oleh

PSN Ngada Suatu Hari akan Mentok Karena Terlalu Bergantung pada APBD

BAJAWA, suluhdesa.com | Yayasan Arnoldus Wea dengan Gagasan ‘Dhegha Nua’ yang disponsori oleh Arnoldus Wea menggelar webinar dengan tema PSN Ngada; Unfinished Story, pada Minggu (21/02/2021) pukul 13.00 WITA. Webinar ini dimoderatori oleh Rusni Tage, salah satu Tim Arnodus Wea.

Webinar yang diikuti 40 orang Ngada Mania (sebutan untuk Fans PSN Ngada) yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, menghadirkan Kletus Marselinus Gabhe (Mantan Pelatih PSN Ngada Liga 3 Nasional), Daud Lado Bara (Wartawan Senior), Hancel Goru Dolu (Pengamat Sepak Bola), Patrick Nay Neta (Supporter PSN Ngada/Ultras Ngada), Mursina Wahyuningsih Daeng (Supporter PSN Ngada yang mewakili kaum perempuan), Gius Pello (PSN Senior), Aloysius Lele Madja (Warga Ngada), Pius Rengka (Staf Ahli Gubernur NTT), dan beberapa pembicara lainnya yang merupakan pemerhati sepak bola. Sedangkan Bernadinus Dhey Ngebu (Ketua DPRD Ngada) yang dijadwalkan hadir hanya mengirimkan perwakilannya sebab sedang sibuk dengan kegiatan lain.

Arnoldus Wea yang merupakan penggagas dari kegiatan tersebut di awal webinar menyampaikan bahwa, kegiatan ini tidak mengesampingkan situasi Pandemi Covid-19 yang sedang dialami masyarakat Ngada dan masyarakat global.

Dirinya mengutarakan bahwa, webinar untuk mengangkat masalah PSN Ngada ini telah diagendakan sejak lama.

“Saya ingin diskusi ini akan bermuara pada satu gagasan secara komprehensif tentang PSN Ngada. Hasil diskusi berupa rekomendasi, akan kita berikan kepada Bupati Ngada Terpilih Andreas Paru dan Wakil Bupati Raymundus Bena untuk berkolaborasi dengan program “TANTE NELA PARIS”. Terutama konsep pariwisata untuk dilakukan bersama dengan PSN Ngada,” jelas pria yang biasa disapa Aldus ini.

Selain itu, kata Aldus, diskusi ini dilakukan karena PSN Ngada jadi contoh sepak bola di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“PSN Ngada ini tidak saja milik orang Ngada. Akan tetapi milik semua orang NTT. Kehadiran PSN Ngada selalu membawa warna tersendiri dalam pertandingan sepak bola. Kalau ada PSN Ngada itu baru seru. Nah, dengan diskusi ini kita mau mengingatkan stakeholder bahwa, dalam dunia global sepak bola jadi bisnis. Sepak bola dapat menghidupkan ekonomi mikro. Efek dari sepak bola dapat melewati batas tribun atau stadion. Oleh karenanya, ini akan kita berikan kepada Bupati Ngada lewat surat tertulis resmi dari Yayasan Arnoldus Wea. Selain itu kita juga akan mempublikasikannya lewat media massa,” ungkap Aldus.

Khusus mengenai PSN Ngada, Aldus menegaskan, jika dibutuhkan pembinaan dan manajemen. Untuk pembinaan ada dua hal yakni pembinaan sesuai dengan kelompok usia dan pertandingan atau kompetisi. Mengenai manajemen, ke depan pengurus PSN Ngada dengan Bupati yang baru harus benar dan tepat memilih sosok profesional untuk mengelola klub ini dan bukan karena orang dekatnya Bupati Ngada.

“Karena pengalaman yang terjadi di daerah lain, orang-orang itu menjadi pengurus dari sebuah lembaga olahraga namun minim pengetahuan. Ini terjadi karena mereka dekat dengan pemerintah daerah. Ini yang harus diubah jika ini juga terjadi di Ngada. Manajemen harus berpikir bagaimana klub ini di era modern harus menyerupai sebuah perusahaan. Kalau kita berbicara tentang perusahaan, terdapat komoditi yang diperjualbelikan atau dibisniskan. Hasilnya akan kembali ada keuntungan secara angka. Perusahaan dikatakan sehat apabila uang yang masuk diputar kembali untuk kebutuhan operasional,” tandas Aldus.

Ia menambahkan, “klub bola harus mampu mengelola profit yang masuk, baik dari penjualan tiket, merchandise, dan macam-macam. Yang harus diubah di Ngada ini adalah kita berani mengambil laga home. Selama ini memang kita home-nya di Jawa karena kita tidak punya fasilitas yang memadai. Untuk jangka pendek, kami mengusulkan, Stadion Lebijaga harus direnovasi dengan kapasitas 10.000-15.000 penonton, supaya ini menjadi sumber bisnis untuk PSN Ngada. Anggap saja maksimal penonton 15.000 orang dengan biaya tiket per orang Rp 15.000,- kita sudah mendapat uang sebesar Rp 225.000.000,-. Kita harus melakukan kerja sama dengan komunitas atau supporter dalam penjualan Jersey. Selama ini kami melihat manajemen tiket itu kacau balau. Siapa yang urus, uangnya ke mana dan tidak punya pertanggungjawaban secara jelas. Kita ada dua konsep. Pertama, Kita membuat e-ticket atau bekerja sama dengan bank atau PLN. Kedua, kita bekerja sama dengan hotel. Bagaimana kolaborasi antara sepak bola dengan pariwisata? Tiket kita titipkan di hotel-hotel atau homestay. Orang datang, menginap, include tiket. Tinggal diatur mekanisme pembayaran dari pihak hotel ke manajemen PSN Ngada. Itu memang harus ada banyak perubahan. Perubahan itu muncul dari manajemen yang profesional. Bukan karena ada hubungan kedekatan dengan pemda atau bupati atau wakil bupati. Ini menjadi pekerjaan rumah kita ke depan agar PSN Ngada ini bisa kita katakan menyerupai perusahaan yang dari sisi bisnis ada profit, ada keberlanjutan. Tidak terlalu berharap pada APBD. Mengenai kolaborasi antara bola kaki dan pariwisata? Begini, dalam sebuah musim pertandingan ada berapa kali main. Contohnya orang datang hari ini karena hendak menonton pertandingan lusa. Tetapi orang akan kita arahkan untuk mengunjungi Pemandian Air Panas Soa, berkunjung ke Kampung Adat Bena, Maghilewa, atau Wolobobo, sebelum pertandingan itu terjadi. Sehingga saat pulang ke tempat masing-masing, orang-orang itu tidak saja puas dengan pertandingan yang ada, bercerita tentang pengalaman keliling Bajawa, tetapi nilai ekonomisnya masyarakat juga peroleh.”

Kletus Marselinus Gabhe dalam penjelasannya menyampaikan jikalau berdasarkan informasi yang diperoleh dirinya dari pihak PSSI bahwa, PSN Ngada yang dipinalti dalam pertandingan Liga 3 tahun 2019 tetap masuk di Liga 3 saat ini. PSN Ngada dapat kembali berlaga di Liga 3 di Banyumas. Namun karena ada Covid-19 maka pertandingan dihentikan sementara waktu.

Kletus juga menyoroti ada dua hal yang harus diperhatikan manajemen PSN Ngada. Menurut Kletus, dia tidak setuju untuk dalam waktu dekat ini pembinaan dilakukan lewat sekolah sepak bola. Karena Ngada tidak memiliki fasilitas yang memadai. Selain itu, anak-anak yang dibina di sekolah sepak bola tidak fokus sebab dipengaruhi oleh situasi sosial, seperti pesta adat Reba, kematian, pesta keluarga, acara agama, dan acara lainnya. Hal ini menurut Kletus juga berdampak pada tidak maksimal proses pembinaan dan pendidikan itu.

“Saya ingin sepak bola ini diadopsi oleh sekolah-sekolah yang ada di Ngada menjadi sebuah mata pelajaran dan melakukan kompetisi. Ini dalam waktu dekat sekolah-sekolah juga harus perhatikan. Sepak bola di Ngada juga harus menjadi objek untuk pariwisata. Pertama adalah masalah hotel. Kalau bicara home di Ngada, itu hotel dari supporter lawan sudah pasti datang dan nginap. Hotel itu sudah pasti penuh. Lalu Dinas Pariwisata Ngada harus mengakomodir atau melirik ini menjadi satu atraksi budaya. Sehingga di dalamnya saat akan dilangsungkan pertandingan, ada gelar konser, atraksi budaya, dan lainnya. Ini harus dibenahi,” ucap Kletus.

Berdasarkan pengalaman, urai Kletus, selama ini PSN Ngada menggunakan lapangan sebagai home itu di Jawa. Dana yang dikeluarkan adalah 35 juta rupiah sampai 40 juta rupiah untuk panitia dari sisi kesehatan, ambulance, dari sisi pelatih, wasit, dan lainnya.

“Tetapi profit untuk kita itu tidak ada. Jadi kalau memang dalam jangka pendek ini Lapangan Lebijaga bisa kita maintenance kembali, maka keuntungan seperti itu dapat kita peroleh,” pinta Kletus.

David Lado Bara dalam uraiannya mengungkapkan bahwa cikal bakal PSN Ngada itu berawal dari zaman Kolonial Belanda tahun 1930. Belanda sering menggelar pertandingan antar swapraja dan Bajawa itu selalu tampil sebagai pemenang. Pada tahun setelahnya sekira tahun 1940-1950-an ada pertandingan yang dihelat bernama Champion Flores, dan Bajawa selalu meraih kemenangan. Maka muncul nama pemain bola kaki terkenal di Ngada seperti Thomas Siu dan yang lainnya.

Selanjutnya, setelah Provinsi NTT terbentuk dan Ngada menjadi Daerah Tingkat II, pemerintah mengadakan Pordaf (Pekan Olahraga Daerah Flores) di Ende. Lagi-lagi, tim dari Bajawa tampil sebagai pemenang dan waktu itu sangat disegani. PSN Ngada semakin terkenal saat tahun 1970-1980-an yang selalu memenangi pertandingan sepak bola di ajang Hari Olahraga Nasional (Haornas). Sejak itulah, PSN Ngada menjadi raksasa bola yang ditakuti di NTT dan namanya berkibar ke seluruh Indonesia hingga hari ini.

Mursina Wahyuningsih Daeng dalam kesempatannya mewakili supporter perempuan mengaku merasa bangga memiliki PSN Ngada. Kata dia, kalah menang PSN Ngada tetap di hati.

“PSN Ngada Meju! Setiap kali turnamen di Flores dan Timor kami selalu ikut. Kadang kita bantu jual ornamen PSN Ngada. Dalam kesempatan ini saya memiliki usul dan saran, yakni PSN Ngada harus dikelola dengan baik sehingga dapat maju di tingkat nasional. Bupati Ngada yang baru terpilih ini Bapak Andreas Paru sangat gila bola. Jadi kita berharap supaya PSN Ngada sungguh-sungguh diperhatikan dan dibenahi manajemennya,” harapnya.

Patrick Nay Neta yang diberi kesempatan berbicara oleh moderator mengharapkan supaya ke depan Bupati Ngada Andreas Paru dan Wakil Bupati Ngada Raymundus Bena dapat menata PSN Ngada agar terus berjaya. Selain itu, ia berharap juga supaya dana yang digunakan untuk PSN Ngada tidak diambil dari APBD. Harus melibatkan pihak swasta atau sponsor.

Hancel Goru Dolu menguraikan tentang pembinaan PSN Ngada. PSN Ngada hanya lahir dari kompetisi antar kampung. Untuk pembinaan berjenjang, belum ada sama sekali.

“Manajemen PSN Ngada harus transparan. Harus akuntabel. PSN Ngada harus tetap menjadi kebanggaan. Maka, PSN Ngada harus dikelola dengan baik. PSN Ngada harus jadi milik bersama. Pertanyaannya, apakah PSN Ngada jadi satu klub di level nasional yang diperhitungkan atau hanya menjadi pencetak pemain untuk klub-klub lain? Ke depan kita berharap PSN Ngada harus seperti klub-klub besar,” kata Hancel.

Gius Pello saat menyampaikan pendapatnya dengan tegas berkata, “jika berbicara tentang sepak bola maka ada manajemen dan pembinaan. Selama ini saya lihat, di Ngada ini tidak libatkan Asosiasi Sepak Bola Kabupaten. Ataukah asosiasi ini yang tidak mau melibatkan diri? Kalau begini, PSN Ngada suatu hari akan mentok. Akan berhenti. Akan stop, karena terlalu bergantung pada APBD.”

Pello berharap, untuk PSN Ngada ke depan, akan ada penyandang dana. Mengenai pembinaan, Pello menegaskan, “pemain harus lahir dari sebuah pertandingan bukan asal tarik. Makanya Asosiasi Sepak Bola Kabupaten harus berinisiatif untuk melakukan itu.”

Aloysius Lele Madja ketika menceritakan pengalamannya di Jerman mengatakan, anak-anak di Jerman sejak usia 4-5 tahun sudah diikutsertakan dalam pembinaan dan pendidikan sepak bola.

Oleh karena itu, sambung Madja, PSN Ngada harus menyaring bibit dari setiap kompetisi antar desa, dan antar kecamatan.

“Kita harus mendorong supaya setiap desa dengan Dana Desa yang ada dipakai juga untuk pembinaan olahraga. Bola ini merupakan bisnis yang besar tetapi kita harus benahi manajemen dan pembinaan. Jangan hanya berharap pada pemerintah. Sepak bola sudah mendarah daging di Ngada. Menurut cerita orang tua saya, zaman Belanda, tim sepak bola Ngada sudah mewakili Flores untuk bermain di Batavia. Ngada memiliki potensi bakat alam untuk sepak bola dan berkali-kali menjuarai kompetisi. Lalu untuk manajemen, jangan karena punya jabatan di Pemda, lalu diangkat untuk mengatur PSN Ngada. Padahal dia sendiri tidak punya kapasitas, tak punya kemampuan, dan tak paham bola kaki,” tohok Madja.

Pius Rengka dalam obrolannya yang memantik tawa peserta webinar menyampaikan jika dalam sebuah pertandingan kalau PSN Ngada tidak ada, maka terasa hambar.

“Kalau sebut orang Ngada, hanya da dua hal yang orang ingat. Pertama itu hebat main bola kaki. Kedua itu kuat makan lombok. Saya juga mau menyampaikan kalau Ngada itu etnik sepak bola. Kalau dulu itu di PSN Ngada ada Nani Du’e yang di back orang akan berdoa supaya dia sakit. Sehingga PSN Ngada akan bermain tanpa dia. Karena dia sangat hebat sehingga lawan susah menerobos pertahanan belakang. Nah, kalau di depan ada Gius Pello yang kalau main seperti menar-nari makanya perempuan banyak yang suka,” cerita Pius Rengka.

Pius Rengka mengingatkan Tim Manajemen PSN Ngada untuk tetap melakukan konsolidasi internal dan konsolidasi eksternal, serta ketiadaan finansial bukan berarti elan vital mengembangkan sepak bola di Ngada jadi hilang.

“Ngada kurang fokus mengurus sepak bola. Ngada sangat kaya jika dikelola secara baik. Seberapa kuat Dinas Olahraga Ngada menganggarkan dana untuk bola kaki? Kalau pemimpinnya tidak punya sense pada bola kaki atau olahraga maka sia-sia. Masyarakat politik juga harus terlibat dalam kepentingan masyarakat luas yang salah satunya ialah sepak bola. Pemain bola akan merasa nyaman kalau bebas pajak dan kalau ada sponsor harus ada insentif bulanan,” pungkas Pius Rengka.

Pantauan Media SULUH DESA, webinar yang menghabiskan waktu tiga jam lamanya ini menghasilkan beberapa rekomendasi, di antaranya; pembenahan terhadap manajemen PSN Ngada itu sangat krusial sebelum masuk dalam bisnis, PSN Ngada merupakan representatif kultur masyarakat Ngada, Tim Arnoldus Wea akan membuat ensiklopedia PSN Ngada dari zaman kolonial hingga hari ini dengan sebelumnya akan menggali sumber historisitas perjalanan PSN Ngada dari masa ke masa, dan manajemen PSN Ngada harus mengundang para perantau asal Ngada yang mampu secara ekonomi untuk menjadi kakak asuh atau orang tua asuh dengan standar yang setiap bulan dibicarakan terlebih dahulu.

Hasil rekomendasi yang lain akan diserahkan oleh Tim Arnoldus Wea kepada Pemda Ngada, kepada manajemen PSN Ngada, dan kepada Asosiasi Sepak Bola Kabupaten Ngada dalam waktu dekat. Dalam rencana, diskusi serupa akan digelar kembali dengan mengundang tokoh-tokoh lainnya. (fwl/fwl)

Komentar

News Feed