oleh

Media Sosial Sarana Pewartaan Iman di Tengah Covid-19

OPINI, suluhdesa.com | Dunia saat ini tengah dilanda Pandemi Corona Virus Disease 2019 atau yang lebih dikenal dengan Covid-19. Pandemi ini pertama kali terkonfirmasi terjadi di Kota Wuhan, China. Akibat kepadatan penduduk serta mobilitas masyarakatnya yang begitu tinggi, virus ini kemudian menyebar dengan cepat. Mula-mula virus ini hanya menjangkiti penduduk Kota Wuhan, namun dari hari ke hari penyebaran virus ini berhasil merambah kota-kota lain hingga pada akhirnya berhasil menyebar secara global dan sampai ke seluruh dunia.

Pengantar

Di negara Indonesia, secara resmi kasus pertama Covid-19 dikonfirmasi terjadi pada awal-awal bulan Maret 2020. Berawal dari seorang warga negara Jepang yang datang ke Indonesia dengan tujuan berlibur kemudian melakukan kontak dengan warga setempat, akhirnya Covid-19 pun berhasil menjangkiti dua orang, yakni seorang ibu dan anaknya yang melakukan kontak dengan orang berkewarganegaraan Jepang tersebut. Akibat penanganan dan kebijakan penanggulangan yang sedikit terlambat, dari kasus pertama ini, kian hari kasus pasien positif Covid-19 semakin bertambah dan berhasil menyebar ke daerah-daerah lain di Indonesia. Selain itu, akibat dari penyebarannya yang begitu cepat, dalam waktu singkat Covid-19 berhasil merenggut nyawa begitu banyak orang.

Untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur sendiri, kasus Covid-19 pertama kali terjadi pada bulan April 2020 dan dari situ jumlah pasien yang dirawat karena kasus Covid-19 semakin hari semakin meningkat. Untuk Indonesia secara keseluruhan sampai dengan saat ini tercatat sudah ada sekitar 1,35 juta kasus dengan perincian 1,16 juta pasien sembuh setelah menjalani perawatan yang intensif dan 36 ribu lebih pasien yang meninggal. Sedangkan untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur tercatat ada sekitar 8 ribu lebih kasus pasien positif Covid-19 dengan 6 ribu kasus pasien sembuh dan 249 kasus pasien meninggal.

Melihat situasi dan kondisi yang semakin hari semakin tidak kondusif dengan jumlah kasus Covid-19 yang semakin meningkat, pemerintah Indonesia dalam upayanya untuk menanggulangi dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 mengeluarkan sebuah kebijakan untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Imbauan-imbauan untuk memakai masker, rajin mencuci tangan dan menjaga jarak mulai digaungkan. Akibat langsung dari kebijakan ini adalah adanya pembatasan bergerak dan pelarangan setiap aktivitas yang dapat menimbulkan kerumunan orang. Aktivitas kerja dan sekolah dianjurkan untuk dilaksanakan dari rumah (Work From Home), kegiatan keagamaan untuk umum dibatasi dan partisipasi dari umat dalam setiap aktivitas peribadatan ditiadakan.

Menanggapi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan untuk menjawabi kerinduan umat beriman akan peribadatan maka, para pemimpin agama kemudian mengambil kebijakan bahwa setiap kegiatan keagamaan akan tetap dilaksanakan. Dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi saat ini yang tengah dilanda Pandemi Covid-19, maka kegiatan keagamaan akan dilaksanakan secara online dengan memanfaatkan media-media sosial yang ada sehingga setiap umat beriman tetap dapat berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan dan liturgi lainnya walaupun secara tidak langsung.

Media Sosial; Positif dan Negatif

Media sosial merupakan sebuah media daring yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi dan bersosialisasi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Tujuan awal dari adanya media sosial adalah sebagai sarana komunikasi yang menghubungkan seseorang dengan yang lainnya dengan cakupan wilayah yang sangat luas. Perkembangannya yang begitu pesat serta daya jangkaunya yang begitu luas membuat berbagai informasi dapat diakses oleh seseorang dengan cepat dan mudah. Selain itu media sosial juga membuat orang-orang yang dipisahkan oleh jarak sekalipun dapat saling berinteraksi dengan mudah.

Gereja Katolik sendiri melihat media sosial juga sebagai media komunikasi sosial oleh karena daya jangkaunya yang mampu mencapai dan menggerakkan bukan hanya orang-perorangan melainkan juga massa, bahkan seluruh umat manusia. Gereja juga mengakui bahwa perkembangan dan kemajuan media komunikasi sosial merupakan berkat perkenanan Allah yang digali oleh kecerdasan manusia dari alam ciptaan.

Terlepas dari semua hal mengenai media sosial tersebut, penggunaan media sosial juga memberikan dampak baik positif maupun negatif bagi masyarakat penggunanya. Dampak positif yang nyata dirasakan adalah adanya kemudahan dalam berinteraksi dengan orang lain tanpa harus mengkhawatirkan soal jarak dan waktu serta akses informasi yang begitu mudah dan cepat. Di lain sisi, media sosial juga memberikan dampak-dampak negatif bagi kehidupan, di mana semua hal yang termuat dalam media sosial tidak melulu adalah hal-hal yang baik dan benar tetapi juga terdapat hal-hal negatif seperti kekerasan, pornografi, serta begitu banyak berita-berita hoaks. Hal ini jika tidak ditanggapi secara kritis maka akan menggiring opini publik ke arah yang salah. Selain itu media sosial juga memberikan efek candu sehingga membuat orang hanya fokus dengan media sosial dan mengabaikan pekerjaan lainnya. Karena itu, untuk mengatasi hal-hal seperti ini dibutuhkan sikap kritis dan dewasa dari setiap pengguna media sosial.

Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Pewartaan Iman

Situasi pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini berdampak pada pelarangan setiap aktivitas di luar rumah yang dapat menimbulkan kerumunan orang. Kegiatan-kegiatan keagamaan yang bersifat tatap muka tidak dapat dilaksanakan sementara kerinduan umat akan kegiatan liturgis serta pelayanan rohani lainnya semakin meningkat. Karena itu upaya yang paling logis untuk dilaksanakan pada situasi semacam ini adalah pemanfaatan media-media sosial yang ada sebagai sarana pelayanan rohani dan pewartaan iman.

Konsili Vatikan II melalui Dekrit Tentang Upaya-upaya Komunikasi Sosial “Inter Mirifica” menekankan bahwa Gereja berkewajiban untuk memanfaatkan media komunikasi sosial sebagai sarana dalam menyiarkan warta keselamatan di mana jika dimanfaatkan secara tepat maka akan membantu menyegarkan hati, mengembangkan budi, dan memantapkan Kerajaan Allah. Gereja juga menyadari bahwa kecenderungan untuk menyalahkangunakan media komunikasi sosial untuk hal-hal yang negatif tetap ada karena itu menjadi tugas Gereja untuk selain memanfaatkan media komunikasi sosial sebagai sarana pelayanan rohani dan pewartaan iman tetapi juga memberikan arahan dan pemahaman yang baik serta benar perihal penggunaan media sosial kepada umat beriman.

Bentuk-pentuk upaya pemanfaatan media komunikasi sosial sebagai sarana pelayanan rohani dan pewartaan iman yang dapat dilakukan oleh Gereja pada masa pandemi selain perayaan ekaristi melalui channel YouTube yang telah berlangsung selama ini adalah dengan mengadakan sharing Kitab Suci, pendalaman iman Kristiani atau katekese yang dapat dilakukan melalui aplikasi Zoom, Google Meet, dan lain sebagainya. Selain itu tindakan-tindakan membagikan pesan Paus dan suara gembala dari Uskup setempat ataupun membagikan renungan berdasarkan bacaan dari hari yang bersangkutan melalui media pesan teks, WhatsApp, Facebook, serta media sosial lainnya juga merupakan bentuk upaya kreatif yang baik dari pemanfaatan media komunikasi sosial untuk keperluan pewartaan.

Sebagai contoh, apa yang telah dilakukan oleh para Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang baru-baru ini bisa ditiru dan dikembangkan lagi oleh pihak Gereja. sebagai bagian dari program KKN-PPM, para Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang telah melaksanakan kegiatan katekese via Zoom sebagai bentuk implementasi dari basic ilmu yakni Filsafat dan Teologi yang didapat selama menjalani proses perkuliahan di Fakultas Filsafat.

Melalui tema “Semakin Beriman, Semakin Solider (Membangun Ekonomi Solidaritas), umat beriman diajak untuk kembali mengelola imannya secara baik dan mengimplementasikannya dalam hidup sehari-hari lewat sikap hidup yang semakin peka dan peduli dengan sesama di masa-masa sulit seperti sekarang. Sambutan baik dan respon umat yang begitu antusias membuat kegiatan katekese ini berjalan dengan baik dan mampu menggerakkan umat agar semakin memupuk rasa solider terhadap sesama disekitar.

Penutup

Akhirnya upaya pemanfaatan media sosial sebagai sarana pewartaan iman di tengah situasi pandemi seperti saat ini selain untuk menjawabi kebutuhan umat akan pelayanan rohani serta kegiatan liturgis lainnya, di satu sisi juga merupakan suatu bentuk dukungan Gereja terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dalam upaya menanggulangi dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Sama seperti penggunaan media sosial untuk ativitas-aktivitas lainnya, pemanfaatan media sosial untuk kepentingan rohani juga akan berhadapan dengan masalah-masalah semisal koneksi jaringan internet dan bagaimana menarik umat agar mau terlibat. Koneksi jaringan internet yang tidak stabil akan berpengaruh pada terganggunya konsentrasi dan kurangnya penghayatan iman umat beriman. Terlepas dari itu, penggunaan media sosial untuk kepentingan pewartaan juga mengandaikan kompetensi dan daya kreatif dari pihak Gereja. Untuk itu perlu adanya kerja keras dan ide-ide kreatif serta menarik dari pihak Gereja sehingga mampu menarik umat untuk dapat terlibat secara aktif. (*)

Penulis: Yohanes Aprianus Mau Naifio (Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

Komentar

News Feed