oleh

Virus Corona: Sebuah Penciptaan Kehidupan Baru?

OPINI, suluhdesa.com | Segenap manusia di dunia saat ini berpapasan dengan badai dan krisis. Badai yang tidak biasa-biasa saja. Badai yang datang dengan kekuatan besar dan kedalaman menyelam yang dahsyat. Masuk menukik dan membelah seluruh sendi kehidupan manusia. Pesta meriah dan hiruk-pikuk, berisik yang tidak berisi diam membisu, hening dan tenang bak domba betina yang dibawa ke pembantaian.

Jauh sebelum Desember 2019, Virus Corona sudah menghantui dunia. Pada tahun 1965, dua orang peneliti Tyell dan Bynoe menemukan bukti Virus Corona pada manusia yang sedang flu biasa. Perkembangan terus terjadi dan pada Desember 2019, Virus Corona muncul dan dikenal sebagai COVID-19 memicu wabah di Cina dan merebak di berbagai negara sehingga WHO mendeklarasikannya sebagai pandemi global. Nama Corona diambil dari bahasa Latin yang berarti mahkota, sebab bentuk Virus Corona memiliki paku yang menonjol menyerupai mahkota dan korona matahari.

Sudah berumur satu tahun, pandemi Covid-19 ada bersama masyarakat Indonesia. Jumlah pasien terus meningkat, yang meninggal terus bertambah, namun di bagian lain, mereka yang sembuh pun membuat setiap hati kuat dan tegar. Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 sejak Selasa, 23/02/2021 hingga Rabu, 24/02/2021, tercatat ada penambahan pasien positif Covid-19 sebanyak 7.533 orang. Dari hasil penambahan jumlah ini, pasien yang terpapar Covid-19 di Indonesia kini mencapai 1.306.141 orang. Ada pula penambahan pasien Covid-19 yang sembuh sebanyak 7.735 orang dalam sehari, dari hasil ini maka penambahan pasien yang sembuh dari Covid-19 kini berjumlah 1.112.725 orang. Tak luput dari itu, pasien yang meninggal dunia karena Covid-19 juga bertambah. Penambahan jumlah kematian 240 orang, maka kini total pasien yang meninggal sebanyak 35.254 orang. Sementara itu, pasien yang sedang ini dirawat dan atau isolasi melakukan mandiri ada 158.162 kasus aktif Covid-19.

Corona Virus menghentakkan jagat. Segala jenis keputusan yang diambil dalam waktu singkat, diperuntukkan bagi hidup yang panjang. Apakah ini sebuah malapetaka dengan kecepatan teknologi? Kita semua lantas bertanya. Segala sistem dibentuk baru. Segala disiplin diciptakan lain serba online. Kesehatan, Ekonomi, Politik dan Budaya berubah dalam sekejap. Semua ini bukan tanpa sebab dan alasan dan semua ini tak akan lari dari konsekuensi yang akan dihadapi. Pendidikan dan perkantoran berubah rupa, tatap muka yang dulu monoton, kini berwajah usang dengan segala macam virtual modern. Prinsip minus malum lantas diterapkan untuk kebijakan-kebijakan prematur yang penuh risiko ketimbang tidak melakukan sesuatu. Akan lebih berbahaya dan mengerikan.

Suatu Sistem Penertiban

Pandemi akan berakhir, badai besar ini pasti berlalu, dan untuk menghentikan itu, setiap elemen masyarakat, setiap individu manusia mau tidak mau, suka tidak suka harus mematuhi pedoman yang diciptakan. Tentu berhadapan dengan pedoman yang diberlakukan, kita berhak berspekulasi. Entah ini adalah alasan pemerintah untuk bertindak atau entah ini adalah alasan untuk setiap manusia tetap ada bersama. Sistem keamanan diperketat, sistem kesehatan diperlengkap, kehidupan sosial diciptakan jarak, teknologi pengawasan terhadap manusia dan seluruh organ tubuhnya dicanggihkan. Pedoman umum diberlakukan. Aturan-aturan dijalankan. Protokol-protokol kesehatan diimbau terus-menerus untuk dipatuhi. Pakai masker, mencuci tangan, dan jaga jarak adalah pedoman umum, protokol universal dekrit kedaruratan yang diterapkan kepada siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang tua lanjut usia.

Kecanggihan teknologi yang dulu sekali hanya menjadi angan-angan, kini lahir secara prematur penuh keyakinan untuk mengatasi situasi genting darurat yang memaksa setiap orang harus bertindak. Bertindak sesuai kemampuan dan bagiannya. Segala tindak tanduk diawasi sedemikian rupa sampai seisi hidup benar-benar terang benderang. Pemerintah mengawasi seluruh hidup masyarakatnya dengan segala bantuan teknologi dan aparat-aparatnya. Ketertiban dan normal baru dibabtis menjadi sejarah baru, yang dulu biarlah berlalu, kita menyambut yang kini sebagai yang baru.

Penertiban dan keamanan marak terjadi, sepanjang jalan dan dalam kondisi apapun, kehidupan masyarakat terus diawasi. Pakailah masker dan jaga jarak, cucilah tangan dan jangan membandel, demikianlah imbauan yang harus dipatuhi. Bagi masyarakat yang tidak memakai masker akan ditindak tegas. Akan dikenai sanksi push up dan atau denda Rp. 50.000,- sebagai efek jera, inilah yang telah saya sebutkan di atas, alasan pemerintah bertindak. Dan jika masyarakat tidak mengindahkan pedoman demikian entah dengan sengaja atau tidak sengaja, maka akan dikenai sanksi. Masyarakat melewati situasi genting dan darurat dengan penuh ketakutan bukan terhadap dirinya sendiri melainkan ketakutan karena pedoman. Masyakat membutuhkan kepercayaan.

Kepercayaan yang ada dan datang dari otoritas publik. Itulah mengapa saya katakan bangunlah tembok kepercayaan yang kokoh dalam diri masyarakat. Setelah itu masyarakat akan melaksanakan pedoman itu tanpa perlu pengawasan. Contoh sederhana adalah mencuci tangan pakai sabun, seluruh elemen masyarakat akan mencuci tangan pakai sabun sebelum makan. Artinya bahwa masyarakat sadar dan tahu bahwa ada bakteri yang menempel di tangan dan hanya bisa dihilangkan dengan mencuci tangan pakai sabun. Masyarakat tidak perlu diawasi untuk hal demikian. Itulah kepercayaan yang harus dibangun dalam diri masayarakat, setelah itu masyarakat akan menjalankan pedoman tanpa pengawasan.

Kehidupan Baru

Kehidupan baru dan kebutuhan baru adalah target utama selepas pandemi. Manusia akan hidup dalam kondisi lingkungan yang baru dan situasi yang tidak seperti biasanya. Tidak akan mungkin seperti yang dulu lagi, walau matahari masih terbit dari timur dan terbenam di ufuk barat. Kerja sama nasional dan global dibangun kembali secara normal baru antara sesama negara atau pun pemerintahan dan swasta. Kesepakatan-kesepakatan untuk kesejahteraan banyak orang menjadi fondasi yang kuat.

Masyarakat dan pegawai perkantoran, anak-anak sekolah dan umat beriman yang diam, bekerja, belajar dan beribadah secara daring kini tampil keluar sebagai pahlawan pemenang atas maut Virus Corona. Kapankah itu? Semua masih utopia. Tak pernah terdefinisikan tunggal. Namun inilah prinsip orang-orang yang tidak terkungkung dengan masa lalu lantaran tak meyakini bahwa waktu masih terus mengalir.

Seluruh lapisan masyarakat harus menentukan pilihan untuk hidup dalam solidaritas sosial kembali tanpa harus menjaga jarak sekian meter. Dengan begitu kita akan tampil sebagai pemenang, bukan saja terhadap badai besar ini, tetapi akan terwujudnya dunia yang benar-benar bukan utopia. (*)

Penulis: Rafael Bani (Mahasiswa Semester VIII  Fakultas Filsafat Katolik Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

Komentar

News Feed