oleh

“Nak…”

-Sastra-235 views

CERPEN, suluhdesa.com – Aku, berasal dari suara yang tak terdengar. Pagi, siang, sore maupun malam selalu bergulat dalam rindu yang belum dibaptis kemesraan kasih sayang. Aku terkadang merenung  mengenang semua kisah yang membuatku cemburu, pada sombongnya memori dan romantika belaian ayah.

Suatu ketika aku memberikan senyum yang bagi ayah adalah sampah untuk segera dibuang. Aku memang tak pernah paham, seluas apa dosa diriku yang begitu tabu di matanya. Biasanya aku hanya terdiam. Terpaku dalam banjirnya air mata polosku yang terus mengalir tanpa henti. Jujur  aku merindukan pelukan ayah dan sekali memanggilku dengan bisikan “nak”. Aku ingin teriak sepuasnya hingga tenggorokan robek, berteriak dan terus berteriak. Tuhan apa salahku? Mengapa tiada cinta yang Kau titipkan buatku lewat ayahku. Tuhan Engkau sudah membiarkanku hidup, lalu bagaimana aku dapat menghadapi kejamnya dunia tanpa perlindungan ayah? Bagaimana aku dapat mengarungi hidupku tanpa pelukan ayah, dan kepada siapakah aku akan berlindung ketika musuh menyerang aku? Tuhan tolong jawab aku…!

Dunia dan seisinya mencibirku dengan tatapan sinis, seakan bertanya kemanakah dia akan pergi? Yang aku miliki saat ini adalah semangat dari teriakan ibu saat aku mencabik rahimnya menikmati dunia yang Tuhan ciptakan. Semangat hidup yang aku miliki saat ini hanyalah untuk ibu, bukan untuk ayah. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih lewat rangkaian kata doa, semoga ayah selalu sehat dan terus hidup hingga saatnya ia mampu memelukku sekali saja.

Baca Juga:  Pulang Misa Hari Minggu Cerita Orang Punya Nama

Setiap hari aku hidup dalam kebohongan, menipu diriku yang seolah bahagia namun sebenarnya tidak sempurna tanpa kehadiran ayah. Aku memiliki raganya, namun hati dan perhatiannya telah hilang ditelan amarah yang begitu dasyat. Aku mengejar pendidikanku, merangkai hidupku dengan bekerja seadanya untuk membalas semua kebaikan ibu yang tak akan pernah usai. Rasa pahit dan perih kuterima sebagai hadiah yang menyimpan berbagai kenangan dan pelajaran hidup yang begitu berharga.

Setiap pagi ketika aku terbangun, aku selalu mengawali langkah hidupku dengan harapan mendapatkan senyum yang meskipun sesaat dari seorang ayah. Membuatkan kopi dan menyiapkan bekal untuk dibawa pergi bekerja, selalu saja kuiringi dengan doa semoga suatu saat nanti kuraih senyum itu di bibirnya. Aku ingin seperti temanku yang selalu diberi perhatian dan pelukan ayah, aku ingin bahagia sempurna seperti mereka. Namun sayang, sampai detik ini pun semuanya masih tersimpan dalam mimpi. Aku memilih saja untuk pergi jauh dari rumah, pergi menemukan hidupku tanpa duka yang mendalam. Berusaha melupakan duniaku yang tak memiliki warna, seperti malam tak berbintang. Semuanya terasa gelap tanpa titik indah yang ingin kubanggakan.

Baca Juga:  Relasi Keluarga Sebagai Pengasuh Utama Anak di Era New Normal

Aku menjadi sasaran kemarahan yang tak pernah padam, dijamu dengan derita yang begitu menyayat hati.Seolah aku adalah sumber kebencian, semua perpecahan yang dialami kehidupan keluarga kecil ayah dan ibu disebabkan oleh kehadiran saya. Aku hampir tidak percaya menerima kenyataan pahit ini, namun aku yakin semua air mataku akan dihapus oleh Tuhan.

Suatu malam ketika aku ingin menutup mataku, terlintas dalam bayangan akal sehatku untuk pergi meninggalkan semua  kepedihan ini. Aku memohon restu kepada ibu, jagalah aku dalam doamu dan aku akan kembali untuk membalas segala kebaikanmu. “Pergilah nak, hanya inilah cara untuk mengakhiri sakit hatimu. Ibu mendoakanmu hingga kamu sukses”.

Aku sudah pergi, seakan rumah itu kehilangan api yang terus membakar amarah mereka. Semuanya kembali normal dan baik-baik saja tanpa kehadiran diriku. Mulai saat ini aku paham, ternyata kehadiran diriku seperti sebuah tamparan yang penuh dendam. Aku tahu, diriku memang tidak sempurna dan tidak akan pernah diterima sebagai layaknya seorang anak, buah hati yang tercipta karena cinta. Kata bahagia seakan terdengar asing dalam hidupku. Bagiku bahagia hanya kutemui dalam doa, karena aku menemukan keteduhan heningnya bisikan Tuhan yang menyediakan waktu-Nya untuk mengajariku cara untuk bahagia. Aku hamper lupa, kapan terakhir kalinya aku tersenyum.

Baca Juga:  Jejak di Malapedho

Sekarang aku telah menemukan kehidupanku yang baru dari jauh di negeri seberang, seolah tak pernah melupakan tanah yang melahirkan dan membesarkan aku, rindu ini selalu ada untuk ibu. Untuk ayah juga, aku masih berusaha menemukan cara untuk membuka bibirnya dan memanggilku dengan sapaan “Nak”. Sebentar lagi malam gelap ini menjemputku kembali berbaring, aku selalu berdoa semoga kami dipertemukan dalam senyum dan kebahagiaan meskipun hanya dalam mimpi.

Oleh: Utha Stefanus (Mahasiswa Semester V, Program Studi Administrasi Negara, Universitas Timor. Ia sangat mencintai sastra dan seni semenjak Sekolah Menengah).

Komentar

News Feed