oleh

Surat dari Mira

-Sastra-549 views

CERPEN, suluhdesa.com | Angin sepoi-sepi dengan nakalnya mempermainkan anak rambutku, membuatnya terbang ke kiri dan ke kanan, mengikuti ke mana ia ingin berhembus. Membuat rambut ikalku yang kemerahan akibat terpaan sinar matahari yang ganas di kota karang ini terlihat semakin berantakan. Aku menatap daun-daun kering kecoklatan yang jatuh dari dahan pohon kusambi.

Angin yang membiarkan butiran-butiran debu mengangkasa dan akhirnya menghempaskannya kembali ke tanah saat ia menghilang. Itulah angin. Ada saat ia datang dalam tenang yang menyejukkan, kadang dalam kemarahan yang menakutkan. Aku termenung sambil memikirkan angin, yang entah mulai kapan ku perhatikan. Mungkin, tidak ada yang bisa kupikirkan sekarang selain angin yang berhembus di sela-sela rambutku dan sesuatu yang tak dapat kugambarkan mengenai keluargaku, yang terkadang membuat dada ini terasa begitu sesak dan sulit bernapas.

“Diam! Kalo lu sonde mampu kasih makan Mira dan beta, jangan larang beta begini begitu. Lu kira lu sapa hah? Supaya lu tau, beta begini karena lu! Harusnya lu tau dan mengerti, beta begini bukan karena beta pung mau. Lu pikir pake otak, perempuan sapa yang mau begini, hah?,” teriak seorang wanita berusia sekitar dua puluh tahun lebih, yang memakai handuk biru yang dililitnya sebatas dada, yang terlalu kusam untuk di katakan biru.

“ Iya, Irma. Iya, beta tau. Beta sonde bisa apa-apa. Tapi, beta masih bisa kasih makan besong dua. Beta su berusaha untuk bisa buat besong bahagia, beta su…”

Prangg… prangg…

Ucapan lelaki berkulit hitam legam itu terhenti saat wanita di depannya melemparkan dua buah piring yang terbuat dari kaca ke tembok berdinding bebak tepat di samping pria tersebut. Kemudian memakinya dengan umpatan-umpatan kasar. Lelaki itu hanya menatapnya lirih sambil menyipitkan mata kirinya, berusaha melihat sosok tinggi langsing tersebut di dalam cahaya lilin remang-remang.

“Hahaha, lu mau kasih makan ketong dengan apa? dengan itu jagung ketemak? Dengan beras yang tiap kali beli harus utang? Beta su bosan makan hanya dengan garam. Beta su capek ju… jual ini bibir ni, hanya untuk minta orang kasihan beta. Beta su capek, jadi tolong lu mengerti, Theo.”

“Tapi ketong bisa sama-sama kerja yang lebih baik. Beta bisa buat lu dan Mira lebih bahagia. Tapi tolong, kasih beta satu kesempatan lai. Beta janji.”

Adu ee, Theo. Sudah su, beta su kenyang dengan lu pung janji. Dari pertama ketong nikah lu bilang apa? Irna, lu percaya dan beta toh? Beta akan buat lu dan ketong pung anak yang ada di lu pung perut bahagia. Beta janji. Hahaha, Theo ee! Lu pung janji tuh su bikin beta begini. Lu pung janji tuh yang bikin beta susah, yang bikin beta pikir dengan segala bodoknya kasih tinggal beta pung keluarga dan ikut lu. Dan apa? lu liat sekarang apa? mana janji rumah tembok? Mana janji bilang lu mau bikin kasih beta kios? Mana janji lu mau beli motor? Mana? Lu memang pembohong. Tukang omong kosong! “

“Dan beta minta maaf, untuk kali ini beta su sonde bisa percaya lai dengan lu pung cerita omong kosong. Beta perlu bukti, bukan janji. Tapi nyatanya lu hanya sanggup kasih janji. Sudah lai Theo, beta mau pi kerja. Kalo Mira lapar, ada doi lima ribu di meja. Lu bisa beli mie atau apa, terserah lu.”

Wanita itu menggantungkan kalimat terakhirnya, kemudian berjalan meninggalkan lelaki yang hanya menatap siluet di tembok. yang menghilang di balik kain gorden warna hijau. Ia mendengus pelan, menatap cahaya lilin yang remang-remang. Sejurus kemudian, ia menjatuhkan dirinya ke atas kursi kayu yang berdecit ketika di duduki.

Beta pamit. Mira, mama jalan ee. Kalo lapar, uang ada di bapa. Theo, beta pi su e. Jemputan su tunggu. Daa, Mira. Mungkin lusa listrik su pasang, jadi Mira sonde usah belajar di gelap lai,” ujar wanita itu sambil meninggalkan sang pria yang masih terpaku pada cahaya lilin. Tercium wangi parfum yang kuat saat ia meninggalkan tempatnya. Tanpa sadar, sang pria meneteskan air matanya yang mengalir di sudut kelopak matanya dan jatuh mengenai lantai dari semen kasar di bawahnya, kemudian terisak lirih.

Bapa, sudah su. Bapa jangan menangis lai. Ini bukan bapa pung salah.” Aku menatap punggung kokoh yang dahulu, selalu aku banggakan yang entah mengapa sekarang terlihat begitu rapuh bagiku. Cemoohan mamalah yang membuatnya tampak rapuh.

“Haha, sapa yang menangis, Mira? Bapa ko? Sonde. Bapa sonde menangis. Untuk apa menangis? Ko yang mama omong benar ju. Mira kenapa? Lapar ko? Tunggu ee, bapa pi kios beli Sarimie kasih Mira. Kita makan sama-sama ee?,” ujarnya berbohong, pura-pura tersenyum. Bapa, Mira yang salah. Seharusnya Mira yang minta maaf.

“Iya, terserah bapa sa,” aku mengangguk, membiarkannya berlalu meninggalkanku.

***

Tak lama kemudian, Sarimie yang dibelikan oleh ayah telah disiapkan di atas mangkuk kecil warna biru tua. Aku menatap kepulan asap di atas mangkok biru tua dengan gambar ayam jago di depannya, hadiah dari detergen bermerk murahan yang selalu kami pakai.

“Mira makan su. Mie bapa su buat. Kalo masi lapar, ada jagung  ketemak bapa masak tadi.” Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum dan langsung meraih mangkuk biru kecil yang berisi sarimie dan menghabiskannya. Dalam hati aku meringis, melihat bapa dari ekor mataku. Yang memakan sarimienya dengan lamban, aku tahu apa yang sedang ia pikirkan.

Bapa ini beta pung salah, bapa dengan mama tiap hari bakalai karena beta. Aku, Mira kecil yang berusia sepuluh tahun, hanya membatin dan menyaksikan drama pertengkaran ayah dan ibuku setiap hari. Menyaksikan bagaimana punggung kokoh yang selalu aku banggakan itu di terjang piring dan benda-benda lainnya. Menyaksikan bagaimana seorang lelaki bernama Theodorus Gale yang selalu mengalah. Menyaksikan bagaimana seorang wanita mencaci makinya. Aku tidak menyalahkan mama, tapi entah mengapa melihat bapa di perlakukan seperti itu rasanya tak tega. Aku tidak menyalahkan mama yang dengan pekerjaannya, mengundang cemooh para tetangga. Aku tak perduli ayahku seorang buruh kasar. Aku bahkan tak perduli kalau aku mempunyai ibu seorang pramuria. Sekali-kali, tidak!. Yang aku perdulikan, mereka adalah orang tuaku.

Bapa, beta mau tanya sesuatu. Boleh ko?.” Aku menatap wajah ayah.

“Hemm, tanya su. Mira mau tanya apa?.” Balas ayah sembari memamerkan deretan gigi-giginya yang berbaris rapi dengan warna kemerahan khas siri pinang.

“Mira nih hanya jadi beban ko? Bapa dan mama kerja banting tulang karena Mira toh?.” Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menahan sesak di dada. Drama ini terlalu kejam untukku. Tak tahukah kau aku masih bocah? Bukankah ini terlalu menyakitkan untuk dikecap?. Aku menengadah ke loteng rumahku, menatap jaring laba-laba yang berseliweran di sana.

“Mira! Sapa yang bilang begitu? Bapa dan mama sonde pernah anggap Mira sebagai beban! Mira, jangan bilang begitu leh! Bapa sonde suka. Sejak kapan Mira jadi begini?.” Ayah menatapku tajam seakan mencoba mendapatkan sebuah kebenaran di sana.

Bapa, coba kalau Mira sonde ada, mungkin bapa masih bisa kasih makan mama dan mama sonde mungkin kerja begini. Mama sonde mungkin pergi dengan om dong! Mama sonde mungkin banting piring gelas dong waktu bamarah dan bapa. Mama pasti akan lebih hormat bapa, seperti beta pung kawan dong pung mama. Mungkin, kalo Mira sonde ada..”

Aku terisak saat ayah mendekapku dan mengelus rambutku pelan. Kurasakan tangan kasarnya yang menepuk bahuku pelan, seakan menyalurkan separuh energinya padaku. Namun, aku sudah terlanjur terluka begitu dalam. Faktalah yang mengatakan bahwa akulah penyebab semuanya. Kenyataan telah merobekku sebegitu parahnya dan menyisakan luka yang mengaga. Membuatku lupa akan arti hidup sebenarnya. Kini, aku ingin mengakhiri semuanya. Semua yang diawali dari tanggal 14 Februari 2004, di saat tangisan pertamaku pecah.

“Mira, kalau Mira masih sayang bapa dan Mira sonde mau buat bapa sedih, tolong jangan omong begitu lai. Bapa memang kerja begini untuk Mira dan mama. Tapi kalau Mira omong begitu, percuma sah bapa kerja. Karena satu-satunya alasan bapa untuk bertahan itu Mira dan mama. Mira mengerti toh?.” Ayah mengusap air mataku pelan.

***

“ Theo… Theoo ee, buka pintu doh!

Aku tersentak kaget, begitu pula ayah. Sepertinya ibu sudah pulang. Aku membaca raut kegusaran dalam wajahnya. Mungkin ia mempunyai firasat yang sama denganku. Ya, ibu mabuk lagi. Dan sepertinya aku tahu siapa yang menghantarnya pulang. Hahaha, aku tertawa miris membayangkannya. Membayangkan tangan yang bergelayutan manja di lehernya, yang seharusnya tangan ayahku. Membayangkan dekapan yang seharusnya milik ayahku. Aku semakin muak dan muak!.

“ Mira, masuk kamar su. Pi tidur su ee, su malam nih. Biar bapa yang buka pintu kasih mama.” Aku hanya mengangguk dan berjalan terseok-seok, membiarkan kakiku merasakan dinginnya lantai semen kasar yang ku pijak.

Pintu berdecit saat aku tiba di kamar. Tak mau ketinggalan, aku mengintip peristiwa malam itu dari balik gorden lusuh kamarku, layaknya tirai pertunjukkan. Aku sedikit menyipitkan mata, saat cahaya lampu sebuah sedan yang tepat menyorot wajah ayah dan ibu, serta seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun. Lelaki itu tersenyum. Senyuman nakal yang menjijikkan. Ingin rasanya ku congkel bola matanya saat tatapan mesumnya menghujam tubuh ibuku.

“Daaa, sayang. Nanti besok beta jemput lai ee,” kata lelaki bejat sialan itu sambil membelai rambut ibuku, kemudian berjalan sempoyongan ke arah mobilnya. Dalam hati, ku doakan agar mobilnya mengalami kecelakaan agar besok tak akan ada lagi mobil sedan yang terparkir di depan rumahku dengan klakson yang terus menerus dibunyikan tak sabaran.

Sepeninggal mobil itu, aku melihat ayah menarik tangan ibu kasar dan mendorongnya ke tembok bebak dan menunjuknya dengan jari telunjuknya, tepat di depan mata ibu. Dengan kemarahan yang memuncak, ia menatap ibu bagaikan serigala yang kelaparan. Aku meremas-remas ujung bajuku. Aku takut terjadi sesuatu pada ibu. Sepertinya, ayah benar-benar marah padanya.

“Sekarang lu su berani ee! Su berani lu bawa laki-laki pi rumah. Lu su berani ee, kasih dia injak ketong pung teras rumah. Tinggal sah lu tendang beta dari kamar! Kenapa sonde satu kali sah, Irna? Biar lu puas toh?. Lu lupa kalo di sini ada Mira? Lu lupa ko kalau ketong ada tetangga? Lu lupa hahh?.” Ayah mengguncang bahu ibu kencang.

“Beta su lupa! Beta su lupa ketong punya tetangga. Beta pung urat malu su hilang! Buat apa pikir malu? Yang harus beta pikir tuh kermana caranya beta bisa kasih makan Mira karena beta pung suami sonde bisa apa-apa!. Ibu balas berteriak sembari meremas bahu ayah.

Plakk

Ayah menampar ibu keras. Aku menutup mata, membiarkan air mataku turun dengan sendirinya. Berharap ketika nanti aku membuka mata, semua ini hanya mimpi. Aku menatap ibu yang jatuh tersungkur di kaki ayah sambil menangis. Ku tatap bahu ayah yang bergetar hebat karena emosi. Ku tatap ibu yang masih tertelungkup, seakan tak mampu bergerak. Ayah berjalan melalui ibu, tanpa menoleh sedikit pun. Membiarkan pintu yang masih terbuka dengan ibu yang tergeletak di depannya.

Aku rasa, ini harus berakhir. Secepatnya.

***

Dari: Mira

Untuk: Bapa & Mama

Salam sayang untuk bapa dan mama

Bapa dan mama…

Mira minta maaf kalo selama ini Mira su bikin bapa dan mama susah. Mira su bikin bapa kerja keras, Mira su bikin mama kerja seperti itu. Mira tau, ini semua karena Mira. Bapa dan mama boleh bilang sonde, tapi Mira tau. Mira mengerti. Mungkin, Cuma dengan ini cara Mira bisa bantu bapa dan mama. Cuman dengan ini cara, bapa dan mama bisa kembali seperti dulu, waktu Mira belum ada. Mira hanya mau bapa dan mama bisa basayang ke dulu. Bisa ko janji dengan Mira? Bisa ko?. Untuk sekali ini sah. Jangan pernah lai berkelahi. Bapa, jangan pernah lai tempeleng mama kayak begitu. Mama, jangan pernah lai lempar piring pi bapa. Sayang dan hormat bapa seperti dulu. Berhenti kerja begitu, karena Mira sonde suka liat mama dapat peluk dari om selain bapa.

Bapa dan mama yang Mira sayangi…

Kalau nanti Mira sonde ada, kalau nanti Mira pergi, tolong jangan kasih salah satu dengan yang lain, karena ini Mira pung mau. Bukan karena salahnya bapa atau salahnya mama. Mira cuman kepengen liat bapa dan mama kayak dulu. Mira sayang besong.

Salam sayang

Anakmu

MIRA

******

Aku meniup lilin yang tersisa setengah di atas meja belajarku. Menarik napasku panjang dan membayangkan semuanya. Mengulang kembali masa-masa di mana ibu masih berada di samping ayah, tunduk dan taat kepadanya. Saat ayah masih mempunyai harga di mata ibu dan tetangga, saat ibu masih mengalah pada keadaan. Namun, semua manusia pastilah mempunyai batas kesabaran, termasuk ibu dan ayah. Aku tak boleh menyalahkan ibu hanya karena pekerjaannya, aku tak mau mengelak bahwa uang yang kata tetanggaku haram itulah yang menghidupiku. Aku berpikir, mungkin jika aku tak ada, ayah bisa seorang diri membiayayai ibu, bebannya akan berkurang. Lagi pula, aku sudah terlanjur muak dengan semua situasi ini. Dengan cemohan teman-temanku yang mengatakan aku anak germo sampai cibiran para tetangga yang kerap kali menggunjingkan nama ibuku, bahkan ketika aku lewat.

ku muak saat ditertawai dan dipandang sebelah mata, seakan dikucilkan. Saat melihat para ibu menarik tangan anak-anaknya pulang saat bermain bersamaku, sangat membuatku tertekan. Bagaimana bisa aku hidup di lingkungan seperti ini?. Aku sudah tak tahan!. Apa aku pernah meminta dilahirkan sebagai anak germo?. Banyak tipe orang tua di dunia ini. Ada anak yang dilahirkan sebagai anak seorang gubernur, ada pula yang dilahirkan sebagai anak seorang pengusaha, dan ada pula yang dilahirkan sepertiku, anak seorang germo. Entah apa yang mereka pikirkan tentang aku dan keluargaku. Keretakan keluargaku bukan satu-satunya alasan aku mengambil keputusan demikian. Rasanya, hidup semakin terasa sempit untukku.

***

14 Februari 2013

Kupang, Warta NTT – Seorang bocah ditemukan tergantung lemas dengan seutas tali yang menjerat lehernya. Dari hasil investigasi tim forensik, diketahui bahwa bocah tersebut berusia sekitar sebelas atau dua belas tahun. Identitas bocah tersebut belum diketahui, karena belum ditemukan petunjuk atau bukti apapun mengenai identitas korban. Tidak ditemukan bekas penganiayaan pada tubuh korban, melainkan hanya bekas jeratan tali yang membiru di lehernya. Diduga pasti, kematian sang bocah akibat bunuh diri. Bocah berjenis kelamin perempuan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memakai baju putih bergambar matahari dan celana pendek warna putih dengan tulisan ‘Sun’.
  2. Memakai kalung dengan mata kalung berbentuk huruf M.
  3. Berkulit coklat dan berambut ikal yang diikat pita warna biru tua.

Barang siapa merasa kelihangan salah satu anggota keluarga mereka, dapat menghubungi nomor yang tertera di bawah ini, atas nama Redaksi Warta NTT: (0380) 8088….

***

Sejak kepergian Mira, aku dan Theo entah mengapa menjadi lebih akur. Kami pindah dari tempat tinggal kami yang dulu, ke dalam sebuah rumah kecil bantuan dari pemerintah. Banyak pihak yang tertarik dan bersimpati dengan kisah Mira kecil yang akhirnya membantu kami. Theo telah menemukan pekerjaannya sebagai seorang satpam pada kompleks ruko dan dengan senang hati aku meninggalkan pekerjaanku, setidaknya Theo masih membukakan pintu maaf padaku. Kini kami memiliki sebuah kios kecil yang menjadi idamanku sejak dulu. Namun, bukan ini yang ku inginkan. Aku merindukan Mira kecilku. Aku menyesali pikiran dangkalku yang membuatnya akhirnya berkorban separah ini. Apakah hanya dengan jalan itu ia mampu menyadarkan aku dan Theo?. Aku masih ingin membesarkannya, aku masih ingin membelainya dalam pelukanku, aku masih ingin, benar-benar masih ingin bersamanya.

Entah waktu mungkin terlalu kejam bagiku dan penyesalan selalu datang terlambat. Tidak ada lagi Mira kecil yang dulu. Kerap kali aku menangis saat menatap wajahnya dalam foto lusuh di samping meja doaku. Aku merasakan ia hadir bersamaku, namun aku tak dapat menyentuhnya, menggapainya. Apakah ini adalah hukuman bagiku atas semua kelalaianku?. Aku benar-benar menyesal atas semuanya. Andai waktu dapat di putar kembali.

*****

 14 Februari 2014

 Kuburan itu masih basah setelah diguyur hujan semalaman. Tanah di sekitarnya masih becek dan tergenang oleh air berlumpur kecoklatan, namun bau rampai terasa menusuk hidung. Seorang pria dan wanita sedang berdiri di dekat nisan makam tersebut. Sang wanita jatuh terduduk dan memeluk nisan tersebut dan terisak hebat, sementara sang pria hanya menatap kearah nisan tempat sang wanita menangis. Beberapa menit kemudian, ia mengangkat wajahnya dan mendesiskan sesuatu. Kemudian sang wanita bersama pria tersebut mulai mengatupkan kedua tangan mereka, membuat tanda salib dan memejamkan mata. Mendaraskan doa bagi seseorang yang sedang berbaring di dalam sana, yang diselimuti oleh tanah. Sesekali wanita itu terisak, namun sekarang ia mampu mengontrolnya dengan baik.

Di hari kasih sayang ini, kami kehilangan seseorang yang sangat kami sayangi. Yang telah membuka mata hati kami. Yang telah mengetuk jiwa kami. Ia yang telah mengajarkan kami akan arti menghormati, arti kasih sayang yang sebenarnya. Dia adalah anak kami. Yang telah berbaring dengan tenang di dalam hangatnya tanah yang membungkus tubuh kecilnya. Di hari ulang tahunnya yang ke sebelas ini, hanya sebuah doa kecil yang sanggup kami berikan untuk seseorang yang tak lagi bersama kami. Yang tak mampu kami sentuh dan kami dekap, namun kami percaya dia selalu bersama kami. Kini, ia telah bersama Bapanya, berbahagia bersama orang-orang yang sama sepertinya. Doakan kami nak, bapak ibumu yang masih berziarah di muka bumi ini.

Telah berpulang dengan tenang

Anak, adik, cucu, saudara kekasih kami

MIRANDA GALATIA

Lahir: 14 Februari 2004

Wafat: 14 Februari 2013. (**)

****

Penulis: Yohanes Gale (Guru SMPK Rossa Mistyca Kupang)

Komentar

News Feed