oleh

IRCI: Tentang Program TANTE NELA PARIS di Ngada, Kami Siap Promosikan

BAJAWA, suluhdesa.com | Program Tani, Ternak, Nelayan, Pariwisata (TANTE NELA PARIS) yang menjadi unggulan Bupati Ngada Andreas Paru dan Wakil Bupati Ngada Raymundus Bena bisa mendongkrak perekonomian di Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, jika benar-benar dikerjakan secara serius dan melibatkan partisipasi aktif 5 unsur Pentahelix Pariwisata yakni Pemerintah, Masyarakat, Pengusaha, Akademisi dan Pers.

“Selain itu promosi dan publikasi secara sistemik dan masif akan menarik Wisnu (Wisatawan Nusantara) danWisman (Wisatawan Mancanegara) ke Kabupaten Ngada,” tegas Gabriel de Sola, Direktur IRCI (Institute for Research, Consultation and Information of International Investment) kepada Media SULUH DESA, Sabtu (20/03/2021) siang.

IRCI tertarik dengan pemaparan dari Mansuetus Gisi, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pariwisata Ngada yang dimuat di Media SULUH DESA.

Klik ini juga: Mansuetus Gisi: Pariwisata Ngada dalam TANTE NELA PARIS Sangat Ideal

Menurut Gabriel, Bupati Ngada Andreas Paru wajib memberdayakan Sumber Daya Manusia (SDM) ASN Ngada sesuai kapasitas dan kompetensi untuk merealisasikan Program TANTE NELA PARIS.

“Pengalaman kami mengunjungi destinasi Pariwisata di Mancanegara dan Indonesia pasti berhubungan dengan Tani, Ternak, Nelayan, dan  Pariwisata. Misalnya Perkebunan Anggur di Eropa menjadi destinasi agrowisata. Di destinasi tersebut kita bisa mendapatkan gambaran utuh sejak tanam hingga pemasaran Anggur. Kita juga bisa menikmati kuliner dan menikmati berbagai jenis minuman anggur yang diproduksi,” ungkap Gabriel.

Tambah Gabriel, “begitu juga destinasi peternakan sapi dan babi mulai, dari proses pemeliharaan hingga menghasilkan berbagai produk dari babi dan sapi bisa kita nikmati. Di situ juga tersedia spot-spot untuk pengambilan gambar sekalian wisata kuliner dari produksi sapi dan babi.”

Ia menambahkan, “demikian pula destinasi wisata bahari dan nelayan. Di situ juga tersedia informasi proses penangkapan hingga ikan-ikan yang ditangkap sekalian produk-produk yang dihasilkan untuk konsumsi wisata kuliner laut maupun untuk produk-produk untuk ekspor.”

Gabriel menyampaikan bahwa, hal ini bisa dikembangkan di Ngada. Contoh Kopi Arabika Flores Bajawa sudah mendunia maka orang ingin mengetahui seperti apa Kopi di Bajawa.

Ada destinasi wisata kopi yang sudah dibuat Pemkab Ngada yakni jalan memasuki kebun kopi dan belum ada tempat destinasi yang lengkap ada proses pengolahan kopi sekalian produksi kopi dan menikmati seruput kopi asli Arabica Bajawa.

“Kembali soal Program TANTE NELA PARIS, bisa dikembangkan dan diimplementasikan di Ngada karena saling berkaitan. Ngada harus tangkap peluang adanya Pariwisata Labuan Bajo. Kabupaten Ngada harus mempersiapkan kebutuhan pokok pariwisata yakni listrik, air, dan telekomunikasi. Juga jalan-jalan menuju destinasi pariwisata,” ucap Gabriel.

Hal ini, imbuh Gabriel, bisa direalisasikan karena sudah ada Perda No.2 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata 7 Kawasan Strategis Pariwisata yakni Riung, Wolomeze, Soa, Bajawa, Golewa, Jerebuu, Aimere dan Inerie.

Di kawasan ini bisa dikembangkan destinasi agrowisata, pariwisata budaya, pariwisata rohani, pariwisata alam, dan pariwisata kuliner.

Pemkab Ngada, ujar Gabriel, perlu ada tim promosi dan publikasi Ngada yang akan mempromosikan dan mempublikasikan kabupaten ini di Nasional dan Internasional.

“Kami sebagai putera daerah Ngada siap membantu untuk mempromosikan dan mempublikasikan Ngada seperti yang kami lakukan untuk Sumba melalui Sumba Tourism Board melibatkan Pentahelix (Pemerintah, Masyarakat, Pengusaha, Akademisi, dan Pers,” tutup Gabriel. (idus/idus)

DomaiNesia

Komentar

News Feed