oleh

Pertama Kalinya Bupati Ngada Berkunjung ke Maghilewa, Ini Ungkapan Para Tokoh

-Berita, Daerah, Wisata-1.808 views

MAGHILEWA, suluhdesa.com | Banyak apresiasi dan tanggapan positif datang dari seluruh tokoh Maghilewa terhadap kunjungan yang dilakukan Bupati Ngada Andreas Paru yang mengunjungi Kampung Adat Maghilewa, Desa Inerie, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Jumat (12/03/2021). Kunjungan Bupati Ngada Andreas Paru ke Maghilewa ini merupakan yang pertama kali sejak dirinya dilantik. Ini dilakukannya untuk mengidentifikasi kampung adat supaya dapat dijadikan tujuan pariwisata baru di Kabupaten Ngada. Andreas Paru sebagai Bupati Ngada yang menjejakkan kakinya ke Kampung Maghilewa menjadi catatan sejarah dan akan terukir sepanjang masa. Sebab, Bupati Ngada yang melawat ke punggung bukit Inerie nan asri ini adalah yang pertama kalinya sejak Kabupaten Ngada terbentuk.

Saat dihubungi Media SULUH DESA, Sabtu (13/03/2021) pagi, beberapa tokoh ini mengaku bahagia, dan mengucapkan terima kasih mereka untuk Bupati Ngada Andreas Paru yang telah mengunjungi Kampung Adat Maghilewa di kaki Gunung Inerie.

Berikut ini merupakan ungkapan dan apresiasi dari para tokoh Maghilewa yang tersebar di seluruh Indonesia untuk Bupati Ngada Andreas Paru.

Nikolaus Loy yang merupakan Putra Maghilewa, dan kini menetap di Yogyakarta menyampaikan terima kasihnya kepada Bupati Ngada Andreas Paru.

“Semoga kunjungan tersebut memotivasi anak muda untuk mengembangkan dan melestarikan 4 Kampung Adat (Kampung Maghilewa, Kampung Jere, dan Kampung Watu, serta Kampung Leke) sebagai sumber pembelajaran sejarah dan nilai-nilai budaya. Anak-anak muda Maghilewa harus bangkit,” ucap Staff Pengajar UPN Veteran Yogyakarta ini.

Hal lain disampaikan Arnoldus Wea, yang saat ini berkarya di Jakarta. Co-Founder Gerakan Dhegha Nua, satu gerakan rindu dan berbuat untuk kampung halaman yang bernaung di bawah Arnoldus Wea Foundation ini mengatakan bahwa, kunjungan Bupati Ngada Andreas Paru sejalan dengan visi Gerakan Dhegha Nua.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Andreas Paru sebagai Bupati Ngada yang telah datang ke Maghilewa. Beliau adalah Bupati Ngada pertama yang berkunjung ke Kampung Maghilewa. Kami sangat mengapresiasi hal ini. Kunjungan Bupati Ngada ini mestinya memantik respon dari anak-anak muda Maghilewa untuk ingat kampung, pulang kampung, dan bangun kampung,” kata pria ini yang akrab dipanggil Aldo.

Kepada Bupati Ngada, Aldo meminta perhatian khusus untuk Maghilewa dan kampung adat lainnya di Ngada agar bisa terus mempertahankan kelestariannya dari gerusan zaman dalam bentuk payung hukum berupa Peraturan Daerah dan program revitalisasi.

“Ketika kelestarian kampung adat dijaga, potensi pariwisata akan muncul dengan sendirinya. Kampung Maghilewa itu ibarat gadis cantik yang dipeluk Inerie sambil menatap matahari terbit dan terbenam di Mau Su’i, tapi luput dari perhatian selama ini. Maghilewa ibarat gadis cantik yang selama ini kekurangan air bersih jadi jarang mandi sehingga kebersihan kurang dijaga dan tidak mampu menunjukkan kecantikan di dunia luar,” imbuh Aldo.

Tanpa listrik, tambah Aldo, membuat Maghilewa sering gelap dan keindahannya tidak terlihat. Oleh karena itu diaspora Maghilewa menitipkan kampung ini kepada Bupati Ngada Andreas Paru untuk dipeluk, dijaga, dirawat dan dipercantik bersama anak-anak muda lainnya yang memiliki semangat untuk mengabdi.

Ucapan apresiasi datang juga dari Stefanus Tuga yang kini menjabat sebagai Kepala Cabang Bank NTT di Maumere.

“Kami mengapresiasi dan berterima kasih atas kunjungan Bapak Andreas Paru karena beliau merupakan Bupati Ngada pertama yang mengunjungi Kampung Maghilewa. Maghilewa adalah kampung leluhur kami dan kami bangga sebagai bagian yang dilahirkan oleh Maghilewa. Maghilewa adalah ibu untuk kami semua,” ujar Stefanus Tuga.

Stefanus Tuga mengharapkan bahwa, kunjungan Bupati Ngada ke Kampung Maghilewa kiranya mampu membangun spirit dan dorongan untuk masyarakat Desa Inerie agar Kampung Maghilewa harus dihidupkan kembali.

Kunjungan Bupati Ngada Andreas Paru juga memberikan pesan kuat untuk warga Maghilewa bahwa kampung bukan hanya rumah adat tetapi harus ada manusia yang menetap di sana.

“Yang sudah meninggalkan Kampung Maghilewa dan berpindah ke Kampung Malapedho, atau ke tempat lain, mari kita kembali ke Kampung Maghilewa. Semoga kunjungan ini memberikan sinyal untuk realisasi program TANTE NELA PARIS di Kampung Maghilewa, Kampung Jere dan Kampung Watu, serta Kampung Leke,” harapnya.

Romo Aloysius Lae, Pr, Putra Maghilewa yang bertugas sebagai Pastor Paroki Santo Josef Freinademetz Mautapa, Ende, juga memberikan apresiasi terhadap kunjungan Bupati Ngada ke Kampung Maghilewa.

“Saya mengapresiasi dan sambut dengan ucapan terima kasih karena kunjungan ke Maghilewa adalah bentuk perhatian dari Bapak Andreas Paru sebagai Bupati Ngada. Tapi jangan sampai pemerintah dibebankan seolah menjadi pelaku utama. Orang Maghilewa harus menjadi subyek utama dan menjadi pelaku utama budaya dan pariwisata,” pinta Romo Alo.

Bupati Ngada Andreas Paru berkunjung ke Kampung Maghilewa.

Romo Alo secara tegas meminta agar warga Kampung Maghilewa perlu membangun kesadaran tentang potensi kampung adat dalam bentuk studi banding ke kampung wisata lainnya.

“Terimakasih Pak Arnoldus Wea atas in isiatif dan perjuangan selama ini untuk Maghilewa. Semoga suatu saat kita bisa duduk bersama di Kampung Maghilewa. Maghilewa adalah ibu kita,” tandas Romo Alo.

Romi Juji, yang adalah Tokoh Pemuda Kampung Maghilewa berharap bahwa kunjungan Bupati Ngada Andreas Paru ke Maghilewa, Jere, dan Watu, serta Leke adalah bagian dari membangun gagasan dari berbagai pihak, baik warga Inerie di Malapedho, warga dan tokoh diaspora Maghilewa, Jere, dan Watu, serta Leke tentang harapan back to nature.

“Kalau kita berbicara tentang Kampung Maghilewa, tidak terpisahkan dari Kampung Jere, dan Kampung Watu, serta Kampung Leke karena memiliki sejarah peradaban yang sama yakni sebagai sumber pembangunan sumber daya manusia pertama yang selanjutnya menyebar ke sisi selatan sepanjang Pantai Laut Sawu,” tegas Juji.

Juji menawarkan pembangunan Kampung Maghilewa, Jere, dan Watu, serta Leke sebagai destinasi wisata yang sangat tepat untuk menjadi daya tarik warga Maghilewa yang saat ini sudah berpindah ke Kampung Malapedho di pesisir pantai selatan Ngada.

Juji meyakini bahwa hal ini mampu memastikan ketersediaan pangan lokal bagi kebutuhan wisatawan, menyiapkan cadangan pangan bagi masyarakat sendiri, dan mengembangkan tanaman komoditi unggulan. Ini tentunya akan selaras dengan program Bupati TANTE NELA PARIS untuk 3 T (Tuka, Tuku, Teka).

Kompol Say Nono Johanes Vianey, seorang Putra Maghilewa dan sekarang menjabat sebagai Wakapolres Ngada menyampaikan jika dirinya dan dispora Maghilewa lainnya mengucapkan terima kasih untuk kunjungan Bupati Ngada Andreas Paru ke Kampung Maghilewa.

“Sesuai dengan slogan Bapak Bupati Andreas Paru yakni TANTE NELA PARIS, semoga Bapak Bupati bisa memperhatikan Kampung Maghilewa dari segi pariwisata. Kampung adat ini dapat dijadikan tempat kunjungan bagi wisatawan. Kampung Maghilewa kiranya masuk dalam program unggulan dalam pembangunan bidang pariwasata Ngada seperti Kampung Bena dan Kampung Tololela,” ungkap Kompol Say Nono.

Agus Ghedo Turu, Wartawan Senior tinggal di Bali mengaku sangat bangga dan bahagia atas kunjungan Bupati Ngada Andreas Paru ke Maghilewa.

Sebagai putra asal Kampung Maghilewa Agus Turu berterima kasih kepada Bupati Ngada Andreas Paru yang sudah mengunjungi Maghilewa.

“Dalam catatan sejarah Ngada, ini adalah kunjungan pertama Bupati Ngada ke Kampung Maghilewa. Ini menjadi sejarah sejak terbentuknya Kabupaten Ngada. Saya berharap kunjungan Bapak Bupati ke Maghilewa berdampak bagi makin menguatnya cinta masyarakat Inerie terhadap warisan leluhurnya. Selain itu bisa menyadarkan para pemilik kampung Watu, Jere, dan Leke untuk mengembalikan kampung warisan leluhurnya sesuai bentuk aslinya. Demi dan untuk suksesnya program “Tante Nela Paris” maka harus ada regulasi yang jelas terhadap keberadaan kampung tradisional dan dukungan anggaran dari APBD Ngada,” urai Agus Turu.

Hubertus Sari, Putra Maghilewa yang mengabdikan dirinya menjadi seorang Guru dan Ketua Koperasi Kredit Sinar Harapan Malapedho di Jerebuu mengatakan, “pertama sekali tentu kita berterima kasih dan memberi apresiasi kepada Bapak Bupati Ngada Andreas Paru untuk kunjungannya ke kampung halaman tercinta Kampung Maghilewa.”

Hubertus memiliki harapan bahwa kiranya Maghilewa saat ini dan ke depan dapat menjadi kediaman yang layak, nyaman, dan menjanjikan buat para warganya.

“Karena itu sarana dasar seperti air minum, jalan, serta listrik mesti memadai. Melalui intervensi program TANTE NELA PARIS, Maghilewa dan sekitarnya dapat memberi pendapatan plus bagi warga melalui produk pertanian, perkebunan, dan tentunya pariwisata,” tutup Hubertus.

Diberitakan media ini sebelumnya bahwa, Bupati Ngada Andreas Paru mengunjungi Kampung adat Maghilewa di Desa Inerie, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Jumat (12/03/2021).

Bupati Andreas Paru yang hadir bersama SKPD terkait melaksanakan kunjungan kerja ke Kampung Maghilewa kali ini dengan tujuan untuk memastikan dan mengidentifikasi Maghilewa sebagai Kampung Adat sekaligus menjadi destinasi wisata potensial yang ada di Kabupaten Ngada.

Menanggapi kehadiran Bupati Andreas Paru, masyarakat adat Kampung Maghilewa sangat antusias dan merasa bangga, sebab ini adalah kali pertama Bupati Ngada mengunjungi Kampung Maghilewa. Masyarakat merasa bahwa seorang pemimpin telah sungguh hadir untuk mendukung Kampung Maghilewa sebagai Kampung Pariwisata.

Bupati Andreas sendiri, saat ini, tengah fokus membangun pariwisata di Kabupaten Ngada yang termuat dalam tagline “Tanta Nela Paris” (Tani, Ternak, Nelayan, Pariwisata). Niat baik Bupati ini perlu diapresiasi. Kunjungan ke Maghilewa kali ini menunjukkan bahwa ada komitmen yang kuat dari Bupati Andreas Paru untuk membangun pariwisata di Ngada.

Komitmen kuat dari Bupati Ngada ini, harus bersinergi dengan masyarakat. Di Kampung Maghilewa sendiri, selama ini, kegiatan revitalisasi kampung agar siap menjadi Kampung Pariwisata telah dilakukan oleh Pemerintah Desa Inerie yang bekerja sama dengan Yayasan Arnoldus Wea.

Bupati Andreas menyampaikan terima kasih untuk berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Inerie yang bekerja sama dengan Yayasan Arnoldus Wea. Ia berharap akan ada banyak orang yang peduli dan siap membantu untuk menyukseskan program kerja “Tanta Nela Paris”. (fwl/bg)

Komentar

News Feed