oleh

Ini Dia! Inovasi Kades Sebowuli di Ngada untuk Kesejahteraan Warganya

SEBOWULI, suluhdesa.com | Untuk menjadi desa yang mandiri, dibutuhkan kreativitas dan inovasi perangkat desa untuk memanfaatkan semua potensi desa yang dimiliki.

Hal ini disampaikan Marselinus Niki, Kepala Desa Sebowuli, di Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kepada Media SULUH DESA melalui sambungan telepon, Senin (25/01/2021) siang.

Sebagai kepala desa dengan masyarakatnya yang mayoritas sebagai petani, pria yang biasa dipanggil Sely ini mengungkapkan bahwa, ia membutuhkan inovasi dan kreativitas agar dapat mewujudkan usaha ekonomi masyarakat.

“Saya yakin jika kita mencoba hal baru yang inovatif maka akan ada banyak usaha di desa apalagi jika usaha ini didukung pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” kata Sely.

Dijelaskannya, sejak ia menjabat sebagai Kepala Desa Sebowuli tahun 2019, ia membagi tiga kelompok di desa yakni, kelompok atas atau di Kampung Poma dan Kampung Watu dengan usaha vanili, kelompok di tengah dengan kelapa, dan kelompok pesisir dengan pisang kepok.

Menurut Sely, inovasi baru yang dibuatnya adalah mengembangkan tanaman vanili dengan sistim polybag sebanyak lima ribu stek dan berhasil.

“Target saya tahun 2022 ditambah lima ribu stek lagi jadi sepuluh ribu stek. Untuk vanili dalam satu tahun bertambah 1 meter, tahun kedua 2 meter, Jadi kalau 2 tahun tinggi dari tinggi vanili itu kita bisa dapat dua puluh ribu stek. Dari kerja ini, desa-desa tetangga sudah ikut caranya. Kebetulan ada kelompok tani di Dusun Poma dengan jumlah anggota 13 orang. Jadi kalau masing-masing membuat 100 stek kita bisa dapatkan 1300 stek vanili,” urai Sely.

Selain itu, Sely menyampaikan bahwa, sejak tahun pertama saat dirinya memimpin di Desa Sebowuli, melalui dana desa yang ada, dibuka jalan baru sepanjang 1200 meter dan langsung dirabat menuju dusun Poma.

“Ada juga program Rumah Layak Huni bagi warga masyarakat yang tidak mampu. Pembangunan Rumah  Layak Huni tentu melalui tim survei dari desa dan pengelola kegiatan. Kami telah membangun Rumah Layak  Huni  sebanyak  10 rumah dengan biaya 17.500.000 rupiah per rumah dan dari Dinas Sosial Kabupaten Ngada juga menambah bantuan penambahan 5 unit rumah. Jadi dari desa 10 unit sedangkan dari dinsos 5 unit,” jelas Sely.

Lebih lanjut dijelaskannya juga jika dari dana desa yang ada dilakukan pengadaan berupa 22 buah bangku untuk gereja (rumah doa), serta renovasi gereja yang ada di Desa Sebowuli.

“Kami juga mendukung anak-anak di bidang olah raga. Dari desa telah membangun tembok penahan tebing (TPT) karena kondisi tanahnya miring dengan dana 340 juta rupiah yang saat ini pengerjaannya sisa 15 persen karena terkendala hujan dan Covid-19,” ucap Sely.

Untuk tahun 2021 ini, tambahnya, pengerjaan fisik dikurangi. Dari Pemerintah Daerah Ngada membuat pelangi kawasan yaitu jaringan air minum dari tenaga surya di Kampung Watu dengan biaya 73 juta rupiah.

Sebelumnya, Sely berkisah, pada tahun 2010, untuk air minum masyarakat dibantu oleh sebuah LSM dari Amerika dan berjalan 5 tahun tetapi setelah itu rusak.

“Kurang lebih 10 tahun warga Kampung Watu mengambil air di kali karena panel surya yang rusak tidak dapat menyedot air dari kali. Bak penampungnya juga sangat jauh dan di ketinggian. Untuk itu, kami akan mengoperasikan kembali panel yang ada dan memindahkannya ke tengah Kampung Watu. Karena letak kampung tersebut persisi di lereng gunung sementara air di bawah,” tambah Sely.

Sementara itu, untuk pemberdayaan masyarakat, dari desa memiliki anggaran 30 persen untuk fisik dan 70 persen untuk pemberdayaan bagi petani dan peternak babi.

“Kami sedang usaha tanaman jahe merah di Kampung Poma, juga peternakan babi lebih ke arah modern. Kalau dulu piara babi 2 sampai 3 tahun baru dapat uang 3 sampai 4 juta rupiah, sedangkan kalau dengan teknologi modern hanya 9 bulan harga bisa 3 sampai 4 juta rupiah. Saat ini kami sudah bantu 10 orang peternak babi. Contoh 1 KK, ada ternak babi 7 ekor, maka intervensi dana desa adalah pemberian berupa pakan penggemukan sebesar 500 ribu rupiah per kk selama 1 tahun. Ketika sudah mendapatkan hasil, para peternak wajib mengembalikan dana sebesar 500 ribu rupiah itu. Dana itu untuk ditambahkan ke PADes. Kalau dihitung, sebulan para peternak dibantu PADes sekitar 80.000 rupiah,” imbuh Sely.

Terkait pantai wisata, kata dia, untuk saat ini belum, karena masih dilakukan secara swasembada oleh masyarakat Desa Sebowuli soal air dan MCK.

“Saya mengapresiasi teman-teman dari Komunitas Perantau Asal Desa Sebowuli (KOMPAS) yang mempunyai ide untuk pengembangan potensi wisata pantai. Para perantau asal Desa Sebowuli ini sekarang sedang mengumpulkan sebagian rejeki mereka untuk dikirimkan ke desa dan digunakan membangun desa. Saya jelaskan, untuk jaringan air tinggal 50 meter saja sampai di pantai sedangkan untuk akses jalan sementara didiskusikan untuk dibuatkan rabat, dan semua sangat menyambut baik demi kemajuan Desa Sebowuli ini,” tutup Sely. (vrg/fwl)

Komentar

News Feed