oleh

Pendalaman Kitab Suci KAK, Yesus Hadir dalam Penderitaan Hidup Manusia

KUPANG, suluhdesa.com | Dalam surat apostolik “Aperuit Illis”, Paus Fransiskus menetapkan Hari Minggu ketiga masa biasa dalam penanggalan liturgi Gereja Katolik sebagai Minggu Sabda Allah. Oleh karena itu, Perayaan Minggu Sabda Allah, pendalaman Kitab Suci (KS) dan Penyebarluasan Kitab Suci merupakan 3 hal pokok dalam Minggu Sabda Allah itu.

Meskipun Minggu Sabda Allah telah lewat, Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Kupang bersama para Relawan komisi Kitab Suci dan Kelompok Muda Kitab Suci tetap konsisten untuk terus memupuk kecintaan kepada Kitab Suci melalui kegiatan pendalaman Kitab Suci secara online, pada Sabtu (06/02/2021).

Kegiatan ini diikuti oleh 16 orang dan dipimpin oleh Sr. Yosefina Abatan, DCPB, seorang Biarawati dari Konggregasi Darah Mulia yang pernah menyelesaikan studi Kitab Suci di Roma. Teks Kitab Suci yang dipilih yakni perikop Injil Markus 1:29-39, teks Injil yang dibacakan pada hari Minggu biasa V tahun B.

Sr. Yofina mengajak peserta untuk membaca teks secara pribadi dan membuat pertanyaan penuntun secara sederhana dengan metode 5W1H dan kemudian dijelaskan secara terperinci ayat per ayat oleh Suster. Selain menjelaskan tentang latar belakang teks, Sr. Yofina juga menjelaskan juga latar belakang para tokoh. Salah satu tokoh yang dijelaskan yakni Simon Petrus, bahwa ia berasal dari Galilea, seorang nelayan dan juga punya istri.

“Diakonia adalah jantung atau inti dari Injil Markus. Di Injil yang lain pun berkisah tentang pelayanan Yesus, tetapi di Injil Markus jarang ditemukan kotbah-kotbah Yesus. Penginjil Markus lebih banyak menulis tentang pelayanan Yesus yang langsung pada tindakan. Ketika orang datang menyampaikan kepada Yesus bahwa ibu mertuanya Simon menderita demam, Yesus tidak berkata apa-apa. Ia langsung pergi memegang tangannya, dan membangunkan dia. Yesus langsung bertindak tanpa banyak kata,” jelas Biarawati yang juga mengajar Kitab Suci di Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral (STIPAS) Kupang.

Di sesi tanya jawab, peserta ikut terlibat aktif menanyakan hal-hal yang belum mereka pahami. Regina Djami meminta penjelasan tentang mengapa Yesus pergi ke tempat lain pada saat semua orang mencari dia. John Bahy bertanya tentang mengapa Yesus tidak memperbolehkan setan-setan bicara, dan lain lain. Sr. Yosefina menjelaskan, Yesus datang bukan untuk segelintir orang saja, melainkan untuk semua orang, maka Ia harus ke tempat lain juga untuk mewartakan Injil. Setan-setan mengenal Yesus sebagai Mesias. Yesus tidak ingin publik mengenal Dia sebagai Mesias politik, makanya Dia melarang setan-setan itu bicara.

Di akhir kegiatan, Sr. Yosefina menyampaikan refleksi berkaitan dengan perikop Kitab Suci yang telah digumuli bersama yakni bahwa Tuhan Yesus tidak hanya hadir di dalam rumah ibadat, tetapi juga masuk dalam keluarga dan dalam penderitaan hidup manusia.

“Sebagaimana Yesus yang dari Sinagoga pergi ke rumah Simon, Yesus pun hadir dalam masa-masa sulit kita saat ini akibat Covid-19 dan menguatkan kita dengan cara-Nya yang menakjubkan,” ucapnya.

Komisi Kitab Suci KAK berkonsisten untuk terus menanggapi seruan Paus Fransiskus terlebih dalam upaya pendalaman dan penyebaran Kitab Suci, salah satunya dengan kegiatan pendalaman Kitab Suci setiap hari Sabtu secara virtual yang terbuka untuk umum. (Yohanes Bahy/msd)

Komentar

News Feed