oleh

Kadinsos Ngada Diduga Membayar Polisi Terkait Kasus Neneng, Ada Kuitansi

-Berita, Daerah-6.389 views

BAJAWA, suluhdesa.com | Yohanes Vianey Siwe, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, diduga membayar salah satu oknum Anggota Polres Ngada dengan uang Rp. 10.000.000 untuk mencabut laporan yang dibuatnya terkait dengan penyalahgunaan uang yang dilakukan Mantan Bendahara Dinas Sosial Ngada Neneng Prihatin sebesar Rp. 183.574.134 pada tahun 2019. Hal ini dilakukan Kadis Siwe untuk membebaskan Neneng dari jeratan hukum dan mengeluarkannya dari ruang tahanan yang sempat dijalani Neneng selama hampir dua minggu.

Demikian informasi dari salah satu sumber Media SULUH DESA di Dinas Sosial Kabupaten Ngada yang meminta supaya namanya dirahasiakan, Selasa (09/03/2021) Pukul 08.00 WITA.

Menurut sumber tersebut, sampai saat ini mereka mempertanyakan cara Kadis Siwe dalam menangani proses hukum yang berkaitan dengan dengan dugaan tindakan korupsi atau penyalahgunaan keuangan yang dilakukan Neneng.

Menurutnya, Kadis Siwe harus tegas dan memproses Neneng ke Polres Ngada, selanjutnya saat diserahkan ke pengadilan, hakim yang memiliki kewenangan memutuskan apakah Neneng harus menggantikan uang tersebut atau tidak.

“Kan kalau diproses di Pengadilan itu hakim yang memutuskan. Neneng menjalani masa tahanan dan mengganti kerugian yang dilakukannya. Bukan Pak Kadis yang bicara sendiri dengan Inspektorat Ngada untuk tidak proses Neneng. Malah pergi cabut laporan polisi dan kami duga itu bayar kepada oknum polisi karena ada kuitansi yang Bapak Kadis catat. Kami tahu Bapak Kadis minta uang di Neneng itu sebesar Rp. 10.000.000. Kami ada bukti kok. Ini ada kuitansi tertulis telah terima dari Neneng Prihatin uang sejumlah Rp. 5.000.000. yang tanda tangan itu Bapak Kadis Yohanes Vianey Siwe sebagai penerima pada tanggal 18 Oktober 2019. Memangnya cara penyelesaian hukum di Indonesia begini kah? Kalau ada penyalahgunaan uang atau ada indikasi korupsi diselesaikan dengan ‘omong dame’? Kan itu uang negara bukan uang milik Bapak Kadis atau milik Kepala Inspektorat Ngada,” ungkapnya kesal.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ngada, Yohanes Vianey Siwe

Sumber tersebut yang mengaku merasa kesal dengan sikap dan cara Kadis Siwe, meminta supaya Bupati Ngada Andreas Paru bersama Wakil Bupati Ngada Raymundus Bena untuk membenahi birokrasi di Kabupaten Ngada.

“Birokrasi ini buruk. Butuh orang yang berani membongkar semua kebobrokan yang ada. Ini harus dikawal. Teman-teman di media jangan diam. Karena kalau tidak, maka ke depan akan ada kasus yang sama dan itu penyelesaiannya pasti dengan cara-cara yang saling melindungi serta saling menguntungkan. Intinya Bapak Kadis Sosial bukan panutan dan kami tidak mencontohi hal yang buruk,” tegasnya.

Lanjut sang sumber tersebut, sikap dan tindakan Kadis Siwe yang mencabut laporan polisi walaupun karena beralasan bahwa hal itu dilakukannya lantaran mempertimbangkan aspek kemanusiaan, itu merupakan cara yang keliru bahkan salah.

“Pak Kadis kok mau mengambil risiko ya. Kita tahu, Bapak Kadis punya rasa iba yang tinggi. Belas kasih yang besar. Akan tetapi harus tegas. Bukan mencabut laporan polisi dan tidak melanjutkan proses yang ada. Ini kan tindakan permisif terhadap kejahatan. Ke depan pasti akan ada yang buat lagi. Syukur itu Ibu Neneng mau ganti rugi dengan cara mencicil. Tapi kan lucu. Institusi besar seperti Dinas Sosial jadi macam koperasi. Saya juga heran. Bapak Kadis itu minta uang di Neneng sebesar sepuluh juta untuk bayar oknum polisi yang terima itu laporan polisi tapi kok dalam kuitansi hanya lima juta rupiah. Terus lima juta yang lain untuk siapa? Kasihan juga Ibu Neneng sekarang jadi tidak fokus kerja,” ucapnya.

Dia membeberkan bahwa, berdasarkan pemberitaan media ini yang dibacanya bahwa Neneng telah menyelesaikan tanggung jawabnya, sangat diapresiasinya. (Berita Media SULUH DESA edisi tanggal 25 Februari 2021, https://suluhdesa.com/2021/02/25/disebut-salah-gunakan-uang-di-dinsos-ngada-ini-jawaban-neneng-prihatin/)

“Saya baca berita Media SULUH DESA yang mempublikasikan hak jawab dari Ibu Neneng, itu kan Ibu Neneng mengakui bahwa sudah ia selesaikan yang menjadi tanggung jawabnya karena sudah mencicil semua ke Dinas Sosial Ngada. Ini saya ulangi. Neneng menyampaikan bahwa uang milik Dinas Sosial Ngada itu dipakainya hanya sebesar Rp. 144.692.764. Neneng menjelaskan jika kewajiban dari dirinya untuk menggantikan uang tersebut sebagai bentuk tanggung jawabnya seperti yang telah dijanjikannya di hadapan Inspektorat Ngada telah selesai ia lakukan. Tanggal 2 Maret 2020 Ibu Neneng menyetor Rp. 13.000.000, tanggal 10 Maret 2020 Ibu Neneng menyetor Rp. 8.375.000, tanggal 29 Maret 2020 Ibu Neneng menyetor Rp. 60.000.000, tanggal 31 Maret 2020 Ibu Neneng menyetor Rp. 30.000.000, tanggal 3 Juni 2020 Neneng menyetor Rp. 3.000.000, tanggal 16 Juni 2020 Neneng menyetor Rp. 20.000.000, tanggal 17 Juni 2020 Ibu Neneng menyetor Rp. 10.317.973. Terus keterangan Ibu Neneng bahwa Bendahara Dinsos yang baru Ibu Umi Kalsum juga bertanggung jawab terhadap kerugian sebesar Rp. 38.420.370 itu apakah saat ini sudah selesaikan atau jangan-jangan Bapak Kadis juga diam-diam saja?,” tohoknya sambil menambahkan, “kalau kita cermati berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan yang Ibu Neneng jelaskan dalam berita tersebut ada temuan fiktif sebesar Rp. 38.880.370 yang tidak menjadi tanggung jawab Ibu Neneng itu siapa yang ambil? Setankah?.”

Kadis Siwe saat dihubungi Media SULUH DESA, Selasa (09/03/2021) Pukul 11.34 WITA untuk dikonfirmasi mengenai kuitansi tersebut, menjawab bahwa dirinya sedang bertugas di Ende.

“Saya sedang tugas di Ende, ade. Saya jelaskan begini hanya untuk supaya ade tau. Soal kuitansi itu tidak seperti itu. Itu polisi siapa yang terima? Hanya memang itu ada karena untuk menyelamatkan Neneng. Itu juga saya pakai uang pribadi saya. Dan ini hanya ade yang tahu. Harusnya kan Neneng ini sudah diover ke kejaksaan untuk diproses setelah dua minggu dia ditahan. Saya ini hanya karena ada rasa kasihan makanya saya bantu. Kalau mau persoalkan itu, dia (Neneng, red) yang akan kena. Itu saya bantu dia tapi bukan untuk kasi polisi. Hanya ini supaya dia bisa keluar saja. Tidak ada institusi yang mengatasnamakan itu. kita hanya minta supaya itu dia dikeluarkan. Jadi itu tidak benar kalau kita kasi untuk keluar. Itu tidak ada. Hanya semacam e terima kasih lah. Begitu. Kita bantu dia dengan sukarela. Kalau memang ada modus begitu nanti dia yang merasakan,” jawab Kadis Siwe.

Saat disampaikan bahwa kuitansi itu sudah beredar di beberapa pihak, Kadis Siwe mengatakan, “kalau sampai beredar seperti itu di luar bagaimana? Padahal itu kan hanya internal saja yang tahu. Itu pasti Neneng yang kasi. Saya tidak ada kepentingan. Tidak ada satu peser pun yang saya ambil dari dia. Itu murni saya bantu karena saya kasihan Neneng. Saya minta tolong untuk ade bisa pahami ini. Kalau saya mau saja waktu itu mestinya si Neneng sudah diproses. Tetapi karena perasaan kemanusiaan makanya saya bantu. Secara institusi kalau ada polisi yang terima itu tidak ada. Itu memang inisiatif saya karena suaminya Neneng datang minta bantuan di saya.”

Neneng Prihatin yang dihubungi lewat panggilan telepon menjelaskan jikalau benar kuitansi itu diterimanya dari Kadis Siwe untuk penarikan berkas laporan polisi setelah dirinya dimintai uang oleh Siwe.

“Waktu itu saya kalut. Tetapi saya memang tidak ada niat untuk melarikan diri. Nah kemudian Bapak Kadis cabut laporan. Saya diminta untuk bayar sebesar sepuluh juta untuk penarikan berkas. Tetapi karena saya jawab kalau saya tidak ada uang makanya Bapak Kadis bilang biar sudah. Nanti lima jutanya dipinjam dari istri Bapak Kadis. Jadi saya hanya bayar lima juta. Waktu itu saya ada uang dua puluh lima juta untuk ganti uang yang saya pakai itu. Lalu saya diminta oleh Bapak Kadis serahkan ke beliau sebesar sepuluh juta. Karena saya sampaikan bahwa uang tidak ada makanya Bapak Kadis buat keputusan begitu. Saya ikut saja, tetapi saya minta Bapak Kadis harus buatkan kuitansi. Makanya dibuatkan kuitansi dengan tanda tangan Bapak Kadis sebagai penerima. Uang lima juta itu diambil dari uang yang berjumlah dua puluh lima juta yang saya hendak serahkan ke bendahara,” jelas Neneng.

Neneng menambahkan bahwa dirinya tidak mengetahui untuk siapa uang tersebut akan diberikan oleh Kadis Siwe.

Neneng Prihatin, Mantan Bendahara Dinas Sosial Kabupaten Ngada.

“Saya tidak tahu bapa tua bayar siapa. Tetapi Bapak Kadis sampaikan kalau uang itu untuk menggantikan uang istrinya yang dipinjamnya untuk membayar polisi saat pencabutan berkas,” imbuh Neneng.

Saat disinggung mengenai situasi setelah hal ini mulai mencuat ke publik, Neneng mengaku kalau selama ini di Kantor Dinas Sosial Ngada suasananya biasa-biasa saja.

“Saya bahkan tidak pernah dipanggil untuk diminta klarifikasi atau apapun itu. saya hanya dipindahkan ke depan saja. Selama ini kan ruangan saya di belakang. Suasananya biasa saja. Hanya suami saya diminta oleh beberapa pihak di Dinsos untuk menyampaikan ke saya supaya saya jangan lagi buka ke publik kalau ada yang bertanya,” tutupnya.

Kepala Inspektorat Kabupaten Ngada Paulus Gono, saat dihubungi media ini untuk dimintai penjelasannya terkait penyalahgunaan uang milik Dinas Sosial yang dilakukan Neneng Prihatin menjawab singkat, “minta saja informasi ke Dinas Sosial.”

Kapolres Ngada AKBP Rio Cahyowidi dihubungi Media SULUH DESA, untuk meminta tanggapannya mengenai Kepala Dinas Sosial Ngada Yohanes Vianey Siwe yang diduga membayar salah satu oknum polisi untuk mencabut laporan penyalahgunaan uang yang dilakukan Neneng Prihatin, Selasa (09/03/2021) Pukul 12.47 WITA lewat WhatsApp menjawab, “ini yang terima di pihak polres siapa pak? Coba saya cek ya.” (msd/try)

Komentar

News Feed