oleh

Jenasah Lambertus Ledo PMI dari Malaysia Berhasil Dipulangkan ke Sebowuli

KUPANG, suluhdesa.com | Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur kembali mendapat pengiriman jenasah Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Malaysia. Kali ini adalah jenasah dari Almarhum Lambertus Ledo (42 tahun), warga Rt 03, Gelaroja, Dusun Nenonusa, Desa Sebowuli, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sebelumnya Jenasah Lambertus diterbangkan dari Malaysia ke Jakarta dengan menggunakan Pesawat Garuda Airlines (GA 821) pada Minggu (14/02/2021) pukul 13.50 WIB. Jenasah Lambertus tiba di Kargo Bandara El Tari, Kupang, Senin (15/02/2021) pukul 12.30 WITA dengan Pesawat Garuda Airlines. Kemudian, Jenasah Lambertus dipulangkan oleh BP2MI NTT ke kampung halamannya untuk dimakamkan di Desa Sebowuli, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, dengan menggunakan kapal feri dari Kupang ke Ende.

Diketahui dari dokumen Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Malaysia yang diterima media ini dan diberikan oleh Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Provinsi NTT menyatakan bahwa, Almarhum Lambertus Ledo memiliki Pasport bernomor AT 902852, bekerja di KILANG KHJ TIMBER SDN BHD EMR 2837 LOT 1361, MUKIM ULU YAM, SELANGOR 44300 SELANGOR.

Penyebab kematiannya adalah Coronary Artery Disease. Penyebab kematian ini tertera dalam surat keterangan hasil otopsi yang dilakukan pihak Rumah Sakit Kuala Kubu Bharu pada hari Jumat (05/02/2021). Almarhum Lambertus meninggal pada Rabu (03/02/2021) di dalam rumahnya pada kawasan tempat kerjanya.

Berdasarkan catatan atau keterangan dari pihak kepolisian Malaysia atau Polis Diraja Malaysia yang menerima pengaduan dari seorang Saksi bernama Son Ying Hong menyatakan bahwa, pada tanggal 3 Februari 2021 pukul 08.00 waktu setempat Almarhum Lambertus tidak hadir bekerja di tempat kerjanya di KILANG KHJ TIMBER SDN BHD EMR 2837 LOT 1361, MUKIM ULU YAM, SELANGOR 44300 SELANGOR.

Masih dari keterangan kepolisian itu, pada pukul 10.00 waktu setempat, salah seorang rekan almarhum melihat almarhum keluar membeli barang di kantin. Pada pukul 16.00 waktu setempat, salah satu rekan almarhum yang lain bernama Janu pergi ke rumah almarhum yang berada di kawasan Kilang untuk berjumpa dengan Almarhum Lambertus. Setelah membuka pintu yang tidak terkunci, ia mendapati almarhum sudah meninggal dunia. Pada pukul 17.30 waktu setempat, mobil Ambulance dari Rumah Sakit Kuala Kubu Bharu tiba untuk membawa almarhum. Almarhum sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit.

Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) NTT, Siwa, S.E, saat dikonfirmasi Media SULUH DESA, Senin (15/02/2021) pukul 14.30 Wita, mengungkapkan bahwa Almarhum Lambertus meninggal karena serangan jantung.

Sedangkan mengenai data keberangkatan Almarhum Lambertus ke Malaysia untuk bekerja, menurut Siwa, tidak terdaftar atau terdata di Sisko P2MI.

Mengenai total jenasah PMI yang telah diterima BP2MI NTT dari Bulan Januari 2021 hingga pertengahan Februari 2021 ini, sudah 17 jenasah.

“Yang sudah berhasil dipulangkan ke kampung masing-masing itu 13 jenasah. Yang sedang diurus saat ini ada 2 jenasah. Yang dimakamkan di tempat kerja ada 2 jenasah. Jenasah Lambertus Ledo ini menambah daftar PMI yang meninggal di luar negeri. Puji Tuhan berhasil kita pulangkan dengan kerja sama banyak pihak,” jawab Siwa.

Petugas BP2MI NTT dan keluarga sedang mengeluarkan peti berisi Jenasah Lambertus Ledo dari dalam ruang Kargo Bandara El Tari Kupang.

Pada kesempatan itu Siwa mengimbau kepada seluruh masyarakat NTT yang ingin bekerja di luar negeri agar sebelumnya mengurus dokumen sehingga legal dan terdata dengan baik di P2MI.

“Kalau berangkat tidak pakai dokumen itu ilegal. Nanti kalau terjadi masalah kita semua bakal pusing dan repot. Jadi teman-teman yang mau pergi kerja di luar negeri atau di luar pulau sebaiknya urus secara resmi semua dokumen. Jangan berangkat secara ilegal. Apalagi kalau berangkat dengan jasa calo. Itu sangat berbahaya,” jelas Siwa sambil mengharapkan semua masyarakat NTT jangan terjebak pada rekrut tenaga kerja yang menggunakan jasa calo.

Salah satu sumber dari keluarga Almarhum Lambertus di Desa Sebowuli yang memberikan informasi ke Media SULUH DESA mengatakan bahwa, Almarhum Lambertus berangkat ke Malaysia tahun 2016.

“Ada pasport dan melalui jalur resmi,” ungkapnya yang meminta namanya jangan disebut.

Pantauan Media SULUH DESA, pada saat penjemputan Jenasah Lambertus Ledo di Kargo Bandara El Tari, Kupang, hadir JPIC Migran Care PI yakni Sr. Laurentina dan tim, Rumah Harapan GMIT, Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT), dan Berandus Gapi bersama Berno Gisi mewakili keluarga almarhum.

Bernadus Gapi yang hadir mewakili keluarga saat menerima Jenasah Lambertus mengungkapkan kesedihannya.

“Kasihan e, pergi merantau pulang sudah jadi jenasah,” ucapnya dengan bibir bergetar.

Bernadus Gapi yang hadir didampingi Berno Gisi mengungkapkan rasa terima kasih mereka untuk BP2MI yang telah membantu keluarga dalam proses pemulangan jenasah ini.

“Kami ucapkan terima kasih juga untuk KBRI di Malaysia, untuk Suster Laurentina dan Romo Perno beserta tim yang turut serta dalam proses ini. Kami tidak bisa balas, kami serahkan Tuhan yang akan membalas semua kebaikan kalian. Sekali lagi terima kasih untuk semua pihak yang membantu kami memulangkan Jenasah Lambertus Ledo ke Desa Sebowuli,” kata Bernadus Gapi dan Berno Gisi.

Decky, perwakilan Rumah Harapan GMIT saat diwawancarai media ini mengatakan bahwa, kehadiran Rumah Harapan GMIT di Kargo Bandara El Tari menyambut setiap jenasah PMI yang dipulangkan adalah bentuk solidaritas dan kepedulian mereka terhadap masalah kemanusiaan.

“Kami hadir untuk mendoakan dan turut berbelasungkawa bersama keluarga. Kami peduli dengan keadaan yang dialami setiap PMI. Terkait dengan Jenasah Lambertus ini kita butuh investigasi lanjutan untuk mengetahui apakah almarhum ini korban perdagangan orang atau bukan. Kita juga mau mengedukasi setiap keluarga untuk selalu memiliki dokumen resmi dari negara jika ingin pergi kerja di luar negeri. Kalau terjadi kematian pasti ada jaminan atau asuransi. Akan tetapi jika tidak memiliki dokumen maka yang terjadi adalah kerugian bagi diri sendiri. Bahkan efeknya adalah akan disiksa majikan, dipukuli, gaji tidak dibayar, bahkan bisa dijual beli layaknya barang,” tandasnya.

Untuk data yang dimiliki Rumah Harapan GMIT terkait jenasah PMI yang dipulangkan ke NTT, menurut Decky, berjumlah 12 jenasah.

Hal senada diungkapkan Juandiny Lapaan dari JPIT. Juandini mengatakan data jumlah jenasah yang dipulangkan ke NTT dan saat dikantongi JPIT berjumlah 12 jenasah.

“Sangat sedih lihat teman-teman Pekerja Migran Indonesia asal NTT yang kerja di luar negeri ini pulang sudah terbungkus peti. Sejauh ini yang kami bisa lakukan adalah bersama keluarga menjemput jenasah yang ada. Memberikan penghiburan bagi keluarga. Selain itu kami melakukan penyadaran publik atau kegiatan lainnya tentang perdagangan orang. Kami merasa miris karena setiap hari pasti ada informasi yang meninggal di luar negeri. Memang sih yang dipulangkan itu tidak semua adalah korban perdagangan orang. Akan tetapi ini hal yang memang menyedihkan. Pergi kerja, sakit, meninggal, pulang dalam peti. Kami menyampaikan rasa duka kami yang mendalam untuk keluarga dari Almarhum Lambertus Ledo di Sebowuli, Ngada,” tutup Juandini. (fwl/fwl)

DomaiNesia

Komentar

News Feed