oleh

Yakines Gelar Pelatihan, Petani Mabar Ini Berhasil Kembangkan Padi Lokal

LABUAN BAJO, suluhdesa.com | Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) menyelenggarakan pelatihan dalam program kunjungan silang pada Senin (08/03/2021) hingga Jumat (12/03/2021). Selama hari pertama, peserta diberikan materi dan diskusi bersama, dan dua hari kemudian peserta langsung melakukan uji coba kawin silang.

Terdapat 29 orang petani yang sebagian besar adalah kaum perempuan dari dua belas desa dampingan Yakines berasal dari beberapa kecamatan di Kabupaten Manggarai Barat melakukan pelatihan kawin silang padi di area persawahan Kampung Lonto, Desa Lendong, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Matias Pagang, seorang petani pemula tanaman padi lokal dari Manggarai Barat kepada para peserta pelatihan menyampaikan bahwa, dirinya berjuang dan menekuni proses kawin silang padi ini supaya petani di Manggarai Barat bisa mandiri.

“Kita harus punya benih sendiri. Kita harus hasilkan padi dari bibit lokal. Bibit padi kita sendiri,” ungkapnya.

Di atas lahan sawah miliknya itulah Matias Pagang melakukan proses kawin silang padi. Para peserta rela berjalan kaki dari kampung Lonto menuju persawahan selama kurang lebih 40 menit dan melewati jalan berbatu.

Matias Pagang selaku petani pemulia tanaman padi lokal dalam sapaannya menyambut kedatangan peserta pelatihan itu menyampaikan bahwa kegigihan dan perjuangannya mengembangkan padi varietas lokal Manggarai Barat ini tidak lain adalah untuk mewujudkan kemandirian pangan.

“Saya berjuang dengan gigih sampai sekarang dan akan terus berjuang untuk kembangkan benih padi varietas lokal Manggarai Barat supaya kita bisa mandiri dari sisi pangan. Untuk itu usaha pertama adalah kita harus punya benih sendiri. Benih yang sesuai dengan keadaan alam kita di tanah Manggarai Barat. Bukan benih yang didatangkan oleh pengusaha dari luar dan kita paksakan untuk ditanam di daerah kita dengan keadaan tanah dan iklim yang berbeda dengan daerah asal benih padi tersebut,” tegas Matias Pagang.

Di kesempatan yang sama ayah 5 orang anak dan beberapa cucu itu mengatakan jika usaha yang sedang ia jalani saati ini sebagai upaya melawan mafia benih padi Manggarai Barat.

Mafia benih yang dimaksudnya adalah persoalan benih yang dijual dengan harga mahal ditambah dengan label dan nama yang bagus namun kenyataannya banyak yang tidak tumbuh usai disemaikan.

Hal senada juga dikeluhkan oleh seorang peserta pelatihan bernama Elisabeth Lamun dari Desa Golo Tanggar.

“Saya pernah beli bibit padi di toko dengan nama yang mantap tetapi setelah saya taburkan di tempat bibitnya hanya sedikit saja yang tumbuh. Banyak benih yang tidak tumbuh,” keluhnya yang serentak diiyakan oleh para peserta lainnya.

Sementara itu Direktur Yayasan Komodo Indonesia Lestari, Gabriela Uran dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa, Matias Pagang adalah sosok petani  ulet.

Sejak didampingi oleh Yakines tahun 2017 silam, Matias memilih untuk fokus pada usahanya melakukan proses kawin silang padi.

“Bapak Matias Pagang adalah sosok petani yang sangat ulet. Sudah sejak tahun 2017 sampai sekarang dia terus berjuang untuk proses kawin silang padi. Dia punya keyakinan untuk membangun kedaulatan pangan bagi para petani dengan cara melestarikan benih padi lokal,” jelas Gabriela Uran.

Untuk diketahui bahwa sejak tahun 2017 sampai saat ini sudah terdapat 314 varietas baru (F5) sebagai hasil kawin silang padi.

Dikatakan oleh Matias Pagang bahwa, hasil tersebut bermula dari dua jenis benih lokal yakni dari benih padi ‘laka lonto’ dan ‘lea’.

Padi lokal yang dikembangkan.

Padi laka berasal dari lahan basah atau padi sawah dan lea merupakan padi lahan kering atau padi ladang. Kedua-duanya merupakan benih padi lokal yang juga berasal dari wilayah Kabupaten Manggarai Barat serta pada saat sebelum dikembangkan oleh Matias Pagang, jenis padi lokal itu sudah terancam punah dari peredaran.

Berkat kegigihan Matias Pagang benih padi lokal tersebut kini masih ada dan bahkan sudah menghasilkan banyak varietas padi yang baru.

Sampai berita ini diturunkan terdapat 8 dari desa dari dua belas desa peserta pelatihan yang dinyatakan berhasil melakukan uji coba kawin silang padi. Sebelumnya setiap desa diberikan satu buah pot yang di dalamnya ditanami padi yang akan dilakukan uji coba kawin silang.

“Dari 12 pot yang ditanami padi tersebut hanya 8 pot yang berhasil sedangkan 4 pot lainnya gagal,” tutup Matias Pagang. (idus/msd)

Komentar

News Feed