oleh

Paralelisme Vaksin Sel Dendritik Ala dr. Terawan dengan Buzzer yang Diributkan

OPINI, suluhdesa.com | Bandung, Minggu 28 Februari 2021, salah kaprah perihal Buzzer bukan bahaya pada rakyat biasa tapi juga sudah menjadi keyakinan banyak politisi, bahkan mantan penguasa/petinggi di negeri ini.

Penting untuk benar-benar paham, apa sih yang disebut dengan buzzer, fungsi dan manfaat, mungkin terkooptasi dengan makna BUSSER dalam suatu institusi yang peran dan fungsinya : BURU dan SERGAP (aktif – bertidak – eksekusi).

Sementara Buzzer sama sekali bertolak belakang, organ ini hanyalah sebuah instrumen yang bersifat sensorik dan memberi signal atas perubahan yang ada agar mendapat perhatian dan prioritas penanganan (pasif ke luar tapi aktif ke dalam kepentingan yang membutuhkan). Yang membutuhkan bisa siapa saja, lembaga apa saja, bisa pordeo atau berbayar, tergantung.

Jadi buzzer adalah perangkat manajemen komunikasi pasif keluar dan aktif ke dalam YANG JUSTRU menolong menyerap – menyeleksi aspirasi tertentu (yang sesuai dengan irama dan gelombang serta ritme roda pemerintahan dan pembangunan). Singkatnya menolong mengkontraskan aspirasi publik-rakyat baik itu yang dipandang positif/negatif.

Tidak ada kick back atas aspirasi miring dan tidak ada loud/speaker untuk aspurasi yang sejalan atau mendukung penguasa.

Pasar ini lebih tepat di paralelisme dengan penemuan dari dokter Terawan. Buzzer ibarat SEL DENDRITIK yang fungsinya mengumpulkan informasi dari seluruh sel tubuh yang ada untuk dibawa dan di transportasi ke badan sel (sel somatik) untuk diproses lebih lanjut dan oleh akson dibawa ke sel T atau sel antibodi untuk melawan dan menghancurkan antigen dari penyakit pengganggu proses metabolisme (katabolik dan anabolik) tubuh .

Sebagaimana sel Dendritik yang adalah SEL NUKLIR dari sel darah putih , fungsinya amat penting, harus ada, tidak bisa tidak. Tubuh manusia adalah sistem kehidupan sebagaimana juga pemerintahan adalah sistem yang terdiri dari subsistem jaringan sel bahkan saraf.

Sebagaimana tubuh (organ jaringan pemerintahan) butuh sistem pertahanan tubuh/sistim kekebalan tubuh melawan penyakit (musuh asing ).

Sebaliknya pihak yang berlawanan atau bermusuhan dengan pemerintah akan menyusun sistem dan kritik atau kritikus adalah salah satu cara dan alat sensor dan serang terhadap apa yang mereka pandang sebagai musuh atau lawan. Jadi ada kesetaraan fungsi antara kritikus (yang tujuannya tidak konstruktif – merusak) dengan Buzzer dan sel nuklir dendritik yang saat ini sedang ramai menjadi perbincangan, bukan hanya oleh publik tetapi dunia sains. Sesuatu yang digadang-gadang sebagai kandidat nobel prize di bidang kesehatan.

Namun, bukan tidak ada sisi pembeda di antara ketiganya. Tentu ada. Kalau kritik (apalagi kritik politik), manfaatnya sebatas manfaat politik, bukan manfaat kemanusiaan-publik luas sebagaimana Buzzer dan Vaksin sel nuklir dendritik alias Vaksin Nusantara, ala Dr. Terawan, Cs, yang juga mendapat dukungan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Apakah para kritikus, buzzer dan penelitian butuh dukungan Fatwa MUI di masa depan? Wallahualam, siapa tahu!

Selamat Hari Minggu dan selamat beribadah, khususnya bagi umat Kristen-Nasarani di seluruh pelosok negeri tercinta! (*)

Bersambung

Penulis : Max Umbu

DomaiNesia

Komentar

News Feed