oleh

Terkait Kematian Istrinya, Todius Lobo Ragukan Kinerja Gugus Tugas Covid-19 Ngada

-Berita, Daerah-1.147 views

BAJAWA, suluhdesa.com | Kinerja Tim Satuan Gugus Tugas (Satgas) Covid-19 Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, semakin diragukan dan dipertanyakan oleh pulik Ngada sendiri. Banyak keluhan dari masyarakat terkait proses penanganan terhadap pasien yang positif Covid-19. Tak jarang juga banyak masyarakat yang mengeritik dan meminta agar Satuan Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Ngada transparan kepada publik mengenai kerja mereka sebagai bentuk tanggung jawab moral. Ada pula masyarakat yang secara terang-terangan menulis di media sosial meragukan kompetensi yang dimiliki Gugus Tugas Covid-19 Ngada ini sehingga viral dan dibagikan ke semua Facebook Group atau WhatsApp Group.

Kali ini Media SULUH DESA membaca sebuah postingan yang ditujukan kepada Bupati Ngada, kepada Ketua DPRD Ngada, kepada Gubernur NTT, kepada Presiden RI, kepada Angin, kepada Ombak, dan kepada Matahari, dalam sebuah WhatsApp Group dan viral serta menuai beragam komentar.

Pemilik tulisan itu akhirnya berhasil dikonfirmasi oleh media ini, Rabu (17/02/2021) siang. Dia adalah Todius Yos. Tuba Lobo, warga Kelurahan Ngedukelu, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kepada Media SULUH DESA, Todius mengakui jika dirinya sendiri yang menulis surat terbuka itu dan dibagikan ke semua Facebook Group dan WhatsApp Group lantaran kesal dan ragu dengan kinerja Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Ngada terhadap Almarhum istrinya, Maria Dolorosa Tiwu, kepada dirinya, dan anggota keluarganya yang lain.

“Hari Kamis, tanggal 11 Februari 2021 dini hari saya menghantarkan istri saya bernama Maria Dolorosa Tiwu ke Uni Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (UGD RSUD) Bajawa karena nyeri belakang yang tidak tertahankan. Saya menduga disebabkan karena kanker payudara yang dialami istri saya sejak tahun 2003. Istri saya juga pernah mengalami stroke ringan tahun 2017, serta memiliki riwayat penyakit gula,” kisah Todius.

Sebelum melakukan pertolongan oleh petugas medis, kata Todius, terlebih dahulu istrinya dilakukan Rapid Test dan pihak medis RSDU Bajawa menyampaikan kepada dirinya bahwa ada tanda samar-samar.

“Istri saya di-Rapid Tets atau apapun namanya itu saya kurang tahu karena saya awam. Dan hasil yang mereka sampaikan ke saya adalah ada tanda samar-samar. Saya tidak mengerti dengan hasil yang demikian. Hanya terlintas dalam pikiran saya mungkin yang dimaksud adalah penyakit yang menyamar jadi Covid-19 atau sebaliknya Covid-19 yang menyamar jadi penyakit dalam tubuh istri saya. Singkat cerita pihak UGD RSUD Bajawa memutuskan penanganan secara protokol Covid,” urai Todius.

Todius menyampaikan bahwa, dirinya menerima saja keputusan itu karena masih fokus terhadap rintihan kesakitan yang dialami istrinya.

“Lalu mereka menghantar istri saya untuk dirawat di ruang ST. Corona RSUD Bajawa. Dari nama ruangan itu, psikologi saya langsung terganggu. Bagaimana dengan istri saya yang sakit? Tak dapat saya bayangkan apa yang ada di dalam benaknya. Selanjutnya saya tidak tahu lagi mekanisme di dalam ruangan itu karena hanya petugas dan pasien yang boleh masuk. Tapi dalam hati kecil, saya percaya istri saya ditangani dengan baik oleh-oleh orang-orang yang profesional. Itu saat terakhir saya melihat istri saya,” ungkap Todius.

Setelah itu dirinya membereskan beberapa administrasi dan menunggu salah satu tim dari gugus tugas yang akan menemuinya namun ternyata tidak ada yang datang.

“Saya kembali lagi ke UGD bertanya pada petugas, sudah selesaikah urusan saya? Mereka menjawab, Bapa boleh pulang ke rumah. Akhirnya saya pulang ke rumah, namun dalam perjalanan saya bertanya-tanya bagaimana dengan orang di rumah? Pikiran saya tidak menentu sebab takut anggota keluarga yang di rumah juga mengalami hal yang sama. Saya sampai di rumah dan saya tidak bisa tidur, dan berharap ada petugas yang datang untuk memberi arahan apa yang mesti kami lakukan agar tidak terjadi penularan jika itu adalah Covid-19 yang diderita istri saya,” imbuh Todius.

Namun sampai hari Sabtu, tanggal 13 Februari 2021 pukul 20.00 WITA di saat istrinya menghembuskan napas terakhir tidak ada satu orang petugas medis pun yang datang untuk mengedukasi Todius dan keluarga yang lain di Kelurahan Ngedukelu.

“Jenasah istri saya akhirnya diputuskan untuk dimakamkan dengan protokol Covid-19 malam itu juga. Keanehan yang saya lihat terjadi di saat ini. Petugas gugus tugas dengan segera datang mengurus dan mengawal jenasah istri saya. Dari BNPP, Polisi, TNI, Pol PP Cukup lengkap dan berseragam. Saya berpikir mungkinkah Gugus Tugas Covid-19 Ngada dengan dana miliar rupiah tugasnya hanya khusus untuk pemakaman jenasah? Banyak orang yang turut serta menghantar jenasah istri saya ke tempat peristirahatan terakhir di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Covid-19 Wolobaja. Semua berjalan sebagaimana pemakaman jenasah pasien penderita Covid-19 lainnya,” tutur Todius.

Ke esokan harinya , yakni Minggu, tanggal 14 Februari 2021, lanjut Todius, dirinya menyampaikan ke anak-anaknya bahwa mungkin akan ada Tim Gugus Tugas Covid-19 Ngada yang datang untuk me-Rapid Test keluarga dan melakukan penyemprotan desinfektan di rumah miliknya. Namun tidak ada satu orang petugas pun yang datang.

“Dalam ketidakpastian, saya meminta beberapa teman untuk menghubungi gugus tugas. Pada hari Senin, tanggal 15 Februari 2021, petugas baru mendatangi rumah kami. Dari peristiwa yang dialami keluarga saya, saya bertanya haruskah kami memikul beban ini, seakan sumber Covid-19 berasal dari kami? Sedangkan istri saya pun tidak tahu tertular dari mana. Inikah yang namanya Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Ngada yang selalu siaga?,” tohok Todius.

Kepada media ini Todius menyampaikan bahwa, “tujuan surat saya secara terbuka ini supaya publik mengawasi dan mengawal kinerja Tim Gugus Tugas Covid-19 Ngada. Saya berharap agar peristiwa yang dialami keluarga saya tidak terjadi lagi pada yang lain. Terima kasih atas doa dan perhatiannya kepada kami.”

Pelaksana Harian (Plh) Bupati Ngada yang juga merupakan Ketua Gugus Tugas Covid-19 Ngada, Theodisius Yosefus Nono, saat dihubungi Media SULUH DESA, Rabu (17/02/2021) pukul 14.30 WITA lewat WhatsApp meminta media ini untuk menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, Agustinus Naru.

“Silakan langsung ke Kadis Kesehatan yang melaksanakan tugas itu,” jawabnya singkat.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, Agustinus Naru yang dihubungi lewat WhatsApp, untuk dimintai penjelasannya mengenai masalah yang dialami Todius Yos. Tuba Lobo, tidak membalas. Padahal pada saat pesan berupa pertanyaan dari wartawan yang dikirimkan, WhatsApp-nya menunjukkan sedang online. (fwl/fwl)

Komentar

News Feed