Surat Undangan Kelabu

oleh -227 views
Ilustrasi

CERPEN, suluhdesa.com – Ranjang berukuran mini yang cukup untuk menatang tubuh satu orang itu mulai bergetar hebat. Kaca jendela yang terkunci rapat pun terbuka perlahan. Angin sepoi menyusup masuk hingga ke sum-sum tulang. Menggerogoti ketahanan mental yang tatkala bisa menyendiri hingga berjam-jam bahkan bermalam dalam kamar sempit itu. Atap kamar serta dinding bergetar dengan sangat hebat hingga penghuni kamar sempit itu berkeringat dingin. Suasana kamar amat menyeramkan. Ada bayangan tubuh manusia dengan tinggi berdiri di sudut kamar dekat cermin yang dipasang vertikal. Bayangan itu tampak membelakangi sepasang mata yang kikuk mencari semacam benda untuk mengusir ketakutan.

“Cukup Riand, aku tahu itu kamu! Masalah kita sudah selesai. Cukup! Jangan membuntuti aku lagi, Riand! Aku minta maaf!” getar suara Angel terdengar seperti ingin menangis. Seketika itu gelas yang disimpan di atas meja belajar pun jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Bunyi pecahan itu membumbui rasa takut Angel kian menjadi. Bersamaan dengan itu, album foto dengan sampul kaca juga ikutan terhempas ke lantai. Suasana kamar yang awalnya hening kecuali speaker kecil yang mendengungkan lagu-lagu yang baru diperoleh Angel dari Youtube.

Tidak ada suara menyahut. Hanya bunyi tapak kaki sosok di sudut kamar yang melangkah mundur ke arah Angel yang tersudut di pintu kamar. Angel meraih gagang pintu untuk membukanya, namun pintu dalam keadaan terkunci. Ia teringat kuncinya digantung di atas cermin dekat bayangan hitam itu. Sedang otaknya bekerja mencari cara untuk membuka pintu, lampu pun mulai mati. Bayangan hitam yang berjalan mundur itu semakin mendekat. Aroma bunga rampai yang sempat diciumnya di pekuburan tadi siang segera memenuhi kamarnya. Air conditioner tak lagi mampu mengusir aroma rampai.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar. Lampu kembali menyala dan keadaan kamar tampak seperti semula. Tak ada serpihan gelas kaca yang berantakan di lantai. Pintu jendela tertutup rapat dan album foto masih dalam posisi semula yang menampakan dua sosok yang berpelukan mesra dengan senyum lebar. Tak ada lagi aroma rampai, kecuali aroma parfum yang disemprotkan pada tubuhnya tadi sore setelah mandi. Aneh tapi nyata. Kejadiannya baru beberapa menit lalu dan ia sendiri menyaksikannya. Tapi keadaan yang tampak sekarang seperti tidak terjadi sesuatu.

Angel memendam kejadian ini dan tak ingin siapa pun mengetahuinya. Bahkan kepada orang tuanya sekalipun ia tak ingin dibeberkannya. Ia tahu, Riand akan senantiasa mengikutinya hingga entah kapan. Tubuhnya masih gemetar dan ia baru sadar bahwa celananya basah. Rupanya ia ngompol karena takut yang berlebihan. Segera ia berlari ke kamar mandi untuk berganti pakaian sekalian membasuh tubuhnya. Lalu ia kembali dengan mengenakan celana pendek seukuran pahanya. Tubuh bagian atas hanya dililitnya dengan kain bergambar Dora Emon.

Pikiran Angel masih terus mencari-cari cara agar bayangan tadi tidak lagi menghantuinya. Terbersit pula ingatannya pada Dila sahabat dan teman kelasnya. “Mungkin Dila bisa membantu kalau aku menceritakan semua kejadian ini. Tapi dia pasti akan bertanya yang aneh-aneh dan bagaimana aku harus menjelaskan semuanya? Akh, terserahlah. Aku akan sedikit memanipulasi ceritanya biar dia tidak bertanya aneh-aneh.”

Baca Juga:  Yosef Tanu Cawabup TTU Itu Selalu Lolos dari Hantaman Ranting Asam Sang Mama

Angel tersenyum senang. Meskipun demikian, ia masih ngeri dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Diraihnya handphone, dan menggesekkan telunjuknya pada bagian layar. Seketika lagunya Callum Scott, You Are the Reason berdengung perlahan sembari matanya membaca beberapa pesan whatsapp yang bertengger di notifikasi. Ada beberapa nama yang tak asing baginya. “Bill, Ian, Prima, Santy…” ia membaca nama-nama yang mengirimkan pesan untuknya. Ternyata mereka saling membalas pesan di whatsapp group tentang ujian proposal yang seharusnya dilakukan hari ini namun batal karena mesti memakamkan jazad teman sekelasnya yang meninggal akibat celaka.

“Persetan dengan proposal, palingan tahun depan aku juga ujian” gerutunya sambil meraih bantal merah jambu, memeluknya, dan mengatup mata.

***

“Angel!” panggil Dila yang berlari kecil untuk mendapati sahabatnya itu. Tersenyum manis pada Angel seraya tangannya menyodorkan setebal buku. Angel membolak-balik halamannya lalu menyimpannya ke dalam tas. Angel mengeluarkan sebuah amplop dari saku jeansnya dan menyerahkannya kepada sahabatnya, Dila. Matanya melihat sekeliling dengan gaya seorang mafia berkelas yang biasa ditontonnya di film.

“Terima kasih, Dila. Kamu memang sahabatku yang terbaik dan paling pengertian dengan keadaanku. Kamu mau ikut aku ke kantin? Aku mau bercerita sebentar denganmu. Boleh kan?” bujuk Angel. Dila mengangguk dan keduanya melangkah beriringan ke kantin. Keduanya memilih tempat yang paling pojok agar lebih nyaman. Keduanya memesan es teh kesukaan mereka lalu kembali mengambil posisi seperti semula. Menikmati setiap teguk dengan dialiri cerita seru yang berawal dari hubungan intim keduanya saat pacaran.

“Eh, Angel kamu tahu gak? Si Valen itu sangat baik loh. Udah ganteng, perhatian lagi sama aku. Pokoknya dia itu perfek dan ideal tipe aku! Aku berjanji tidak akan mengkhianatinya sekalipun takdir dan nasib berniat memisahkan kami. Satu lagi yang buat aku tidak bisa tidur semalam-malaman, dia sudah mengenalkan aku ke orang tuanya loh,” celoteh Dila dengan membangga-banggakan Valen kekasihnya yang baru dikenal sebulan lalu. Senyum sumringah menjadi tampilan menawan di bibir tipis Dila.

Dila memang manis dan menjadi primadona di SMA-nya kala itu. Dia selalu disanjung sebagai bidadari di kelasnya. Rambut lurusnya begitu padu dengan kulitnya yang kuning langsat. Meskipun demikian Dila tak pernah enggan untuk bertemu dengan siapa saja, terutama Angel yang punya watak yang amat jauh berbeda dengannya. Angel memang cantik, namun angkuh. Dia sangat selektif dalam menentukan siapa saja yang boleh menjadi temannya. Dila adalah sahabat yang dipilihnya secara terpaksa karena Dila adalah temannya Riand, pacarnya Angel.

“Aduuuh, Dilaku sayang! Valen memang ganteng, baik, perhatian dan amat serius denganmu, namun selama dia masih disebut lelaki tetap saja. Kamu tahu gak, semua lelaki itu sama saja, pengkhianat sejati. Sekedar datang sebagai lebah yang menghisap madu dari setiap bunga mekar, lalu meninggalkannya tanpa pamit. Yah, singkatnya semua lelaki itu busuk adanya. Aku tak akan mengijinkan lelaki manapun untuk mencintaiku, terutama Riand,” Angel memonyongkan bibir sebagai isyarat penghinaan terhadap lelaki. Tentu saja Dila terhenyak kaget. Setahunya, Angel sangat menyayangi Riand. Dia sering mengagung-agungkan Riand dalam setiap cerita saat duduk bersama maupun dalam chatting dengannya. Sangat aneh bila Angel berbalik membenci Riand. Beberapa pertanyaan aneh singgah menggelitik rasa ingin tahu Dila untuk mengais penyebab Angel membenci lelaki, terutama Riand.

Baca Juga:  Maghilewa, Aku Jatuh Cinta

“Maksudnya kalian sudah end atau masih dalam masa tenggang? Atau mungkin kamu lagi ingin prank aku? Seingat aku, dua hari lagi kan anniversary-nya kalian. Oh iya, aku tahu. Pasti kalian sengaja acting di depan aku biar tidak kelihatan maksud kalian. Lalu dua hari kemudian kalian mengajak aku ke restoran mahal itu dan kita merayakannya bersama,” Dila tertawa terbahak-bahak setelah menebak maksud kedua sahabatnya itu.

“Apa itu anniversary? Bagaimana mau anniversary kalau orangnya tak lagi ada dengan kita. Kepergiaannya hanya menciptakan luka yang butuh waktu lama untuk kembali pulih,” cetus Angel. Jawaban ini justru membuat Dila semakin terpingkal-pingkal.

“Sudahlah sayang. Tak perlu berdrama di depanku agar aku terkecoh dengan niat kalian ini. Usiaku sudah 21 tahun sayang. Aku bukan lagi anak ingusan yang gampang percaya dengan candamu itu.” Balas Dila dengan gaya santainya.

“Dila! Kamu memang sengaja tidak tahu atau memang tidak tahu? Riand itu sudah meninggal sayang. Dia bunuh diri karena proposalnya ditolak terus-menerus. Orang tuanya terus mendesak dia untuk segera selesai agar bisa mengurus perusahaan ayahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Aku juga tidak paham kenapa dia sebodoh ini. Seharusnya masih ada cara lain yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan proposalnya. Dia bisa saja mengurus perusahaan ayahnya sambil terus menulis proposalnya atau mungkin bisa menyewa orang lain untuk mengerjakan proposalnya dan dia bisa fokus pada keinginan orang tuanya,” jelas Angel tanpa mimik sedih secuilpun. Ia menggesekan telunjuknya pada layar handphone dan menunjukkan video pemakaman jenazah Riand. Dila melonjak kaget menyaksikan video pemakaman itu.

“Bukannya minggu lalu Riand mengajakku untuk ikut menyaksikan ujian proposalnya lusa nanti. Kamu tega sekali tidak memberitahuku,” sesal Dila. Ia menangis sesenggukan sedang Angel terus menyeruput tehnya tanpa peduli ataupun ikutan merasa iba karena kepergian Riand. Dila bangkit dari duduknya, memperhatikan wajah Angel lalu beranjak pergi meninggalkan Angel sendirian di kantin.

***

Angel baru saja ingin beranjak dari duduknya ketika seorang polisi menghampirinya dan memborgol tangannya. Angel diseret ke mobil patroli yang dikendarai polisi tersebut. Semua orang yang sedang bertandang ke kantin untuk sejenak memesan minuman dibuat terperangah dengan kejadian ini. Di dalam mobil ada dua orang polisi dengan dua orang lainnya yang tampak tak asing di matanya. Mobil melaju dengan cepat sehingga hanya butuh beberapa menit saja mereka sudah tiba di kantor polisi.

Angel dibawa menghadap seorang polisi yang berperut besar dan tampangnya cukup sangar. Dengan tangan masih terborgol, Angel disuruh duduk di kursi tepat di hadapan polisi sangar itu. Nama polisi itu Merkorius. Angel mengetahui nama itu dari papan nama yang dibordir pada pundak kanan bajunya. Ia sendiri tertunduk dan tak berani menatap wajah sangar itu.

“Angela Girlani! Apa betul itu nama Anda?” sambar polisi di seberang meja. Keduanya duduk berhadapan dengan dipisahkan oleh sebuah meja yang melintang di antara mereka. Angel tak mampu menjawab pertanyaan itu kecuali kepalanya yang mengangguk pertanda benar itu adalah namanya. “Anda dituduh telah melakukan pembunuhan terhadap Saudara Riand Almond. Apakah benar demikian?” sambung polisi itu.

Baca Juga:  Eks Suster Jadi Eks Pacarku

Angel memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah sangar di hadapannya. Ia mulai bercerita tentang kronologi kejadian itu. Angel mengakui bahwa ia adalah dalang dari kasus tersebut. Ceritanya berawal dari proposal yang ditulisnya dengan susah payah dan harus menghadapi setiap koreksi dan revisi dari dosen pembimbing dan Riand mengambilnya dengan alasan bahwa sebaiknya Riand saja yang lebih dulu lulus agar ia dapat mengurus perusahaan ayahnya yang sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Riand juga berjanji akan segera menikahinya sesudah wisuda nanti. Karena tergiur dengan tawaran menarik dari Riand, ia pun menyerahkan soft copy proposalnya kepada Riand. Ia lalu membantu Riand menyelesaikan proposal itu hingga Riand menelepon dan mengabarkan akan mengikuti ujian proposal dua hari mendatang. Bersamaan dengan itu Angel pun menceritakan kepada Riand bahwa ia sudah melakukan tes urin dan hasil yang diperoleh dari alat test pack bahwa ia sendiri pun telah positif hamil. Keduanya lalu saling mengucap selamat atas kerja yang baik ini.

Sehari sesudah kabar gembira itu, Angel mendapati sebuah surat undangan nikah yang tercecer di depan pintu kamar kostnya. Dipungutnya surat itu dan dibacanya. Ia terkejut menemukan nama Riand disandingkan dengan nama seorang gadis yang ia sendiri tidak kenal. Tertera juga foto mesra keduanya pada surat undangan tersebut. Angel sangat geram dan membakarnya hingga sisakan debu. Malam itu juga, di sela-sela sakit hatinya yang mendalam ia menyewa dua orang teman kampusnya untuk menghabisi nyawa Riand.

Sesudah mendengar penjelasan Angel, polisi berwajah sangar itu lalu menjebloskan Angel ke penjara dengan tuduhan melakukan pembunuhan terhadap Riand Almond dengan vonis pidana dua puluh tahun sesuai pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

***

Dua hari kemudian Dila menemukan sebuah surat kabar di ruang kerja ayahnya. Pada halaman depan surat kabar itu sebuah tulisan dengan huruf tebal mengundangnya untuk mengetahui isi berita itu. Dibacanya perikop berita itu dengan air mata berlinang mengaliri lekak-lekuk pipi tembemnya: “Angel Girlani Tewas Bunuh Diri di Bui.”

“Angela Girlani ditemukan tewas di penjara akibat bunuh diri. Menurut kesaksian GR (22), Angel sempat bercerita ketika GR akan mengantarkan makan pagi bahwa dia ingin dipindahkan dari ruangan tersebut karena semalam seorang pria yang hanya tampak bayangannya mencoba mencekiknya. Pada bagian leher Angel terdapat beberapa luka bekas cakar dan…” Dila jatuh pingsan dan tak sadarkan diri di ruang kerja ayahnya. (*)

Oleh: Geztha Ronaldo (Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara Universitas Nusa Cendana Kupang, NTT. Penulis kelahiran 03 Januari 1997 ini juga berprofesi sebagai Jurnalis Media SULUH DESA dan sangat mencintai cerpen dan puisi seperti mencintai rokok dan kopinya setiap pagi dan petang. Beberapa karyanya sering nongol di Harian Pos Kupang, Victory News, dan Majalah Filokalia)