oleh

Solidaritas dalam Iman dan Kasih di Tengah Covid-19

OPINI, suluhdesa.com | Dunia sekarang ini sedang dilanda oleh wabah Covid-19. Penyebaran virus ini sangat cepat dan telah memakan banyak korban jiwa. Setiap hari selalu ada peningkatan orang yang terjangkit atau positif mengandung Covid-19 di dalam tubuhnya. Pandemi Covid-19 tentu sangat memprihatinkan karena bukan hanya menyerang pada aspek kesehatan tetapi juga berpengaruh pada aspek-aspek lainnya seperti aspek sosial ekonomi dan rohani.

Melihat situasi pandemi yang semakin hari semakin meningkat maka pemerintah mengambil kebijakan yakni mewajibkan semua orang untuk tetap tinggal di rumah. Protokol kesehatan yang dicanangkan menuntut setiap orang untuk taat demi keselamatan dan untuk memperlambat laju penyebaran Covid-19. Dengan demikian semua kegiatan seperti sekolah, perkantoran dan lain-lain yang memungkinkan adanya kerumunan massa harus dilakukan secara daring/online.

Terjadinya pembatasan pergerakan atau yang biasa dikenal dengan istilah PSSB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) demi memutus rantai penyebaran Covid-19, mengakibatkan lapangan kerja terbatas, banyak orang kehilangan pekerjaan, pendapatan menurun, usaha yang bangkrut dan lain sebagainya yang tentu menyulitkan banyak orang. Penyebaran Covid-19 membawa dampak yang sangat besar terlebih pada aspek sosial ekonomi. Tentu hal ini sangat mempersulit orang dalam memenuhi kebutuhan setiap hari.

Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa ada relasi dengan orang lain, setiap orang dituntut untuk mampu membangun relasi yang baik dengan sesama seperti saling menghargai dan saling menolong satu sama lain serta mampu bekerja sama untuk mencapai suatu kehidupan yang membahagiakan. Dalam menghadapi situasi sulit seperti sekarang ini di mana wabah Covid-19 semakin marak peningkatannya, sebagai makhluk sosial setiap orang diharapkan untuk mempunyai jiwa solidaritas yang tinggi untuk mau menolong dan membantu sesama di sekitarnya yang mengalami kesusahan terlebih di bidang sosial ekonomi.

Sebagai makhluk sosial dan terlebih sebagai makhluk ciptaan Allah, setiap orang tentu harus merasa peduli terhadap sesama sebagai saudara karena berasal dari satu pencipta yakni Allah. Allah sendiri menghendaki agar setiap orang selalu saling menolong tanpa membeda-bedakan. Umat beriman Kristiani yang percaya pada Allah tentu harus taat pada perintah-perintahNya seperti saling mengasihi satu sama lain. Hal ini kembali pada penghayatan iman masing-masing pribadi. Tetapi bahwa sebagai orang beriman setiap orang dituntut untuk melibatkan diri secara sungguh dalam menghadapi situasi sulit seperti sekarang ini. Keterlibatan dalam menghadapi masa pandemi ini adalah dengan membangun rasa solidaritas tanpa memandang agama, ras, suku dan budaya.

Univeristas Katolik Widya Mandira Kupang, dalam upaya untuk mengaplikasikan model pembelajaran berbasis masyarakat sebagai wujud kontribusi riil dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, maka tahun ini diadakan KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata dan Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat). Tetapi karena masih dalam situasi pandemi, maka dari pihak kampus mengambil kebijakan agar kegiatan KKN-PPM dilakukan secara daring/online. Dengan demikian, para mahasiswa harus menyusun program kerja yang dalam pelaksanaannya bisa dilakukan secara online sehingga tidak menimbulkan kerumunan. Dan salah satu program yang dibuat oleh para mahasiswa Fakultas Filsafat Univeristas Katolik Widya Mandira Kupang adalah kegiatan Katekese APP secara daring/online.

Sangat menarik bahwa tema umum APP tahun ini adalah “Semakin Beriman, Semakin Solider (Membangun Ekonomi Solidaritas)”. Tentu tema ini sangat berkaitan dengan situasi pandemi sekarang ini yang mengakibatkan krisis hampir di semua aspek termasuk aspek sosial ekonomi. Solidaritas menjadi hal yang sangat penting dalam menghadapi krisis yang diakibatkan oleh penyebaran Covid-19. Solidaritas mengharuskan setiap orang untuk lebih mengutamakan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi. Di tengah masa pandemi ini, solidaritas yang berdasar pada iman memampukan kita untuk mengaplikasikan kasih Allah kepada semua orang.

Umat Kristiani dalam menghadapi pandemi dan dampak krisis sosial ekonomi dilandaskan pada kasih. Kasih ini pertama-tama didasarkan pada kasih Allah yang selalu mengasihi umat ciptaan-Nya. Allah sudah terlebih dahulu mengasihi manusia sejak awal Ia menciptakan manusia pertama. Dia telah lebih dulu dalam menyatakan kasih dan memberikan jalan keluar bagi orang yang mengalami kesulitan dalam hidup.

Dalam membangun solidaritas, sebagai umat beriman tentu orang sangat mengharapkan campur tangan Tuhan. Umat beriman Kristiani dalam iman yang teguh selalu mengandalkan Tuhan sebagai sumber rahmat dan kekuatan dalam menghadapi situasi sulit seperti sekarang ini. Semangat solidaritas orang beriman harus ditopang oleh iman sebagai kekuatan utama yang akan memberikan kekuatan dan berkat serta menuntun orang untuk menemukan solusi ketika menghadapi persoalan-persoalan hidup. Iman akan Allah mengundang setiap orang untuk menumbuhkan semangat yang kreatif dan terbarukan. Dengan demikian, orang dapat menemukan berbagai solusi yang dapat membantu dirinya dan sesama dalam menghadapi krisis yang disebabkan oleh pandemi.

Situasi pandemi sekarang memperlihatkan kepada setiap orang bahwa sikap peduli terhadap sesama adalah hal yang paling utama. Dalam upaya penanganan Covid-19 yang telah menjangkiti banyak orang, mengharuskan orang untuk mempunyai sikap peduli dan semangat solidaritas antar sesama manusia tanpa membeda-bedakan. Iman mendorong kita untuk meninggalkan sikap egois dalam diri dan segala sikap diskriminatif terhadap sesama. Dengan cara demikian orang beriman dapat melihat sesamanya sebagai saudara dan bukan sebagai orang asing. Ketika melihat sesama sebagai saudara, dengan sendirinya kita akan memberikan perhatian kepadanya dengan penuh kasih dan ketulusan hati. Kasih sendiri menuntut pengorbanan yang sungguh dari masing-masing orang.

Dengan demikian, dalam menghadapi berbagai krisis akibat pandemi, sebagai orang beriman, solidaritas antar sesama merupakan hal yang utama sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama dan perwujudan iman akan Allah yang selalu mengasihi umatNya. Kasih Allah kepada manusia menuntut setiap orang untuk juga mengasihi sesamanya. Kasih ini membuat kita memberanikan diri untuk melibatkan diri secara penuh dalam membantu sesama. Kepedulian, saling membantu, kerja sama dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama adalah bentuk-bentuk sikap Kristiani yang dilandasi iman yang kokoh akan Tuhan.

Membangun solidaritas di masa pandemi ini tidak perlu dengan melakukan tindakan yang rumit tetapi cukup dengan melakukan hal-hal sederhana seperti saling mengingatkan untuk tetap menjaga kesehatan, menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Tidak sampai di situ saja, kita juga dapat membantu sesama yang mengalami kesulitan, memberikan perhatian kepada mereka yang terjangkit Covid-19 dan bukan malah menganggap mereka sebagai orang asing. Yang perlu diingat adalah bahwa solidaritas mengharuskan setiap orang untuk mempunyai rasa peka terhadap sesama yang berkesusahan. Artinya kita tidak hanya membantu orang ketika mereka meminta bantuan, tetapi dalam diri kita sendiri harus ada rasa peka tanpa harus orang lain meminta bantuan. Peka terhadap situasi yang mereka alami dan dengan kasih dan hati yang tulus bantulah mereka. (*)

Penulis: Anselmus Betu Raro (Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

Komentar

News Feed