oleh

Antara Covid-19 dan Degradasi Iman Umat Kristiani

OPINI, suluhdesa.com | Pandemi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 atau lebih familiar dikenal dengan virus Corona, yang muncul pada awal tahun 2020 lalu memberikan dampak besar bagi dunia. Virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China ini  kurang lebih telah menginfeksi dan menelan ratusan juta jiwa manusia di seluruh dunia, karena penyebarannya yang begitu cepat. Pandemi yang diakibatkan oleh Virus Corona ini, memiliki dampak yang besar, bukan hanya dalam bidang kesehatan, namun juga segala lini dan sektor lainnya terkena dampak dari virus tersebut.

Dalam bidang sosial-ekonomi, Pandemi Covid-19 yang terjadi memberikan dampak negatif terhadap perekonomian global. International Monetary Fund (IMF) mencatat bahwa 95 % negara di dunia mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif. Selain itu, IMF mencatat pandemi virus corona juga telah menyebabkan kerugian perekonomian global sebesar 12 triliun dolar AS atau sekitar Rp 168.000 triliun (Sumber:https://www.wartaekonomi.co.id/25/02/2021).

Bukan hanya dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi, namun berdampak pula pada kehidupan religius umat beriman. Di Indonesia secara khusus, dengan adanya berbagai aturan yang ditetapkan oleh pemerintah, untuk memutus rantai penyebaran virus tersebut, salah satunya lewat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), banyak rutinitas rohani yang semestinya dijalankan secara rutin semuanya dibatasi bahkan ditiadakan. Hal inilah yang menyebabkan banyak umat beriman mengalami degradasi dalam iman.

Dampak tersebut sangat dirasakan oleh sebagian besar umat beriman Kristiani, karena rutinitas rohani yang seharusnya dijalankan, malah dibatasi bahkan ditiadakan selama pandemi Covid-19. Banyak dari umat beriman Kristiani merasakan degradasi iman selama Pandemi Covid-19 tesebut. PSBB tampaknya memberi pengaruh yang cukup besar bagi pertumbuhan iman umat Kristiani saat ini.

Dengan adanya pembatasan tersebut, tentunya menjadi kendala bagi umat beriman untuk melakukan rutinitas rohani yang sudah sering dilakukan sebelum wabah Covid-19 merebak secara luas di Indonesia. Contoh sederhana ialah berkaitan dengan kegiatan rohani yang dilakukan secara virtual atau online, seperti misa atau kegiatan rohani lainnya. Jika kita bertanya efisien tidaknya kegiatan rohani yang dilakukan secara virtual ini, maka akan ditemukan berbagai jawaban yang bervariasi dari kalangan orang tua dan kaum muda.

Dari kalangan orang tua sendiri, banyak yang berpendapat bahwa dengan adanya kegiatan rohani secara virtual ini, sangat membantu mereka dalam pengembangan iman di tengah Pandemi Covid-19 ini secara pribadi. Mereka merasa tertantang untuk tetap berpegang teguh pada iman yang tumbuh dalam diri mereka sejak dahulu. Sehingga mereka sendiri sangat mengahayati kegiatan rohani yang dilakukan secara virtual tersebut. Namun, berbeda dari kalangan orang tua, kaum muda berpendapat bahwa sulit sekali untuk menghayati atau mengikuti secara penuh kegiatan rohani tersebut, bahwasannya jika koneksi internet mengalami gangguan atau paketan internet yang habis, akan sangat mengganggu konsentrasi ketika ingin mengikuti secara khusyuk kegiatan rohani yang berlangsung secara virtual.

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa hal ini tergantung dari setiap pribadi bagaimana ia menghayati sebuah kegiatan rohani yang dilakukan secara virtual. “Apa bedanya ketika kita mengikuti kegiatan rohani seperti biasa pada masa normal namun tidak mengahayatinya secara baik? Dan ketika kita mengikuti kegiatan rohani secara virtual atau online namun, kita  menghayatinya secara lebih baik?”

Dengan melihat berbagai pendapat di atas maka dapat dikatakan, bahwa umat beriman dewasa ini sedang mengalami degradasi dalam iman secara perlahan. Hal ini tentunya menjadi sebuah keprihatinan bagi Gereja, dan semua mereka yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan dan perkembangan iman umat beriman, di tengah Pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia.

Hemat saya perlu adanya strategi yang efektif dari Gereja serta jajarannya untuk menanggulangi situasi dan kondisi yang dialami umat beriman saat ini. Mungkin perlu ditingkatkan secara lebih efektif lagi kegiatan-kegiatan rohani yang bersifat virtual, selain misa online mungkin juga ada pembekalan-pembekalan rohani lainnya seperti katekese, sharing kitab suci dan kegiatan rohani lainnya untuk menunjang pertumbuhan iman umat beriman yang sedang mengalami degradasi.

Kegiatan rohani yang dilakukan secara virtual adalah sebuah langkah yang efektif, selain sebagai sarana pengembangan iman namun juga bertujuan untuk menanggulangi penyebaran Covid-19. Dalam sebuah kegiatan rohani yang saya lakukan, berupa katekse secara virtual, ditemukan di sana bahwa, umat merindukan sekali kegiatan-kegiatan seperti ini, mereka seperti dibangunkan dari nina bobo panjang mereka selama masa pandemi ini. Karena menurut mereka, selain misa online, mereka tidak pernah mengikuti kegiatan rohani lainnya secara online selama masa pandemi ini. Mereka mengharapkan sekali untuk ada lagi kegiatan-kegiatan seperti ini. hal inilah kiranya perlu diperhatikan sebagai sebuah progresif dalam membantu umat untuk menemukan kembali jati diri mereka sebagai umat Kristiani sejati.

Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, nampaknya telah membuat sebuah langkah progresif dalam mengatasi hal ini. Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang secara substansial harus dilakukan di lapangan atau tempat kegiatan namun tak dapat dilakukan, karena situasi pandemi Virus Corona yang saat ini masih terus mengalami peningkatan, membuat Fakultas Filsafat mengambil sebuah inisiatif untuk melakukan kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) secara virtual. Dalam kegiatan ini para mahasiswa Fakultas Filsafat diarahkan untuk melakukan kegiatan Katekese secara virtual atau online.

Kegiatan ini nampaknya mendapat respon positif dari masyarakat setempat karena, para mahasiswa telah berhasil melakukan kegiatan katekese secara virtual tersebut. Meski terlihat berbeda dari kegiatan-kegiatan katekese pada masa normal namun, katekese secara online ini sangat membantu umat beriman Kristiani, dalam mengisi kekosongan hidup mereka serta menghayati iman mereka akan Yesus Kristus di tengah Pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Pengembangan iman di masa pandemi seperti saat ini, sangat efektif ketika setiap umat beriman Kristiani memanfaatkan internet sebagai sarana pengembangan iman. Hal konkrit yang dilakukan, ialah mengkuti kegiatan katekese mau pun kegiatan pendalaman rohani lainnya. Gereja pun perlu menanggapi hal ini dengan memanfaatkan media sosial secara lebih efektif lagi demi pertumbuhan dan perkembangan iman umat beriman dewasa ini. Maka dengan demikian, umat beriman tidak akan mengalami degradasi dalam iman, serta tidak merasa kekosongan dalam hidup mereka. Melalui kegiatan-kegiatan sederhana seperti saat ini akan memberikan efek yang besar, bagi progresivitas iman umat beriman di tengah Pandemi Covid-19, yang sedang melanda Gereja dan dunia masa kini. (*)

Penulis: Agustinus R. Wenger (Mahasiswa Semester VIII, Fakutas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

DomaiNesia

Komentar

News Feed