oleh

Sekolah Keberbakatan Sepak Bola SMP dan SMA Citra Bakti Ngada Bakal ‘Go International’

BAJAWA, suluhdesa.com | Sepak bola kini telah menjadi olahraga favorit di seluruh dunia. Untuk mejadi pemain bola yang profesional, merupakan impian setiap anak. Namun agar bisa menjadi pemain sepak bola yang hebat dan berkelas, dibutuhkan komitmen yang kuat. Semua pasti paham, bukan sekadar hanya mempunyai bakat dan kemampuan atau menguasai teknik dasar permainan sepak bola saja yang harus dimiliki, tetapi juga ilmu pengetahuan.

Hal ini disampaikan Pendiri Sekolah Khusus Keberbakatan Sepak Bola Citra Bakti Ngada Fridus Muga saat berbincang bersama Media SULUH DESA (05/03/2021) pagi melalui telepon.

Sekolah Khusus Keberbakatan Sepak Bola SMP dan SMA Citra Bakti Ngada merupakan sekolah pesepak bola yang berada di Malanuza, Mataloko Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Menurut sosok yang familiar ini, ia memiliki kepedulian dengan bakat anak-anak Ngada di bidang sepak bola sehingga dirinya memutuskan untuk membuka khusus sekolah sepak bola untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA).

Dijelaskannya, untuk sekolah keberbakatan khusus sepak bola SMP ini berdiri tahun 2017, saat ini masuk tahun ketiga. Sedangkan untuk SMA didirikan tahun 2019, sehingga ada keberlanjutan.

“Untuk menjaring anak-anak yang memiliki bakat khusus di bola kaki, kami melakukan seleksi di setiap desa baik untuk SMP ataupun untuk SMA. Saya melihat ini, kalau bisa kita kembangkan secara baik ilmu pengetahuan karena di sana emosional dapat dibentuk dan ini bukan Sekolah Sepak Bola tetapi sekolah dengan program keberbakatan. Ada minat khusus untuk sepak bola sehingga kami atur dalam kurikulum. Contoh seperti di seminari yang untuk menjadi Calon Imam Katolik. Ada teori khusus di sana. Yah itu yang kami kembangkan di sekolah khusus keberbakatan sepak bola SMP dan SMA Citra Bakti Ngada,” jelas Fridus.

Diuraikannya bahwa, sarana dan prasarana di sekolah keberbakatan sepak bola SMP dan SMA Citra Bakti Ngada, ia siapkan seperti asrama khusus untuk anak-anak pemain sepak bola.

“Tahun lalu kami sudah buka asrama tetapi karena Covid-19, mereka (anak-anak, red) dipulangkan. Tetapi kita rencana tahun ini semua sudah diasramakan kembali, sehingga pola pembinaan akan lebih giat lagi terutama latihan-latihan mereka. Yah betul- betul mereka dipersiapkan untuk jadi pemain bola. Soal akademi khusus yang rencananya dilaunching, itu menjadi wacana untuk ke depan. Tetapi sekarang yang kita lakukan adalah sekolah untuk keberbakatan bidang sepak bola. Mungkin ada bakat-bakat lain kami akan kembangkan, namun pada fase ini kami kembangkan secara serius. Kami alami beberapa kali kirim siswa kami bermain di PSN, saya agak sedikit keras. Izin baik-baik, begitu pulang bertanding tidak terima kasih juga. Padahal kami latih sendiri, persiapan materi sendiri, siapkan perlengkapan jadi sekolah di SMP dan SMA Citra Bakti sendiri. Itu khusus sepak bola yang kami kembangkan,” urai Fridus yang mengeluhkan sikap beberapa pihak di Kabupaten Ngada yang menyepelekan sekolah ini.

Keberadaan siswa sekolah khusus keberbakatan sepak bola di SMP Citra Bakti Ngada ada 68 orang untuk tiga angkatan. Di sekolah ini juga ada siswa umum yang tidak masuk dalam kelompok keberbakatan sepak bola. Siswa sekolah khusus keberbakatan sepak bola di SMA Citra Bakti Ngada ada 36 orang.

Menurut Fridus, antusiasme terhadap sekolah yang didirikannya ini selama ini oleh masyarakat Ngada sangat tinggi.

“Kami mungkin kurang promosi tetapi kami bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk seleksi siswa di SD kelas 6. Kami turun langsung ke sekolah menjaring calon siswa baru yang punya bakat sepak bola dan antusias mereka sangat tinggi. Setiap seleksi pasti manusia banyak. Kami cari bibit, maka kami pilih terbatas. Sebab kami harus menyesuaikan dengan kemampuan kami,” tutur Fridus.

Pendiri STKIP Citra Bakti Ngada ini menyampaikan bahwa, bagi para siswa yang bersekolah di SMP dan SMA khusus untuk keberbakatan sepak bola diberikan kebijakan untuk sekolah gratis. Namun tetap ada biaya perlengkapan untuk tiga tahun, baik itu di SMP maupun di SMA, anak-anak membayar dengan biaya yang sangat murah yakni hanya Rp 1.000.000,-

Fridus Muga, Pendiri Sekolah Keberbakatan Sepak Bola SMP dan SMA Citra bakti Ngada

“Saya kasih siswa biaya perlengkapan tiga tahun itu Rp 1.000.000,- Itu yang membuat saya agak selektif untuk mengumpulkan anak-anak karena biaya operasional cukup besar, gaji guru, dan lainnya. Jadi tiga tahun itu mereka bayar Rp 1.000.000,- untuk kepentingan sarana prasarana, sedangkan biaya guru dan lainnya saya cari sendiri,” kata Fridus.

Diungkapkannya, jikalau untuk sementara ini para siswa yang masuk keberbakatan sepak bola meningkat untuk tingkat SMP.

“Tahun 2021 ini seleksi sudah cukup dan banyak yang berminat. Hanya kami belum bisa putuskan berapa dan siapa yang akan kami terima. Kami pertimbangkan juga daya tampungnya. Untuk sementara lapangan yang kami sediakan satu saja. Kalau misalnya siswa menjadi banyak dan Menteri Pendidikan memutuskan saat ini siswa bisa sekolah bergilir maka kami bisa dapat. Siswa bisa bagi-bagi shift. Soal asrama, kalau bisa kita tampung semua. Lalu mengenai lapangan, itu sudah tidak masalah. Dengan satu lapangan kita bisa. Kalau siswa SMA saat ini kita asramakan,” ujar Fridus.

Fridus menambahkan, ia juga konsen dengan pendidikan dan bakat terutama untuk generasi muda. Fridus melihat bahwa selama ini bermain bola kaki hanya untuk periang, atau sekadar mengisi waktu saja. Masyarakat Ngada belum menjadikan bola kaki sebagai pekerjaan atau profesi.

“Tetapi coba kalau kita lihat dunia luar, kerja mereka ya ada yang pemain bola. Kalau kita bisa menghasilkan, ini akan jadi lapangan pekerjaan dan ini akan mereka dapatkan kalau lewat jalur pendidikan. Organisasi jalan terus, wirausahanya jalan. Semua ada di situasi saat mereka main bola. Bagaimana bisa kumpul dengan yang lain. Jadi banyak jiwa yang dimunculkan di sana. Maka, saya rasa peduli dengan anak-anak Ngada. Saya merasa perlu kita kembangkan bakat minat mereka. Mungkin ada bakat lain selain bola, itu semua sedang kami garap karena kita butuh fasilitas,” tandasnya.

Fridus menegaskan kalau pendidikan harus menjadi prioritas utama di masyarakat.

“Sebagai contoh ya. Orang kita kalau melihat cabai itu bisa dimakan tetapi belum mampu melihat buah cabai yang bisa dibuat sesuatu. Kalau dia tidak sekolah dia bilang cabai ini mau diapakan? Padahal cabai bisa dibuat sambal, dibuatkan lalapan. Bahkan sampai ada yang dibuatkan pupuk dari cabai, dibuatkan bon cabe yang kalau dijual itu harganya mahal. Nah demikian pula kita semua harus melihat bola ini dari sisi manfaat yang lain. Jadi pendidikan berasrama itu menjadi sangat penting. Kita siapkan asrama, itu saya usahakan. Anak-anak saya yang sekolah keberbakatan ini melakukan latihan rutin. Mereka harus mengenal bola kaki itu secara utuh dan total. Mereka sangat pasti dan saya yakin mereka bisa,” ujar Fridus.

Fridus mengungkapkan, kalau seandainya tidak ada Corona, pihaknya akan melakukan uji main di luar. Timnya di sekolah keberbakatan sepak bola SMP dan SMA Citra Bakti Ngada telah menyiapkan para siswa untuk bertanding di luar Kota Bawa, seperti di Larantuka sebab ada Sekolah Sepak Bola yang bagus di sana.

“Pergi bertanding ke Kupang kami sudah siapkan hanya saat ini terkendala dengan Pandemi Covid-19 jadi belum terlaksana. Tahun lalu kita coba uji tanding di beberapa sekolah dan anak-anak kita bisa bermain. Sementara ini, kami melakukan uji tanding di sekolah yang dekat-dekat di sini. Yang SMP kami coba tawarkan ke Seminari Mataloko tetapi belum diterima,” beber Fridus.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa, para siswa sekolah keberbakatan sepak bola SMP dan SMA Citra Bakti Ngada sudah 10 kali bertanding dengan sekolah-sekolah yang pernah mendapat juara. Pada saat turun untuk bertanding pihaknya tidak menemui kendala.

Siswa pada sekolah keberbakatan sepak bola SMP dan SMA Citra Bakti Ngada lebih fokus pada latihan-latihan di lapangan.

“Pelajaran mereka di sekolah sedikit. Mereka lebih fokus ke lapangan. Tetapi di kelas tetap diberikan bobot berapa persen dapat pelajaran, seperti Matematika Sepak Bola, bagaimana menghitung grafik pandangan, luas lapangan, dan lain-lain. Kami arahkan para guru untuk mengajarkan pelajaran IPA. Para siswa dibimbing agar mereka menggali apa yang ada di sana, misalnya tentang organ tubuh yang ada konteksnya dengan bola, ilmu mereka dapatkan di situ. Mereka dipisahkan dengan kelas regular, mereka kelas tersendiri. Kalau kelas regular, memiliki mata pelajaran normal sedangkan kelas khusus keberbakatan sepak bola ini ada mata pelajaran tambahan seperti sepak bola dan lainnya. Saya optimis sekolah ini akan go international. Mereka harus bisa dijual,” tegas Fridus.

Perintis gerakan literasi yang mendirikan Perguruan Tinggi (PT) di Ngada ini memiliki mimpi besar. Ia akan menjalin kerja sama dengan klub-klub bola ditingkat nasional maupun internasional, sehingga bisa secara rutin datang ke sekolah keberbakatan sepak bola SMP dan SMA Citra Bakti.

“Tahun ini kita merencanakan untuk membangun sekolah keberbakatan sepak bola untuk wanita. Tahun ini kami coba seleksi masuk di jalur beasiswa untuk anak-anak perempuan yang memiliki bakat sepak bola. Kami harus turun melalui desa untuk para siswa ini,” terangnya.

Kepada seluruh masyarakat Ngada dan seluruh masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Fridus mengajak supaya seluruh orang tua mendaftarkan anak-anak mereka di Sekolah Keberbakatan Sepak Bola SMP dan SMA Citra Bakti di Malanuza.

Ade-ade yang punya bakat sepak bola mari belajar di SMP dan SMA Citra Bakti khusus sekolah keberbakatan. Salah satu yang dikembangkan di SMP dan SMA Citra Bakti Ngada saat ini adalah sepak bola dan kita memiliki pelatih-pelatih yang berlisensi nasional. Kami juga persiapkan dan upayakan teman-teman pelatih dari luar  untuk bantu di sini. Semua siswa yang masuk keberbakatan sepak bola kita asramakan. Kami sedang mengatur kerja sama dengan lembaga keagamaan. Ada Suster atau Frater nanti yang bakal mendampingi mereka di asrama, sebab para siswa butuh pendampingan karakter. Kita buat sesuatu yang baik untuk masa depan generasi muda. Kalau kemarin main bola hanya untuk bakat atau minat, sekarang kita bermain dengan pengetahuan yang suatu hari bakal mendapat uang yang banyak. Jadi mari datang belajar di sini,” ajak Fridus.

Fridus mengatakan bahwa, jika Pemerintah Daerah Ngada berkolaborasi dengan Sekolah Keberbakatan Sepak Bola SMP dan SMA Citra Bakti untuk bersama-sama mengembangkan dan membangun dunia sepak bola Ngada ke depan, pihaknya sangat terbuka. Ia berkata bahwa di tempatnya fasilitas memadai.

“Kami sangat senang dan siap berkolaborasi kalau pemerintah melihat ini penting. Kami sedang berupaya membangun relasi dengan semua pemerintah daerah di Flores, sehingga untuk anak-anak di Flores yang punya bakat bola kaki bisa menitipkan ke kami. Kita latih dan mereka kembali ke kabupaten msing-masing dengan pengetahuan yang memadai dan kemampuan bermain bola profesional. Mudah-mudahan setelah asrama ini jadi, kami akan undang semua Bupati dan DPRD untuk datang berkunjung. Jika memungkinkan, kita berkolaborasi, kita kerja sama. Kita sangat terbuka dengan Pemda Ngada maupun pemda yang lain di NTT. Saya memiliki cita-cita, dunia sepak bola, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan harus jadi industri sepak bola yang memiliki keuntungan besar. Saya yakin bisa dan Sekolah Keberbakatan Khusus Sepak Bola SMP dan SMA Citra Bakti Ngada akan menjadi pusat. Semua orang datang belajar di kita. Sekolah Keberbakatan Sepak Bola SMP dan SMA Citra Bakti Ngada, harus menggerakkan orang untuk datang belajar dan harus menjadi industri untuk sepak bola di Ngada. Saya optimis ini sebab, semua  guru-guru SD di Ngada saat ini bisa jadi sarjana. Saya bangga, sebagian besar guru di Ngada alumni dari saya, bisa jadi guru dan mendidik anak-anak. Mari, jika yang mau sekolah saya bantu asal ada niat dan kemauan. Tidak ada cerita anak Ngada tidak bisa sekolah. Karena dengan sekolah bisa membuat kita sejahtera dan lebih baik,” tutupnya. (fwl/vrg)

Komentar

News Feed