oleh

Makna Upacara Reba Masyarakat Ngada: Narasi-Narasi Kemanusiaan

BUDAYA, suluhdesa.com – Reba adalah fenomen keagamaan dan merupakan sebuah ritus agama asli yang dirayakan setiap tahun oleh Suku Ngadha (Ngadha merupakan suku bangsa yang merupakan pendudukan dominan yang berdiam di Kecamatan Bajawa,Golewa Timur Barat dan Selatan, Aimere, dan Ngadabawa, serta merupakan etnis kedua terbesar dalam wilayah politik Ngada). Ritus keagamaan ini  yang ditayangkan selama beberapa hari berturut-turut  sangat diwarnai dengan  doa dan  kurban, sebuah upacara yang begitu kaya baik dari segi isi maupun dari segi bentuk-bentuk simbolnya, sungguh-sungguh menoreh religiusitas orang Ngadha.

I

Reba merupakan perayaan terbesar baik dalam makna maupun dalam penampilan lahiriahnya. Dalam perayaan Reba ini kita dapat menemukan secara kasat mata rancang bangun religiusitas orang Ngadha, rancang bangun relasi manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan lingkungan hidupnya. Simbol utama dari ritus Reba ini adalah “Uwi/Ubi” yang diyakini sebagai roti kehidupan manusia pada masa in Illo tempore-nya “orang Ngadha. (Domi Waso 2010:181).

Ubi yang dipanggil namanya dan dipuji-puji pada perayaan Reba merupakan personifikasi seorang tokoh mitologis perempuan, seorang utusan Tuhan bagi manusia dan secara khusus lagi pribadi yang mati karena mengurbankan hidupnya agar sesamanya dapat hidup sejahtera. Penempatan perayaan Reba yang terbentang dari Akhir Desember sampai pada akhir Februari dan pada musim hujan mau menyatakan bahwa perayaan Reba ini bermakna sebagai syukur atas penyelenggaraan Dewa zeta Nitu zale” pada tahun silam dan mohon pendampingannya pada tahun yang akan datang.

Reba merupakan perayaan keluarga karena dirayakan oleh seluruh keluarga, sebuah perayaan yang memiliki dampak systemik yang luas karena apa yang dirayakan pada saat Reba memang memengaruhi pesta adat lainnya. Reba sebagai ritus keagamaan orang Ngadha, baik dari segi mitologinya maupun dari tahap-tahap pelaksanaannya selalu berbicara mengenai kehidupan secara menyeluruh tidak hanya mengenai segi tertentu saja. (Jawa Maku 2000:1).

Reba secara tekstual memiliki paling kurang lima arti: Kaju Reba, adat Reba, larangan seperti “reba bheto” atau larangan memotong bambu, sikap tidak konsisten, dan situasi sulit dilematis yang tidak diduga-duga. (Paul Arndt 1961:454). Reba yang menjadi tema kita adalah arti kedua yaitu “adat atau buku gua Reba”.

II

Ritus Reba tidak dirayakan secara serempak karena adat Reba ini tergantung dari petunjuk “kepo wesu” atau pemegang adat yang menentukan masa perayaannya di sebuah wilayah berbasis pada kalender adat yang disebut tahun sobhi” (tahun sisir) (Domi Waso 2010:184). Meskipun waktu pelaksanaannya berbeda-beda, struktur perayaan Reba umumnya diterima memiliki tiga tahap utama:

Pertama: Kobe Dheke, Kedua: Kobe dhoi, Ketiga: Kobe Sui. Tiga tahap konsekuti ini tidak sangat ketat karena ada wilayah yang tahap ketiga didahulukan menjadi tahap kedua. Yang penting dan yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa dalam tiga tahap ini tertera sungguh-sungguh rancang bangun totalitas hidup dan kepribadian mereka sebagai manusia Ngadha.

Tahap pertama, Kobe Dheke disebut pula sebagai saat kembali ke rumah induk (Sao Puu), semua anggota suku yang berasal dari rumah-rumah yang mekar dari rumah induk (Sao Dhoro) dan yang mencari hidup di mana saja (Gae kuru nguza nee wae lina) diharapkan semua datang dan masuk ke dalam Rumah Induk atau rumah pokok ini. Mereka kembali bersama-sama untuk menghormati leluhur asali mereka (Be’o Ine Dhegha Ema).

Peristiwa kembali ke Rumah Induk ini sebetulnya merupakan upaya membangun kesadaran bahwa mereka semua berada dalam perlindungan  leluhur asali, yang selalu disapa dengan istilah  cine-cema atau dewa sao” ketika mereka berada dalam Rumah Induk. Gambaran “Dewa Sao” merupakan gambaran Allah yang dekat, Akbar sekaligus akrab, Allah imanen, sebutan atau panggilan akrab dari Dewa Wawo”. Lupa Rumah Induk akan membawa petaka aneka wajah bagi keluarga bersangkutan. Musibah yang menimpa disebut sebagai akibat dari kelalaian rebho sao puu(lupa rumah induk).

Tahap kedua, Kobe Dhoi ditandai dengan acara pengangkatan ubi/uwi tinggi-tinggi disertai teriakan bhe uwi(hai ubi) dan diulangi oleh mereka yang hadir sebanyak tiga kali. Pada tahap kedua ini ubi tampil dalam bentuk “koba” (atau batang menjalar ubi)” yang dililitkan pada “sua atau tofa” yang biasanya diletakan di Mataraga atau tempat sakral di dalam rumah Induk. Pada malam kedua ini mulailah tandak yang dikenal sebagai O uwi” sebuah tandak bersama dalam bentuk lingkaran,  yang sampai sekarang ini merupakan tarian yang populer, yang masih memiliki daya pikat untuk mengundang, memanggil semua sahabat untuk dapat berpartisipasi dalam tarian persekutuan itu.

Ubi (Uwi) yang menjadi refrain lagu dalam tarian ini adalah symbol  dari anugerah kehidupan yang harus  disyukuri secara bersama-sama dalam tarian yang berbentuk lingkaran, simbol persekutuan dan persaudaraan. Tarian o uwi” dalam bentuk lingkaran di tengah kampung ini (kisa nata) biasanya di awali dengan teriakan “wuku uwi atau pujian ubi”: “o uwi e, uwi meze go lewa laba, kutu koe koe ano koe, sui moki-moki bhai moli, koba rako lizu lado wai poso (Ubi sebesar Gong, setinggi tambur, biarpun disungkur oleh babi hutan, ubinya tak pernah habis, biarpun digali oleh babi landak, ubinya tetap ada, tonggaknya harus setinggi gunung, merambatnya sampai ke langit)”.

Tahap ketiga, Kobe Sui, merupakan tahap di mana orang Ngadha di dalam rumah adat melaksanakan beberapa agenda seperti: Sui uwi, Su bu sua, bura sua dan lese dhe nee peda pawe (Pata Dela). Dalam “Sui Uwi” mereka menyimak kembali ziarah perjalanan mereka menuju tanah Ngadha sekarang ini, dan dalam ziarah itu direnungkan kekuatan serta keterbatasan mereka, kerja keras mereka, siapa saja yang menjadi mitra dalam ziarah tersebut, panggilan serta perutusan mereka sebagai sebuah persekutuan.

Tahap ketiga “kobe sui” ini  memang kaya dengan narasi-narasi kemanusiaan yang membayangkan kepada orang Ngadha upaya-upaya membangun sebuah komunitas bayangan (imagined community) yang bersumber pada kepribadian bayangan (imagined personality) hoga atau ata Ngadha”. Tiga tahap ritus Reba ini sungguh-sungguh sakral dan diilahikan atau dikuduskan dengan doa yang sangat khusuk dan kurban yang warna warni. (Jawa Maku 2000: 12).

III

Adat Reba adalah ritus yang memiliki fungsi yang penting bagi masyarakat Ngadha.

Pertama, Reba adalah syukur kepada Tuhan yang dikenal dengan nama “Dewa Zeta Nitu Zale atau Cine-Cema. Pujian yang nampak dalam teriakan O uwi e” adalah permohonan kepada Tuhan agar “kesejahateraan, kecukupan, kelimpahan dan keamanan” menjadi milik keluarga-keluarga Ngadha.

Uwi dalam mithologi Reba adalah seorang “perempuan” yang rela mati demi kehidupan banyak orang. Syukur ini erat dengan tujuan kedua yaitu “persatuan keluarga”, semua anggota keluarga diharapkan untuk kembali ke “Sao Puuatau Rumah Pokok atau Rumah Asal seluruh suku. Kembali ke rumah induk ini merupakan pengukuhan identitas diri dan identitas kelompok. Peristiwa kembali ke rumah pokok ini melibatkan hak dan kewajiban yang berpuncak pada pengakuan primat manusia yang tertera dalam narasi manusia bodha ngai go kita ata (kekuatan ada pada manusia)”.

”Ulu ata (kepala manusia) atau jumlah besar anggota manusia merupakan kebanggaan seluruh suku dan besarnya anggota suku dilihat sebagai berkat Allah bagi suku, kelimpahan anggota umumnya menjadi ujud yang selalu didoakan, dan sebagai persekutuan umumnya memiliki ketakutan akan punahnya sebuah suku yang dikenal dengan kutukan “woe tuku boe ili tuku tiki” (suku punah dan rumpun kurus). Tujuan kedua ini tidak dapat terlepas juga dari tujuan ketiga yaitu “hentikan silang sengketa” dalam keluarga besar. Solusi damai biasanya berbasis pada prinsip kita ine le mogo ema le utu” (kita ibunya satu bapanya sama) atau bahwa kita berasal dari turunan yang sama.

Harmoni dan kedamaian ini merupakan kekuatan internal untuk menghayati talenta sosial modhe nee soga woe meku nee doa delu, modhe bodha puu mema zeta one (baik dengan sahabat, lembut dengan saudara). Damai dan keamanan atau harmoni suku dan relasi suku dengan suku lain mendapat kekuatannya pada tujuan keempat yakni ’menghadirkan kembali” Pata Dela” (Suara/nasihat orang tua) atau “lese dhe peda pawe (pesan yang tepat dan kata yang cocok) yang disampaikan sebagai salah satu agenda pada malam “kobe sui” atau “tahap ketiga” ritus Reba orang Ngadha.

Empat tujuan dan fungsi Reba ini membayangkan kepada kita dinamika kehidupan orang Ngadha merajut keberakaran sekaligus keterbukaan mereka kepada dunia luar. Ada ekologi pikiran mengenai dialektika antara prinsip “pasing-over” sekaligus “coming back”.

Kobe Sui tahap ketiga secara kasat mata menayangkan pilgrim principle” prinsip ziarah hidup atau keterbukaan manusia Ngadha sekaligus homing principle” prinsip keberakaran lewat penghadiran kembali kearifan atau spiritualitas hidup orang Ngadha.

IV

Reba sebagai “ritus keagamaan” orang Ngadha kaya dengan narasi-narasi kemanusiaan. Narasi kemanusiaan seperti tertera dalam Pata Dela” (Suara Leluhur) dan kearifan lese dhe peda pawe” (pesan yang tepat dan bandingan yang cocok) umumnya mengusung dekalog atau sepuluh prinsip pedoman hidup manusia Ngadha yang dalam kenyataannya menjadi kekuatan dalam rancang bangun “imagined personality” dan “imagined community” orang Ngadha.

Dekalog filsafat hidup orang Ngadha itu adalah:

Satu: DEWA ZETA NITU ZALE,

Dua:  BODHA MOLO NGATA GO KITA ATA,

Tiga:  DHEPO DA BEO TEDU DA BEPU,

Empat: DHUDZU PURU NEE NAMA RAKA,

Lima: DUA WI UMA NUKA WI SAO,

Enam: MODHE NEE SOGA WOE MEKU NEE DOA DELU,

Tujuh: MAKU NEE DA FAI WALU, KAGHO NEE DA ANA SALO,

Delapan: GO NGATA GO NGATA, GO TENGE GO TENGE,

Sembilan: KEDHU SEBU PUSI SEBU,

Sepuluh: BUGU KUNGU NEE URI LOGO.

Sepuluh narasi ini merupakan tolok ukur moralitas kepribadian dan merupakan elemen yang menentukan jati diri beradab “ata Ngadha” atau orang Ngadha , sebuah “religious capital” yang dalam kehidupan masyarakat berkembang menjadi kekuatan atau “spiritual capital” bagi orang Ngadha. Ketika “religious capital” menjadi kekuatan dan pengaruh bagi masyarakat, maka “religious capital” berubah menjadi “spiritual capital”.

Siritual capital adalah dampak sosial dari “religious capital”. (Anton Bele 2012: 51).

Sepuluh narasi filsafat hidup ini adalah roh atau pedoman yang harus dipegang oleh orang Ngdha di mana saja dia berada. Orang Ngadha menyebutnya sepuluh prinsip hidup ini “waka” (Roh, semangat, nyali). Orang Ngadha dapat bersyair ria go waka kita da dhada dhu da laa dada, kita da pero dhu da laa ezo” (Roh ini akan saya bawa pada saat saya berjalan jauh, saya simpan pada saat ketika saya merantau, ke mana saja saya pergi pedoman hidup inilah kekuatan saya).

Dari dekalog filsafat hidup ini  lahirlah sembilan (9) tahap internalisasi nilai-nilai rohani manusia Ngadha sebagai berikut:

Satu: Kesiapan/kewaspadaan (Gera Geta);

Dua: praktik penegakan hukum (Adha Gua);

Tiga: sikap cermat/teliti (Getu-getu);

Empat: rajin dan efisien dalam usaha (Gutu Gata);

Lima: mampu berbagi dengan sesama (Gima Ngima) dalam komunitas;

Enam: ada dan menjadi terang di wilayah publik (Molo Moe Ila Wolo); Tujuh: cerdas dan peka bersyukur kepada Tuhan, sesama, dan alam dunia (Po Pake); 

Delapan: berjuang hidup tanpa kekerasan yang melampaui kekerasan batu (Ate Wae Tolo Watu);

Sembilan: lemah lembut dan rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama (Pegu Melu). (Watu Y. Vianey 2010: 155).

V

Ritus Reba seperti yang sudah kita cermati di atas ini memang kaya dengan doa yang khusuk dan kurban persembahan yang warna warni. Yang merupakan ekspresi iman mereka kepada Allah yang Akbar (Dewa Wawo) sekaligus akrab (Dewa Sao). Sangat kasat mata doa-doa ritual orang Ngadha selama Reba menampilkan representasi Ilahi yang diadik sekaligus triadik (Watu Y.Vianey 2011:161).

Dalam doa-doa mereka, Allah disapa dengan nama:

(1) Ine-Ema, yaitu Tuhan sebagai Ibu sekaligus Bapa.

(2) Susu Keri Ase Kae, yaitu Tuhan sebagai pemberi kasih tak berhingga sekaligus pengambil kasih yang tak terduga.

(3) Dewa Zeta Nitu Zale, yaitu Tuhan sebagai yang transenden sekaligus imanen. Selanjutnya dalam representasi citraan Ilahi yang triadik,Yang Sakral disapa dengan nama berikut, 1) Dewa Saga Telu yaitu Tuhan yang triadik dalam nama “Dewa Wawo, Dewa Sao dan Dewa Jao dan (2) Tuhan sebagai Yang awal (Mori Puu), Yang turun terlibat, dan yang akhir, yang tersembunyi dalam kesadaran marginal para penganutnya karena pada saat Reba semua yang berasal dari “Sao Puu, Sao Dhoro dan Sao Lobo” berkumpul sebagai keluarga besar.

Dalam doa-doa ini cukup jelas bahwa Allah orang Ngadha secara literal memang tidak menerima Allah yang hanya dipanggil sebagai ”bapa” yang berpotensi memperkuat patriarki atau hanya sebagai “ibu” yang bisa memperkuat matriarkhi dalam kehidupan sosial di tengah dunia. Tafsiran diadik dan triadik ini mempunyai implikasi positif terhadap gerakan emansipasi anti diskriminasi sosial berbasis gender. Kesadaran beragama yang autentik dan emansipatif seperti ini merupakan sumbangan prospektif bagi gerakan inkulturasi Gereja katolik yang menganut paham monoteisme trinitaris seperti yang kita ketahui.Tidak perlu ada pertarungan antara Agama katolik dan Agama asli orang Ngadha.(Watu.Y.Vianey 2010:158)

Dalam ritus keagamaan Reba ada doa yang didaraskan secara internal dalam rumah maupun secara publik di luar rumah. Dalam doa yang menjadi elemen utama dalam tahap-tahap adat Reba itu hadir bahasa keagamaan yang bercitra naratif-memoratif.

Ada beberapa hal yang dapat kita utarakan dalam kaitan dengan doa-doa lisan selama perayaan Reba orang Ngadha. Doa selama Reba sepertinya mempertanggungjawabkan pandangan mereka tentang manusia karena pandangan mereka mengenai Allah dan konsep mereka mengenai manusia berkorelasi secara intensif. Bagaimana mereka mengenal Allah dan memahami Allah mempunyai konsekwensinya pada pemahaman dan pendekatan terhadap manusia. Pengalaman akan manusia juga berpengaruh terhadap konsep mereka tentang Allah. (Budi Kleden 2011: 179)

Allah orang Ngadha yang digelar sebagai “Mori su beo nee tada naa” (Sang Mahatahu) berdampak pada konsep atau pemahaman orang Ngadha  tentang manusia yang hidupnya warna warni. Manusia bukanlah makhluk satu dimensi yang sudah tuntas dirumuskan. Hidup manusia itu tidak saja kaya makna tetapi juga kaya dimensi. Karena itu kita juga tidak akan pernah selesai mendefinisikan seseorang karena ternyata secara spontan kita mesti bertangung jawab terhadap multidimensionalitas manusia dan menentang semua bentuk pengudungan atau pereduksiannya dalam ilmu pengetahuan, ekonomi dan politik. Kita diajak untuk membuang stereotip aneka wajah mengenai manusia.

Doa-doa selama Reba yang menuturkan kisah-kisah hidup merelativir segala bentuk penggambaran realitas yang bersifat terlalu hitam-putih. Karena mengusung kerahasiaan manusia maka doa-doa orang Ngadha pada saat Reba tidak banyak berhubungan dengan pengetahuan melainkan dengan “keyakinan, harapan dan simpati kepada kehidupan manusia”. Doa-doa ini menayangkan pemahaman tentang hakikat manusia, mengenai masalah dan pengalaman-pengalamannya dalam upayanya untuk mengenal dan menyempurnakan dirinya dan dunia. Dalam doa ritus Reba situasi manusia dalam sejarah, dan alam dunia, penderitaan dan kegembiraan, kekuatan dan keterbatasan diangkat ke permukaan sambil sekaligus memberi bayangan mengenai sebuah situasi manusia yang lebih baik. (GS art.62).

Doa sebagai satu bentuk sastra lisan memang melindungi k edalam hidup manusia baik secara individual maupun secara kolektif. Martabat luhur setiap orang digarisbawahi dalam ritus yang melacak tahap-tahap hidup manusia. Doa mengangkat nilai relasi antara manusia sebagai sesuatu yang sakral. Pada saat orang Ngadha berdoa agar ada relasi komunitarian antar manusia “papa dae nee sao lange papa doa nee padhi loka” (hidup berdampingan dengan tetangga dan bersahabat dengan warga sekampung) maka apa yang diperjuangkan itu adalah sebuah “mesu mora” (cinta kasih) lintas batas. Relasi lintas batas itu sudah tertera dalam paham “sao dhoro” atau kemampuan berbagi kasih yang memang mengikuti beberapa norma humanitarian antara lain:

(1) suu papa suru saa papa laka, sai rengu maru sai zanga sala (berat sama dipikul ringan sama dijinjing, sampai temaram senja, sampai salah menatap),

(2) mengakui hak milik pribadi namun tetap ada kesadaran bahwa hak milik tersebut mempunyai fungsi sosial membantu sesama (ngeta baghi ngia mami le mogo),

(3) dalam hidup bersama manusia harus mampu menghayati kecerdasan berbagi (tii qa bhai wali wiki, pati qa bhai wali lai),

(4) Setiap insan hendaknya memperlakukan sesamanya dengan baik dan lemah lembut, menghargai kesamaan martabat dalam perbedaan (mazi zeta mae kama zeta, Dewa tuku enga, zale mae kama zale, nitu tuku tange) (Watu Y.Vianey 2010: 156).

Pendarasan doa individual dan kolektif memang merupakan bentuk-bentuk penghadiran diri manusia. Doa mereka umumnya sangat spontan dan tanpa kontrol, doa yang lahir dari kondisi keterjepitan, doa yang bernada keluhan yang diucapkan ketika berhadapan dengan ketidakberdayaan manusia, memang sering jauh dari pencarian kata-kata yang sudah dipertimbangkan secara matang bobot simbolismenya. Namun demikian kalau kita melihat bentuk-bentuk doa mereka kita mesti mengatakan bahwa doa itu menyatakan seluruh diri manusia: jeritan, kerinduan, yang menggetarkan jiwa manusia.

Doa selama Reba menyatakan sungguh-sungguh sebuah relasi. Tanpa mempunyai hubungan dengan Allah orang tidak mungkin bisa berdoa. Tanpa adanya sebuah relasi yang pernah ada dalam biografi seseorang atau sekelompok orang tidak mungkin doa dapat dinyanyikan dalam nada syukur atau dijeritkan secara bersama-sama sebagai sebuah komunitas. Keseluruhan suasana religius yang tercipta dan terawat setiap tahun di dalam sebuah kolektivitas religius memang dapat menghasilkan doa-doa yang lahir dari pengalaman kolektif.

Doa dalam ritus Reba memang mengungkapkan totalitas diri manusia dihadapan realitas yang kudus. Termasuk dalam totalitas manusia itu adalah “nenek moyang dan alam dunia”. Karena nenek moyang pun merupakan bagian dari diri, maka tanggung jawab, dan keprihatinan atas apa yang dialami sekarang diharapkan menjadi tanggung jawab dan keprihatinan mereka. Kekurangan kita yang hidup tidak perlu menjadi alasan untuk berputus asa karena mereka yang memiliki corak keberadaan yang melampaui keterbatasan akan melengkapi apa yang kurang pada kita.

Pandangan ini memang membuahkan optimisme kolektif dalam menghadapi berbagai persoalan sosial. Dalam doa-doa ritual Reba paham diri holistik manusia menemukan pengungkapannya yang tegas. Seluruh sudut kampung yang biasanya disatukan dalam istilah “ulu-eko” (kepala-ekor) semua yang menjadi warganya dihadirkan sebagai satu diri kolektif yang memerlukan berkat dan perlindungan Tuhan. Doa memang menyapa seluruh diri manusia. Totalitas doa mencakup juga deretan pengalaman, dan cukup jelas selama Reba itu doa tidak hanya bercitra mohon berkat dan rahmat melainkan juga bersyurkur atas semua keberhasilan. Ada lukisan intimitas dengan Allah yang diungkapkan dalam keleluasaan untuk menyapa dan kesediaan diri disapa Tuhan dalam situasi gembira Reba.

Dalam doa-doa dan nasihat-nasihat yang disampaikan kepada seluruh keluarga memang jelas sekali bahwa tidak ada wilayah kehidupan dan pengalaman di dunia yang dipisahkan dari Tuhan/Pemisahan antara yang profan dan yang sakral tidak terjadi secara tegas. Keduanya mengalir membentuk kehidupan masyarakat Ngadha yang religius dan seutuhnya manusiawi. Allah pasti bukan hanya urusan hari Minggu, tidak hanya dijumpai di Gereja. Tuhan yang hadir dalam doa dan sapaan-sapaan adat adalah Allah yang dijumpai dan menjumpai manusia dalam seluruh peristiwa hidup pribadi dan kolektif.

Di dalam doa manusia mengungkapkan keyakinannya bahwa ada kuasa yang mempunyai kepentingan terhadap manusia melampaui kekuasaan yang mereka alami atau praktikkan dalam hidup bersama. Karena itu doa ritual Reba memiliki makna yang istimewa untuk menjaga manusia dari bahaya penyempitan atau pereduksian ke dalam konsep tententu. Kalau begitu benar bahwa Reba itu kaya dengan narasi-narasi kemanusiaan. Narasi tidak hanya rumusan melainkan keberpihakan bahkan advokasi terhadap manusia itu sendiri.

Gerakan besar advokasi kemanusiaan ini diawali dengan teriakan “O Uwi” simbol perkasa yang berbicara mengenai eksistensi seorang perempuan yang memberi kehidupan bagi mereka yang berkekurangan. Perempuan seperti ini layak diangkat sebagai kontras terhadap paradigma relasi patriarkhis, maskulin, dan androsentris dalam segala nuansanya. (*)

Daftar Bacaan

Arndt Paul    : Worterbuch der Ngadhasprache, Studia Instituti Anthropos,Vol 15, Posieux, Fribourg,Suise,1961.

…………….        Gessellschaftliche Verhaltnisse der Ngadha,Studia Instituti Anthropos, Vol.8. Wien-Modling, 1954

…………….        Agama Orang Ngadha:Kultus,Pesta dan Persembahan(Vol II),Candraditya (Penerjemah) Maumere,2007.

Bele.Anton   : Spiritual Capital Sebagai Basis Pembangunan Berkelanjutan,

Dalam BERBAGI, Jurnal Asosiasi Perguruan Tinggi Agama Katolik(APTAK), Vol 1, No.1 . Maumere, Januari 2012.

Budi Kleden  : ”Tuhan Dalam Torok”.Dalam “Gereja Menyapa Manggarai, Satu Abad Gereja

Manggarai-Flores.Parrhesia Institute, Pasar Minggu-Jakarta Selatan, 2011.

Djawamaku H.Anton: Pesta Adat Reba Dan Beberapa Implikasi Praktis. Sebuah

Perspektif Pemberdayaan Budaya. Seminar Makna Reba 7 Februari 2000 Menyongsong Reba Bajawa  di Bokua.

Muda Hubert: “Bentuk-Bentuk Manifestasi Wujud Tertinggi Dalam Masyarakat Ngadha” Flores, Dalam Bulletin Candraditya, Tahun 1, no.2.Ledalero. 1988.

Waso Dominik : Cerita Rakyat Dan Fungsinya Dalam katekese Umat, Tesis Untuk Meraih Gelar Magister (S2) Teologi, STFK Ledalero, Maumere 2010.

Watu Y. Vianey : Representasi Citraan Ilahi Dan Insani Dalam Entitas Ritus Sao Ngaza di Guru Sina Dalam Greg Neonbasu (Editor) MULTIKULTURALISME PEMBANGUNAN, Refleksi Struktural Atas karya Manusia. Penerbit Ledalero, 2012.

(*) Makalah Seminar Memaknai Reba yang disampaikan oleh Dr Hubert Muda, SVD di hadapan Masyarakat Ngada diaspora DKI Jakarta pada 19 Februari 2014.

Komentar

News Feed