oleh

Ayah dan Perihal Celana: Puisi-Puisi Geztha Fallo

-Sastra-492 views

PUISI, suluhdesa.com | Perihal ayah, puisi tak pernah kelar menakar segala rindunya. Apalagi mengukur panjang getir yang kian tumbuh di hati seiring hujan yang turun setiap waktu. Membasahi Kebun dan menumbuhkan rumput yang sering disiangi ayah. Sungguh, rindu merajam.

*********************** 

Ayahku Petani

 

Kau petani

Mencangkuli

Menanami

Menuai jika maka berarti

 

Padi dan sekam

Tumbuh pada hujan menghantam

Memisah jika periuk

Menanak hingga selamat makan meliuk

 

Jika adalah maka karena

Kau petani selama

Polos poros menerobos

Tungku diam yang merebus

 

Akhh, diam lagi

Pergi. Arrivederci

Jangan lupakan sepasang tangan sepuluh jari

Datanglah besok pagi

Jika batang-batang padi telah kau bakar Mungkin maka kembali segar

Nikmatilah hasil panenmu kemarin, lalu kembali lagi kemari untuk menanam

 

Rindu ayah, 12 November 2017

 

Perihal Celana

 

Ibumu adalah surga.

Kamu masih bayi ketika celanamu basah pesing oleh mata air selangkangmu

Dan ibu tersenyum. Maklum masih kecil.

 

Ayahmu adalah malaikat.

Kala celanamu sobek dan hutangnya bertambah untuk belikan celana baru

Ayah pun tersenyum. Maklum anaknya perlu dimanja

 

Malam ini Tuhan mengundang bala malaikat ke perjamuan surgawi

Ada pesta dengan nyanyian tak kunjung henti. Ayah dan ibumu pun hadir.

Mereka berdansa seperti ketika kamu bahagia

Dan berhenti seperti kala kamu sakit

 

Sampai di sini celanamu sudah kering

Bahkan kamu beli lagi yang baru

Dan kamu tertidur dengan tidak memakai celana

Ayah dan ibumu tersenyum. Maklum ia sudah besar

 

Ibu adalah surga.

Dan ayah malaikatnya

Tadi sore penjahit mengomel tentang celana yang ditambal berkali-kali

 

Raknamo, 03 November 2019

—————————————————-

 

Rindu Ayah

: Naef Kase

 

Terakhir kudengar suaramu dari sebatang pena

Tentang usiamu yang mendekatkan ajal

Kau meragukan pertemuan kita

Sangkamu waktu telah berpangkal

 

Musim-musim yang meranggas

Terlampau bosan di ubanmu

Ubunmu mengekalkan aroma cadas

Akankah rindu pecah dari kelopakmu?

 

Kusadari sebentang tipis jarak antara kita

Menjurangi rindu angin-angin kepada Firdaus

Menjembatani tiang-tiang air mata yang terkelupas

Yang terlanjur jatuh menyatu dengan kurus puisi

 

Seumbam, 03 Juni 2017

—————————————————-

 

Tanggal Duka

:nn

 

Aku ingat tanggal enam belas

Dan menuliskannya di tepi tanggal lima belas

Untuk mengingatkan diriku tentang tanggal duka

Dengan merunut hati yang berdegil terbuka

 

Di sudut temaram kota Karang

Rindu mengalir deras menghantam dada dengan garang

Mengingat bebunyian parang

Yang nyaring menyentuh periuk Ibu di atas arang

 

Sejak tinggal duka di tanggal itu

Suka-suka yang lahir seolah mati

Kandas di atas nisan batu

Menguji nurani di jeruji tertatih

 

Tanggal duka itu tinggal bersemayam

Dan aku tak ingin terjaga kala kokok ayam

Takut menemui hari baru tanpamu di mataku

Dan mimpiku nanar tiada petuah terpaku

 

Jika Tuhan izinkan,

Aku ingin tidur tanggal lima belas

Dan bangun lagi memuji-Nya di tanggal tujuh belas

 

Naef Kase, 15 September 2020

—————————————————-

 

Puisi Kepada Surga

 

Matahari beranjak ke barat

Sisihkan beberapa sahaja untuk senja di pelupuk pantai

Memapah ombak pecah dari retina taubat

Tangis histeris seolah raga dibantai

 

Cahaya remang-remang

Puisi bersimbah tenang

Mata lamat tergenang

Peluk ayah merenggang

 

Doa malam; dua salam

Satu untuk Tuhan dan yang lain kepada tuan

Semoga raga tersisa tak jatuh karam

Sebab sepi dan kopi adalah sepasang akrab kerinduan

 

Senja yang pernah dipuja selalu mengulang datang dan pergi

Selimuti gundah bathin setiap malam sebagai tukang tagih

Segala hutang air mata yang bersembunyi di balik pintu hening

Singgah sebentar saja kecup teduh kening

 

Romantis, bukan?

Senja memapah ombak

Malam meniduri kesepian

Dan aku tanpamu kala rindu menjebak

 

Tuan Rindu, 9 April 2020

—————————————————-

 

Rindu Ayah

 

Pada barisan ini aku menirukan jejakmu

Melangkah tegar dalam rangkul cahaya mentari

Yang mengisahkan bayangmu pada tanah bisu

Sehabis hujan basahi februari

 

Barisan ini bakal terus melompong

Sisakan tempat tanpa tuan

Untuk mengenang harum kopi pada gelas-gelas kosong

Yang diseduh dari air mata seorang puan

 

Pada kosong baris puisi ini

Aku merebahkan rindu-rindu yang lelah

Yang terkadang sadar dalam tangis pagi dini

Menghujani mimpi pada bantal yang basah

 

Naef Kase, 8 April 2020

(********)

 

*Penulis: Geztha Fallo (Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara, Undana Kupang, Jurnalis Media SULUH DESA)

Komentar

News Feed