oleh

Seni Bahagia Ala Lao Tzu dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

OPINI, suluhdesa.com | Pola pikir Lao Tzu dalam Filsafat Taoisme: Dia yang memiliki keberanian dan bertindak tanpa berpikir matang, bisa terbunuh. Dia yang berani tapi bertindak dengan penuh kesadaran dan kebaikan, akan hidup.  Di antara kedua hal itu, satu adalah yang bermanfaat dan yang lainnya berbahaya.

Sejak akhir tahun 2019 hingga saat ini, dunia masih saja digemparkan oleh virus berbahaya yang mematikan dan mengganggu segala aktivitas setiap orang, yaitu Virus Corona. Penyakit yang disebabkan oleh Virus Corona atau biasa dikenal dengan Covid-19 ini telah memakan begitu banyak korban bukan secara fisik saja melainkan perasaan batin manusia pun termakan oleh ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran serta keputusasaan terhadap virus ini.

Hingga saat ini saja  jumlah kasus di Indonesia telah mencapai 1.012.350 orang dan 28.468 orang diantaranya harus meninggal dunia. Tentu ini bukan masalah sepele dan menjadi PR buat kita semua masyarakat Indonesia.

Lantas apa yang musti dilakukan agar kita bisa terhindar dari penyakit mematikan ini? Anjuran untuk menaati protokol kesehatan telah diterapkan para petugas kesehatan dan relawan lainnya, bahkan menjadi penegasan yang wajib ditaati. Tetapi di samping semua permasalahan ini, ada satu penyebab yang membuat seseorang / individu akhirnya termakan oleh virus ini dan tidak sedikit orang yang mengalami hal ini, yakni ketakutan dan kecemasan dalam diri. Banyak orang menghawatirkan virus ini sehingga rasa takut dan cemas muncul dalam dirinya, perasaan itu kemudian membuatnya terlena dan akhirnya dia sendiri harus menderita akibat ketakutan dan kecemasan tersebut.

Virus Corona telah merajalela dan hal ini dapat membuktikan bahwa virus ini sangat berbahaya, data yang tertera juga menunjukkan bahwa masalah virus ini bukanlah masalah sepele. Tetapi dalam menghadapi virus tersebut tentu kita harus menerapkan salah satu ajaran filsafat yakni filsafat Taoisme.

Dalam hal ini ajaran filsafat Tao jika menjurus pada kepribadian manusia mengajarkan kepada kita untuk hidup go with the flow, namun bukan berarti kita tidak take action sama sekali melainkan ajaran ini memfokuskan kita terhadap apa yang sedang kita lakukan tanpa memikirkan hal diluar kontrol diri kita. Misalnya saat lapar maka pergi makan dan bukan berpura-pura masih kenyang. Jika lelah maka beristirahat bukan berlagak kuat. Jika tidak suka, maka sampaikan, bukan pura-pura baik-baik saja. Dengan kata lain, kebahagiaan terletak dalam tidak adanya upaya mencari kebahagiaan. Sebab, mencari kebahagiaan berarti belum mendapatkannya.

Jika dihubungkan dengan situasi yang saat ini terjadi, ajaran ini menuntun kita untuk tidak panik secara berlebihan, waspada menghadapi situasi ini sangat diperlukan tetapi bukan berati kita dihantui rasa takut dan cemas yang berlebihan, tetap mengikuti/ menaati anjuran pemerintah, para petugas kesehatan dan relawan lainnya yakni melaksanakan 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak) dan optimis bahwa masalah yang dihadapi bisa segera terselesaikan.

Di sini kita diajak untuk tidak overthinking  melainkan selalu positive thinking, tetap tenang dalam menghadapi situasi berat ini dan disamping semuanya itu kita tetap harus mengindahkan setiap anjuran yang sudah diberikan pemerintah. Kita tidak perlu khawatir kapan pemerintah atau petugas kesehatan mampu menemukan vaksin yang tepat dan keluar dari masalah ini tetapi kita sendiri yang harus menyelesaikan masalah ini karena semua pilihan ada dalam diri kita, ketika kita sadar dan tahu bahwa ini penting dan berbahaya bagi kesehatan kita maka kita akan menaati setiap anjuran pemerintah dan para petugas kesehatan tetapi jika sebaliknya maka anjuran pemerintah dan para petugas kesehatan itu hanyalah sebuah bualan yang kemudian akan berdampak pada diri kita sendiri.

Ibarat air yang selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, mampu meluluhkan batu karang dan menghanyutkan bukit-bukit, serta kejernihannya yang akan tampak di saat ia tenang, demikianlah hidup yang kita jalani sekarang ini. Kita harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi saat ini yakni penerapan New Normal dengan selalu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Situasi ini tidak harus membuat kita cemas dan takut tetapi kita harus berusaha tenang dalam menghadapi masalah tersebut dan disitu kita akan mampu menunjukkan kejernihan yang kita miliki. (*)

Penulis: Guerikus Irwandi Tahu (Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

Komentar

News Feed