oleh

Menjala Kaum Kristiani untuk Berelasi dengan Allah Melalui Media

OPINI, suluhdesa.com | Situasi Indonesia yang saat ini  sedang dilanda Virus Corona, membatasi aktivitas masyarakat dalam skala besar. Termasuk dalam hal ini, aktivitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dilakukan secara online. Salah satunya pelayanan Pastoral, dalam hal ini kegiatan Katekese APP dalam keluarga dan juga sharing Kitab Suci dalam keluarga.

Dengan pelayanan yang dilakukan secara online, umat diharapkan untuk secara mandiri melaksanakan kegiatan katekese dan juga sharing Kitab Suci bersama keluarga masing-masing. Namun kendalanya, masih terdapat umat/keluarga yang tidak mengetahui bagaimana cara melaksanakan katekese APP secara pribadi dan melaksanakan sharing Kitab Suci secara online. Belum lagi dengan kurangnya pemahaman umat akan pentingnya kegiatan ini serta kurang adanya juga penghayatan pribadi secara personal membuat pewartaan secara online seolah-olah kurang bermanfaat bagi umat.  Yang terbukti, dengan masih banyaknya umat yang mengeluhkan kendala mereka terkait dengan pelayanan secara online ini. Umat lebih membutuhkan kehadiran langsung para pelayan pastoral ketimbang mereka melaksanakannya secara mandiri sehingga pewartaan secara online dinilai bagi mereka seolah tidak tepat dan tidak efektif bagi perkembangan iman umat dan juga iman keluarga.

Suatu kenyataan besar yang dialami oleh kita manusia dewasa ini yakni mengenai dunia yang terus berkembang dengan beraneka gaya dan kekhasannya. Perkembangan dunia yang kian pesat, telah membawa manusia pada suatu pola hidup baru yang tentunya berbeda pula dari berbagai aspek kehidupan. Persoalan hidup menjadi salah satu hal yang tak dapat dipisahkan dari hidup setiap orang. Salah satu contoh sederhana yakni mengenai masalah perkembangan dunia yang sangat menggairahkan dengan munculnya teknologi-teknologi mutakhir. Umat manusia terpukau oleh rasa kagum akan penemuan-penemuan serta kekuasaannya sendiri.

Harus diakui bahwa penggunaan media internet telah merasuki hampir seluruh lapisan masyarakat. Kehadiran media internet sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi semacam “kebutuhan” dalam hidup masyarakat. Kekuatan internet sungguh telah menghipnotis semua orang. Berhadapan dengan realitas semacam ini, Gereja dituntut untuk membuka diri dan tak boleh menutup mata. Gereja mau tak mau harus beradaptasi dan merespon secara positif keadaan ini.

Hal yang menarik bahwa kehadiran media internet dapat dijadikan sebagai lahan untuk menjala kaum beriman Kristiani untuk masuk dan berelasi dengan Allah.  Dengan kata lain media internet dapat menjadi  peluang karya kerasulan dan pewartaan. Apalagi di tengah situasi pandemi yang sangat mencekam ini, peranan media internet sangat penting guna membina dan tetap memelihara iman umat agar tetap bertumbuh di tengah situasi pandemi ini. Apalagi dengan semakin berkembangnya pengetahuan  umat beriman, dituntut kreatifitas dari para pelayan pastoral untuk menciptakan hal-hal menarik seputar iman untuk mengundang umat masuk.

Perhatian Gereja pada internet merupakan ungkapan istimewa atas perhatiannya yang sudah berlangsung lama terhadap media komunikasi sosial. Dengan memandang media sebagai hasil proses sejarah ilmu pengetahuan yang melaluinya umat manusia berkembang “makin maju dalam penemuan sumber-sumber daya serta nilai-nilai yang terdapat dalam seluruh alam ciptaan”, Gereja kerap menyatakan keyakinannya, bahwa media komunikasi sosial, sebagaimana ditegaskan oleh Konsili Vatikan II, merupakan “penemuan-penemuan teknologi yang mengagumkan” yang meski telah melakukan banyak hal untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia, masih dapat berbuat lebih banyak lagi.

Konsili Vatikan II menerbitkan dokumen Inter Mirifica yang mengajak kita memanfaatkan sarana komunikasi modern untuk karya pewartaan dan penggembalaan Gereja. Sementara dalam Ensiklik Communio et Progressio, art. 128, Paus Paulus VI menegaskan bahwa media modern menawarkan cara-cara baru untuk menghadapkan manusia dengan pesan Injil. Lebih lanjut dalam Ensiklik Evangelii Nuntiandi, art. 45 beliau juga menegaskan bahwa “Gereja akan merasa bersalah di hadapan Kristus bila gagal menggunakan media untuk Evangelisasi”

Paus Yohanes Paulus juga mendukung pemanfaatan media massa untuk katekese dan dalam Ensiklik Redemptoris Missio, art.37 beliau menyebut media sebagai aeropagus pertama di zaman modern. Maka “ Gereja belumlah cukup untuk menggunakan media sekadar untuk menyebarkan pesan Injil dan ajaran otentik Gereja. Namun juga perlu mengintegrasikan pesan Injil ke dalam kebudayaan baru yang diciptakan oleh komunikasi modern.”

Paus Benediktus XVI dalam pesan hari komunikasi ke 44 menegaskan bahwa penggunaan teknologi komunikasi baru ini sangatlah perlu, khususnya dalam menjawab secara tepat tantangan-tantangan yang dirasakan kaum muda di tengah pergeseran dunia dewasa ini. Maka para imam, selaku para bentara Sabda Allah, diharapkan juga menjadi saksi setia terhadap injil dalam dunia komunikasi digital dengan menunaikan perannya sebagai pemimpin komunitas yang menampilkan ‘suara berbeda’ dalam pasar raya digital.

Dengan demikian, para imam ditantang untuk mewartakan Injil dengan menggunakan generasi teknologi audiovisual yang paling mutakhir (gambar, video, animasi, blog dan website) yang seiring dengan media tradisional dapat membuka wawasan baru dan luas demi dialog, evangelisasi dan katekese”.

Kembali kepada persoalan utama yaitu tentang masalah pandemi yang telah merubah pola hidup masyarakat dan juga umat beriman tentunya, banyak sekali umat yang mengeluh bahwa mereka kurang mendapatkan bimbingan dan juga pendampingan pastoral selama masa pandemi ini. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman umat dan juga kurangnya sosialisasi dari para pewarta tentang pentingnya pembinaan iman melalui media.

Umat beriman lebih merindukan perjumpaan langsung dengan para pewarta dan merasa kurang menghayati pewartaan lewat media, salah satu contoh yang paling aktual adalah dengan penerapan misa online. Padahal sebenarnya pewartaan lewat media adalah salah satu hal penting untuk menjaga dan memelihara iman umat apalagi di tengah situasi seperti ini. Semuanya kembali kepada iman umat dan juga penghayatan iman mereka secara personal. Di sinilah peran para pewarta dituntut agar bisa memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada umat tentang peran media dan juga nilai teologis pewartaan melalui media.

Sabda Allah yang diwartakan oleh Gereja adalah inti pokok yang diwartakan. Sabda Allah itu tidak berubah tetapi cara mewartakan Sabda Allah itulah yang “sedikit berubah” sesuai dengan situasi dan kondisi yang dialami sekarang ini. Gereja yang adalah Sakramen keselamatan harus terus memperbaharui diri dengan melihat kebutuhan zaman di mana umat Allah hidup dan berkembang.  Alat-alat komunikasi yang baru dan lebih canggih menunjang pemberitaan peristiwa-peristiwa maupun cara berpikir dan berperasaan secepat dan seluas mungkin (GS art.6).

Kehadiran Media (komunikasi) dalam kehidupan umat manusia dewasa ini mendapat sambutan yang cukup antusias dari Bapak-Bapak gereja. Paus Pius XII dalam ensikliknya mengajak Gereja untuk memandang media bukan sebagai suatu ancaman, melainkan sebagai suatu anugerah (bdk, Ensiklik Miranda Prorsus 1957). Dalam kesempatan yang sama Paus Pius XII meminta para komunikator agar, dengan berpegang teguh pada nilai-nilai tetinggi etika dan praktik profesional.

Mereka menunjukkan dirinya pantas mendapat kesempatan yang diberikan kepadanya, untuk menyajikan pesan-pesan penuh harapan dan rekonsiliasi dengan Allah, melalui setiap macam media dan disiplin. Ini memang merupakan anugerah Allah (bdk Pius XII, Ensiklik Miranda Prorsus). Sejak lama Gereja yakin, bahwa media komunikasi (pers, radio, televisi dan film) harus dianggap “anugerah-anugerah Allah.” Pernyataan Paus Pius XII ini mencerminkan sebuah kekuatan yang dimiliki oleh kehadiran dan keterlibatan media komunikasi dalam pelayanan Gereja.

Sepanjang bulan Februari  tahun 2021 lalu, penulis berkesempatan untuk melaksanakan kegiatan katekese APP online bersama salah satu kelompok umat di Paroki Sta. Maria Assumpta Kota Baru-Kupang, sebagai suatu bentuk pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh penulis. Berdasarkan hasil temuan lapangan yang penulis temui, banyak sekali kerinduan iman akan umat beriman yang belum terjawabi selama masa pandemi ini. Hal ini karena masih kurangnya pengetahuan mereka akan pentingnya pewartaan lewat media serta kurang adanya juga sosialisasi dari para pewarta.

Media bertujuan untuk tetap memelihara iman umat agar tetap terjaga selama masa pandemi ini dan hal inilah yang dilakukan oleh penulis selama hampir satu bulan bersama kelompok umat tersebut. Berdasarkan sharing-sharing yang mereka bagikan, penulis berkesimpulan bahwa pewartaan lewat media masih menjadi suatu hal yang baru bagi umat, sehingga masih banyak umat yang merasa bahwa kerinduan iman mereka belum terjawabi dengan sungguh. Pandemi membawa dampak yang cukup besar bagi pewartaan sehingga mau tidak mau media adalah salah satu alternatif utama yang Gereja tawarkan kepada umat beriman.

Selama kegiatan ini berlangsung, penulis mendapatkan respon yang cukup positif dari kalangan umat. Selain karena kerinduan mereka sedikit terjawabi, satu hal positif yang dapat mereka petik juga yakni banyak pengetahuan akan iman yang mereka dapatkan selama kegiatan ini berlangsung. Hal-hal mengenai liturgi praktis dan juga nilai teologis pewartaan melalui media merupakan materi yang paling banyak dibahas dan juga disharingkan bersama dengan penulis. Hal ini tentunya menjadi suatu pengetahuan baru bagi mereka sekaligus menjadi sebuah pembelajaran yang bermanfaat yang penulis berikan kepada mereka.

Berdasarkan uraian-uraian tadi maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pewartaan lewat media bukanlah suatu hal tabu. Tetapi hal ini merupakan suatu pembaharuan dalam bidang pewartaan yang ditawarkan oleh Gereja,  dalam rangka untuk tetap menjaga dan juga menumbuhkan iman umat terutama di tengah situasi pandemi seperti sekarang ini. Apalagi di tengah situasi umat yang sudah berkembang ini, media dalam hal ini internet sudah bukan hal baru lagi sehingga dapat dimanfaatkan oleh umat sebagai sarana perjumpaan ini.

Sabda Allah yang diwartakan tidak pernah berubah, melainkan cara pewartaannyalah yang “sedikit diubah” oleh Gereja sebagai suatu bentuk kepedulian dari Gereja terhadap iman umatnya. Semuanya ini kembali kepada bagaimana respon umat beriman terhadap pembaharuan yang telah ditawarkan oleh Gereja di tengah situasi pandemi ini. (*)

Penulis: Fransiskus Fridolin Soni (Mahasiwa Semester VIII Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

Komentar

News Feed