oleh

Media Komunikasi Sosial sebagai Sarana Pewartaan Saat Covid-19

OPINI, suluhdesa.com | Manusia dalam kehidupannya memiliki tiga fungsi, yakni sebagai makhluk Tuhan, individu, dan sosial-budaya. Manusia memiliki kewajiban untuk megabdi kepada Tuhan, sebagai individu harus memenuhi segala kebutuhan pribadinya dan sebagai makhluk sosial-budaya harus hidup berdampingan dengan orang lain. Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa makan menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau berbicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.

Menurut paham Filsafat Eksistensial: “manusia adalah eksistensi”. Manusia tidak hanya ada atau berada di dunia ini, tetapi ia secara aktif “mengada”. Dalam keberadaannya itulah, manusia mulai berkreasi dengan ide-ide dan melahirkan banyak pemikiran dan karya besar, yang membawa perubahan signifikan bagi perkembangan dunia. Manusia memiliki dua fungsi kedudukan dalam kehidupan ini yaitu sebagai individu dan sebagai makluk sosial. Sebagai makluk sosial, manusia membutuhkan media untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Atas dasar kebutuhan tersebut, manusia berupaya mencari dan menciptakan sistem dan alat untuk saling berinteraksi, mulai dari gambar (bentuk lukisan), isyarat (tangan, asap, dan bunyi), huruf, kata, kalimat, tulisan, surat, sampai dengan telepon dan internet. Teknologi komunikasi merupakan kekuatan sosial baru yang menjadi kebutuhan manusia.

Di era sekarang ini teknologi komunikasi mengambil peran penting dalam proses peradaban manusia. Berkat kemajuan sarana komunikasi sosial, dunia sekarang manjadi lebih kecil, menjadi sebuah “Global Village” (desa dunia), di mana orang dengan mudah berkomunikasi tanpa kontak fisik. Selain itu media komunikasi juga berisi pesan dan informasi-informasi untuk disampaikan dan diberitahukan kepada masyarakat. Media komunikasi juga sejatinya merupakan alat bantu atau sarana yang digunakan untuk berkomunikasi satu terhadap yang lain.

Masalah Pandemi Covid-19 sampai pada detik ini masih terus merongrong kehidupan manusia. Untuk hari ini saja (Sabtu, 26 Februari 2021) di Indonesia ada 1.31 juta kasus, 1.12 juta pasien yang sembuh dan 35.815 pasien yang meninggal dunia. Sedangkan untuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur terdapat 8.883 kasus, 6.273 pasien yang sembuh, dan  245 pasien yang meninggal dunia. Hal ini membawa dampak yang cukup serius, di mana banyak masyarakat yang kehilangan mata pencaharian, lapangan kerja terbatas, sekolah daring yang butuh biaya tambahan, pendapatan menurun dan masih banyak lagi dampak lain yang dialami masyarakat di tengah wabah Pandemi Covid-19 ini.

Aktivitas di luar rumah semakin dibatasi, sekolah-sekolah, kantor bahkan rumah-rumah ibadat ditutup demi kebaikan bersama guna melawan dan memutuskan rantai penyebaran Virus Corona. Selain diselimuti rasa takut akan bahaya mati yang diakibatkan bila terjangkit virus ini, ada kerinduan dari diri masyarakat akan kebersamaan dengan orang-orang terdekat dan bisa kembali melakukan segala aktivitasnya sebagaimana mestinya.

Salah satu hal yang juga menjadi perhatian khusus masyarakat ialah pembatasan aktivitas peribadatan dan kegiatan kerohanian. Dengan diberlakukannya protokol kesehatan dari pemerintah agar tetap berada di rumah dan menghindari kerumunan, membuat masyarakat merasa jauh dari Tuhan akibat kebijakan ini. Sudah hampir satu tahun Virus Corona melanda dunia, dan selama ini pula masyarakat seakan-akan dijauhkan dari Tuhan. Perayaan-perayaan besar yang kendati dirayakan dengan meriah, pada situasi pandemi ini mesti dirayakan dengan sesederhana mungkin.

Melihat situasi ini, maka para tokoh agama mengambil jalan yang cukup efisien agar kegiatan peribadatan dan kerohanian masyarakat tetap bisa dijalankan meskipun hanya berada di rumah. Media komunikasi sosial sebagai hasil dari kemajuan IPTEK digunakan sebagai jalan keluar yang valid. Memanfaatkan kemajuan teknologi zaman ini, para tokoh agama lalu melanjutkan karya-karya pewartaan dan pengajaran keagamaan melalui media komunikasi sosial yang berkembang. Hal ini menjadi satu pilihan terbaik karena media komunikasi sosial selalu menjadi pilihan utama bagi masyarakat. Maka, sangat tepat dan pantas bila media komunikasi sosial digunakan sebagai jalan keluar permasalahan kerohanian masyarakat.

Universitas Katolik Widya Mandira Kupang selama bulan Februari melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) secara virtual. Kegiatan tersebut dilakukan secara virtual dimaksudkan agar tidak mengundang khalayak ramai atau mengundang kerumunan orang dalam jumlah besar, menaati protokol kesehatan dan imbauan dari pemerintah, serta salah satu tindakan dalam membantu pemerintah untuk memutuskan mata rantai penyebaran Virus Corona. Mengambil jalan keluar terbaik agar kegiatan KKN virtual ini dapat berjalan, maka para mahasiswa mulai berpikir kreatif untuk menciptakan kegiatan yang berdaya guna bagi masyarakat namun tetap berada pada prosedur yang sudah dibuat oleh universitas seperti yang sudah disebutkan tadi.

Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang melakukan kegiatan Katekese Keluarga sebagai salah satu bentuk pengabdian mahasiswa bagi masyarakat dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) secara virtual. Siapa sangka, bahwa ternyata kegiatan ini mendapat respon positif dari masyarakat, dalam hal ini para keluarga Katolik yang menjadi partisipan dalam kegiatan kerohanian umat. Banyak di antaranya merasa senang, sebab dari kegiatan ini kerinduan mereka akan pesan-pesan sabda Allah yang direnungkan dengan kehidupan keseharian dapat dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan IPTEK.

Seorang ilmuwan politik terkemuka Amerika Serikat dan seorang pencetus teori komunikasi, Harold Dwght Lasswell, pernah menyampaikan tiga fungsi penting dari media komunikasi. Salah satu dari tiga fungsi itu ialah, fungsi pendidikan atau mendidik. Fungsi ini menunjukkan upaya pendidikan nilai-nilai dan norma-norma yang bermula dari satu generasi ke generasi lainnya. Dalam fungsi ini, media komunikasi telah memberikan kerangka berpikir yang sangat penting bagi masyarakat. Sehingga sangat diharapkan bila para tokoh agama mau memanfaatkan kemajuan IPTEK yang ada demi pemberdayaan kerohanian masyarakat di masa Pandemi Covid-19 ini. Sebab pada dasarnya, media komunikasi hadir untuk membantu dalam pengembangan nilai-nilai luhur, etika dan moral bagi masyarakat. Jadi, media juga menjadi sarana untuk memperteguh nilai-nilai tradisi dan spiritualitas. Dengan membuat paket-paket program tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kerohanian yang menarik, media komunikasi dapat menyuarakan nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti keadilan, cinta kasih, tanggung jawab, dan solidaritas. (*)

Sumber Pustaka:

Karl-Heinz Peschke SVD, Etika Kristiani Jilid II, Kewajiban Moral dalam Hidup Pribadi, Maumere: Ledalero, 2003.

Muhamad Mufid, Etika dan Filsafat Komunikasi, Jakarta: Kencana, 2015.

Yohanes Indrakusuma, Evangelisasi/Peranan Media dalam Pewartaan Injil, Bahan Seminar Cikanyere, Juni 2004.

Penulis: Klaudius Adi Bay Riang Hepat (Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

Komentar

News Feed