oleh

GUD: Anak Muda Ngada Harus Kawal AP-RB, Jangan Seperti “Muku Te’a”

BAJAWA, suluhdesa.com | Greg Upi Dheo salah satu Tokoh Muda Ngada yang beberapa waktu lalu menjadi Calon Wakil Bupati berpasangan dengan Polus Soliwoa sebagai Calon Bupati Ngada mengucapkan selamat dan memberikan dukungan kepada rivalnya Andreas Paru dan Raymundus Bena yang telah dilantik oleh Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Ngada pada Jumat (26/02/2021) sore di Kupang.

“Birokrasi di Ngada selama ini sangat buruk tata kelolanya. Saya berharap Bupati Ngada Andreas Paru dan Wakil Bupati Ngada Raymundus Bena yang telah dilantik ini dapat melakukan penataan dan berani melakukan penegakan hukum. Ada kasus-kasus hukum yang saat ini sedang mangkrak harus diusut kembali dan secara tegas meminta kepolisian untuk menyelesaikan proses hukum yang ada. Sehingga program Tante Nela Paris dapat berjalan dengan baik dan polemik-polemik yang mengganggu roda pembangunan di masyarakat Ngada segera teratasi,” tegas Greg Upi Dheo yang akrab disapa GUD ini saat dihubungi Media SULUH DESA, Jumat (26/02/2021) pagi.

Sebagai Mantan Calon Wakil Bupati Ngada yang berpasangan dengan Calon Bupati Ngada Paulus Soliwoa, GUD, menyampaikan bahwa dirinya sangat menghargai proses demokrasi yang sudah dilakukan secara baik di Kabupaten Ngada.

“Rakyat Ngada sudah menentukan pilihan. Rakyat sudah memberikan suara untuk Andreas Paru (AP)–Raymundus Bena (AP-RB) secara langsung, bebas, jujur dan rahasia. Saya sangat menghargai proses itu. Saya memberikan apresiasi untuk masyarakat Ngada yang telah dengan dewasa memberikan pilihan-pilihan. Masyarakat Ngada sudah memberikan pilihan terbaik mereka untuk AP-RB. Saya sebagai salah satu calon yang turut serta bertarung dalam pilkada 9 Desember 2020 lalu dan belum terpilih, kami wajib menghormati dan menghargai itu,” tegas Konsultan Hukum ini.

Yang menjadi catatan GUD adalah semoga ke depannya Bupati Ngada Andreas Paru dan Wakilnya Raymundus Bena sukses menyejahterakan masyarakat Ngada lewat program-program Tante Nela Paris.

“Posisi saya, kalau program itu baik untuk masyarakat Ngada, tentu saja saya wajib hukumnya untuk mendukung. Tetapi kalau program-program itu banyak yang gagal, kalau ada penyelewengan-penyelewengan, saya akan hadir dan wajib untuk memberikan tanggapan maupun penilaian, memberikan kritik yang konstruktif bukan yang destruktif. Itu namanya politik yang baik karena turut mengawal pemerintah. Saya akan lakukan secara santun sebagai upaya dari berpolitik secara positif. Yang baik saya akan dukung. Kalau yang tidak baik saya akan kritik namun konstruktif. Itu sikap saya,” ungkapnya.

GUD mengatakan akan menjadi opisisi terhadap Pemerintahan AP-RB di Ngada.

“Sekali lagi kalau program pemberdayaan masyarakat itu membangun akan saya apresiasi. Jika tidak bagus atau ada indikasi-indikasi korupsi, itu menjadi kewajiban saya untuk mengkritisi. Saya kritik secara baik dan santun. Tidak membabi buta apalagi membangun opini negatif untuk AP-RB,” tuturnya.

Sebagai salah satu Tokoh Muda Ngada, GUD mengajak semua orang muda di Kabupaten Ngada untuk berpartisipasi mengawal pemerintahan yang ada.

“Saya mengajak rekan-rekan muda untuk bersama bersatu mengawal Pemerintah Daerah Ngada yang saat ini dipimpin AP-RB. Tentu saja semua orang muda di Ngada jangan seperti salah satu hewan yang dalam bahasa Bajawa itu bernama muku te’a. hewan itu kan hanya angguk-angguk saja. Jadi kita jangan hanya iya-iya saja dengan semua programnya AP-RB. Anak muda di Ngada harus bersikap kritis terhadap pemerintahan AP-RB. Tujuannya agar seluruh anggaran yang dikelola untuk proses pembangunan di Ngada dapat terserap dan dilakukan secara baik dan benar. Kita harus mengawasi itu. Harus berani. Semua anak muda di Ngada harus terlibat. Namun cara berpolitik atau mengeritik harus dalam etika, norma, mengikuti aturan dan konstruktif. Saat ini sudah tidak zaman lagi untuk kita seperti muku tea yang angguk-angguk kepala saja,” ajaknya.

GUD menambahkan bahwa, jika dirinya diajak oleh AP-RB untuk menjadi mitra dalam proses pembangunan di Ngada, jika itu baik untuk seluruh masyarakat Ngada, dirinya pasti mau.

“Saya siap mendukung dengan cara saya. Kita harus bersinergi bekerja untuk masyarakat. Namun kalau hanya menguntungkan salah satu kelompok atau golongan, saya pasti menentang dan menolak. Bahkan saya akan lawan,” ujarnya.

Disinggung mengenai kekalahan yang dialaminya pada Pilkada Ngada lalu, GUD menegaskan bahwa, “kemarin saya kalah dalam Pilkada Ngada. Itu bukan proses yang gagal. Dalam politik itu hanya kalah suara. Di dalam berpolitik itu juga menurut keyakinan saya bukan seperti di dalam militer. Kalau di dalam militer jika tertembak dan mati ya itu sekali. Tetapi dalam politik, harus siap untuk mati berkali-kali.”

Menurut GUD, ke depannya ia akan fokus pada pemberdayaan masyarakat. GUD akan membentuk kelompok usaha di lingkungan tempat tinggalnya.

“Saya bersama dengan anak-anak muda. Lalu dengan cara saya juga, saya akan mendistribusikan komoditas milik semua masyarakat Ngada ke luar dengan pihak-pihak pengusaha. Ini membantu masyarakat supaya tidak terjebak pada permainan harga yang mematikan usaha ekonomi mereka. Dengan harga sesuai harga pasar yang layak dan wajar, saya bantu masyarakat di bidang ekonomi dan pasar. Saya juga akan fokus kepada usaha peternakan dan pertanian. Selain itu saya sebagai praktisi hukum akan membantu dalam proses advokasi kepada masyarakat yang membutuhkan,” tutup GUD. (fwl/fwl)

Komentar

News Feed