di sebuah kota, ia pergi ke kota lain untuk melakukan yang sama. Untuk berkomunikasi dengan jemaat yang sudah didirikannya, ia menulis surat. Surat-surat Paulus yang terdokumentasi itu merupakan dokumen berharga yang menggambarkan pertumbuhan Gereja awal di daerah sekitar Laut Tengah.

“Ketika masa kecilnya di Tarsus, ia sekolah dasar di sekolah Yahudi, setelah itu ia belajar retorika dan sastra di sekolah Yunani. Dan pada waktu ia dewasa, ia belajar Taurat di Yerusalem di bawah bimbingan Rabi Gamaliel,” papar Dosen Kitab Suci yang mengajar di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ini.

Di sesi diskusi, seorang peserta meminta penjelasan tentang ‘manusia dibenarkan karena iman, bukan karena perbuatan’ (Roma 3). RD Sipri Senda menjelaskan bahwa Paulus mengatakan demikian dalam konteks melawan orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa yang diperlukan adalah melaksanakan Hukum Taurat. Perbuatan melaksanakan hukum Taurat bukanlah jaminan keselamatan atau pembenaran oleh Allah, melainkan iman akan Kristus.

Ada juga peserta yang menyentil tentang banyak orang Kristen yang memotivasi berbuat baiknya yakni demi masuk Surga. Dan ini diluruskan oleh narasumber untuk kembali kepada motivasi yang benar dari sebuah perbuatan baik yakni cinta kepada Tuhan dan sesama.

Pertanyaan-pertanyaan lain tentang dogma keselamatan dalam Gereja Katolik, Orang Kristen Anonim, tentang karunia Nubuat dan bahasa Roh, dijawab secara tuntas oleh RD Sipri Senda dengan menjelaskan juga ajaran Magisterium Gereja dari Konsili Vatikan II.

Kegiatan ini direncanakan akan berlanjut pada Sabtu mendatang dengan topik yang berbeda sebagai bagian dari program Week End With The Bible. (John Bahy/msd)

DomaiNesia

Komentar

News Feed