oleh

Ilmuwan Sukses Tumbuhkan Serat Daging di Laboratorium

OPINI, suluhdesa.com | Budidaya tanaman dengan teknologi kultur jaringan tentu sudah bukan hal yang asing lagi ditelinga para awam. Namun budidaya daging lewat pertumbuhan dan pengembangan sel, sel di beri makan lewat proses yang disebut endositosis, sel mencerna nutrisi, cairan, protein, dan molekul lain.

Tidak kurang dari 80 miliar hewan disembelih setiap tahun untuk diambil dagingnya. Rata-rata konsumsi daging per kapita dunia pada 2014 mencapai 43 kilogram. Amerika dan Australia lebih dari 100 kg per kapita, sementara India hanya 5 kg per kapita untuk tahun yang sama.

Namun khusnya pada tahun 2020 yang baru lalu menurut data dari Organisasi Pangan Dunia (FAO), konsumsi daging tahun 2020 diperkirakan turun 2,8 persen menjadi 42,4 kg per tahun per kapita dibandingkan tahun lalu sebesar 43,6 kg per tahun per kapita. Diduga akibat langsung dari Pandemi Covid-19. Angka itu berkaitan langsung dengan kelangkaan, kenaikan harga dan menurunnya daya beli konsumen. Survei VKBP (2017) dan Susenas (2019), konsumsi daging sapi/kerbau Indonesia adalah 2,66 kg/kapita/tahun (masih di bawah India). Indonesia butuh daging sapi/kerbau sampai bulan Mei 2020 diperkirakan sebesar 302.300 Ton.

Hasili penelusuran oleh IDTechEX, teridentifikasi ada 5 perusahaan yang menjadi pemain utama: Mosa Meat, Memphis Meats, Aleph Farms, BlueNalu, Finless Foods. Menariknya, di luar 5 perusaan itu, menyodok masuk Future Meat yang pada 2022, satu tahun lagi dari sekarang berencana untuk meluncurkan lini kedua dari daging yang ditanam di laboratorium dengan harga kurang dari $ 10 per pon. Pada Februari 2018, salah satu pendiri dan kepala ilmuwan Future Meat Yaakov Nahmias mengatakan bahwa perusahaan telah menurunkan harga produksi menjadi $ 800 per kilogram dan akan mencapai $ 5 hingga $ 10 per kilogram pada tahun 2020.

Pada tahun 2020 yang lalu dan memasuki triwulan perta 2021, harga daging telah naik karena fasilitas pemrosesan utama ditutup atau operasi diperlambat karena para pekerja sakit dengan Covid-19. Pada saat yang sama, permintaan daging di toko bahan makanan melonjak karena konsumen lebih banyak makan di rumah. Daging sapi lebih mahal bagi konsumen di bulan Mei. Beberapa bulan lewat telah memicu aksi boikot jual para pedagang daging di Indonesia, didahului boikot pada pedagang tempe akibat kelangkaan baku kedele.

Daging berbasis sel berpotensi menjadi lebih sehat daripada daging hewani biasa karena dapat direkayasa untuk mengandung lebih banyak protein, asam amino esensial lebih banyak dan beragam, kelengkapan vitamin sekaligus mengurangi jumlah lemak jenuh (kolesterol) dan meminimalkan kemungkinan penyakit bawaan hewan (seperti salmonella dan E. coli) mencemari daging, dan lain-lain. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang makan daging merah berada pada peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung, stroke, atau diabetes. Daging olahan juga meningkatkan risiko kematian akibat penyakit tersebut.

Prediksi besaran dan luasan pasar daging berbasis sel global diperkirakan akan mencapai nilai $ 15,5 juta pada tahun 2021 dan $ 20 juta pada tahun 2027. Laporan hasil analisis lain menyebutkan perkirakan bahwa 35% daging berbasis sel akan produksi secara massal pada tahun 2040, tidak lagi memang. Saya menduga, ternak sapi skala besar, 20 % dari produksi ternak dunia (terbesar di dunia) yang kini dilakukan secara masih dan besar-besaran, membabat 20 % kawasan hutan Amazone -Brazilia, untuk lahan ternak itu, sebagian besar diekspor ke Inggris adalah bagian dari strategi responsif potensi kelangkaan bibit sel daging (Menabung Sel Di Bank Sel).

Kemajuan mengekplorasi dan ekspoitasi sampai ketingkat yang paling sel (ruang terkecil) dalam dan kecil dari pembentuk kehidupan itu seolah sedang berpacu dengan keberhasilan ekplorasi dan eksplorasi ruang angkasa (ruang makro). Nyaris tidak ada lagi arah – ruang yang tersisa, semua dijelajah, termasuk potensi di kedalam samudra dan bumi.

Ini yang saya sebut sebagai perubahan ke segala arah (divergentif), tidak linier lagi (konvergentif – linieritas). Cermin dari perubahan pola pikir manusia moderen. Perubahan dari dan ke segala arah, membuat konsep perubahan linier kehilangan manfaat dan makna, membusuk di dalam ketidaktahuan dan ketidak sadaran. Program linier berjangka yang menjadi karakter dan warna pembangunan banya negeri kehilangan orientasinya (disorientasi). Pencapaian ini juga menandai apa yang saya suka sebut sebagai datangnya Era Modularitas (lahirnya modularisme) paket perubahan dan pembangunan yang telah siap bongkar pasang. Modul – modul cadangan telah siap mengganti modul lain dalam Paket investasi, bisnis dan industri, termasuk sumber daya manusia terdidik yang siap opetasi untuk merespon perubahan yang pasti berubah sewaktu-waktu (kental dengan citarasa emergency). Baru sesaat kita memasuki era Otomatisasi namun kini dunia sudah akan memasuki lintasan perubahan baru : otomatisasi terkendali. Bagi yang belum siap, kejutan-kejutan akan selalu terjadi dan membawa masalah baru. Di batas ambang ketahanan, kita akhirnya menjadi yang terdepak dari lintasan pacu perubahan yang sudah meninggalkan fass kecepatan memasuki fase percepatan. Akhirnya, lahirnya realitas baru sangat mungkin sudah lewat diluar kesadaran manusia. Momentum hilang, peluang terbuang. Dalam bahasa yang lebih populer atau gaul saya menyebutnya sebagai datangnya Era Bingung.

Kini daging sudah bisa dibudidayakan! Daging dihasilkan oleh kultur sel hewan secara in vitro (dalam bioreaktor), sel di ambil dari cadangan sel di Bank Sel, bukan lagi dari hewan yang disembelih. Ini adalah salah satu bentuk Pertanian/ Peternakan Tingkat Seluler. Produk yang dihasilkan secara biologis adalah daging hewan ini mirip dengan daging hewani dalam penampilan dan rasa, tetapi bebas penyembelihan.

Dilakukan dalam laboratorium atau pabrik, bukan lagi lahan atau ladang yang terbuka dan luas, buka pula di padang luas dan kandang. Daging dibudidayakan diproduksi menggunakan banyak teknik rekayasa jaringan yang sama yang secara tradisional digunakan dalam pengobatan regeneratif.

Para peneliti dari Tufts University telah merekayasa genetika sel-sel sapi untuk menghasilkan daging sapi yang dibudidayakan di laboratorium yang mengandung beta-karoten (nutrisi tanaman yang diubah menjadi vitamin A dalam tubuh manusia).

Dalam praktiknya ada beberapa teknik yang sedang dikembangkan oleh beberapa peneliti berbeda yang back up perusahaan berbeda. Ada daging Sapi yang dibudidayakan dibuat dengan memanen Sel Otot dari Sapi Hidup tanpa rasa sakit (biopsi hewan hidup). Ingat saya lantas berbaut pada potensi Sapi Ongole, sapi asli Pulau Sumba yang kaya dengan serat otot karena sistim beternak terbuka-banyak gerak-banyak otot-membuat daging sapi ini hanya masuk kelas daging Bakso di Jawa. Mampukah kita menangkap peluang perubahan yang memberi sinyal kuat kemunculan Bank Sel (sel otot) menjadi peluang baru? Mari kita ikuti perkembangannya.

Sel tersebut kemudian diberimakan (tentu saja bukan rumput) dan memelihara sel (dalam suatu media cawan petri-bukan di kandang) sehingga mereka berkembang (beregenerasi-replikasi) biak untuk membuat jaringan otot baru, yang merupakan komponen utama dari daging yang sama dengan yang kita makan sehari-hari. Hasil pertumbuhan akan menghasilkan serat-onggokan serat daging yang kemudian potongan kecil daging ini digabungkan untuk membuat satu hamburger berukuran normal.

Secara etis, daging yang dibudidayakan bertujuan agar jumlah hewan ternak konvensional dan jumlah hewan sembelihan hewan kedepan lebih sedikit, membuat produknya menarik bagi vegetarian dan vegan, produksi ternak berkurang untuk mengurangi total produsi Metana (peternakan hewan menyumbang lebih dari 14% emisi GRK global akibat aktivitas manusia) ke lingkungan yang menimbulkan efek gas rumah kaca-polusi udara global. Gas metana memilki daya rusak/ bunuh 30 kali lebih kuat dari karbondioksida (CO2). Metana dan nitrous oksida dari kotoran hewan dari proses pencernaan mereka.

Pada kasus ini Indonesia dan khususnya Provinsi Nusa Tenggara Timur, dapat merebut peluang Produksi Ransum Ternak Khusus yang mampu meredam produksi METANA yang berlebihan oleh ternak (khususnya hewan mamalia-seperti sapi), karena baku dimaksud banyak terdapat didaerah ini, belum secara serius diusahakan menjadi komoditas ekspor. Gas tambahan dari aplikasi pupuk ke lahan, dari konversi lahan untuk produksi padang rumput atau pakan, dapat mengurangi penggunaan energi sebanyak 45%, mengurangi penggunaan lahan hingga 99%, dan menghasilkan lebih sedikit gas rumah kaca hingga 96%. Ini juga akan ramah hewan karena tidak ada hewan yang akan dirugikan atau diperlakukan tidak etis. Daging yang dibudidayakan di laboratorium lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan daging biasa. Teknologi dan program kultur sel daging sementara ini, beberapa hewan masih perlu dipelihara agar selnya dapat dipanen untuk menghasilkan daging in vitro.

Saat ini, perbaikan dan efisiensi dari segi teknik dan biaya terus melaju. Makin efisien, walau biaya produksi daging yang dibudidayakan di laboratorium masih lebih mahal dibandingkan dengan jumlah daging yang dapat diproduksi, belum akan secara komersil dibudidayakan atau diproduksi secara terjangkau dengan semua jenis skala yang diperlukan untuk konsumsi massal.

Dari sisi efisiensi biaya produksi kultur sel daging ini tidak semahal dahulu lagi, contoh saja, pada 2013, daging yang dibudidayakan sel dihargai $ 1,2 juta per pon (mahal sekali bukan?). Sekarang harganya, biaya produksi sudah bisa ditekan menjadi hanya sekitar $ 50 per pon, penurunan drastis karena para ahli teknologi di belakangnya telah mendorong sains ke tingkat yang baru, lebih mengagumkan. Sementara itu, harga daging sintetisi eceran yang disarankan $ 15,99, atau $ 1,60 per seperempat pon patty. Sebagai perbandingan, paket dua patty Beyond Meat dijual seharga $ 5,99, hanya kurang dari $ 3 per patty. Peluncuran produk dilakukan pada saat harga daging menjadi jauh lebih mahal.

Trend positif ke arah sana sudah mendekat seiring dengan kemajuan teknologi disatu sisi dan pergerakan harga daging konvensional juga terus berkurang, langka dan supplay side terus anjlok. Realitas dan kesadaran akan hidup bersih dam sehat global (perubahan iklim global-Climate change) terus mengalami perbaikan secara tajam.

Jumlah vegetarian didunia terus meningkat. Lalu apakah para vegan memakan daging yang tumbuh di laboratorium itu? Sesungguhnya daging yang tumbuh di laboratorium adalah daging, artinya bukan vegan. Namun, konsep teknologi dan produk ini dapat menciptakan “celah- peluang baru” bagi tidak sedikit orang, karena dapat dibuat tanpa penyembelihan hewan lagi.

Soal akseptabikilas konsumen (daya terima) dari segi rasa, tekstur, dan lain-lain, lewat analisa organoleptik diperoleh hasil bahwa rasa daging yang menyenangkan, teksturnya sebanding dengan daging asli. Tentu saja, mendapatkan tekstur yang tepat 100 % sama adalah bagian tersulit.

Daging kultur sel telah di perkaya (fortifikasi) nutrisi yang bermanfaat dari daging seperti; zat besi, vitamin B12, selenium, niasin, dan sebagainya, sembari juga mengurangi hal-hal buruk, yaitu kandungan kolesterol dan lemak, dengan hanya mengintegrasikan sebanyak yang dibutuhkan untuk perasa.

Namun , daging sapi wagyu (wa = Jepang, gyu = sapi), berasal dari Jepang dan dianggap oleh banyak orang sebagai daging sapi terbaik di planet ini.

Salah satu teknik kultur sel lewat penggunaan sel bibit dari otot (selain cara lain, dari bulu ayam) adalah karena komponen terbesar daging asli adalah otot, dan selebihnya (75 % air), protein (20 %), lemak (5 %) , karbohidrat, dan berbagai macam protein. Otot terbuat dari kumpulan sel yang disebut serat. Setiap sel dijejali filamen yang terbuat dari dua protein: aktin dan miosin.

Terkait hal-haram produk daging berbasis sel, tidak masalah. Contoh, Babi dianggap haram karena termasuk hewan yang memiliki kuku belah, tetapi tidak mengunyah makanannya (tidak memiliki perut hewan pemamah biak). Tetapi kini juga kita juga jadi walau belum terlambat bahwa hewan bukan berkuku belah (haram) seperti sapi juga membawa masalah riil (merusak dan mengancam kehidupan umat manusia – produk metana dan nitro oksida). Dari perspektif Yahudi, ada Rabbi yang memberikan pendapat (tidak mengikat) bahwa hal itu bisa dianggap halal. Pandangan pemuka agama lain yang juga menganut paham halal-haram seperti agama Islam penting juga kita tunggu dan ketahui. Kehalalan daging ternak yang memakan pakan hasil rekayasa genetika – transgenik perlu juga lebih diperjelas.

Sebagai catatan saja, bahwa sebenarnya manusia dalam kesehariannya selalu memakan DNA dari tumbuhan dan hewan. Sebagian besar tumbuhan atau sel hewan mengandung sekitar 30.000 gen, dan sebagian besar tanaman GM mengandung 1-10 gen tambahan di dalam selnya. Kita semua makan DNA dalam makanan kita, terutama dari makanan segar dan komposisi DNA dalam makanan GM sama dengan makanan non-GM. Itu berarti ke depan, potensi munculnya bisnis jual beli DNA akan jadi gaya hidup. Kini sudah muncul bisnis Bank DNA.

Perubahan sudah didepan mata. Akankah strategi pembangunan peternakan dan makan olahan dalam negeri siap kalau tidsk disiapkan sejak dini kalau tidak disiapkan lebih dini? itu berpulang pada sikap pengambil kebijakan. Apakah ini hanya sekedar fenomena atau akan menjadi realitas, hanya waktu yang bisa membuktikannya. (*)

Penulis: Max Umbu

Komentar

News Feed