oleh

Kades Warupele II di Ngada Diduga Memalsukan Ijazah

WARUPELE II, suluhdesa.com | Kletus Obaria, Kepala Desa Warupele II, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, diduga memalsukan dan menggunakan ijazah palsu selama ini. Ijazah sekolah dasar (SD) tersebut diduga digunakan Kletus Obaria untuk memuluskan dirinya dalam proses pencalonannya sebagai Kepala Desa Warupele II hingga dirinya lolos seleksi dan tepilih menjadi kepala desa selama tiga periode.

Hal ini disampaikan salah satu sumber kepada Media SULUH DESA, Kamis (04/03/2021) Pukul 14.00 Wita.

Sumber yang meminta supaya namanya dirahasiakan mengungkapkan bahwa, sejak periode kedua Kepala Desa (Kades) Warupele II Kletus Obaria memimpin, kasusnya sudah banyak bertumpuk dan salah satu yang dipermasalahkan adalah ijazah palsu.

“Kletus Obaria tidak lulus SD atau tidak tamat SD. Dalam perjalanan ia ikut Paket B. Ketika Paket B selesai, pihak Pendidikan Luar Sekolah (PLS) meminta dia menyerahkan ijazah SD. Ketika diminta, dia mulai berkelit bahwa dia sudah lulus. Berdasarkan penelusuran kami, ada pihak lain yang membantu Kletus membuat ijazah palsu. Mereka mencari cara dengan meng-copy ijazah milik orang, dilak, dan ditulis ulang. Yang menjadi kecurigaan kami adalah copy-an itu tanggal dan bulan di depan dan di belakang berbeda dan foto copy ijazah tahun 1975 itu ada di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Ngada,” ungkapnya.

Menurut sumber tersebut, dari tahun 2010 ketika ditelusuri terus akhirnya sampai ke pihak PLS dan waktu itu ada seorang Ibu bernama Ros Gapi yang menjadi Kepala Bidang di Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada.

“Saya tanya, ibu apa benar Kletus Obaria ini ikut lagi paket A? Oh iya, coba dilihat. Akhirnya dalam buku induk itu dia ikut Paket A tahun 2010. Saya tanya lagi apa benar bu? Karena Kletus Obaria ikut Paket B tahun 2008 kemudian ikut Paket A 2010. Apa tidak salah itu? Karena hal tersebut, waktu itu Ibu Ros langsung telepon ke Pak Jhoni Nono yang masih Kepala Pelaksana di SKB Aimere itu dan dijawab Pak Jhoni, iya betul ibu yang sekarang Kepala Desa Warupele II. Pak Jhoni sampaikan kalau begitu ijazah jangan dikasih. Akhirnya sampai sekarang tidak dikasih keluar. Terus dalam pemeriksaan oleh Inspektorat Ngada tahun 2011 itu alasan Kletus Obaria sampaikan itu dilakukan hanya untuk memperoleh ijazah asli karena ijazah aslinya sudah hilang saat pemindahan Desa Warupele II dari Ruto ke Pali. Alasannya seperti itu di Inspektorat masih ada tuh,” bebernya.

Sumber itu mengatakan bahwa Kletus Obaria sebagai pemimpin sudah melakukan kebohongan dan penipuan publik secara berjenjang.

“Jadi semua orang dia tipu dengan caranya dia, termasuk dia menipu Almarhum Bapak Paulus Nawa. Kletus Obaria juga menipu Kepala SD Pali saat ini. Kepala PLS Bapak Tinus Laga sampai polisi dia tipu semua. Nah pada waktu itu dia bersekongkol dengan Bupati Ngada Marianus Sae yang dia anggap itu dia punya dewa toh,” tohoknya.

Sumber tersebut menyampaikan bahwa dirinya dan beberapa pihak meminta Ombudsman untuk mengurusi kasus penggunaan ijazah palsu oleh Kletus Obaria sebagai Kepala Desa Warupele II.

“Dinas PPO Ngada kita juga minta untuk telusuri tetapi tidak mempan. Kami ini telusuri dan kami punya bukti. Kami sampai bongkar ini ke media karena kami tidak benci Kletus. Hanya kami tidak mau cara-caranya dia itu bakal mengajarkan ke yang lain untuk melakukan kejahatan serupa. Bagaimana nasib anak-anak muda ke depan kalau ikut cara kerja Kletus yang seperti penjahat ini. Kletus Obaria itu memalsukan ijazah SD Ruto I tahun 1975 supaya bisa memperoleh paket B dan menjadi pertanyaan kami, kalau benar kenapa ikut lagi Paket A? Ada nomor seri ijazah tinggal dia buktikan ke publik toh. Masa Kletus Obaria ikut Paket B tahun 2008 kemudian ikut Paket A 2010. Ini ada kerja sama berjenjang yang saling melindungi di Ngada ini,” urainya.

Ia menambahkan, “kami sampaikan ke Kletus Obaria bahwa mengenai banyak penyelewengan dan hal-hal yang dilakukannya sebagai Kepala Desa Warupele II itu salah dan kami akan laporkan ke kejaksaan, polisi, dan dinas terkait. Kletus malah jawab kami, silakan saja. Itu mereka semua saya punya teman.”

Kepala Desa Warupele II Kletus Obaria saat dihubungi Media SULUH DESA, Kamis (04/03/2021) Pukul 15.00 Wita menjawab bahwa, ijazah sekolahnya di Paket B itu Dinas PPO Ngada yang mengeluarkan.

“Soal ijazah itu bukan saya yang palsukan. Itu dinas yang kasi keluar. Terus terang ada warga Desa Warupele II yang meragukan ijazah saya dan mereka ke dinas hanya untuk mengecek tetapi dari dinas tidak berikan jawaban. Loh kami yang keluarkan ijazah bukan beliau sendiri. Itu jawaban orang di Dinas PPO Ngada. Saya punya ijazah Paket B yang pada saat itu digelar oleh oleh Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Aimere di Desa Warupele I. Waktu itu saya daftar karena ada pembukaan di situ. Kalau di Warupele II itu saya iktu Paket C. Akhirnya kami belajar di Desa Warupele I yang ada paket B,” terang Kades Kletus.

Kades Kletus mengatakan juga bahwa, dirinya belum memiliki ijazah SMP.

“Akhirnya saya ke Paket B di Desa Warupele I. Saya dulu SD di Ruto tahun 1975/1976. Sesudah jabat kepala desa periode kedua baru saya ikut Paket B. Ijazah itu dinas yang keluarkan. Saya tidak punya hak manipulasi ijazah,” jelas Kades Kletus.

Surat dari Almarhum Paulus Nawa yang membatalkan surat keterangan lulus kepada Kletus Obaria

Saat ditanyai media, apakah dirinya dapat membuktikan ke media jika memiliki ijazah asli, Kades Kletus mengalihkan pembicaraan ke hal lain.

Berhubung Kepala SDK Pali Paulus Nawa yang menjabat pada saat Kades Kletus masih bersekolah tahun 1975 telah meninggal dunia, maka Media SULUH DESA menghubungi Kepala SDK Pali setelahnya yang bernama Welem Roja. Namun nomor telepon milik Welem Roja susah dihubungi karena tidak aktif.

Akhirnya media ini berhasil memperoleh nomor telepon milik Aloysius Dea yang juga pernah menjabat Kepala SDK Pali setelah Welem Roja.

Aloysius Dea yang telah pensiun ini dihubungi Media SULUH DESA, Senin (15/03/2021) menjelaskan bahwa, saat Kletus Obaria menjabat sebagai Kepala Desa Warupele II periode pertama, sekitar tahun 2005, Kletus Obaria pernah mendatangi dirinya untuk meminta surat yang menerangkan bahwa dirinya sudah lulus dari SDK Pali.

“Dia pernah datang untuk minta surat kelulusan. Namun saya berpedoman pada dokumen negara yaitu buku induk. Sesuai dengan catatan dalam buku induk itu, saya kemudian membuat surat keterangan tamat. Bukan surat yang menyatakan bahwa Kletus lulus. Surat itu mengetahui Kepala Cabang Dinas PPO Ngada di Aimere waktu itu Bapak Paulus Tay Wejo. Saya tidak pernah menyatakan lulus. Karena di dalam buku induk SDK Pali tidak menyatakan Kletus itu lulus sekolah. Tamat itu berarti dia sampai kelas 6 SD. Tetapi kalau lulus kan belum tentu. Jadi kata tamat dan lulus itu berbeda maknanya,” tegas Aloysius Dea.

Aloysius Dea menambahkan, “kalau ada keterangan selanjutnya bahwa Kletus berijazah itu saya tidak tahu dan itu urusan Kepala SDK Pali yang lain. Kalau saya hanya menyatakan Kletus Obaria itu tamat. Buktinya itu ada di buku induk di sekolah. Kalau buku induk sudah dihilangkan itu bukan menjadi urusan saya. Itu urusan mereka yang sekarang. Waktu itu Kletus sempat meminta saya untuk membuat surat kelulusan, tetapi saya bilang tidak karena ada buku induk. Buku induk itu dokumen negara yang tidak bisa disalahgunakan.”

Aloysius Dea juga menyampaikan bahwa yang membantu mengurusi dokumen milik Kletus Obaria setelahnya adalah Urbanus Bhara yang pernah menjabat sebagai Kepala SDK Pali.

“Pak Urbanus itu sekarang Pengawas Sekolah. Setelah saya pensiun, Pak Urbanus gantikan saya jadi Kepala SDK Pali. Menurut informasi yang dengar itu, Pak Urbanus ini yang mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa Kletus Obaria lulus dari SDK Pali. Kalau saya keluarkan surat keterangan tamat bukan lulus. Saya ikut dokumen negara dan saya tidak mau buat di luar dari aturan itu. Jadi tamat dan lulus itu berbeda. Pak Urbanus Bhara yang bertanggung jawab untuk itu,” ucap Aloysius Dea.

Aloysius menceritakan bahwa, Kletus Obaria pernah bersama Urbanus Bhara datang ke rumah Mantan Kepala SDK Pali Almarhum Paulus Nawa untuk meminta supaya dibuatkan surat keterangan yang menyatakan Kletus Obaria lulus sekolah.

Pada saat itu Kletus Obaria dan Urbanus Bhara membawa serta buku induk SDK Pali. Saat itu Almarhum Paulus Nawa pun membuat surat keterangan bahwa Kletus Obaria lulus dari SDK Pali.

“Mereka suruh bapak tua (Almarhum Paulus Nawa, red) untuk tanda tangan surat keterangan itu. Lalu saat mereka pulang ke Inerie, Bapak Paulus Nawa ini panggil saya. Kebetulan kami bertetangga. Bapak Paulus Nawa kemudian menceritakan bahwa jika Kletus Obaria dan Urbanus Bhara datang meminta dirinya untuk membuat surat keterangan lulus. Lalu saya sampaikan ke Almarhum Bapak Paulus Nawa, bagaimana bapak bisa buat surat keterangan lulus dan tanda tangan. Bapak sudah pensiun tidak punya kewenangan lagi. Jadi yang punya kewenangan itu harus kepala sekolah aktif. Karena saya katakan seperti itu, Bapak Paulus Nawa akhirnya sadar kemudian membuat surat lagi kepada Kletus Obaria yang menyatakan bahwa surat sebelumnya itu (surat keterangan lulus) tidak benar dan tidak sesuai dengan buku induk. Artinya surat kelulusan itu dibatalkan,” beber Aloysius Dea.

Kepala SKB Aimere Wilhelmus Watu, S.Pd, saat mintai penjelasannya lewat telepon mengenai ijazah Paket A dan ijazah Paket B, serta dugaan penggunaan ijazah palsu oleh Kletus Obaria, berkata, “Kletus Obaria tidak pernah menempuh pendidikan apapun di SKB Aimere.”

“Kletus Obaria itu menggunakan ijazah Paket B yang dikelola oleh Bapak Martinus Laga. Dulu itu Pak Tinus jadi Penilik Pendidikan Masyarakat (Dikmas) PPO Kabupaten Ngada di Aimere. Penilik Dikmas itu punya kelompok belajar paket. Ada Paket A, Paket B, dan Paket C. Mereka punya kelompok sendiri waktu itu dan tidak menjadi bagian dari SKB Aimere. Saat ini Penilik Dikmas itu bersama kelompok belajarnya sudah tidak ada lagi. Jadi paket itu sekarang pusatnya baru ada di SKB Aimere. Persoalannya Kletus Obaria ini sudah dari dulu dan yang bersangkutan tidak pernah datang ke sini. Dulu sih Kletus itu pernah datang ke SKB Aimere untuk ikut Paket A. Tetapi janggal. Masa ijazah Paket B-nya keluar terlebih dahulu. Saat kami minta ijazah Paket A atau ijazah SD itu tidak ada. Katanya hilang. Lalu saya jelaskan bahwa tidak bisa karena umur ijazah SD lebih muda dari ijazah SMP itu tidak masuk akal dan akan menyalahi aturan. Tidak benar itu. makanya kami tolak waktu dan Kletus tetap menggunakan ijazah Paket B yang dikelola Pak Martinus Laga. Soal ijazah SD itu saya tidak tahu,” ucap Wilhelmus sambil terkekeh merasa lucu.

Camat Inerie Drs. Ignasius Dhedho, yang dihubungi media ini untuk dimintai tanggapannya terkait dengan dugaan penggunaan ijazah palsu oleh Kepala Desa Warupele II Kletus Obaria, mengatakan bahwa, “soal ijazah palsu itu memang waktu pendafataran oleh Kletus Obaria menjadi Calon Kepala Desa Warupele II, yang menentukan palsu atau tidak itu adalah lembaga yang berwenang, yaitu dari Dinas Pendidikan.”

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ngada Vinsensius Milo melalui Sekretaris Dinas Goris Keo yang dikonfirmasi Senin (15/03/2021) menjawab bahwa, dugaan penggunaan ijazah palsu oleh Kletus Obaria telah disampaikan ke Ombudsman NTT.

“Kita juga sudah telusuri dugaan ijazah palsu milik Kletus Obaria ini melalui uji petik di SKB Aimere. Data yang kita peroleh itu adalah Kletus Obaria dulu tamat dari SD di Kelitei. Namun karena peristiwa bencana alam atau entah apa waktu itu, menurut Kletus, ijazahnya hilang. Lalu Kletus melaporkan ke polisi kemudian polisi mengeluarkan surat keterangan kehilangan ijazah SD. Atas dasar surat keterangan kehilangan ijazah ini lalu Kletus mendaftarkan diri sebagai peserta Paket B di SKB Aimere,” tandas Goris Keo.

Goris Keo menerangkan pula bahwa, setelah melewati berbagai prosedur, Kletus Obaria diterima menjadi warga belajar di SKB Aimere Paket B. Setelah mengikuti proses pembelajaran, sampai pada saatnya Kletus Obaria pun mengikuti ujian Paket B. Kemudian Kletus Obaria dinyatakan lulus dari SKB Aimere. Berbekalkan ijazah SKB Aimere, Kletus Obaria lalu mencalonkan diri di Pemilihan Kepala Desa Warupele II.

Surat dari Almarhum Palus Nawa kepada Kletus Obaria

“Dalam perjalanan, Kletus Obaria mendaftarkan diri lagi untuk megikuti Paket A. Setelah berproses di Paket A, Kletus Obaria mengikuti ujian Paket A dan dinyatakan lulus. Sebelum ijazah Paket A itu dikeluarkan atau diterbitkan oleh SKB Aimere, masalah ini muncul. Dinas PPO Ngada mendapatkan informasi lalu melakukan penelusuran ke SKB Aimere dan didapatkan ijazah Paket A belum diisi apa-apa. Tidak ada nama, tidak ada apa-apa. Lalu ijazah Paket A itu diperintahkan untuk diblokir dan tidak boleh digunakan karena menyalahi prosedur,” imbuh Goris Keo.

Bahwa menjadi warga Paket B, tambah Goris Keo, itu sudah menggunakan ijazah SD, karena hilang dan berbekal surat keterangan kehilangan ijazah dari kepolisian dan surat tamat dari Kepala SD Kelitei waktu itu.

“Jadi ijazah Paket A terkesan keluar setelah Paket B. Ini sangat janggal. Ijazah Paket A milik Kletus Obaria sampai hari ini tidak digunakan. Itu secara resmi sudah disurati oleh Ombudsman ke Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada kalau tidak salah sekitar tahun 2012 atau 2013. Waktu itu Kepala Dinas Pendidikan Ngada adalah Frans Wogha. Kemudian yang bertanggung jawab menangani dokumen milik Kletus Obaria adalah instansi yang mengeluarkannya. Yaitu SD di mana Kletus Obaria pernah bersekolah. Yang bertanggung jawab juga adalah SKB Aimere karena mereka yang mengeluarkan ijazah Paket B milik Kletus Obaria. Jadi Dinas Pendidikan Ngada hanya dalam kapasitas memberikan pembinaan dan pengawasan. Sedangkan sah atau tidak, ada atau tidak ijazahnya itu, tugas dan tanggung jawab dari Kepala SD tempat Kletus pernah bersekolah,” ujar Goris Keo.

Kapolres Ngada AKBP Rio Cahyowidi yang pernah dihubungi Media SULUH DESA, Selasa (09/03/2021) siang saat dimintai tanggapannya untuk dugaan penggunaan ijazah palsu oleh Kepala Desa Warupele II Kletus Obaria, meminta supaya masyarakat yang mengetahui dugaan itu dapat bertemu dirinya di Polres Ngada.

Kepala Inspektorat Ngada Paulus Gono saat dimintai tanggapannya terkait dugaan penggunaan ijazah palsu oleh Kepala Desa Warupele II Kletus Obaria, menjawab, “Mau konfirmasi terkait dgn langkah-langkah yang akan dilakukan sehubungan dengan pengaduan masyarakat yang terkuak di medsos, silahkan ke Inspektorat Ngada.”

“Minta masyarakat itu untuk datang supaya saya bisa arahkan ke bagian yang bisa menanganinya,” jawab Rio.

Sampai berita ini diturunkan, Media SULUH DESA sedang berupaya menghubungi Mantan Kepala SDK Pali Urbanus Bhara, Ketua BPD Warupele II Aloysius Loy Turu, Martinus Laga, pihak Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Ngada, dan pihak Ombudsman NTT.

Berdasarkan data yang berhasil diperoleh media ini, terdapat surat pernyataan berisi tentang pembatalan untuk surat keterangan lulus dari SDK Pali yang dibuat oleh Mantan Kepala SDK Pali Almarhum Paulus Nawa tertanggal 10 November 2010. (fwl/msd)

Komentar

News Feed