oleh

Mansuetus Gisi: Pariwisata Ngada dalam TANTE NELA PARIS Sangat Ideal

BAJAWA, suluhdesa.com | Berbicara tentang pembangunan pariwisata di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur tidaklah terlepas dari sosok yang satu ini. Mansuetus Gisi, S.E.Par, adalah putra daerah Ngada yang memiliki pengalaman baik secara teknis maupun pikiran dalam mengarsiteki dunia kepariwisataan di Kabupaten Ngada selama ini.

Mansuetus Gisi lahir di Pali, Kecamatan Inerie, 19 Februari 1966. Saat ini ia tinggal di Kota Bajawa dan mengabdikan dirinya sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada.

Mansuetus menempuh pendidikan dasar di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Ruto II tahun 1973-1979, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Swasta Palapa Ende tahun 1979-1982, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) 435 Bajawa tahun 1984-1987. Pendidikan tingginya, ia selesaikan di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STIEPAR YAPARI AKTRIPA) Bandung tahun 1996-2001.

Selanjutnya mengenai pekerjaan, Mansuetus diangkat menjadi PNS Kabupaten Ngada tahun 1994 dan bertugas pada bagian Kesra tahun 1994-1995.

Mansuetus kemudian bertugas pada Dinas Pariwisata Ngada tahun 1995-1996. Pada saat inilah, oleh Pemda Ngada, ia dikirimkan untuk tugas belajar di Bandung tahun 1996-2001.

Kembali dari Bandung usai menyelesaikan tugas belajarnya, Mansuetus kembali ditugaskan di Dinas Pariwisata Ngada tahun 2001-2003. Namun tahun 2003-2004, Mansuetus ditugaskan di Kelurahan Jawameze sebagai Kepala Seksi Pemerintahan.

Mansuetus kembali bertugas di Dinas Pariwisata Ngada tahun 2004-2009 sebagai Kepala Seksi Obyek dan Daya Tarik Wisata, kemudian Mansuetus dipindahkan ke Badan Penanaman Modal Ngada tahun 2009-2017 menjabat Kasubag PEP. Dari tahun 2017 hingga saat ini, Mansuetus ditarik kembali untuk bertugas di Dinas Pariwisata Ngada dengan jabatan Kepala Seksi Kelembagaan.

Saat dihubungi Media SULUH DESA, Kamis (18/03/2021) siang melalui panggilan telepon, untuk dimintai tanggapannya mengenai pola pengembangan pariwisata di Ngada sesuai dengan konsep TANTE NELA PARIS (Tani, Ternak, Nelayan, Pariwisata) yang digaungkan dan menjadi program unggulan Bupati Ngada Andreas Paru dan Wakil Bupati Ngada Raymundus Bena, Mansuetus banyak memberikan pandangan.

Sosok yang bersahaja ini mengatakan bersyukur kepada Tuhan karena Kabupaten Ngada memiliki keindahan alam yang terbentang luas dengan kekayaan sumber dayanya.

Menurut Mansuetus, Kabupaten Ngada mempunyai potensi pariwisata yang apabila dipoles dengan baik akan go internasional, apalagi program TANTE NELA PARIS yang dikembangkan oleh Bupati Ngada Andreas Paru saat ini sangat realistis dan ideal, serta cocok dikembangkan untuk pembangunan Ngada ke depan.

“Pariwisata di Kabupaten Ngada saat ini menjadi salah satu destinasi wisata bagi wisatawan domestik maupun wisatawan asing,” jelas Mansuetus.

Dikisahkannya, pariwisata di Kabupaten Ngada baru dibentuk tahun 1995 saat Bupati Yohanes Samping Aoh memimpin. Bupati Yohanes Aoh  saat itu memiliki pemikiran untuk mengembangkan potensi pariwisata di Ngada yang bagus harus dan harus memiliki potensi sumber daya manusia (SDM) di bidang pariwisata yang mumpuni.

Mansuetus Gisi, S.E.Par di Sa’o Ngada Ine Sina.

“Kebetulan saat itu saya sebagai seorang PNS di Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada lalu saya ditugaskan untuk belajar di Bandung. Berbekalkan ilmu pengetahuan tentang pariwisata yang saya dapatkan, saya coba kembangkan tempat pemandian air panas di Mengeruda, kampung tradisional Bena, taman 17 pulau di Riung pada masa kepemimpinan Bupati Ngada Bapak Albertus Nong Bota. Tempat-tempat itulah yang menjadi fokus kita. Saya usulkan ke Bapak Bupati Albertus Nong Bota untuk bangun dermaga di Riung karena dasar pantai di Riung itu lumpur dan ketika air surut, wisatawan yang berjalan jauh akan penuh lumpur. Untuk itu kami bangun dermaga dan pada tahun 2003 dermaga itu berhasil dibangun,” tuturnya.

Dijelaskannya pula bahwa, kolam pemandian ai panas di Mengeruda ada kolam komersil pertama namun tidak bisa digunakan karena airnya berwarna cokelat.

“Akhirnya saya coba dengan ilmu yang saya dapatkan untuk mengubah air yang tadinya warna cokelat sekarang menjadi biru karena ada sirkulasi air yang masuk, tidak pakai pipa tetapi melalui saluran, karena kandungan airnya mengandung belerang. Lalu di kampung tradisional Bena kita ubah yang dulu wisatawan masuk melalui kampung, sekarang sudah bisa melalui jalan raya menuju Jerebuu dengan karcis dulu itu Rp. 2000 sekarang menjadi Rp. 25.000. Makanya kita harus bersyukur kepada Bapak Nani Aoh dan Albert Nong Bota yang saat memimpin Kabupaten Ngada sangat konsen terhadap dunia pariwisata. Apresiasi untuk beliau berdua,” kata Mansuetus.

Mansuetus mengatakan, terkait kondisi saat ini dengan program Tani, Ternak, Nelayan, dan Pariwisata (TANTE NELA PARIS) yang dikembangkan Bupati Ngada Andreas Paru dan Wakil Bupati Ngada Raymundus Bena sangat sinkron, sebab kebutuhan pariwisata masuk dalam misi pertama, ketiga, keempat, dalam empat strategi pembangunan di Ngada.

Mansuetus memaparkan tentang pendekatan pentahelix pariwisata misi pertama yaitu: meningkatkan sarana prasarana pendukung destinasi pariwisata.

“Nah apa yang harus kita buat agar produk ini punya daya saing seperti air, listrik, telekomunikasi. Jangan sampai wisatawan berkunjung tetapi tidak bisa menggunakan telekomunikasi. Lalu fasilitas pendukung seperti MCK, kuliner itu harus ada di setiap obyek wisata,” tuturnya.

Mansuetus menyampaikan, kelembagaan obyek wisata di desa itu harus ada karena obyek itu milik masyarakat atau komunitas.

“Kita harus berpikir bentuk pengelolaan atau badan pengelolaan seperti apa sehingga masyarakat dilibatkan atau disiapkan untuk mengelola kelompok sadar wisata (POKDARIS). Dinas Pariwisata Ngada sudah memiliki Perda Nomor 2 Tahun 2017 tentang rencana induk pembangunan pariwisata, dan Pemerintah Daerah menetapkan Ngada dengan 7 kawasan strategis pariwisata daerah. 7 kawasan itu yakni: kawasan  Riung, kawasan Wolomeze, kawasan Soa, kawasan Bajawa, kawasan Golewa, kawasan Jerebuu, kawasan Aimere dan Inerie,” urainya.

Ditambahkan pria sederhana ini bahwa, 7 kawasan strategis ada supaya lebih fokus untuk pengembangan TANTE NELA PARIS, pengembangan sistem jaringan harus dijalankan.

“Flores menjadi satu kawasan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dengan Labuan Bajo. kita di Ngada tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus bekerja bersama Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo karena ada Komodo. Kita tidak dapat berjalan sendiri. Kita harus kerja sama untuk pemasarannya,” tegas Mansuetus.

Untuk saat ini, ucapnya, kualitas jalan menuju pusat pertanian dan tempat pariwisata hampir sebagian besar sudah bagus.

“Saya berharap dengan adanya program TANTE NELA PARIS ini infrastruktur yang masih belum memadai seperti contoh jalan masuk ke Maghilewa dan Sebowuli harus diperhatikan seperti peningkatan hotmix. Pemerintah harus perhatikan ini dan saya senang karena Bapak Gubernur NTT Viktor Laiskodat melalui Dinas PU saat ini membangun jalan dari Bajawa ke Riung, dan itu sedang dikerjakan. Mudah-mudahan tahun ini selesai, karena banyak pengeluhan wisatawan bahwa untuk menempuh perjalanan ke Riung bisa berjam-jam. Digital informasi, pemasaran informasi, kemampuan SDM harus terus ditingkatkan,” harapnya.

Terkait pentahelix pariwisata, lanjut Mansuetus, harus ada stakeholder yaitu ada 5 unsur: pemerintah, masyarakat, bisnis atau swasta, akademisi, dan media.

“Lima stakeholder ini harus dikolaborasikan agar pembangunan pariwisata tidak hanya pemerintah saja tetapi semua ikut terlibat dengan tugasnya masing-masing. Sehingga ada kekuatan dan pembangunan pariwisata bisa berhasil. Saat ini dengan banyaknya media maka dapat menjadi mitra dalam promosi pariwisata dengan kelebihannya. Pemerintah Daerah Ngada memiliki tugas untuk menggandeng media. Pemda Ngada juga harus menggandeng akademisi. Karena banyak orang kita sudah banyak yang menjadi Doktor, mereka itu harus dilibatkan karena punya kemampuan analisis sehingga program TANTE NELA PARIS ini dapat berhasil,” imbuh Mansuetus.

Namun hal ini sudah ditegaskan juga oleh Bupati Ngada Andreas Paru, tinggal bagaimana implementasinya.

“Pengalaman saya, pemerintah perlu merangkul stakeholder sejak mulai perencanaan sampai pelaksanaan. Seharusnya media menjelaskan kepada masyarakat agar masyarakat paham karena mereka yang berada di obyek wisata. Kita harus meyakinkan mereka. Harapan saya, kita harus bisa buat lebih konkrit lagi untuk 7 kawasan pariwisata ini,” tutupnya. (idus/vrg)

Komentar

News Feed