oleh

Puisi-Puisi Utha Stefanus

-Sastra-833 views

PUISI, suluhdesa.com – Nama adalah tanda atau nomen est omen. Puisi-puisi Utha Stefanus bergerak dari sebuah perjalanan yang dimaknai atas nama waktu. Menggeliat dalam rupa-rupa kesempatan untuk mengungkap sebuah kerinduan pada sebuah nama. Dan pada akhirnya lahir sebagai sajak kecil untuk sebuah nama yang besar. Salve!

 Waktu yang Pernah Ada

Untuk waktu
Dan untuk kamu yang pernah ada…
Masih dengan kata yang sama
Kumaknai janji yang pernah ada…
Pernah ada, namun kini hadir sebagai yang asing
Sebenarnya hati ini tidak sanggup

Masih dengan kagum yang sama
Aku memuji dalam bayang yang kosong
Dengan  diri yang tak lagi sanggup
Mengungkapkan semua kata pedih
Karena tak lagi ada serpihan rindu yang bertuan…

Retak jantung ini
seakan terluka tanpa goresan
karena yang sakit sebenarnya bukan perpisahan
Tapi kenangan yang ditabur janji…

Salam bahagia.

Rindu

Dengan kata apa akan kuretakkan kembali pecahan rindu ini
Kolaborasi sakitnya perpisahan
Dan juga santunnya kata rindu
Ada apa dengan runtuhnya air mata,
Besok pagi matahari tetap bersinar
Tapi malam akan kembali menghadirkan rindu…

Selamat Malam

Lari dari seninya gulita malam
Ingin kuretak tembok retak yang melintas di ujung kaki
Kubuka lagi pintu dingin itu,
Entah kata apa akan kupoless bibir racun ini,

Malam memang dingin,
Tapi tak sedingin ucapan selamat malam
Yang kubiarkan membeku di atas salju..

Tentang Kesempatan

Pagi hari ketika ada tarian di atas bukit,
Aku sudah melihat kepalsuan menghamili kekosongan…
Memang selalu ada kata maaf,
Tapi tidak ada laagi kepercayaan.

Sudah bosan aku berdebat dengan logika sederhana
Kali ini aku ingin melukai akal
Ketika ada tarian di atas bukit
Kulepas saja
Malam yang tega melupakan senja..

Nama di Atas Salju

Saat butiran itu hening menanti belaian

Bertaburan seolah menari di atas tulisan

Seperti bidadari bernyanyi di balik sayap.

Mata dan hati kembali mengeja setiap iman yang terukir dari malangnya senja.

Sebab kata Tuhan sebatas Nama,

Namun suci layaknya putih.

Seperti Wajah yang seharusnya cantik,

Namun lahirnya cinta ternyata bukan wajah.

Mari melukis nama

Lewat kata yang sekedar manis

Bahkan usia di atas angka.

Namanya salju,

Karena suci di atas salju.

Tidak melahirkan keabadian rupa

Namun kenangan yang melekat di balik pintu cerita

Utha Stefanus adalah Mahasiswa Semester V, Program Studi Administrasi Negara, Universitas Timor, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Komentar

News Feed