oleh

Komunitas Solidaritas Misericordia Gelar Diskusi Tentang Teologi Cinta

KUPANG, suluhdesa.com | Komunitas Solidaritas Misericordia kembali menggelar Diskusi Ekumene dengan tema “Cinta (Eros, Storge, Philia, Agape)”, Kamis (18/02/2021). Kegiatan ini dilakukan dalam rangka merayakan Valentine Day atau Hari Kasih Sayang.

Dalam berbagai pemaknaan teologis tentang Cinta, para teolog berpendapat bahwa cinta dalam interpretasi Alkitabiah dibagi ke dalam 4 segmen yaitu Eros, Storge, Philia, Agape. Eros adalah kasih yang menginginkan, Storge adalah ungkapan kasih kodrati, Philia adalah kasih antara sahabat/saudara, seperti antara orang tua kepada anak, Agape adalah kasih yang tak bersyarat.

Sesuai dengan rencana, kegiatan diskusi online ini merupakan kelanjutan dari diskusi Teologi Tubuh yang telah dilakukan sebelumnya dengan tema “Menghormati Tubuh, Menghormati Allah”.

Pendeta Nicko Agusta S.Si.Teol., M.Th dan Frater Giovanni Aditya Arum untuk kedua kalinya dipercayakan sebagai narasumber diskusi ini, dengan membawakan materi dalam perspektif ajaran Gereja Katolik dan Gereja Protestan.

Pendeta Nicko menyampaikan satu pertanyaan refleksi dari bacaan Yohanes 21:15-17. Mengapa Petrus sedih hatinya ketika ditanya oleh Yesus, apakah ia mengasihiNya? Petrus menangis, karena dia hanya sanggup mengasihi Yesus dengan kasih FILIA (Yesus sebagai sahabat) pada saat itu, dan bukan dengan kasih AGAPE, yang mana Yesus memanggil kita sebaga sahabat dan mengundang kita untuk juga mencintai sebagai sahabat (Bdk Yohanes 15:15). Lebih dari itu, kita dipanggil untuk mencintai sebagaimana Allah mencintai tanpa syarat, yakni cinta Agape.

Komunitas Solidaritas Misericordia menggelar Diskusi Ekumene dengan tema “Cinta (Eros, Storge, Philia, Agape)”, Kamis (18/02/2021).

Dalam pemaparan perspektif Gereja Katolik, Frater Aditya menekankan tentang Deus Caritas Est (Allah adalah kasih), bahwa kita mengasihi Allah karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. Kasih Allah itu dinyatakan dalam Yesus Kristus. Dengan mengambil contoh teks tentang Orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37), Fr. Aditya menguraikan hakikat cinta agape yang melampaui batas suku, ras, etnis, agama, kelompok. Sesama, siapapun dia patut dicintai dengan cinta agape, cinta yang berkorban. Orang Samaria yang dianggap setengah kafir oleh orang Yahudi saat itu, justeru menunjukkan teladan kasih yang luar biasa. Belajar dari sikap orang Samaria yang mampu untuk melepaskan segala keinginan pribadi dan rasa minder dicap kafir, untuk menyampaikan cinta yang sempurna dari Allah kepada sesama manusia.

Diskusi yang berlangsung selama 2 jam 30 menit ini, membawa para peserta diskusi untuk belajar mencintai seperti Allah yang telah mencintai manusia. Banyak pertanyaan seputar hakikat cinta dan praksis cinta dalam konteks kehidupan milenial, dijawab narasumber dengan mengacu pada ajaran cinta kasih Yesus.

Mencintai merupakan suatu panggilan kekristenan untuk berpatisipasi secara langsung dalam kasih Allah. Mencintai  bukan menjadikan kita sempurna tetapi berproses dalam kesempurnaan cinta Allah. Salah satu unsur cinta agape adalah pengampunan sebagaimana Tuhan Yesus di atas kayu salib yang mengampuni orang yang menyiksanya. Dalam relasi, ada konflik yang bisa terjadi karena pelbagai faktor. Cinta memampukan kita untuk mengampuni, bukannya membenci.

Komunitas Solidaritas Misericordia adalah komunitas lintas agama yang anggotanya sekitar 60 anak muda usia SMA dan semester awal PT, di Kota Kupang. Mayoritas anggota beragama Kristen dan Katolik, sedangkan dua anggota beragama Islam. Komunitas ini didampingi oleh Rm. Sipri Senda, Pr, sebagai Moderator, dan Lidwina Seran, Marlin Dhoo, Ance Panggur, Evi Lemba, dan John Bahy sebagai pendamping. Badan pengurus komunitas ini adalah Dio sebagai Ketua, Bernard Kase sebagai Wakil Ketua, Clarissa Teiseran sebagai Sekretaris, dan Iren Moa sebagai Bendahara. Komunitas yang baru berusia satu tahun ini telah melakukan banyak kegiatan kemanusiaan dan rohani, termasuk diskusi virtual tematik ini. (Castio Ludji/msd)

Komentar

News Feed