oleh

Kisah Riwu Ga, Pria Asal Sabu di Balik Proklamasi 17 Agustus 1945

SOSOK, suluhdesa.com | Pada tahun 1934 saat Bung Karno baru saja sampai di tempat pembuangannya di Ende, Flores. Ada seorang muda yang senang melihat kedatangan orang buangan dari Jawa itu. Anak berumur 14 tahun itu bernama Riwu Ga asal Pulau Sabu yang merantau bersama keluarganya di Ende. Ia setiap pagi berjalan 3 kilometer untuk menonton orang dari Jawa yang katanya terkenal.

Suatu siang, saat Bung Karno sedang mengerjakan potongan kayu untuk mengganjal pintu, Riwu Ga datang membawa pisang dan bertanya-tanya pada Soekarno tentang caranya membuat potongan kayu. Bung Karno atau Soekarno yang kelak menjadi Presiden Republik Indonesia Pertama adalah seorang Insinyur, tapi ia selalu bicara dengan bahasa yang dimengerti lawan bicara dan Soekarno senang dengan anak ini yang ingin mengetahui banyak hal. Saat itu jam 10 pagi, Soekarno dan Riwu bicara sampai sore.

Akhirnya Bung Karno meminta Riwu membantu di rumahnya, banyak juga pemuda flores membantu di rumah Bung Karno. Pada kesempatan yang lain, Riwu turut bermain tonil dan membenahi baju-baju pemain tonil sambil belajar lagu Indonesia Raya dengan caranya yang gembira. Ia senang dan melompat-lompat ketika Bung Karno melawak dan menceritakan hal yang seru.

Saat dibuang ke Bengkulu tahun 1938, Riwu turut menyertai Bung Karno dan Inggit Garnasih, istrinya. Akhirnya Bung Karno pun kembali ke Djakarta bersama Riwu yang setia mengikutinya. Riwu adalah pembantu kesayangan Bung Karno dan Ibu Inggit.

Tahun 1942 Jepang datang ke Indonesia, Bung Karno akan dibawa ke Australia oleh Belanda dengan alasan untuk menyelamatkan jiwanya. Tetapi saat Bung Karno hendak masuk ke pesawat, Riwu minta ikut. Bung Karno memaksa Belanda agar Riwu ikut ke Australia, tapi Belanda menolak. Bung Karno juga menolak bila Riwu tidak diajak, jadilah Bung Karno tidak dibawa ke Australia. Sejarah Indonesia akan berubah total andai Riwu tidak memaksa dirinya ikut.

Saat Proklamasi 1945 dibacakan Bung Karno, Fatmawati isteri baru Bung Karno berada di samping Bung Karno bersama Riwu. Beberapa jam setelah Proklamasi, Bung Karno memanggil Riwu.

Angalai (sahabat), sekarang giliran Angalai,” lalu Bung Karno melanjutkan instruksinya, “sebarkan kepada rakyat Jakarta, kita sudah merdeka. Bawa bendera.”

Riwu Ga pada masa tua

Riwu sangat bangga mendapat perintah Bung Karno itu. Walaupun situasi kota Jakarta sungguh mencekam. Secara resmi, Jepang tidak atau belum mengakui kemerdekaan kita. Di jalan-jalan protokol tampak para serdadu Kenpetai (Tentara Jepang) yang bisa saja mencegat, melarang, atau bahkan menembaknya. Sedikit pun Riwu tak gentar. Ia harus menyebarkan berita kemerdekaan itu dengan berkeliling kota Jakarta, membawa bendera, seperti perintah Bung Karno.

Untuk tugas itu, ia dibantu Sarwoko, adik Mr. Sartono. Sarwoko mengemudikan mobil jip terbuka. Sementara Riwu berdiri sambil melambai-lambaikan Bendera Merah Putih, dan berteriak-teriak sepanjang jalan. Mulanya ia berteriak, “kita sudah merdekaaaaa…..” tetapi sambutan masyarakat di pinggir jalan dingin. Entah shock, entah tidak percaya, atau mungkin menganggap Riwu adalah seorang pemuda “gila” yang sedang mencari mati.

Demi melihat masyarakat bengong, Riwu berteriak lagi, dengan sangat meyakinkan, “kita sudah merdekaaaa… merdekaaa… merdekaaa…. Kita sudah merdekaaa… merdekaaa… merdekaaa….” Barulah rakyat menyambutnya dengan teriakan yang sama, “Kita sudah merdekaaa… merdekaaa… merdekaaa…” sambil tangan kanan mengepal meninju angkasa. Bahana merdeka menggema di sepanjang jalan sahut-menyahut, disusul tangis histeris sebagian orang.

Begitulah. Jumat, 17 Agustus 1945, Riwu dan Sarwoko berkeliling kota Jakarta mengabarkan proklamasi yang baru saja diucapkan Bung Karno dan Bung Hatta atas nama seluruh bangsa Indonesia.

Di hari tuanya siapa yang mengenal Riwu. Dia hanya memacul tanah tandus di Pulau Timor. Riwu tak seperti pejabat yang dengan mobil mewah ke Istana dan dengan jas puluhan juta menghormat pada Bendera Merah Putih dan bernyanyi lagu Indonesia Raya. Ia hanya orang tua yang rapuh dan ia tidak pernah diundang ke Istana. Tapi tanpa Riwu kita tak mengenal Indonesia seperti apa yang kita kenal sekarang. (dari berbagai sumber/msd)

Komentar

News Feed