oleh

Kita Hanya Bisa Terus Mengeluh Menagih Janji

-Daerah, Sastra-480 views

CERPEN, suluhdesa.com | Sore itu Jona berkunjung ke gubukku. Ia adalah tetangga, sekaligus juga sahabat kecilku sewaktu aku dan keluarga masih tinggal di Dili. Kami memang  pernah bersama di Dili dulu, sebelum akhirnya berpisah setelah memutuskan integrasi ke Indonesia di tahun 1999. Setelah keluar dari Dili pada tahun yang sama, ia dan keluarga memilih tinggal di Lakmaras, sebuah Desa kecil di bagian Selatan Kabupaten Belu sedangkan aku dan keluarga memilih menetap di Maktaen, sebuah dusun kecil yang berada di bagian Barat Kabupaten Belu.

Di gubukku, kami banyak bernostalgia dengan pengalaman kecil di Bumi Lorosae. Ada banyak cerita masa kecil yang membuat kami tertawa lepas namun ada juga kisah kecil yang ingin kami hindari. Ya, memang ada kisah yang paling aku hindari. Cerita itu adalah tentang ayah.

Ayahku (Raja Alexandrino Borromeu) adalah salah satu Tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo. Semasa hidupnya, Cinta akan Merah Putih terlalu kuat melekat di jiwanya. NKRI sebagai harga mati selalu menjadi roh baginya. Namun tentangnya kini terlebur dalam amnesia NKRI. Jasadnya tak ditemukan dimakan para pahlawan.

Hampir sejam lamanya kami bernostalgia dengan cerita lucu masa kecil hingga pada akhirnya diam sembari meneguk secangkir kopi hangat yang dibawa Jona. Kopi Lakmaras. Ya, kopi itu memang selalu menjadi kesukaanku, karena setiap tegukannya selalu menarik hasrat dalam raga dengan gairah fantasi yang luar biasa. Apalagi di tempat ini, alam pun seakan ikut mendukung dengan dandanannya yang memesona, di mana pada setiap celah barisan bukit-bukit kecil menampakkan pemandangan pohon Pinus yang kokoh berdiri menantang angin dengan ratusan burung walet yang menghiasi rantingnya dengan sesekali beterbangan tanpa panik sembari sesekali membasuh tubuh pada sisa air hujan yang masih menempel pada  daunnya sambil membunyikan suara cicitnya. Memang di tanah ini alam sangat bersahabat. Tumbuhan dan satwa langka masih dapat dijumpai tanpa harus mengadopsinya dari bumi lain.

Aku melihat Jona turut larut dalam pujian alam itu. Ia seakan terlebur dalam kegembiraan makhluk ciptaan dengan ke-Mahabaikan Sang Khalik.

Aku yang saat itu tak mau mengusik kekaguman Jona, kini  terseret dalam sentilan murka di jiwa. Murka itu ada dan telah berdiam lama di jiwa. Murka kepada pemerintah yang sudah berpuluh tahun lamanya masih mengabaikan perjuangan kami demi Merah Putih pada peristiwa korban 1999 di Bumi Lorosae.

Memang beginilah hidup kami yang cuma diberi uang yang juga habis di kantong tuan tanah. Inilah kami yang hanya diberi sembako yang juga hilang di perut tetangga. Nasib kami lebih hina dari burung walet karena setiap waktu hanya mengisi lapar raga dengan mengeluh, menghilangkan haus dahaga dengan bersungut.

Saat hari mulai malam, dan Jona telah beralih mengamati jatuhnya si raja siang dalam pelukan Pertiwi, di dalam dada tumbuh hasrat untuk memberontak. Ingin sekali aku menghujat. Ingin sekali aku mencaci-maki karena roh kebaikan yang bersemayam dalam diri telah mengubah rupa menjadi murka. Alam yang sebenarnya bersahabat dalam pandangan mata, kini dilihatnya sebagai neraka. Memori darah masa lalu seakan kembali memantik untuk sebuah aksi anarkis karena realitas kami yang terlupakan.

“Ratu, seandainya tanah ini milikku, aku akan membangun sebuah gubuk untuk burung walet yang ada di sore tadi itu,” kata Jona memecahkan keheningan dengan sebuah pengandaian.

Sambil menyeruput kopi yang sudah kehilangan hangat, aku  kemudian memegang pundaknya sembari tersenyum dan berkata, “sobat jika tanah ini adalah milikku, aku juga akan menanam banyak pohon Pinus agar menjadi tempat bagi satwa liar untuk berteduh.  Tapi itulah kita dan nasib. Kita hanya bisa terus mengeluh menagih janji kehidupan yang layak di negeri yang telah patah sayap kasih sayang sembari meletakan kepala pada tanah sengketa dan sewaan.”

“Bukankah kita butuh tanah?,” Jona menambahkan.

Kami kembali tersenyum, sebelum memandang potret ayah yang di dalamnya tertulis: Merah Putih adalah Jiwaku. NKRI sebagai Harga Mati adalah Rohku. (*)

#Cerita ini terinspirasi dari kisah perjuangan Ratu Asia Borromeo, Tokoh Pejuang Integrasi Timor-Leste

Oleh: Lejap Yuliyant Angelomestius, S. Fil. (Jurnalis Media SULUH DESA, tinggal di Kabupaten Belu)

Komentar

News Feed