oleh

๐‘ท๐’†๐’”๐’๐’๐’‚ ๐‘ต๐’‚๐’ˆ๐’†๐’Œ๐’†๐’ (1) : ๐—ž๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—ž๐—ฎ๐˜„๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—›๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฃ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ด ๐—”๐—บ๐—ฒ ๐—š๐—ฒ๐—น๐˜‚

TRAVELLING, suluhdesa.com – Percikan air pada kepala dan wajah menyambut saya dan empat teman lainnya ketika tiba di Kampung Kawa, Desa Labolewa, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo-Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Senin (07/12/2020) siang awal pekan lalu.

Di Kampung ini, Bapak Andreas Meo (74 tahun), Sesepuh Kampung Kawa yang menjemput kami di gerbang kampung, memegang ๐˜’๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข, tempat air yang terbuat dari buah Labu kering. Setelah mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa Nage, ia memercikkan air dari Kula, memohon pada pemilik semesta dan leluhur untuk merestui kami datang berkunjung.

Di gerbang kampung, kami disambut dengan ritual adat.

Kampung Kawa adalah salah satu dari beberapa kampung adat di Kabupaten Nagekeo. Ia masuk dalam wilayah administrasi Desa Labolewa. Dari beberapa anak kampung Desa Labolewa, Kampung Kawa merupakan kampung yang jaraknya paling jauh dari pusat desa di Jalan Poros Mbay-Aegela. Berjarak sekitar 7 KM dari pertigaan jalan poros. Ditempuh selama hampir dua jam berjalan kaki (trekking).

Kampung Kawa berada di ketinggian sekitar 600 mdpl. Rumah-rumah adat orang-orang Kawa berada di lereng Gunung Ame Gelu.

Hari itu, warga Kampung Kawa sedang beristirahat. Sehari sebelumnya adalah hari terakhir berburu adat. Dalam budaya orang Kawa, sehari setelah hari terakhir berburu adat adalah hari berdiam di rumah. Tidak dizinkan untuk pergi bekerja di ladang dan kebun. Ladang dan kebun berada di punggung gunung.ย  Tempat di mana Kemiri dan Jambu Mete bertumbuh rimbun. Selain Padi dan Jagung dan sayur-sayuran yang ditanam setiap musim hujan tiba.

Dalam bahasa Nagekeo umum, rumah disebut Sa’o. Demikian juga untuk orang-orang Kawa yang berbicara dalam bahasa Nage namun dengan dialek yang berbeda.

Di Kampung Kawa, total ada dua belas Sa’o, rumah beratap ilalang dan berdinding bambu yang berdiri saling berhadap-hadapan. Sebagaimana di kampung adat lainnya di seluruh wilayah Nagekeo, tiap-tiap Sa’o memiliki nama dan melewati perjalanan adat yang sangat panjang.

Halaman kampung adalah tempat menjemur hasil pertanian. Juga tempat bermain anak-anak dan beberapa hewan ternak.

Bapak Andreanus Ceme Owa (47 tahun), salah satu warga Kampung Kawa bercerita, bila pagi tiba, beberapa ekor kambing dan sapi berkumpul di halaman kampung. Bermain bersama kabut dan menikmati udara pagi yang berhembus dari mulut Ame Gelu.

Siang itu, kami menikmati keramahan tetua-tetua adat dan warga Kampung Kawa. Duduk bersila di teras Sa’o sembari mendengar bagaimana orang-orang Kawa merawat hidup di punggung Ame Gelu.

Di Nagekeo, selain sawah hijau dan tambak-tambak yang melahirkan garam dan ikan, kampung-kampung adat merawat peradaban di gunung-gunung. Travel. Enjoy. Respect. #nagekeo #kampungkawa (Penulis: Boe Berkelana-Travel Planner Labuan Bajo)

DomaiNesia

Komentar

News Feed