oleh

Niko Loy, dari Maghilewa Merantau ke Jogja dan Kini Bergelar Doktor

-Berita, Daerah, Tokoh-2.068 views

SOSOK, suluhdesa.com | Heracleitos, Filsuf Yunani berujar, “education is a second sun to its possessors (pendidikan adalah matahari kedua bagi orang yang memilikinya).” Maksudnya manusia harus berpendidikan. Sebab tanpa pendidikan, manusia ibarat hidup dalam kegelapan, ia akan berjalan dalam kekelaman.

Hal ini membuat seorang Nikolaus Loy, pria kelahiran Kampung Maghilewa di selatan Kabupaten Nagada di bawah kaki gunung Inerie, tepatnya di Desa Inerie, Kecamatan Aimere (sekarang sudah mekar dan berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Inerie), Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, memiliki tekad yang kuat untuk meraih cita-cita  sembari memaknai pendidikan dalam hidupnya.

Kepada Media SULUH DESA melalui sambungan telepon, Sabtu (30/01/2021) pukul 09.00 WITA, Niko biasa ia disapa membagikan kisahnya.

Berasal dari keluarga sederhana tidak menyurutkan keinginannya untuk bersekolah atau mengenyam pendidikan. Tahun 1980, Niko menamatkan pendidikan Sekolah Dasar di Kampung Maghilewa. Setelah itu Niko melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Pertama Panca Karsa Malapedho. Pada tahun 1980,  SMP di Desa Inerie baru dibuka tahun pertama dan dirintis oleh orang-orang tua termasuk sang ayah Arnoldus Wea yang merupakan seorang guru. Karena menurut mereka, mencoba mendekatkan pendidikan di Kampung Maghilewa. Kata Niko, sebenarnya ia bisa bersekolah di kota sesuai keinginannya, akan tetapi supaya di SMP itu ada murid, maka anak-anak para pendiri harus masuk di sekolah tersebut meski fasilitas serba minim, listrik tidak ada, sekolah pakai gedung balai desa.

Sejak SD, oleh orang tua, Niko selalu dibelikan majalah “Si Kuncung dan majalah Kunang-Kunang” untuk diharuskan membaca. Niko juga suka mendengar siaran radio Australia dan BBC London setiap pagi hari yang dibuka oleh ayahnya. Dari setiap bacaan yang dibaca, sangat banyak cerita yang mengembangkan imajinasinya. Juga siaran yang didengarnya membentuk imajinasi tentang dunia luar.

Niko menamatkan pendidikan SMP kemudian Niko melanjutkan pendidikan ke SMA Seminari Todabelu di tahun 1984 dan belajar di Jurusan Biologi serta tamat tahun 1987.

“Kebiasaan membaca sejak SD, SMP semakin berkembang lagi ketika di SMA Seminari Mataloko karena banyak buku-buku yang dapat saya baca. Anak-anak asrama diberikan pos kerja. Ada yang bertugas di kebun, di taman, di kamar mandi dan kebetulan saya mendapat tugas di perpustakaan. Jadi lebih punya banyak waktu untuk mengakses buku-buku dan kebetulan juga teks latin cukup banyak. Di SMA Seminari Mataloko imajinasi saya semakin terbentuk. Apalagi pendidikan seminari itu membantu membuka cara pandang saya terhadap dunia luar. Itu sudah ada di pikiran saya,” urai Niko.

Setelah menamatkan pendidikan di SMA Seminari Mataloko tahun 1987, Niko bersama kawannya masuk Novisiat Carmelites di Batu, Malang Jawa Timur. Namun Niko hanya bertahan satu tahun, karena merasa tidak cocok dengan panggilannya, Niko memutuskan untuk berhenti. Sedangkan kawan-kawan seangkatannya kini ada yang sudah menjadi Imam Katolik.

Sosok yang tutur katanya lembut, cerdas, dan brilian ini mencoba melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB) karena sesuai dengan jurusan Biologi semasa SMA. Ketika terbersit keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di IPB, Niko diminta ayahnya untuk kembali ke kampung. Agar ayahnya tidak kecewa, Niko pun memutuskan pulang ke Flores dan sempat bekerja sebagai Tutor di SMA Muhammadiyah Ende kurang lebih sepuluh bulan pada tahun 1988.

“Tahun 1989 sekitar bulan Juli, setelah berdiskusi dengan keluarga besar di kampung saya memutuskan untuk berangkat ke Jogjakarta dengan menggunakan kapal laut. Tujuannya untuk melanjutkan studi saya. Dalam benak dan pikiran saya waktu itu adalah saya harus masuk di Universitas Sanata Dharma dengan Jurusan Bahasa Inggris. Alasannya, saya termotivasi dari guru-guru yang mengajar di Flores itu kebanyakan lulusan Sanata Dharma. Dalam kebimbangan, saya baru tahu dan sadar ternyata ada Jurusan Hubungan Internasional (HI) di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Sebelumnya saya belum pernah dengar tetapi ini semua Tuhan punya cara,” kata Niko.

Dosen pada Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogjakarta ini kemudian mengikuti test di dua universitas sekaligus yakni di Universitas Sanata Dharma Jurusan Bahasa Inggris dan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jurusan Hubungan Internasional, dan ternyata dua-duanya diterima. Saat itu Niko bingung mau kuliah di mana karena kalau kuliah sekaligus di UGM dan di Sanata Dharma, orang tuanya tidak akan mampu sedangkan uang yang dikirimkan dari kampung setiap bulan hanya cukup untuk makan dan bayar kost.

Niko tidak berputus asa. Niko pun meminta saran dan pendapat dari yang lebih senior tentang apa yang dialaminya ini. Keputusan yang tidak mudah untuk direalisasikannya. Saran yang diterima bahwa bahasa Inggris itu bisa dipelajari di luar. Akhirnya Niko memilih kuliah di UGM pada Jurusan Hubungan Internasional tahun 1989 dan Strata Satunya diwisuda tahun 1995.

Dikisahkannya juga, saat kuliah dengan situasi yang tidak berkelimpahan, uang wesel yang dikirim dari orang tua benar-benar hanya cukup untuk makan sebulan, di luar itu tidak bisa, misalnya untuk sekadar menonton film.

“Ketika saya kuliah di UGM, saya berkenalan dengan teori pembangunan, ekonomi  politik. Setelah selesai kuliah, untuk mencari pekerjaan itu sangat sulit lalu saya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Di Jakarta saya pun bekerja di salah satu penerbit di daerah Cempaka Putih dan menjadi seorang editor buku-buku managemen dan psikologi Populer. Saya tidak puas dengan pekerjaan yang ada karena  tidak bisa belajar lebih banyak. Menjadi editor lebih banyak membaca teks, memang dapat pengetahuan tetapi jaringan tidak berkembang. Tidak ada,” kenang Niko.

Tahun 1997, ada lowongan menjadi Dosen di UPN Veteran Jogjakarta yang pada waktu itu dibutuhkan untuk Jurusan Hubungan Internasional dan jurusan tersebut baru berusia tiga tahun.

“Saya mengirim lamaran. Setelah itu saya dipanggil dan dinyatakan diterima sebagai Dosen Hubungan Internasional di UPN Veteran Jogjakarta. Saat itu saya masih S1 dan pada tahun 2000 saya mencoba melamar untuk mendapatkan beasiswa di Katholischer Akademische Auslander-Dients (KAAD) dari Jerman dan Australian Development Scholarship (ADS) untuk studi pembangunan. Dalam proses, keduanya diterima, tapi karena harus belajar lagi bahasa Jerman selama setahun, saya memilih melanjutkan studi ke Australia dengan beasiswa ADS,” imbuh Niko.

Tahun 2001, Niko berangkat ke Australia untuk ambil Master of Development Studies atau Studi Pembangunan di School Of Geography and Environmental Sciences, Monash University, Australia dan selesai tahun 2002. Setelah itu Niko kembali ke Indonesia.

Sambil mengajar di UPN Veteran Jogjakarta, Niko harus berbagi waktu untuk mengurus keluarganya untuk pindah dari Pulau Sumba ke Jogjakarta. Saat berpikir untuk melanjutkan studi lagi, keadaan tidak mengizinkan oleh karena buah hatinya yang paling kecil mengalami sakit sehingga keinginannya itu Niko urungkan. Saat itu juga ada permintaan dari dekan untuk membantu mengurus akademi yang saat tengah berkembang pesat. Niko tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan Niko menjadi wakil dekan I di bidang akademik sampai tahun 2014.

Tahun 2014, Niko pun kembali memutuskan mengambil S3 dengan beasiswa namanya Beasiswa Pendidikan Dosen Dalam Negeri (BPDDN) dari Kemendiknas dan Niko masuk Program Doktor Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (UGM).

Tahun 2021, tepatnya hari Jumat (29/01/2021) pukul 16.00 WIB, Niko pun mempertahankan disertasinya yang berjudul “Sekuritisasi Isu Keamanan Energi Indonesia: 2004-2017, di depan delapan penguji.

“Saya seorang Doktor Ilmu Politik, melakukan riset tentang isu keamanan energi dengan disertasi tentang apakah isu energi itu sudah mencapai isu keamanan di pihak elit? Apakah kebijakan energi yang ada sudah menunjukkan bahwa ini menjadi isu prioritas keamanan nasional yang dikonstruksi oleh elit (Presiden SBY)? Apakah kebijakan energi yang ada sudah menunjukkan bahwa isu ini menjadi isu prioritas keamanan nasional? Dari temuan itu, temuan pertama saya menggunakan teori bahasa yaitu teori tutur tindak. Temuan energi memang sudah menjadi status isu keamanan nasional yang dikonstruksi elit politik (Presiden SBY) akan tetapi kebijakannya dalam bentuk disertifikasi energi itu ternyata berjalan sangat lamban. Jadi ada kesenjangan antara retorika krisis energi dengan kebijakan keseriusan untuk melakukan diversifikasi energi dalam bentuk pengembangan energi baru dan terbarukan,” papar Niko.

Niko menyampaikan bahwa, dalam perjalanan sampai ke tingkat ini bukan soal kecerdasan saja.

“Orang boleh pintar tetapi kalau tidak dibimbing dengan visi yang kuat dengan konsistensi individu bahwa saya harus mencapai sesuatu, tidak didukung oleh keluarga, maka kecerdasan itu bukan segala-galanya. Tetapi kalau mau lihat sejarah hidup saya, sampai sekarang pesan saya kepada adik-adik hanya satu yakni, kamu harus punya mimpi yang terus kamu pelihara dan dibentuk pada usia muda. Nah mimpi itu harus terus dinyalakan, yang membantu kamu menghadapi situasi sulit dan tahu ke mana tujuan hidup. Banyak adik-adik yang kuliah tidak didukung oleh visi atau mimpi itu. Kuliah begitu saja dan tidak tahu tujuannya ke mana. Oleh karena itu para pembimbing terutama di tingkat SMA harus ada sesi membantu anak-anak untuk membentuk mimpi, visi ke mana nantinya ke depan,” pinta Niko.

Saat dimintai tanggapannya terkait pendidikan di NTT saat ini, Niko menjawab, “mimpi itu tidak perlu jadi Doktor. Yang saya maksudkan tujuan hidup itu mau ke mana dan itu harus dibantu konseling atau pelatihan pada saat anak masih di SMP dan SMA. Itu akan terbentuk. Life plan itu harus terbentuk sejak SMA supaya mereka tahu bahwa setelah SMA itu mereka mau ke mana.”

Menurut Niko, dengan doa juga maka itu pasti bisa. Intervensi Tuhan memang tidak bisa diabaikan untuk Niko. Niko merasa hidup ini merupakan rentetan keajaiban. Karena kata  Niko, sejak kecil dirinya mengalami masa yang sulit dan itu menimbulkan problem psikologi yang besar.

“Tetapi setiap rentetan kejadian saya mau katakan itu rantai kehidupan dan di situ Tuhan bekerja. Visi, mimpi itu harus dipelihara dan didoakan terus dan terutama peran orang tualah yang sangat penting. Ayah dan ibu harus mendoakan anak-anaknya setiap hari. Karena itulah yang akan membentuk mereka untuk menggapai masa depan,” ujar Niko.

Niko juga mengatakan, jika diizinkan untuk mengabdi di NTT, ia akan memberikan pikiran-pikirannya.

“Di UPN Veteran Jogjakarta, saya mengembangkan  beberapa simulasi dari mata kuliah, seperti negoisasi untuk penyelesaian konflik dan untuk bisnis. Itu bisa kita ngobrol tanpa saya harus kembali ke NTT. Kita bisa training satu atau dua hari seperti negosiasi bisnis atau resolusi konflik. Itu tidak masalah atau bahkan dalam bentuk kuliah umum atau sharing karena saya tahu teman-teman di Kupang atau Flores adalah orang yang hebat pengetahuannya, juga sangat maju. Jadi kita bisa saling belajar, tukar pengetahuan. Sebab kita perlu tahu apa yang terjadi di tingkat lokal karena NTT adalah sebuah daerah yang menarik untuk diteliti,” terang Niko.

Berkat kemurahan Tuhan, Niko bisa menyelesaikan gelar Doktor di usia 53 tahun, meski di tengah situasi sulit.

Ketika ditanya lagi apakah optimis jika kelak memperoleh gelar Profesor? Niko menjawab bahwa, Profesor itu bonus. Profesor itu dampak dari apa yang dilakukan.

“Sekarang yang saya harus lakukan, setelah Doktor apa yang mau harus dilakukan? Nah, saya akan terus menjadi dosen. Dosen itu panggilan. Kalau di kelas ada dua puluh orang orang dan saya bisa tularkan hal-hal baik kepada sepuluh orang, maka sepuluh orang ini akan menularkan hal-hal baik itu kepada dua orang saja, berarti saya menularkan hal baik 10×2 yakni 20 orang. Ini adalah sebuah kebaikan dan membuat orang jadi lebih baik. Saya akan tetap mengajar bahwa nanti dampak dari apa yang saya lakukan, apakah itu menjadi Profesor, itu urusan Tuhan,” tandas Niko.

Ada beberapa rencana yang Niko lakukan tanpa meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang dosen. Niko memiliki keyakinan bahwa mendidik orang muda itu adalah panggilan, mendidik itu bukan kekebetulan

“Maka ketika mengajar, saya menyiapkan dengan serius bahan ajar, model pembelajaran. Saya selalu percaya mahasiswa bahwa mereka adalah subyek yang bisa mencari pengetahuan sendiri. Lalu di bidang penelitian, saya akan tetap fokus di bidang kebijakan  keamanan dan keamanan energi khususnya. NTT memiliki potensi besar Energi Baru dan Terbarukan, terutama sinar matahari, bio-gas dan angin. Kultur eneri terbarukan harus terus didorong dan dikembangkan” tambah Niko.

Nikolaus Loy adalah Doktor ketiga dari Kampung Maghilewa, sebuah perkampungan yang berada di lereng gunung Inerie. Sebelumnya dari kampung sejuk nan indah ini sudah melahirkan Doktor Thadeus Wego yang kini berkarya di Universitas Nusa Cendana Kupang dan Doktor Donatus Wea yang berkarya di Papua.

Niko percaya bahwa prestasi yang diperolehnya kini berkat doa dari Almarhum Ayahanda Arnoldus Wea dan Almarhumah Theresia Iju, sanak saudara, serta doa dan dukungan dari istri tercinta dan putri-putrinya.

“Pesan saya kepada adik-adik di NTT. (1) Jangan pernah menganggap rendah kemampuan anda yang diberikan oleh Tuhan. Jangan merasa minder, rendah diri, apalagi merasa kurang. Otak yang harus kita andalkan. Saat ini internet sudah menjangkau sampai di desa-desa. Ini bisa jadi sumber belajar untuk mengembangkan kepribadian yang positif, punya kemampuan kecerdasan yang memadai, belajar hal-hal positif serta terbuka dengan orang lain. Wawasan harus jauh keluar dan jangan terpaku.( 2) Kita bangga dengan kebudayaan kita. Karena kalau kita bangga dengan kebudayaan yang kita miliki maka akan memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi, menyerap dan berhadapan dengan kebudayaan lain. Saat saya dibesarkan di Kampung Maghilewa, saya tahu nilai-nilai yang diwariskan oleh kakek, nenek, bapak, mama, om, tanta, dan yang lainnya. Itu membuat saya memiliki identitas yang  kuat dan itu membantu saya untuk bergaul berhadapan dengan masyarakat, atau teman-teman dari daerah lain,” ajak Niko memberikan motivasi.

Niko yang memiliki motto “Menjadi Manusia Merdeka” berpesan, peliharalah mimpi. Mimpi harus seluas mungkin. Harus berani bermimpi untuk menggapai masa depan dan jangan rendah diri.

“Peran serta orang tua dan lingkungan itu akan memupuk keberanian anak-anak untuk memimpikan masa depan mereka. Anak-anak harus dihindarkan dari pengaruh alkohol karena tidak baik untuk kestabilan emosi dan pertumbuhan otak menjadi tidak seimbang. Anak-anak tidak boleh diberi minuman beralkohol karena akan berdampak buruk. Diharapkan anak-anak harus mencintai dirinya dan harus mempunyai cita-cita agar fokus. Ada cita-cita maka harus ada motivasi, harus ada mimpi dari anak-anak kita. Sebagai orang tua kita bimbing sambil menyerahkan kepada Tuhan lewat doa. Maka Tuhanlah yang akan merajut itu semua,” tutup Niko. (fwl/fwl)

Komentar

News Feed