Di Akhir Masa Jabatannya Bupati TTU Fokus Atasi Masalah Air dan Listrik

oleh -524 views
Raymundus Sau Fernandez Bupati Timor Tengah Utara

KEFAMENANU, suluhdesa.com – Bupati Timor Tengah Utara Raymundus Sau Fernandez melakukan dialog dengan masyarakat pada Minggu (15/11/2020) di Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bupati TTU Ray Fernandez datang menemui masyarakat Kelurahan Sasi pada pukul 23.45 Wita. Masyarakat yang mengetahui kehadiran Ray Fernandez sontak berdiri dan menyambut kedatangan Kepala Daerahnya dengan tarian. Masyarakat yang hadir segera memeluk dan beberapa di antaranya mencium Ray Fernandez.

Ray Fernandez  menyapa masyarakat sembari meminta maaf karena telat datang menemui masyarakat. Ia menjelaskan alasan keterlambatannya lantaran baru selesai bertemu masyarakat di Eban dalam urusan mendistribusikan air bersih dari mata air Mutis kepada masyarakat di Kota Kefamenanu.

Dalam penyampaiannya, Ray Fernandez menyebut Kelurahan Sasi mengalami perubahan yang sangat pesat. Pembangunan jalan raya di Kelurahan Sasi tersisa tiga gang yang belum selesai. Ia berharap agar dapat diselesaikan sebelum masa kepemimpinannya berakhir.

Dalam kaitannya dengan masalah air bersih, Ray Fernandez menjelaskan kondisi banyak sumber mata air yang kering akibat panas berkepanjangan.

“Yah, Sasi ini juga masih kesulitan air bersih. Kita memahami betul kondisi yang dialami di Kabupaten Timor Tengah Utara terutama di dalam Kota Kefamenanu ini kondisinya sangat ekstrim karena panas dan banyak sumber air yang kering. Kami sedang berjuang untuk mengatasinya. Tadi saya ke Eban juga dalam kaitannya dengan masalah ini. Kami sudah sepakati bahwa hari Kamis kami akan naik ke sumber air Mutis untuk kita lakukan ritual sebagai adat dan budaya orang Timor yang istilahnya ta’kuli ma ta’nak he tulu hit nekak ma ansaok supaya air mengalir turun ke Kota Kefamenanu ini secara lancar,” ujarnya disambut tepuk tangan masyarakat.

Ray Fernandes juga menjelaskan debit air yang keluar memang sangat berkurang sehingga diupayakan untuk menemukan solusi untuk mengatasi masalah air bersih di Kabupaten Timor Tengah Utara.

“Memang debit air di Oelnianin turun dari sana kita masih bawa 80 liter per detik. Lalu melewati kampung-kampung di sekitar dari Mutis sampai ke Kefa ada sebagian desa yang belum terlayani air bersih dari Mutis. Karena belum terlayani dan mereka haus maka pipa itu mereka bor. Sehingga air tertinggal di sepanjang kampung yang ada di sana. Saya tidak mungkin marah karena orang haus dan hanya dengar air mengalir lewat pipa lalu dia mati kehausan. Saya tidak mungkin marah karena itu adalah tanggung jawap Pemerintah Daerah TTU untuk menyiapkan air bersih bagi mereka. Sehingga kita sepakat untuk membagikan pipa berukuran 4 dim kepada masyarakat yang belum terlayani air bersih. Terutama mereka yang ada di Desa Eban itu dulu mereka yang pikul pipa untuk naik ke mata air Oelnianin. Jadi kalau mereka yang pikul dan kemudian mereka mati kehausan tentunya kita tidak sampai hati. Oleh karena itu tadi kami di Eban bersama dengan Pak Camat menyiapkan untuk hari Kamis kita lihat di sana,” jelas Ray Fernandez.

Ray Fernandez juga mengatakan, “ada satu sumber air lagi yang namanya Oel Sensene itu debitnya lebih besar. Setelah kita ukur ternyata debitnya 225 liter per detik. Memang debitnya besar tapi kita butuh anggaran yang besar untuk itu. Karena kalau kita mau bawa dari sana turun ke sini kita butuh 300 sampai 400 miliar rupiah. Oleh karena itu, ini secara bertahap kami memikirkan untuk jangka panjangnya. Ada juga satu sumber air di belakang gunung Miomaffo. Itu debitnya sekitar 48 liter per detik. Ini yang kami upayakan untuk melihat seluruh potensi sumber air yang ada. Karena di luar itu sumber airnya kering. Sehingga kita upayakan untuk melihat ini dan membawanya turun dari sana ke Kota Kefa.”

Dalam perencanaannya, air bersih dari Mutis akan dibawa sambai ke Ponu tetapi dalam rencana jangka panjang akan ada pembuatan bendungan yang cukup besar di Ponu yang menjangkau sampai ke Wini.

“Dalam desainnya kita rencanakan sampai ke Ponu. Tetapi karena Ponu itu tahun depan akan dibangun bendungan yang dalam hitungan teknisnya 28 juta meter kubik. Tapi itu baru akan dimulai pada tahun depan. Itu sudah kami usulkan 10 tahun yang lalu dan baru dijawab tahun ini. Tim tekniknya sudah datang dan sementara melakukan penelitian terhadap kualitas tanahnya. Kita harapkan supaya tahun depan bisa selesai. Bendungan membutuhkan anggaran yang cukup besar dan ini dibiayai oleh Negara sebesar 1,4 triliun. Jangkauannya bakal sampai ke Wini,” jelas suami dari Calon Bupati TTU Kristiana Muki.

Lebih lanjut Ray Fernandez juga menjelaskan solusinya sebagai Kepala Daerah TTU untuk mengatasi masalah air bersih dalam jangka pendek.

“Tadi itu rencana jangka panjang. Tapi pertanyaannya dalam jangka pendek ini kami mau minum apa? Oleh sebab itu, solusi yang akan kami lakukan adalah kita akan bor air di tiap desa atau kelurahan itu 2 sampai 3 titik sumur bor untuk kemudian kita distribusikan ke masyarakat. Sehingga melalui APBD Kabupaten kita usulkan untuk tahun depan itu setiap kelurahan dibuat 3 sumur bor untuk kepentingan air bersih di Kota Kefamenanu ini. Saya ada minta teman-teman di Bapeda untuk kita bersidang dan alokasikan itu. Sedangkan untuk desa-desa di luar itu saya instruksikan untuk mereka yang mendapat dana desa supaya prioritaskan air bersih. Hentikan dulu bangun jalan karena kalau kita jalannya bagus tetapi mati karena haus berarti itu kita tidak memiliki perencanaan yang baik. Sehingga kita hentikan dulu pembangunan jalan, rumah, dan gedung kantor untuk kita fokuskan ke masalah air bersih. Dan mengenai itu instruksi Bupati sudah keluar untuk semua desa dalam menyusun APBDes di tahun 2021 mendatang. Kecuali di 22 eks kelurahan yang sampai saat ini belum mendapat kode desa,” tegas Bupati TTU Ray Fernandez.

Baca Juga:  Kampanye di Kecamatan Naibenu, Paket KITA SEHATI akan Atasi Masalah Air di TTU

Mengenai 22 eks kelurahan yang belum mendapat kode desa, Ray Fernandez menjelaskan bahwa semua persyaratan telah dipenuhi. Yang tersisa hanyalah kode kelurahan pada saat itu yang belum ditemukan dalam arsip Pemerintah Daerah. Sejauh ini masih berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT yang menetapkan kelurahan-kelurahan tersebut. Ia juga meminta jadwal kepada Kemendagri dalam hal ini Direktorat Bina Desa untuk tanggal 14 Desember 2020 dapat presentasi yang kedua terkait pembuktian dokumen-dokumen kelurahan tersebut. Sehingga pada tahun 2021 kode desanya dapat diberikan sehingga dalam APBNP 22 desa tersebut boleh memperoleh dana desa.

Melihat keamanan Kota Kefamenanu yang sudah sangat kondusif, Ray Fernandez juga berterima kasih kepada semua masyarakat Kota Kefamenanu karena sudah membantu Pemerintah Daerah dalam menjaga Kamtibmas dengan baik.

“Kefa ini dulu terkenal dengan tawuran atau perkelahian antar kampung. Tetapi di masa saya menjadi Bupati sudah tidak ada lagi perkelahian. Saya harus berterima kasih kepada bapak dan mama semua yang begitu ikhlas dan tulus untuk tidak lagi berkelahi. Dunia sekarang ini tidak lagi yang namanya keributan tetapi sekarang ini tentang bagaimana kita harus kerja dan kerja. Dengan tidak ribut, Kamtibmas-nya aman maka perusahaan dapat berjalan lancar. Kios-kios sudah 24 jam dibuka dan kita tidak lagi kesulitan mencari kios untuk belanja tengah malam. Ini juga menunjukkan bahwa geliat ekonomi di Kota Kefamenanu ini sudah sangat baik. Sehingga survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia menunjukkan keadaan ekonomi di Kefamenanu ini sudah sangat meningkat. Kita harus bangga karena kita sudah lebih jauh meninggalkan Atambua. Kita di sini kehidupan malam jauh lebih baik bahwa orang lebih berorientasi kepada usaha membuka warung hingga larut malam. Itu menunjukkan bahwa usaha kita dalam membangun Kota Kefa ini menunjukkan trend positif,” ujar Ray Fernandez.

Kemudian Ray Fernandez juga menyinggung soal komentar-komentar miring yang dihembuskan segelintir orang di media sosial yang mengatakan bahwa ia sama sekali tidak bekerja untuk Kabupaten TTU.

“Banyak orang mengatakan di media sosial bahwa selama ini saya tidak berbuat apa-apa tetapi bukti menunjukkan kepada kita pembangunan jalan di kota ini yang jumlahnya ada 9 kelurahan tersisa sedikit saja. Tahun ini kalau tidak ada Covid-19 maka semua jalan di dalam kota ini pasti selesai. Tetapi kemarin kami batalkan anggaran untuk jalan dalam kota ini sebesar 24 miliar rupiah. Saya juga mengajak kita untuk tidak usah takut dengan penyakit ini. Fakta membuktikan bahwa daya tahan tubuh kita kuat. Tiga tahun lalu ada seorang mama dalam keadaan sakit berjalan dari Oenenu ke rumah sakit untuk mendapat pelayanan operasi. Setelah diperiksa ternyata Hb-nya hanya 2. Bayangkan Hb 2 dan masih bisa jalan sampai ke Rumah Sakit Umum. Kalau di Jawa, Hb 8 saja sudah meninggal. Kemudian dokter spesialis dari Australia heran dengan fakta ini. Tetapi saya bilang ke beliau bahwa kami di Timor ini sudah kuat sejak dalam kandungan. Setelah lahir juga kami hanya makan jagung sehingga tidak heran kalau kami kuat,” ucapnya.

Bupati TTU dua periode ini juga menjelaskan kebiasaan orang Timor dalam makan sirih pinang yang tidak dijadikan sebagai sebuah peluang untuk meraup keuntungan.

“Kita tidak boleh bangga bahwa karena kita kuat lalu kita hanya makan satu atau dua kali sehari. Hal itu juga dilihat sebagai sebuah nilai kesejahteraan. Bahwa orang kalau sejahtera itu makan sehari 3 kali. Tetapi dalam kebiasaan kita, pagi-pagi hanya makan sirih pinang. Kita tidak pilih untuk makan ubi kayu atau makan nasi. Setelah saya hitung pengeluaran rumah tangga itu lebih banyak untuk sirih dan pinang dan melebihi pengeluaran untuk beli beras. Kalau diberi pilihan untuk beli beras atau sirih pinang pasti ia akan cenderung beli sirih dengan pinang dibanding beras. Ini merupakan masalah sekaligus peluang. Kenapa kita tidak tanam sirih dan pinang? Pasarnya sudah jelas, tetapi kita lebih memilih untuk beli pinang dari Alor, Sumatera dan Jawa. Uang yang sedikit ini kita kirim lagi keluar sehingga perputaran uang di sini semakin sedikit. Tetapi kalau kita menanam pinang untuk kebutuhan kita sendiri maka kita tidak perlu kasih keluar uang untuk beli lagi. Pengalaman saya selama 10 tahun memimpin TTU, saya sudah membagikan 518 ribu anakan pinang. Saya daftar nama-nama yang ambil, tetapi pada saat saya ke desa dan tanya mereka bilang sudah mati semua. Berarti ini juga ada masalah bahwa kita belum memahami cara menanam yang baik. Kita hanya gali lubang lalu tanam dan biarkan dia sendiri tumbuh. Kita tidak ada usaha untuk menyiramnya dan menaburkan pupuk. Hal ini yang harus kita tinggalkan sebagai kebiasaan yang tidak tepat. Saya tidak mungkin lagi melanjutkan ini karena saya akan berakhir di tahun depan Bulan Februari, tetapi saya berharap Bupati TTU berikutnya dapat melanjutkan yang ini. Karena pengeluaran untuk pinang saja sangat besar. Penduduk TTU ini ada 278 ribu dan kalau yang sirih pinang 100 ribu orang maka dalam satu hari dia hanya mengeluarkan 10 ribu rupiah saja maka sehari kita mengeluarkan 1 miliar rupiah untuk pinang. Itu peluang yang sangat besar tetapi kita tidak lihat ini sebagai peluang pasar. Jadi ini orang kota harus menangkap ini. Bayangkan 1 miliar rupiah setiap hari maka sebulan itu 30 miliar rupiah. Lalu satu tahun itu kita kasih keluar uang 360 miliar rupiah kita kirim keluar dari TTU. Kenapa kita tidak melihat ini sebagai peluang?,” jelasnya sambil tersenyum.

Baca Juga:  Masyarakat Desa Usapinonot Terima Bantuan Sapi dari Kementerian Pertanian

Kemudian Ketua DPW Partai Nasdem NTT ini juga mengingatkan masyarakat bahwa segala perubahan itu harus dimulai dari pribadi masing-masing. Bahwa orang lain itu hanya menjadi cermin untuk mengintrospeksi diri sendiri. Apabila perubahan itu harus menunggu orang lain untuk merubahnya maka pribadi hanya akan monoton tanpa perubahan.

“Satu yang akan bapak mama rasakan dalam 20 tahun mendatang bahwa kita akan menjadi tamu di rumah kita sendiri. Saya punya kecemasan untuk 20 tahun mendatang bahwa orang yang datang dari luar TTU itu akan memilih semangat berjuang yang lebih tinggi dibandingkan dengan kita. Dia datang tidak memiliki asset tetapi memiliki kemauan untuk bekerja dan kemudian dia punya uang untuk beli tanah. Sehingga kalau kita lihat bangunan bagus yang ada dalam Kota ternyata itu sebagian besar orang dari luar TTU. Saya pikir itu ancaman yang cukup serius kalau kita yang ada di sini tetap dengan pola pikir kita yang seperti ini bahwa kita akan tenggelam di kampung kita sendiri. Ini tugas kita semua untuk berpikir tentang ini supaya kemudian jangan sampai kita bergeser dan tinggal di atas gunung. Orang dari luar datang dengan semangat bahwa mereka harus sukses dan kerja apa saja untuk mewujudkan itu. Dia tidak malu untuk kerja tetapi kita malu. Kita hanya sebatas tanam pisang lalu jual untuk kemudian beli kue moleng. Ini masalah besar bahwa tugas Bupati berikutnya harus memperhatikan ini sehingga jangan sampai kita menjadi tamu di rumah sendiri,” ujarnya berapi-api.

Ray Fernandez juga mengingatkan masyarakat untuk punya mimpi akan tetapi mimpi yang harus ada pijakannya sehingga dapat digapai suatu kelak.

“Jangan terlalu bermimpi untuk naik sampai ke bulan. Bermimpi itu penting tetapi kalau pijakannya kalau belum kuat maka jangan terlalu bermimpi untuk sampai ke bulan. Sekarang kan banyak orang yang omong di mana-mana bahwa nanti akan buat segala macam hal. Saya hanya bilang nanti kau masuk dulu baru kau tahu betapa sulitnya. Saya dulu juga sangat idealis. Di DPRD itu saya sangat idealis. Tawar saya ini itu saya tolak, tetapi begitu saya masuk baru saya paham betapa sulitnya mengurus ini barang. Dengan segala keterbatasan sumber daya kita, baik itu sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun sumber daya fiskal kita, maka bagaimana kita meramunya untuk kemudian melengkapi kekurangan yang ada. Kita belum keluar dari yang namanya kebutuhan dasar. Tetapi kita bersyukur bahwa dengan perjuangan kita maka angka kemiskinan kita hanya 22,45 persen pada tahun 2019,” ucapnya bangga.

Dalam sesi dialog, Nabuasa selaku RT di Kelurahan Benpasi yang hadir sebagai peserta dialog mengusulkan, “kalau tidak salah bulan Februari 2021 masa kepemimpinan Bapak sudah berakhir dan jalan raya sudah Bapak berikan untuk kami, tetapi kami mohon supaya berikan lagi tiang listrik supaya kami juga bisa punya listrik. Terima kasih.”

Baca Juga:  TTU Butuh Pemimpin yang Merakyat dengan Tradisi Sirih Pinang

Selanjutnya, mama Yanti ketika diberikan kesempatan bertanya mengatakan, “kami punya sumur bor ini sudah pernah dijanjikan untuk diganti pemakaian generatornya menjadi meteran. Lalu tahun 2018 yang lalu bapak minta kami untuk menghibahkan tanah untuk anak sehingga pembuatan rumah itu jelas. Jadi saya mau tanya nanti itu rumah dilanjutkan lagi atau bagaimana Bapak?.”

Menanggapi semua usulan dan pertanyaan yang dilontarkan masyarakat, Ray Fernandez segera menjawabnya dengan semangat sambil meminta izin beberapa menit untuk menjawab pertanyaan mengingat waktu sudah menunjukkan malam kian larut.

“Baik terima kasih mama. Saya langsung saja yah. Jadi untuk sumur bor, waktu itu saya tunggu kesepakatan dari warga untuk menggantinya atau tidak. Tetapi saya tunggu sampai detik ini juga tidak ada yang datang sampaikan ke saya. Kami ubah itu untuk tidak menggunakan mesin diesel tetapi menggunakan meteran listrik. Tetapi kalau mama minta untuk ganti, maka besok saya ganti. Saya akan bawa PLN untuk datang ganti. Jadi besok jam 8 saya datang bersama PLN untuk ganti dan nanti saya yang bayar. Kemudian gensetnya akan saya ambil sebagai inventaris daerah. Itu nanti saya akan amankan supaya kemudian saya laporkan ke provinsi karena ini sumur bor dari provinsi. Kemudian untuk perumahan itu Sasi juga belum dapat. Sehingga tahun depan itu adalah tahun terakhir untuk saya maka saya pastikan Sasi juga dapat. Jadi nanti kita akan alokasikan tetapi yang paling penting bahwa tanah itu tidak bermasalah,” urainya disambut tepuk tangan meriah.

Selanjutnya Ray Fernandez menjelaskan mengenai tiang listrik bahwa di Kabupaten TTU ini masih terdapat 2 desa dan 22 dusun yang belum mendapat listrik. Sehingga akan diusahakan sehingga tahun 2021 itu semua dipastikan bakal mendapat listrik.

“Besok itu saya akan menjawab surat dari PLN Kupang untuk wilayah desa dan dusun yang belum ada aliran listrik. Besok pagi saya akan tanda tangan dan kirim ke PLN dan dipastikan tahun 2021 semua bakal dipasangkan listrik. Sebelum saya dilantik, desa di TTU hanya 45 desa yang memiliki listrik. Tetapi puji Tuhan setelah 10 tahun memimpin, sekarang tersisa 22 dusun dan 2 desa. Saya berusaha supaya di akhir masa jabatan saya ini, 2 desa selesai dan 22 dusun selesai dipasangkan listrik. Sehingga bupati baru nanti tidak lagi mengurus pasang listrik tetapi berpikir bagaimana memanfaatkan listrik untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Sehingga kalau ada yang bilang nanti dia mau buat baru itu saya mau bilang itu ibarat kita sementara dalam perjalanan ke Kupang dan kita sudah di Soe. Kalau dia jadi bupati dan ulang lagi dari Kefa, maka kapan kita sampai ke Kupang. Maka kalau mau lebih cepat sampai ke Kupang maka perlu dilanjutkan bukan mengulang lagi. Saya juga melanjutkan apa yang telah diletakkan di masa kepemimpinan Bapak Gabriel Manek dan saya. Begitu juga bupati-bupati terdahulu. Jadi jangan pakai konsep bilang kita mau ulang, nanti kita hanya bermain di tempat saja. Dan kalau mau start lagi dari nol itu artinya dia tidak mengerti sistem pemerintahan,” tandasnya sambil tersenyum simpul.

Menegaskan terkait tenaga kontrak daerah, Ray Fernandes membeberkan alasan-alasan terkait lambatnya pembayaran gaji tenaga kontrak.

“Terkait pembayaran gaji tenaga kontrak daerah, saya mau sampaikan kepada bapak dan mama bahwa minggu depan itu semua bakal diselesaikan untuk semua boleh terima gajinya. Kenapa lambat bapak dan mama sekalian? Karena ada yang lapor saya ke BPK dan ada yang lapor saya ke Kejaksaan. Mereka lapor saya ke BPK dan kemudian sesuai pemeriksaan BPK itu ada beberapa kesalahan administratif. Saya harus jujur kepada bapak mama semua karena ada adik-adik yang menerima dobel. Dia terima dari dana BOS dan terima lagi dari APBD Kabupaten. Kita harus kembalikan 135 juta rupiah dan itu sudah dikembalikan semua. Kemudian ada laporan bahwa saya potong gaji kontrak daerah setiap orang itu 5 juta rupiah. Saya tidak marah karena memang zamannya untuk terbuka. Dia mau lapor sampai ke mana pun, silakan. Kita berikan kesempatan kepada kejaksaan untuk memeriksanya dan kemarin Kejaksaan menyampaikan kepada Pemerintah Daerah bahwa pemeriksaan ini tidak bisa dilanjutkan karena tidak terbukti. Karena tidak terbukti itulah baru kami proses di awal November kemarin. Dan puji Tuhan kemarin yang sudah dibagikan untuk seribu orang dan tersisa 712 orang. Sehingga saya pastikan hari kamis itu pasti selesai sehingga jumat itu proses uang dan kirim ke rekening masing-masing,” tutupnya. (Seko/Seko)