oleh

Limbah Bekas APD Ada di TPU Wolobaja, Kadis LH Ngada: Itu Mantel Hujan

BAJAWA, suluhdesa.com | Limbah-limbah bekas Alat Pelindung Diri (APD) Covid-19 yang terlihat berserakan dan tidak terurus di sekitar Tempat Pemakaman Umum (TPU) Wolobaja, Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, membuat Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Ngada, Emanuel Kora, S.Sos., M.Si., angkat bicara.

Saat dihubungi Media SULUH DESA, Rabu (17/02/2021) pukul 10.00 WITA lewat WhatsApp, Emanuel menyampaikan bahwa, limbah medik yang ada di TPU Wolobaja adalah mantel hujan yang dicurigai merupakan milik keluarga korban atau milik kerabat dari jenasah positif Covid-19 yang dimakamkan di tempat itu.

“Ada masker yang juga dicurigai dari keluarga korban. Ada limbah bekas APD dari tenaga operator excavator,” jawabnya.

Kalau APD yang digunakan oleh petugas pemakaman, lanjut Emanuel, semuanya langsung diamankan di mobil box yang khusus untuk limbah medik dan limbah Covid-19.

“Tercecernya limbah berupa APD bekas tersebut karena pemakaman dilakukan pada malam hari. Sebagai manusia tentunya ada keterbatasan. Terhadap limbah-limbah bekas APD yang ada di TPU Wolobaja itu sudah ditangani oleh petugas kami,” ungkap Emanuel.

Mengenai standar penanganan limbah medik dan Covid-19 di Kabupaten Ngada, ia menjelaskan bahwa, untuk tempat karantina terpusat di Turekisa disiapkan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) untuk limbah padat dan diangkut setiap dua hari dengan menggunakan mobil box dan langsung ke Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) di Naru serta langsung dimusnahkan di Incenerator.

Limbah-limbah bekas APD yang terlihat tidak terurus dengan baik dan berserakan di sekitar TPU Wolobaja, Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Sedangkan untuk limbah cair telah dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dilengkapi dengan proses aerasi dan sistem aerob serta an aerob. Sedangkan untuk limbah medik dan limbah khusus Covid-19 dari Puskesmas dan Klinik, baik swasta maupun tempat praktik dokter karena selama Covid ini juga diberikan kesempatan untuk melakukan Swab Antigen, Dinas Lingkungan Hidup Ngada memberikan tempat penampungan sementara dan diangkut setiap dua kali seminggu khusus dalam wilayah Kota Bajawa. Sedangkan Puskesmas yang jaraknya jauh dari Kota Bajawa diberi waktu untuk menghantar sendiri ke Dinas Lingkungan Hidup dan langsung dengan mobil box dibawa ke tempat pemusnahan limbah di TPST Naru,” tutupnya.

Jadi sesungguhnya, tambah Emanuel, sampah medik dan khususnya sampah Covid-19, Pemerintah Daerah Ngada sejak dari awal terjadinya Pandemi Covid-19 telah menyiapkannya dan menanganinya secara baik.

Diberitakan oleh media ini sebelumnya bahwa, limbah-limbah yang diduga merupakan bekas Alat Pelindung Diri dari Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dibuang, dibiarkan berserakan tak terurus dengan baik di sekitar Tempat Pemakaman Umum (TPU) Wolobaja, Bajawa, yang juga merupakan tempat pemakaman jenasah pasien positif Covid-19.

Hal ini dikeluhkan beberapa warga Kota Bajawa kepada Media SULUH DESA, Rabu (17/02/2021) pukul 09.00 WITA.

Sumber yang tidak ingin disebutkan namanya ini menyampaikan bahwa, pada hari Selasa (16/02/2021) sekira pukul 15.00 WITA, dirinya dan beberapa anggota keluarga hendak ke TPU Wolobaja untuk berziarah ke salah satu makam kerabat mereka yang ada di tempat itu, dan mereka menyaksikan limbah-limbah berupa APD yang biasa dipakai Satgas Covid-19 seperti baju hazmat, sarung tangan, penutup kepala, dan yang lainnya berserakan.

“Itu pakaian seperti APD yang petugas Covid-19 biasa pakai. Itu dibiarkan dan berserakan di dekat excavator yang digunakan untuk menggali lubang pemakaman jenasah Covid-19. Ini pakaian yang biasa pakai hanya petugas Covid-19 Ngada. Tidak ada masyarakat yang pakai begini. Jadi ini pasti mereka petugas yang buang saja atau memang sengaja dibiarkan begitu saja,” ungkap sumber itu kesal.

Sumber itu juga berharap agar pihak yang bertanggung jawab dapat menjaga kebersihan sekitar makam khususnya area pemakaman Covid-19 di TPU Wolobaja.

“Karena kami keluarga tidak mungkin tidak datang untuk bereskan makam yang hanya digali dan ditutupi excavator begitu saja. Tapi melihat limbah APD seperti itu ketakutan pun muncul. Tidak menutup kemungkinan masyarakat yang tidak paham atau anak-anak malah menggunakan barang-barang bekas APD tersebut. Kami masyarakat juga mau bekerja sama untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus ini. Tetapi sepertinya Satgas Covid-19 Ngada tidak serius dalam proses penanganan ini,” ungkapnya lagi.

Sumber yang lain menyampaikan bahwa, ini sebuah bukti betapa Satgas Covid-19 Ngada tidak bertanggung jawab.

“Ini juga kelemahan edukasi dari para pengambil kebijakan. Yang bertanggung jawab soal ini adalah Ketua Gugus Tugas Covid-19 Ngada, Dinas Kesehatan Ngada, dan Dirut Rumah Sakit Umum Daerah Bajawa. Kita bayangkan kalau limbah APD bekas ini akhirnya menjadi mainan anak-anak. Tentunya jadi fatal,” imbuhnya.

Menurutnya, hal serupa bukan yang pertama terjadi di mana Tim Satgas Covid-19 Ngada membuang atau membiarkan limbah APD berserakan tidak terurus dan diletakkan begitu saja di kebun milik warga.

“Di Desa Faobata pernah juga warga mengamuk karna APD bekas dibuang di kebun warga. Ini minimnya literasi kesehatan. Ini kesalahan teknis tapi akibatnya fatal. Bupati Ngada harus perhatikan ini,” timpalnya.

“Ini membuktikan bahwa Gugus Tugas Covid-19 Ngada tidak memiliki standar yang jelas dalam proses penanganan Covid-19. Mereka buat sembarangan. Tim Satgas Covid pernah pergi semprot desinfektan di rumah warga di Enabhara juga buang limbahnya sembarang di sekitar jalan yang ada. Nah ini lagi buang APD bekas di sekitar TPU dan sangat melanggar protap kesehatan,” ucapnya geram. (fwl/fwl)

Komentar

News Feed