oleh

Pembagian Beras Bansos untuk Guru Honor di Warupele II Diduga Tak Tepat Sasaran

WARUPELE II, suluhdesa.com | Sebanyak 17 guru honorer yang berada di Desa Warupele II, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengeluhkan cara kerja Kepala Desa Warupele II Kletus Obaria. Menurut para guru honorer ini, Kletus Obaria tidak adil dalam membagikan beras bantuan sosial (bansos). Diduga Kletus Obaria dalam pembagian beras itu tidak tepat sasaran dan diduga pula Kletus Obaria membagikan beras itu hanya kepada keluarganya sendiri serta aparat desa yang lain.

Hal ini disampaikan beberapa guru honor yang mewakili 17 guru honor lainnya kepada Media SULUH DESA, Kamis (04/03/2021) Pukul 10.23 Wita.

Para guru honor ini mengungkapkan bahwa, pada awalnya mereka tidak tahu kalau ada pembagian beras bansos untuk para guru honor di Desa Warupele II. Namun, sekitar Bulan April dan Bulan Mei muncul nama-nama mereka di WhatsApp untuk mendapatkan beras bansos dan uang.

“Sementara itu ketika beras bansos itu tiba desa, masing-masing kami yang guru honor tidak tahu. Kami tahu nanti setelah teman-teman dari desa tetangga yakni Desa Warupele I yang mengatakan ada bantuan beras untuk para guru honor. Lalu kami tanya beras apa? Itu beras bantuan dari provinsi. Oh yang itu hari nama yang kami dapat di WA itu ko? Eh kami tidak tahu. Lalu teman guru itu sampaikan lagi, kami sudah terima di Ruto. Di Aimere kami sebagian sudah terima. Akhirnya kami mengumpulkan teman-teman para guru honor untuk cek ke Kantor Desa Warupele II,” terang mereka.

Pada hari Selasa, tanggal 20 Oktober 2020, para guru honor inipun ke Kantor Desa Warupele II dan bertemu Kepala Desa Kletus Obaria.

“Kami tanya kepala desa, kebetulan saat itu kami ketemu langsung kepala desa. Tetapi sebelumnya kami isi buku tamu dan dalam buku tamu kami tuliskan tentang tujuan kami untuk mengambil beras. Waktu itu Kepala Desa Kletus Obaria ambil buku tamu dan baca. Dia tanya, maksudnya beras apa? Kamu semua mau datang ambil ini ambil beras apa? Kami katakan bahwa kami datang mau ambil beras yang bantuan dari provinsi untuk guru honor. Kepala Desa Kletus Obaria jawab begini, tidak ada ini beras! Yang ada baru-baru ini, beras itu bukan untuk bagi kamu semua. Alasan kepala desa, kalau kami sebelumnya sudah mendapat bantuan beras,” jelas mereka.

Akan tetapi, tambah para guru honor ini, yang mereka persoalkan di hadapan Kepala Desa Kletus Obaria adalah, mengapa beras itu dibagikan kepada orang lain tanpa sepengetahuan mereka.

“Kami tidak persoalkan itu. Kalau bantuan yang ada tidak dapat lagi diberikan ke yang sudah pernah terima, kami ikhlas kok. Yang kami mau tanya sekarang kenapa bapak memberi bantuan ini kepada orang lain tanpa sepengetahuan kami yang punya nama dalam SK,” ujar mereka.

Pada waktu itu Kepala Desa Kletus Obaria menjawab, nama-nama para guru honor yang telah menerima bantuan sebelumnya, diganti oleh Dinas Sosial Kabupaten Ngada. Kepala Desa Kletus Obaria bahkan menyuruh para guru honor ini untuk berangkat ke Bajawa untuk bertanya langsung ke Kepala Dinas Sosial Ngada Yohanes Vianey Siwe.

“Kepala Desa Kletus Obaria bilang begini, kalau memang seperti ini biar kamu naik ke Dinas Sosial Ngada. Dia bilang tanya saja bukan lapor di Dinsos. Di Dinsos itu Kadisnya saya punya teman, dan saya punya kenalan. Di saat dia omong kami tidak jawab satu katapun,” ucap mereka sambil melanjutkan bahwa, “pada saat itu kami masih mempersoalkan di hadapan Kepala Desa Kletus Obaria, mengapa beras bansos itu dibagikan ke Kepala Dusun bernama Hilarius Wou dan beberapa warga lain yang juga terima PKH.”

17 guru honor di Desa Warupele II

Keesokan harinya, Rabu, 21 Oktober 2020, empat orang guru honor mewakili yang lainnya berangkat ke Bajawa dan bertemu dengan Kepala Dinas Sosial Ngada Yohanes Vianey Siwe.

“Di depan Pak Kadis Vianey Siwe kami sampaikan bahwa, beras bansos yang dikirim ke Desa Warupele II dan harus dibagikan kepada para guru honor, oleh Kepala Desa Kletus Obaria malah dialihkan kepada keluarga dan aparat desa. Yang kami kesal itu kades sampaikan bahwa, kalau kami datang lapor di Dinsos silakan saja sebab Pak Kadis itu teman baiknya Kletus Obaria. Karena itu kami tanya ke Pak Kadis, Pak, seandainya di seluruh Kabupaten Ngada ini semua kepala desa teman baik dengan bapak dan buat kesalahan, kira-kira kami sebagai masyarakat kecil ini kami yang tidak kenal dengan bapak, kami mengadu ke mana lagi pak?,” tutur mereka.

Di hadapan Kepala Dinas Sosial Ngada Yohanes Vianey Siwe, para warga juga menyampaikan, “Kepala Desa Warupele II Kletus Obaria, dia bilang begini, kalau dia sudah kenal Pak Kadis Sosial Ngada, makanya dia mau apa saja jadi. Dia tidak akan takut karena banyak yang menjadi teman dekatnya dan mereka inilah yang selalu menjadi backing-nya. Kami mengeluh juga ke Pak Kadis Sosial, kalau kami ini guru honor komite yang situasi Covid begini kami terlalu parah. Mana uang sekolah dari orang tua siswa dan komite yang tersendat bayar gaji kami, mana kami bolak balik rumah ke sekolah, naik gunung turun gunung antar tugas. Terus ternyata pemerintah memperhatikan kami dengan dana Covid seperti ini, sangat membantu kami, memberi kami semangat. Tetapi kepala desa buat kami seperti begini. Sakit pak.”

Para guru honor ini menandaskan bahwa, usai mendengar keluh kesah mereka, Kepala Dinas Sosial Ngada Yohanes Vianey Siwe pun memberikan penjelasan bahwa, “menurut juknis, bagi keluarga yang telah mendapat bantuan jangan ada bantuan pendobelan. Itu sangat tidak boleh. Lalu kami diantar ke seksi yang menangani bantuan beras itu. Bersama Kadis dan Kepala Seksi, kami cek nama kami memang tidak ada. Yang kami persoalkan itu, mengapa kepala desa alihkan tanpa menyampaikan kepada kami? Kami kemudian disuruh pulang untuk konfirimasi kembali dengan kepala desa.”

Namun saat tiba di desa, para guru honor ini yang telah menunggu selama satu minggu tidak dilakukan klarifikasi oleh Kepala Desa Kletus Obaria. Oleh karena itu, tanggal 26 Oktober 2020, beberapa guru honor yang merasa tidak puas akhirnya menuju Polsek Aimere untuk melapor.

“Oleh Kapolsek Aimere, kami diarahkan untuk menuju Polres Ngada di bagian Tipikor untuk melapor melalui surat aduan. Surat itu kami buat tanggal 2 November 2020 dan kami antar tanggal 4 November 2020 ke Polres Ngada. Kami menunggu mungkin kami akan dipanggil. Saat kami berkomunikasi dengan salah satu anggota, ia menjelaskan kalau masih sibuk dengan urusan Pilkada. Lalu, tanggal 23 November 2020 kami bawa surat lagi ke Kejaksaan Negeri Bajawa. Sampai hari ini kami menanti jawaban atas surat pengaduan itu dan tidak pernah dipanggil pihak Kejaksaan Bajawa. Kami kecewa sepertinya kami masyarakat kecil begini tidak diindahkan pemerintah. Jadi melalui media, kami minta bantuan untuk bantu kami,” pinta mereka.

Kepala Desa Warupele II Kletus Obaria yang dihubungi Media SULUH DESA, Kamis (04/03/2021) Pukul 13.22 Wita, untuk dikonfirmasi terkait beras bansos ini, menjelaskan bahwa, ia mendapat petunjuk dari Dinas Sosial Ngada.

“Saya dapat petunjuk dari dinas, bukan saya punya mau sendiri. Di dalam SK Gubernur NTT mengatakan, bantuan beras itu diberikan ke masyarakat siapa saja. Laporan warga itu di Tipikor Polres Ngada saya sudah jawab dengan membawa bukti-bukti. Semua ada di sana.Tipikor sudah panggil saya dua kali. Mereka yang lapor itu tidak paham mengenai nomenklatur yang bukan untuk guru honor. Itu bantuan berasal dari Dinsos untuk masyarakat Warupele II. Saya tidak pernah tahu untuk guru itu. Dari Dinsos tidak mengatakan untuk guru honor tetapi hanya untuk masyarakat Desa Warupele II karena Covid,” jelas Kletus.

Kletus mengatakan, “para guru honor itu ada yang mendapat bantuan dari Dana Desa. Mereka yang mengadu itu, dapat bantuan Dana Desa. Mereka dapat 3 bulan pertama sebesar Rp. 300.000. Tahap kedua Rp. 200.000 itu untuk enam bulan di tahun 2020. Ini tahun 2020, sesuai undang- undang, pemerintah pusat tegaskan ke desa harus wajib alokasi untuk 12 bulan atau 1 tahun. Sekali lagi dalam juknis yang ada, nomenklatur itu bukan untuk guru honor. Kalau tentang itu merupakan perintah gubernur. Bukan perintah saya. Kami di desa melaksanakan perintah dari atas. Nama masyarakat yang belum dapat bantuan kita alih ke BST, PKH, dan Dana desa. Tidak mungkin dapat dobel. Itu perintah gubernur.”

Kletus secara tegas menjawab, kalau ada bantuan untuk para guru honor, ia tidak pernah ganggu sedikitpun.

Camat Inerie Ignasius Dhedho saat dihubungi untuk dimintai tanggapannya, Senin (15/03/2021) Pukul 11.43 Wita terkait keluhan masyarakat Desa Warupele II ini, menegaskan bahwa, bantuan beras tersebut berasal dari Dinas Sosial Ngada.

“Saya sudah sampaikan kepada Kepala Desa Warupele II Kletus Obaria untuk jika ada bantuan-bantuan dari dinas terkait lainnya harus sesuai dengan juknis dan harus dijelaskan kepada masyarakat supaya mereka paham,” jawabnya.

Kepala Dinas Sosial Ngada Yohanes Vianey Siwe dihubungi media ini, Jumat (05/03/2021) Pukul 14.32 Wita, untuk dimintai penjelasannya terkait beras bansos untuk para guru honor yang diduga dibagikan Kepala Desa Warupele II Kletus Obaria kepada warga lain, menerangkan, beras bansos itu merupakan bantuan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ngada, Yohanes Vianey Siwe

“Di dalam juknis itu tidak ada untuk para guru, ade. Itu dituliskan untuk semua masyarakat yang terdampak Pandemi Covid-19. Kami yang mengusulkan ke Provinsi NTT, dan di sana yang mengeksekusi. Kami hanya daftar nama. Bagi beras bansos itu provinsi yang kawal langsung. Yang terima beras itu juga yang terima uang di Bank Pembangunan Daerah. Kami di kabupaten hanya mengumpulkan data. Waktu kami usulkan itu tidak ada untuk para guru. Itu tidak ada. Kalau untuk para guru pernah ada sebelumnya yang BST Pusat. Itu juga hanya untuk para guru yang dibiayai oleh komite,” jelas Siwe.

Siwe menyampaikan juga jikalau para guru honor yang berasal dari Desa Warupele II pernah datang untuk mengadu kepadanya dan ia sudah menjelaskan bahwa, bantuan itu bukan untuk para guru tetapi bagi semua masyarakat yang terdampak Covid-19.

Terkait pernyataan Kletus Obaria yang mengatakan bahwa mereka bersahabat (antara Kletus dan Kadis Siwe), ia menyampaikan, “eeee itu Kepala Desa Warupele II itu tukang berbuat masalah. Pokoknya antara Kepala Desa Warupele I dan Kepala Desa Warupele II itu sama. Di Warupele I itu kan kami akhirnya tarik kembali bantuan beras itu. Itu karena ada konflik internal sesama warga sehingga tidak ada satu yang mau terima. Itu mestinya harus bisa diselesaikan. Itu kesalahan bukan pada kami, tetapi pada desa. Kalau Warupele II itu, memang saya minta maaf, saya jujur, saya bukan mau intervensi, tetapi memang terlalu banyak masalah. Terlalu banyak laporan dari masyarakat. makanya kalau bantuan ke Desa Warupele I dan Desa Warupele II kita agak pending karena hubungan kadesnya dan warga agak sedikit kurang bagus. Kurang harmonis.”

Kapolres Ngada AKBP Rio Cahyowidi dihubungi Media SULUH DESA, Selasa (09/03/2021) siang saat dimintai tanggapannya mengenai laporan dan aduan masyarakat Desa Warupele II terkait dengan dugaan pembagian beras bansos yang salah sasaran dan beberapa masalah lainnya, meminta supaya masyarakat yang mengetahui dugaan itu dapat bertemu dirinya di Polres Ngada.

Ketua BPD Warupele II Aloysius Loy Turu yang dihubungi media ini lewat panggilan telepon, nomor handphone-nya di luar jangkauan atau tidak aktif.

Sampai berita ini diturunkan, Media SULUH DESA sedang berupaya melakukan konfirmasi ke pihak Kejaksaan Negeri Bajawa terkait laporan dan aduan masyarakat Desa Warupele II mengenai dugaan pembagian beras bansos untuk para guru honor yang tidak tepat sasaran oleh Kepala Desa Kletus Obaria. (idus/idus)

Komentar

News Feed