oleh

BBM Non Subsidi Kuasai Malaka, Tarif Angkutan Umum Naik

MALAKA, suluhdesa.com | Sebelum memasuki tahun baru, Januari 2021, Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) yang ada di Kabupaten Malaka lebih mengutamakan Bahan Bakar Minyak (BBM) Non Subsidi dibandingkan BBM Subsidi (Premium) atau Bensin.

Pantauan Media SULUH DESA, sejak akhir tahun 2020, APMS di dua lokasi yang masing-masing terletak di Labarai dan Laran, stok BBM Subsidi sangat terbatas bahkan APMS di Labarai diduga tidak ada BBM jenis premium.

Berdasarkan penelusuran Media SULUH DESA selama ini,  sebelumnya, APMS Labarai menyediakan BBM jenis Premium (Bensin) dan Solar, namun sebelum akhir tahun 2020, Premium dialihkan ke Pertalite dan pada Januari awal tahun 2021, APMS hanya menyediakan Pertamax dan Solar.

Hal ini sontak membuat masyarakat pengguna angkutan, baik kendaraan roda dua maupun roda empat kaget dan bertanya, sebab dampaknya adalah melonjaknya tarif angkutan.

“Mengapa mereka pemilik APMS tidak menyediakan lagi BBM jenis Premium? Kasihan kami sopir angkutan dan para ojek, sebab harga BBM Subsidi dan Non Subsidi beda harga dan selisihnya merugikan kami,” kata salah seorang pengemudi angkot yang tak ingin namanya dimediakan saat Wartawan Media SULUH DESA mewawancarainya, Jumat (23/01/2021) pagi.

Terpisah, salah seorang pengendara ojek saat mengisi BBM di APMS Laran, mengatakan bahwa selama ini Bensin (Premium) sudah jarang sekali didapat, karena setiap kali Bensin masuk langsung habis dibeli para pengecer dan menjualnya di pinggir jalan dengan harga yang tinggi.

Dalam penelusuran Media SULUH DESA pula, warga yang merupakan penjual Bensin di pinggir jalan mengakui bahwa, memang Bensin (Premium) di APMS Laran seminggu masuk hanya 3 sampai 4 kali sehingga langsung habis dibeli oleh dirinya dan para pengecer lain dengan menggunakan jerigen bahkan drum.

Hasil penelusuran Media SULUH DESA, para pengecer yang menggunakan jerigen (ukuran 35 liter) untuk membeli BBM Subsidi maupun Non Subsidi dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 10.000 per jerigen.

Sementara itu, pengguna angkutan umum menyampaikan keluhan yang sama terkait kenaikan harga ongkos angkutan baik roda empat maupun roda dua.

Salah seorang penumpang kepada Media SULUH DESA baru-baru ini mengungkapkan bahwa sekarang ongkos angkutan dan ojek susah naik. Kalau dulu hanya Rp. 5.000 sekarang naik menjadi Rp.10.000.

“Saya numpang Bemo (angkutan) dari cabang Welaus ke Betun, dulu Rp. 5.000 sekarang sudah Rp. 10.000. Katanya, sopir bilang harga minyak sudah naik,” ucap penumpang yang tidak mau namanya disebutkan.

Sampai berita ini diturunkan Media SULUH DESA sedang berupaya menghubungi untuk mewawancarai beberapa warga Malaka yang menjadi Agen Premium dan Minyak Solar. (fecos/fecos)

DomaiNesia

Komentar

News Feed