oleh

Pompa Hidram Mendekatkan Air untuk Warga Rakawatu di Sumba Timur

RAKAWATU, suluhdesa.com – Agnes Danga Lila (25 tahun) dan beberapa warga Desa Rakawatu, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur berjalan membawa jerigen bekas minyak goreng berukuran lima liter. Mereka berjalan menyusuri jalanan setapak di tepian bukit penuh kerikil-kerikil kecil. Mereka menggunakan jerigen tersebut untuk mengambil air di sebuah bak penampung yang terletak sekitar 50 meter dari pemukiman mereka.

“Dulu kalau ambil air harus jalan jauh sampai ke sebelah bukit. Sekarang sudah tidak lagi. Sudah lebih dekat dan jalannya juga tidak terlalu curam,” kata Agnes atau yang biasa dipanggil Mama Amel kepada Media SULUH DESA, Jumat (18/12/2020) siang.

Sejak awal tahun 2020, penduduk Desa Rakawatu terbantu oleh pompa hidraulik ram (hidram) yang membantu mengalirkan air bersih ke desa tersebut. Pompa ini dibangun atas kerja sama pemerintah desa dan Komunitas Peduli Sesama serta warga di Desa Rakawatu.

Pertama kali dikembangkan di Perancis pada tahun 1700-an, teknologi pompa hidram memanfaatkan tekanan air untuk mengalirkan air dari tempat rendah ke tempat yang lebih tinggi. Pompa ini banyak digunakan di negara berkembang untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Nepal adalah salah satu negara yang menggunakan pompa hidram di wilayah pedesaan yang sulit mendapatkan air, seperti di Distrik Dhading.

Direktur Yayasan Marada Pilipus Mbewa Yanggu, yang juga menjadi koordinator lapangan pembuatan pompa hidram di Desa Rakawatu, mengatakan, teknologi ini dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk pemenuhan kebutuhan air masyarakat.

Pompa ini dapat beroperasi memompa air hingga ketinggian 70 meter tanpa listrik atau BBM. Air dialirkan ke tiga penampungan air di sekitar penampungan warga.

“Selain bahannya mudah didapat, pompa ini tidak akan mengganggu kualitas lingkungan. Teknologi ini mengandalkan tekanan air untuk beroperasi sehingga tidak membutuhkan energi lain yang perlu melepaskan zat berbahaya ke udara atau lingkungan,” ucap Ipu Yanggu.

Pompa hidram ini bukan yang pertama kali dibangun oleh Ipu Yanggu. Awal tahun 2019 lalu, ia juga pernah membuat pompa hidram di desa Mbidi Hunga yang masih beroperasi hingga sekarang. Ia bahkan telah merencanakan untuk membangun lebih banyak pompa hidram lagi di Sumba Timur.

Salah satu syarat pompa hidram ini dapat bekerja optimal adalah keterjagaan debit air di sumber. Pompa di Desa Rakawatu saat ini menggunakan tiga mata air yang berbeda. Di musim kemarau, debit cenderung turun walaupun masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kami akan melakukan penanaman pohon yang cocok untuk menjaga debit air. Seluruh warga juga sudah sepakat untuk melakukan itu dan akan segera kami lakukan dalam waktu dekat di musim hujan ini,” jelas Kepala Desa Rakawatu, Sem Mb. Haramburu, S.E.

Naser Randa, salah satu anak muda di Desa rakawatu, merasa senang atas kehadiran pompa hidram ini. Ia tumbuh dalam kondisi minim akses air bersih di desa. Ia dan orangtuanya harus berjalan jauh untuk menimba air melalui jalanan yang curam.

“Saya dan warga lainnya akan membantu untuk melakukan penanaman pohon. Ini penting untuk terus mendapatkan air yang sehat dan dekat dengan kami, maka kami juga perlu menjaganya,” ungkap Naser.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumba Timur, Mikael Jakalaki, mengatakan bahwa kekeringan selalu menjadi ancaman di wilayah Sumba Timur. Perubahan iklim dianggap sebagai penyebab musim kemarau menjadi semakin panjang di daerah ini. Curah hujan pun menjadi menurun ketika musim hujan. Setiap tahunnya, pemerintah mendistribusikan air bersih ke desa-desa yang mengalami krisis.

“Pandemi COVID-19 membuat kebutuhan air menjadi lebih banyak. Bukan saja untuk minum dan mencuci pakaian, air bersih juga dibutuhkan untuk cuci tangan pakai sabun,” imbuh Mikael. Ia menambahkan pemerintah juga membutuhkan kerja sama banyak pihak untuk memenuhi kebutuhan air di Sumba Timur.

Mama Amel berharap pompa hidram ini bisa tetap digunakan di desa agar sumber air yang bersih dan sehat ini bisa terus mereka akses dengan mudah.

“Kalau ada air yang dekat dan bersih, kami pasti sehat,” harap Mama Amel. (Diana Timoria/Relawan Komunitas SOPAN/msd)

DomaiNesia

Komentar

News Feed