oleh

Paroki Noehaen Gelar Seminar Sehari, Ulas Tentang Gereja dan Kitab Suci

PAKUBAUN, suluhdesa.com | Paroki St. Stefanus Noehaen di Pakubaun, Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berada dalam wilayah Keuskupan Agung Kupang (KAK) menyelenggarakan seminar sehari pada Sabtu (23/01/2021). Seminar sehari ini menghadirkan dua narasumber yaitu Dr. Norbert Jegalus dan RD Sipri Senda.

Kegiatan ini dilaksanakan berkat kerja sama Paroki  St. Stefanus Noehaen dan Komisi Kitab Suci KAK serta Komisi Kerawam KAK, untuk merayakan Minggu Sabda Allah.

Dr. Norbert Jegalus, Anggota Komisi Kerawam KAK, yang adalah dosen Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, membawakan materi tentang  kepemimpinan Kristus dalam Gereja.

Dengan lugas dan tuntas, Ahli Filsafat Politik lulusan Jerman ini menjelaskan konsep koinonia atau Gereja sebagai persekutuan dan demokrasi versus Kristokrasi dalam Gereja.

“Inti dari persekutuan adalah persaudaraan. Kita semua bersaudara, sebagaimana diungkapkan Paus Fransiskus dalam Dokumen Fratelli Tutti. Mengenai konsep kepemimpinan dalam Gereja, kita tidak mengenal prinsip demokrasi tetapi Kristokrasi,” jelasnya.

Pria asal Manggarai ini memaparkan bahwa, demokrasi tidak ada dalam Gereja Katolik. Yang ada adalah Kristokrasi. Kristuslah pemimpin Gereja. Kepemimpinan itu diperagakan dalam diri Uskup, Imam, Diakon.

“Inilah kepemimpinan sakramental. Maka jabatan Uskup, Imam, atau Diakon tidak didasarkan pada demokrasi atau pilihan umat, tetapi ditetapkan oleh Kristus secara sakramental melalui tahbisan,” kata Dosen Filsafat ini.

Konsekuensi pastoralnya, awam dan hirarki mesti bekerja sama untuk kepentingan Gereja. Gereja sebagai umat Allah mencakup awam, biarawan-biarawati dan kaum klerus. Semua komponen berpartisipasi dalam upaya menghidupkan Gereja.

Dalam mewujudkan partisipasi itu, umat awam memiliki keutamaan moral yaitu kejujuran, keberanian, kebijaksanaan. Keutamaan itu dilaksanakan dengan prinsip hormat dan cinta kasih. Dengan cara demikian, komunikasi pastoral dalam partisipasi hidup menggereja mengungkapkan hubungan kerja sama awam dan hirarki yang kristiani.

“Hirarki sebagai unsur yang meragakan Kristus Kepala Gereja hendaknya menyadari bahwa otoritas suci yang diterimanya dari Kristus bukan dilaksanakan dengan otoriter, melainkan cinta kasih pastoral. Sedangkan DPP sebagai lembaga konsultatif tidak boleh melampaui kewenangan Pastor Paroki lantaran terjebak dalam paham demokrasi seolah-olah DPP adalah parlemen,” tegas Norbert Jegalus mengakhiri paparannya.

Dalam sesi berikutnya, RD Sipri Senda yang lebih dikenal dengan panggilan Rosi, memaparkan materi tentang Gereja dan Kitab Suci. Dalam paparannya, Ketua Komisi Kitab Suci KAK ini menjelaskan amanat Konsili Vatikan II melalui Dokumen Dei Verbum artikel 25 untuk menggerakkan umat agar membaca kitab suci.

Mengutip kata Santo Hironimus, ucap RD Sipri, siapa tidak mengenal kitab suci, tidak mengenal Kristus. Umat hendaknya memiliki kitab suci dalam keluarga dan waktu untuk membaca kitab suci. Patokannya adalah kalender liturgi yang memuat daftar bacaan harian sepanjang tahun.

Selain kegiatan itu, Tim Relawan Komisi Kitab Suci KAK juga memberikan materi pengenalan kitab suci kepada anak-anak Sekami.

Seorang Pemuda bernama John Bahy menjelaskan seluk beluk Perjanjian Lama, sedangkan Emy Berek menjelaskan Perjanjian Baru.

Hal ini penting untuk memperkenalkan kitab suci kepada anak-anak sehingga sejak dini mereka tertarik untuk membaca kitab suci dan mengenal tokoh-tokoh kitab suci.

Sedangkan, dalam Kuis Kitab Suci berhadiah, Marlin dan Clarissa yang memandu kegiatan ini memberikan aneka pertanyaan kuis yang diambil dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Anak-anak yang menjawab dengan benar mendapat hadiah berupa Rosario, buku doa Kerahiman Ilahi, dan buku Kitab Suci Mengubah Hidup.

Pastor Paroki Santo Stefanus Noehaen, RD Eus Nofu, mengungkapkan apresiasi atas pencerahan yang diberikan oleh kedua narasumber tersebut.

“Umat Noehaen bersukacita atas kehadiran Romo Sipri dan Bapak Norbert. Banyak pencerahan telah diberikan. Itu semua menjadi bekal untuk memahami Gereja dengan benar dan menghayati partisipasi menghidupkan Gereja di tempat ini. Berkaitan dengan perayaan Minggu Sabda Allah, kiranya pencerahan tentang kitab suci makin menggerakkan kami umat Noehaen untuk rajin membaca kitab suci,” ungkap RD Eus.

Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan Perayaan Ekaristi Minggu Sabda Allah, yang dipimpin RD Sipri Senda.

Dalam kotbahnya, RD Sipri mengajak umat untuk mendengarkan Sabda Allah melalui membaca kitab suci, dan melaksanakannya di dalam hidup. (Yohanes Bahy/msd)

Komentar

News Feed