oleh

Umat HKY Bimoku Rayakan Minggu Palma, RD John Subani: Mari Meneladani Yesus

KUPANG, suluhdesa.com | Ratusan Umat Katolik di Kapela Hati Kudus Yesus (HKY) Bimoku Paroki Santo Yoseph Pekerja Penfui Keuskupan Agung Kupang, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, merayakan misa Hari Raya Minggu Palma, Minggu (28/03/2021) pukul 08.00 Wita.

Perayaan misa ini dipimpin RD John Subani, Dosen Kitab Hukum Kanonik pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

Misa yang berjalan dengan aturan protokol kesehatan yang ketat di tengah Pandemi Covid-19 ini nampak meriah dan penuh sukacita.

Perayaan misa diawali dengan ibadat pemberkatan daun Palma di halaman Kapela Hati Kudus Yesus Bimoku oleh RD John Subani sebagai simbol menyambut Kristus yang memasuki kota Yerusalem.

Di hadapan umat yang hadir, RD John Subani menyampaikan pesan Injil Markus 11:1-10.

“Kita telah sampai pada tahap terakhir dari perjalanan ini. Ada waktu penarikan diri di sekitar Kaisarea Philipi di ujung utara. Pernah ada di waktu Galilea. Telah ada masa tinggal di daerah perbukitan Yudea dan di daerah-daerah di luar Yordania. Ada jalan melalui Yerikho. Sekarang datanglah Yerusalem. Betfage dan Betania adalah desa di dekat Yerusalem. Sangat mungkin Betfage artinya rumah buah ara dan Betania artinya rumah kurma. Mereka pasti sangat dekat karena kita tahu dari hukum Yahudi bahwa Betfage adalah salah satu lingkaran desa yang menandai batas perjalanan hari Sabat. Yaitu kurang dari satu mil. Sedangkan Betania adalah salah satu tempat penginapan yang diakui untuk peziarah ke Yerusalem untuk merayakan Paskah ketika penginapan di Yerusalem penuh,” ucap RD John Subani.

Dia yang diarak masuk kota Yerusalem adalah seorang pemimpin agung, seorang nabi yang istimewa. Karena Dialah satu-satunya yang datang dari Galilea dan yang paling menentukan sejarah penyelamatan umat manusia. Dia datang sebagai utusan Allah, sebagai Mesias yang perkasa dan perwira, yang jaya dalam peperangan (Mazmur 24:8).

Dia datang atas nama Tuhan, dalam semarak kemuliaan dan kuasa, tetapi sebagai seorang yang sangat sederhana yang membawa kedamaian dan keadilan. Kejayaan-NYA terpancar dari kesahajaan-NYA, kesederhanan-NYA, di mana Ia memasuki kota Yerusalem dengan mengenderai seekor keledai pinjaman. Yesus disoraki rakyat jelata dan anak-anak, batu-batu berseru dan langit menggemakan, “Hosan Putera Daud.”

“Inilah satu pernyataan resmi yang dilakukan oleh rakyat banyak dan yang disaksikan oleh seluruh umat Yahudi yang datang dari seluruh penjuru untuk merayakan Paskah. Hanya Yesus yang layak dan pantas disambut sebagai Putera Daud, sebagai Mesias yang datang atas nama Tuhan membawa kedamaian, seperti pernah terjadi pada masa Daud, raja yang menjadi pilihan Allah. Tuhan memerlukan hati kita semua sebagai jalan masuk ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Bentangkanlah hatimu sebagai karpet merah jalan masuknya Yesus ke dalam hati sanubari kita dalam merayakan Paskah tahun ini. biarkanlah hati kita bersorak menyambut-NYA. “Hosana Putera Daud. Terpujilah yang datang atas nama Tuhan. Amin,” ajak RD John Subani.

Usai RD John menyampaikan renungan singkat, petugas pun membagikan daun-daun Palma yang telah diberkati kepada semua umat dan diarahkan memasuki kapela.

Pantauan Media SULUH DESA, perayaan misa ini diiringi koor dari umat Komunitas Umat Basis (KUB) Mater Boni Consilii. Lagu-lagu yang dinyanyikan sangat megah. Koor ini dipimpin oleh Maria Surya Ferdinanda Merry Moon atau Ibu Merry bersama Angelina Ila Tha.

Pada perayaan Minggu Palma kali ini, bacaan pertama diambil dari Kitab Yesaya 50:4-7, bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus Kepada Jemaat di Filipi 2:6-11. Sedangkan bacaan Injil adalah Markus 15:1-39.

Kotbah RD John Subani yang berangkat dari ketiga bacaan itu sangat menarik. Pesannya adalah meneladani kerendahan hati dan ketaatan Yesus.

Menurut Dekan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ini, kalau bukan dalam suasana Covid-19, perayaan Ekaristi pasti meriah.

“Yesus merasa sedih, gentar menghadapi orang-orang yang hendak membunuhnya. Namun ia tidak pernah memberontak. Untuk sampai pada itu, Yesus tabah menghadapi derita hidup. Penderitaan merupakan sumber kekuatan. Karena itu merupakan rencana BapaNYA. Ia tidak berusaha melawan BapaNYA. Ia taat pada Allah. Penderitaan menjadi sumber kekuatan hidup dan menjadi silih bagi kepahitan hidup. Allah merupakan sumber kekuatan dalam perjuangan. Yesus setia pada kehendak Bapa. Perjuangan tanpa takut kehilangan nyawa,” pesan RD John Subani.

Ia menambahkan, Yesus bergaya hidup taat, hendaknya menjadi pola hidup orang beriman. Yesus tidak pernah mengeluh. Bahkan ia tidak pernah mencari saksi untuk membenarkan dirinya.

“Mari kita belajar untuk rendah hati tanpa tidak selalu memberontak dengan situasi tidak nyaman dalam hidup kita,” tutup RD John Subani. (idus/idus)

Komentar

News Feed