oleh

Iman Umat Kristiani di Masa Pandemi, Belajar dari dr. Terawan

OPINI, suluhdesa.com | Menjelang akhir tahun 2019 yang lalu, seantero dunia dibuat heboh dengan kemunculan sebuah virus baru yang diberi nama Corona Virus Disease 2019 atau yang disingkat Covid-19. Kemunculan pertama kali virus ini terdeteksi di Wuhan, Republik Rakyat Cina telah menggegerkan dunia. Bagaimana tidak kehadiran virus ini berhasil memporak-porandakan hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat global. Tidak ada yang tahu pasti penyebab munculnya virus ini dan kapan berakhirnya. Semua masih dalam tanda tanya besar.

Pada bulan Maret tahun 2020, WHO resmi menetapkan Corona Virus Disease 2019  menjadi pandemi global. Protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak menggema di mana-mana dan menjadi slogan yang menghiasi kehidupan masyarakat di negeri ini. Mengingat tingkat penyebaran Virus yang semakin melonjak drastis maka protokol kesehatan tersebut adalah “santapan” wajib yang harus dipatuhi oleh seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali.

Peningkatan penularan Covid-19 memang sulit untuk dibendung dan semakin melonjak jumlah orang yang terpapar virus ini. Data-data mengenai kasus covid dapat diakses di media-media massa. Hal itu jelas menjadi kabar buruk bagi kita semua. Tetapi ada juga kabar baik yang akhir-akhir ini sudah mulai beredar di tengah masyarakat di mana sudah adanya Vaksin yang bisa menjadi solusi ampuh dalam meredam Covid-19. Hal ini sudah diatur oleh pemerintah dan sebagian masyarakat di pelosok tanah air sudah menerima vaksin.

Terbaru Vaksin Nusantara karya salah satu putra terbaik tanah air yang juga Mantan Menteri Kesehatan Indonesia dr. Terawan sedang mengembangkan karyanya dan sekarang sudah memasuki tahap uji klinis. Hal ini jelas menjadi kabar yang baik untuk kita semua yang sekarang ini sedang berjuang menjalani hidup kita masing-masing di masa pandemi ini dan bagi umat Kristiani yang sudah memasuki masa Pra Paskah.

Pada tanggal 17 Februari lalu umat Kristini sedunia telah memulai masa Pra Paskah dengan perayaan Liturgi Rabu Abu. Dengan demikian umat Kristiani mulai memasuki masa puasa dan tujuan akhir Puasa Kristiani ialah hidup baru dalam Paskah Kristus, yang rela menderita sengsara, wafat dan bangkit untuk kita semuanya. Menaruh abu di kepala dan berpuasa adalah tanda tobat dalam Kitab Suci. Orang berdosa mau mengungkapkan penyesalan dirinya dan mohon belas kasih Allah. Ia mau bertobat dan mau menaruh cinta kasih kepada Tuhan dan sesama. Bila kita ditaburi dengan abu di ubun-ubun kepala pada permulaan masa Pra Paskah ini, maka sesungguhnya kita mengakui diri bahwa kita orang berdosa. Kita mohon ampun dan mau bertobat. Iman akan Sabda Tuhan membawa kita untuk menerjang maut menuju hidup kekal bersama Tuhan.

Iman pada tempat pertama memiliki dimensi rohani dan intelektual (Stephen B. Bevans: Teologi Dalam Perspektif Global, 42) dan di dalam tindakan iman itu sendiri kita menerima sesuatu yang objektif sebagai kebenaran. Iman memiliki apa yang kita kenal sebagai perilaku. Ketika seseorang “menyapa” Allah dalam doa dan menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya, maka ia berkomitmen untuk menjalani suatu cara hidup yang sesuai dengan tindakan Allah. Contoh sederhananya adalah Allah mengasihani dan menghormati perbedaan, maka siapa saja yang mengimani Allah sebagi Tuhan harus untuk melakukan hal yang sama kepada sesama. Matius 25:40b, “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”.

Dalam pemahaman Thomas Aquinas, iman jauh lebih dipahami sebagai tindakan intelektual (credere Deum) daripada sebagai suatu gerakan menuju kepada Allah dalam sebuah relasi pribadi  (credere Deo). Namun kiranya pemahaman iman yang berbeda ini memiliki sebuah tujuan yang luhur yakni bisa memberikan dampak bagi orang-orang di sekitar. Beriman kepada Allah artinya taat dan percaya kepada Allah dalam segala keadaan dan situasi. Manusia dalam segala kelemahannya berusaha untuk melakukan hal itu dan bukti dari iman kepada Allah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Memang tidak ada yang sempurna di bawah kolong langit ini, tetapi kita berusaha untuk terus melakukan semuanya itu dengan penuh iman. Melakukan kebaikan, memberikan kontribusi bagi kehidupan sesuai dengan basic keilmuan kita masing-masing tanpa harus berkoar-koar atau memamerkan sana-sini.

Di masa pandemi saat ini ada banyak persoalan yang timbul dan hadir di tengan masyarakat, mulai dari yang sederhana, sedang, menengah, hingga yang kompleks. Semuanya ini tentu membutuhkan kerja sama dari kita semua. Semua elemen mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi perlu untuk “bergandengan tangan” dan menyelesaikan persoalan yang ada. Memang sulit untuk dilakukan dan dijalani, tetapi berkat karunia iman yang datang dari Tuhan, kita percaya bahwa badai pasti berlalu. Ada banyak orang yang dengan caranya masing-masing telah berkontribusi untuk membantu dan menolong sesama di masa pandemi sekarang ini.

Di masa pandemi dan dihadapan kemanusiaan semua adalah sama. Tidak perlu memandang latar belakang yang ada. Tensin Gyatso atau yang sering orang mengenalnya sebagai Dalai Lama seorang Biksu terkenal pernah mengucapkan kata ini: “Jika mampu maka tolonglah orang-orang yang membutuhkan dan jika tidak maka sekurang-kurangnya jangan menyusahkan mereka.”

Berangkat dari hal di atas, rupanya fakta yang terjadi di lapangan malah sebaliknya, dan justru banyak hal yang terjadi malah jauh panggang dari api yang artinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Rakyat-rakyat kecil di pelosok negeri ini membutuhkan pertolongan dan stimulus dari pemerintah khususnya dalam hal ekonomi tetapi justru ada sebagian orang yang tega untuk “merampas” dan “merampok” jatah yang menjadi hak mereka. Betapa miris cerita yang terjadi di negeri tercinta kita ini. Tetapi untunglah masih ada “orang-orang baik” yang mau untuk sedikit mundur dan meninggalkan ego mereka untuk menyelamatkan dan membantu sesama anak bangsa.

Semua Agama yang diakui di Indonesia tentunya mengajarkan satu pesan yang sama, yaitu persaudaraan dan perdamaian. Hal inilah yang mereka bawa di dalam kehidupan sekarang ini di tengah masa pandemi. Ini adalah buah dari iman mereka kepada Tuhan yang mereka sembah. Salah satu contoh orang baik itu adalah dr. Terawan, Mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Semasa memegang jabatan ia banyak mendapat penolakan dari orang-orang di sekitarnya karena teroboson-terobosan yang dibuatnya. Dan atas pertimbangan tertentu ia digantikan oleh orang lain untuk mengisi jabatannya. Selang beberapa waktu kemudian, tanpa adanya kabar dan desas-desus tentang dirinya, ia muncul dengan karyanya di mana ia berhasil mengembangkan Vaksin Corona yang ia beri nama Vaksin Nusantara. Bukankah ini pencapaian yang luar biasa untuk seorang putra bangsa? Kita berharap Vaksin ini nantinya bisa berguna bagi seluruh elemen masyarakat khususnya masyarakat kecil.

Spirit dan sikap dari dr. Terawan inilah yang perlu untuk kita tiru. Dan masih banyak lagi orang baik lainnya yang ada di negeri tercinta kita ini yang dengan caranya masing-masing telah membantu sesama anak bangsa. Di dalam masa Pra Paskah sekarang ini dan untuk seterusnya kita dipanggil untuk menjadi orang baik dengan cara dan jalan kita masing-masing. Tidak perlu melakukannya dalam skala yang besar, tetapi mulai dari hal-hal kecil yang ada di lingkungan sekitar kita sebagai buah serta aksi nyata dari iman kita terhadap Pencipta kita. (*)

Penulis: Januario Elfrem Namal (Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

Komentar

News Feed