oleh

10 Tahun Pimpin TTU, Bupati Ray Fernandez: Terima Kasih Seluruh Masyarakat

-Berita, Daerah-4.016 views

KEFAMENANU, suluhdesa.com | Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Raymundus Sau Fernandes di akhir masa jabatannya mengatakan menjadi Bupati di zaman reformasi ini, kita harus berbesar hati untuk menerima kritik dan saran untuk memajukan Kabupaten TTU.

Hal ini disampaikannya kepada Media SULUH DESA di kediaman pribadinya, di Km 5 jurusan Atambua, Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Senin (14/12/2020).

Selain itu, Bupati Ray juga menyampaikan terima kasih banyak kepada seluruh masyarakat Timor Tengah Utara.

“Saya berterima kasih kepada seluruh masyarakat TTU yang sudah bersama saya kurang lebih 10 tahun ini. Bahwa, ada satu hal yang saya rasakan antara bupati dan rakyat yakni tidak ada sekat pembatas. Itu sesuatu hal yang luar biasa. Rumah saya selalu terbuka untuk umum selama 24 jam,” ungkap Bupati TTU dua periode ini.

Menurut Bupati Ray, hal yang paling berat selama 10 tahun memimpin adalah angka kemiskinan di Kabupaten TTU yang mencapai angka 65,62 persen. Data riil BPS Kabupaten TTU menyatakan bahwa tingkat kemiskinan di TTU sangat tinggi.

Lebih lanjut dikatakannya, setelah melihat presentase kemiskinan dan kondisi masyarakat seperti itu maka langkah-langkah yang dilakukan adalah dengan merumuskan program untuk menyelesaikan kebutuhan dasar masyarakat.

“Kami mulai dengan Program Padat Karya Pangan, Sari Tani, dan Rumah Layak Huni.Tiga program memang berjalan, tapi Sari Tani yang tidak maksimal. Alasan Program Sari Tani tidak berjalan  karena pola pikir masyarakat masih konsumtif. Mereka tidak melihat dana yang kita kucurkan perdesa itu 300 juta rupiah untuk menekankan akses modal di desa, tetapi mereka lebih banyak memanfaatkan untuk konsumtif akhirnya bukan memingkatkan kesejahteraan tetapi menggali lubang. Nah ini yang berat,” jelas Mantan Wakil Bupati TTU ini.

Kepada Bupati TTU yang berikutnya, kata dia, untuk mengubah cara berpikir masyarakat TTU itu tidak mudah seperti membalik telapak tangan.

Ia menjelaskan juga kalau Program Padat Karya Pangan berhasil baik, sehingga Kabupaten TTU ditetapkan sebagai salah satu dari 15 Kabupaten di seluruh Indonesia yang menerima penghargaan. Untuk program inovatif dengan menurunkan angka kemiskinan. Program ini satu-satunya di Indonesia dan hanya ada di Kabupaten TTU. Program Padat Karya Pangan membawa daya ungkit yang luar biasa. Selain memenuhi kebutuhan pangan dalam rumah tangga tapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan.

“Hal yang paling mendasar di Kabupaten TTU, adalah makan, pakaian, dan tempat tinggal yang belum. Program Padat Karya Pangan mengajarkan kepada para petani untuk tahu menghitung luas lahannya, apa yang harus ditanam, kesesuaian iklim untuk meningkatkan produktifitas. Dengan pergantian Bupati TTU diharapkan tidak serta merta menguburkan apa yang sudah kita ajarkan kepada masyarakat yakni mengubah pola konsumtif masyarakat ke pola wirausaha. Ini harus dilanjutkan oleh bupati berikutnya, tetapi kalau kembali ke nol, masyarakat akan kembali ke posisi yang stagnan dan konsumtif. Itu yang berat,” tegas Bupati Ray sambil tersenyum.

Bupati Ray yang juga merupakan Mantan Anggota DPRD Kabupaten TTU mengakui, selama menjabat selama 10 tahun, masih ada program yang belum  diselesaikan yakni pembangunan taman doa.

“Taman doa tidak bisa dilaksanakan, karena kita melihat waktu dan kesalahan dalam perencanaan. Setelah kami mengundang para pakar dari Unika, ITS dari Surabaya hadir untuk memberi gambaran tentang kekuatan konstruksi, akhirnya saya menyimpulkan bahwa perencanaan ini gagal, tidak bisa dilaksanakan karena limit waktu juga terbatas karena butuh tiga tahun untuk menyelesaikan taman doa ini,” tandasnya.

Sedangkan, untuk Program Sari Tani belum maksimal karena mengubah pola konsumtif ke pola wirausaha tidak semudah membalik telapak tangan.

“Kita perlu mendorong generasi muda yang berpendidikan agar kembali ke kampung untuk tidak mengikuti kebiasaan orang tua. Kita harapkan mereka yang berpendidikan itu menjadi penggerak utama di desa agar bisa mengubah pola konsumtif menjadi pola wirausaha,” harap Bupati Ray.

Lebih lanjut disampaikan Ketua DPW Nasdem ini bahwa, selama 10 tahun ia memimpin Kabupaten TTU ada banyak penghargaan yang sudah diraih oleh kabupaten TTU. Di antaranya program inovatif TTU masuk dalam top 9, top 40 dan menjadi 15 kabupaten dengan Program Inovatif Padat Karya Pangan.

Hal yang selalu dikritik masyarakat yakni, program mempersiapkan masa tua petani dalam gerakan cinta petani menuju pensiun petani yang belum dipahami secara baik oleh semua kalangan.

“Mereka melihat pensiun itu sebuah lembaga yang kita bayar setiap bulan. Yang saya maksudkan gerakan cinta petani adalah bagaimana menggerakkan petani di masa tua, dia bisa menikmati hasil selama dia kuat. Ini ada hubungan dengan Program Padat Karya Pangan, kita harus hitung betul komoditi apa yang harus disiapkan untuk ditanam. Di masa tua kita bisa menikmati hasil, ini yang belum dipahami atau diterima dengan baik,” ucap Bupati Ray.

Bupati Ray mengungkapkan, jikalau lembaga keuangan yang dimintanya untuk membuka tabungan pensiun petani, belum ada yang respon.Yang merespon dengan baik hanya BRI dan lembaga pensiun yang kemudian melakukan sistem jemput bola di petani.

“Ini juga baru 17 persen orang menyimpan produksi pertanian di perbankan. Ini juga yang artinya masyarakat belum beralih dari pola konsumtif ke pola wirausaha. Setelah panen dia habiskan dulu, setelah itu baru simpan.Pola ini yang harus diubah segera kalau tidak akan merugikan mereka sendiri. Saya menginjak masa tua petani itu hidup bahagia, bisa pesiar atau jalan-jalan ke mana. Ini petani kita tanam hanya siap untuk makan. Dengan pola Padat Karya Pangan itu dia harus tahu luas lahan. Tingkat kesejahteraan petani itu ada hubungan dengan luas lahan. Kalau 2 hektar dia mampu kelola pasti hidupnya sejahtera,” papar Bupati Ray.

Suami dari Kristiana Muki ini menceritakan kalau penghargaan yang diterima Kabupaten TTU yang keluar dari daerah tertinggal adalah hadiah bagi masyarakat TTU. Ada indikator yang dipakai pusat melalui Kementerian Desa sehingga menetapkan Kabupaten TTU keluar dari daerah tertinggal.

“Memang miskin  itu tidak enak. Oleh karena itu kita tidak boleh mengakrabkan kemiskinan itu. Kita harus menyadarkan orang keluar dari kemiskinan. Pemerintah atau lembaga manapun itu hanya sebagai motivator untuk mendorong keluar tetapi yang menentukan untuk keluar dari kemiskinan adalah masyarakat itu sendiri,” imbuh Bupati Ray yang suka berkebun ini.

Ditambahkannya, selama 10 tahun memimpin Kabupaten TTU ada banyak kiat-kiat yang dilakukan baik melalui program utama maupun program penunjang sehingga membawa dampak yang besar. Dengan penghargaan dari Pemerintah Pusat yang menyatakan Kabupaten TTU keluar dari daerah tertinggal ini menjadi motor penggerak semua pihak di Kabupaten TTU untuk tidak kembali ke daerah tertinggal.

Diakui Bupati Ray, setelah masa jabatan berakhir, ia akan kembali menjadi peternak dan petani.

“Itulah profesi saya sejak awal saya kuliah, saya memutuskan untuk menjadi petani dan peternak, dan itu akan saya geluti terus supaya menjadi inspirasi atau contoh buat yang lain. Bertani di lahan kering dengan cuaca yang ekstrim di Pulau Timor tentu membutuhkan kemampuan dan ketrampilan untuk menyesuaikan dengan iklim yang ada. Oleh karena itu saya bertekad menggeluti pertanian dan peternakan untuk memberi gambaran dan contoh kepada masyarakat petani. Pilihlah komoditi dan maksimalkan lahan. Untuk apa kita klaim sebagai tuan tanah tetapi lahan ditumbuhi rumput. Petani itu harus punya tanah. Oleh karena itu saya memaksimalkan semua tanah yang dimiliki, supaya dari tanah bisa memperoleh hasil,” urai Bupati Ray sambil memberi makan puluhan kambingnya.

Kemudian, lanjutnya, selain mengurus kebun-kebunnya, sebagai Politisi dan Ketua DPW Partai Nasdem NTT, ia melakukan konsolidasi partai agar lebih maksimal di seluruh kabupaten, kota yang ada di Provinsi NTT.

“Untuk menghadapi momentum politik yang akan datang yakni pemilihan Bupati, DPR, Gubernur, Presiden, secara serentak, sebagai Ketua Nasdem NTT saya memiliki waktu yang lebih luang. Saya akan fokus urus partai. Politisi tidak akan berhenti bergerak selama masih ada ruang dan waktu. Pasti kita gunakan untuk kepentingan masyarakat. Saya ingin mengabdikan diri di politik untuk kesejahteraan masyarakat di NTT. Ruang itu selalu terbuka apabila momentum politik kita sesuaikan dengan peraturan yang berlaku, kita tidak melampaui aturan yang ada, kita akan terus bergerak. Sekecil apapun ruang yang tersedia kita akan manfaatkan dengan baik dan maksimal demi kesejahteraan kita dan masyarakat NTT,” ujar Bupati Ray.

Terkait dengan adanya isu Bupati Ray akan bertarung di pemilihan Walikota Kupang, secara tegas ia mengatakan aturan tidak membolehkan.

“Saya fokus urus partai. Sekecil apapun ruang yang ada kita akan gunakan untuk bertempur di politik. Sebagai politisi nyawanya banyak. Paling tidak kalau ada 10 nyawa, mati 1 maka masih ada 9 nyawa,” jawab Bupati Ray sambil membetulkan topi di kepalanya.

Ketika ditanya, apakah dirinya siap bermitra dengan Bupati dan Wakil Bupati TTU yang baru, Bupati Ray mengatakan, “kalau mereka menganggap saya sebagai sesepuh dan mau mengajak saya untuk berdiskusi, saya siap untuk kepentingan rakyat TTU, kapan dan di mana saja saya siap.”

Menurut Ray Fernandez, yang paling berkesan bagi dirinya selama menjabat sebagai Bupati TTU adalah tidak adanya sekat antara bupati dan rakyat TTU.

“Kami makan dengan menu yang sama, duduk di lantai sama-sama. Masyarakat menganggap saya bukan sebagi Bupati tetapi sebagai kakak, adik dan saudara,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Di akhir wawancara, Bupati Ray menyampaikan kalau yang menjadi panutan hidupnya adalah Tuhan Yesus dan leluhur.

“Saya memaknai pimpinan itu pelayan. Kapan dan di manapun harus melayani,” tutup Bupati Ray sambil mengapresiasi para pekerja pers di Kabupaten TTU yang selalu memberitakan hal-hal baik dan mengawal pemerintah walaupun dengan pemberitaan yang keras.

“Pers itu memberitakan apa yang dilakukan, apa yang mau di lakukan. Ada juga yang nakal karena masing- masing berbeda. Tapi semua untuk kebaikan terhadap kabupaten yang kita cintai ini. Terima kasih saya ucapkan kepada semua rekan-rekan pers di Kabupaten TTU dan Provinsi NTT,” tutupnya. (fwl/vrg/seko)

Komentar

News Feed