oleh

Ratu Azia Borromeu Kesal,  Para Pejuang 75 Tak Diperhatikan Pemerintah

-Berita, Daerah-459 views

BELU, suluhdesa.com | Ratu Azia Borromeu, anak dari Raja Alexandrino Borromeu salah satu Tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo mengungkapkan kekesalannya kepada pemerintah Republik Indonesia pasalnya sudah hampir 22 tahun hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kehidupan dan kesejahteraan para tokoh-tokoh Apodeti yang biasa dikenal Pejuang 75 selalu lolos dari perhatian pemerintah.

Hal ini diungkapkan Ratu Azia Borromeu, Senin (18/01/2021), kepada Media SULUH DESA Bertempat di kediamannya di Maktaen, Desa Rimbesihat, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Saya sebagai anak dari Raja Alexandrino Borromeu, salah satu Tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo merasa kesal dengan Pemerintah Republik Indonesia. Kekesalan ini ada karena  sudah hampir 22 tahun kami hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini, namun  kehidupan dan kesejahteraan  para tokoh-tokoh Apodeti yang biasa dikenal Pejuang 75 tidak pernah mendapat perhatian pemerintah,” ungkapnya.

Ratu juga merasa heran dengan kebijakan Pemerintah Indonesia selama ini. Pasalnya sejarah perjuang Apodeti seolah-olah ditenggelamkan dan perhatian  Pemerintah Indonesia hanya berkonsentrasi pada pejuang 99. Padahal menurutnya peristiwa 99 (Integrasi Timor-Timor tahun 1999, red)  hanya bisa terjadi karena adanya peristiwa Penandatanganan Petisi Balibo di tahun 1975.

“Saya ini merasa heran sekali dengan pemerintah Indonesia. Peristiwa 99 itu kan hanya bisa terjadi karena adanya peristiwa 75. Kok masa pejuang 99 saja yang mendapat perhatian. Ini secara diam-diam sejarah perjuang Apodeti seolah-olah ditenggelamkan oleh Pemerintah. Ini aneh dan ini fatal,” tegas Ratu.

Ratu juga mengharapkan kepada Pemerintah Indonesia agar  cermat dalam membuat kebijakan. Hal ini dibutuhkan agar dapat menghindari terjadinya ketersinggungan dan percekcokan pada masyarakat kelompok pejuang 75 dan 99.

“Di dalam membuat kebijakan pemerintah seharusnya jeli sehingga tidak terjadi saling tersinggung dan cekcok pada masyarakat pejuang 75 dan 99,” kata Ratu penuh harap.

Ratu juga meminta Kepada Pemerintah Indonesia agar dapat dengan segera memindahkan jasad sang ayah dan ibunya  yang juga merupakan Proklamator dan Permaisuri ke Taman Makam Pahlawan di Atambua.

Menurut Ratu,  ayah dan ibunya adalah pahlawan yang sepatutnya harus juga dimakamkan pada Taman Makam Pahlawan.

“Ayah dan ibu saya adalah juga tokoh pejuang, mereka adalah pahlawan. Untuk itu kepada Pemerintah Indonesia, saya memohon agar sesegera mungkin memindahkan jasadnya ke Taman Makam Pahlawan di Atambua,” tutupnya. (jello/jello)

Komentar

News Feed