Malaka Harus Swasembada Pangan, Kita Makan Nasi Bukan Bawang Merah

oleh -119 views
Pasangan Calon Bupati Malaka, Dr. Simon Nahak, S.H., M.H dan Calon Wakil Bupati Malaka Louise Lucky Taolin, S.Sos.

MALAKA, suluhdesa.com – Pasangan Calon Bupati Malaka, Dr. Simon Nahak, S.H., M.H dan Calon Wakil Bupati Malaka Louise Lucky Taolin, S.Sos, atau yang akrab disapa Kim Taolin dalam setiap penyampaian program kerja Paket SN-KT di setiap titik kampanye selalu menegaskan terkait pemberdayaan komoditi utama yang ada di Kabupaten Malaka dalam bidang pertanian.

Program kerja Paket SN-KT adalah SAKTI (Swasembada pangan, Adat istiadat, Kualitas, Tata kelola dan Infrastruktur). Salah satu program kerja unggulan yang dikampanyekan Paket SN-KT adalah swasembada pangan.

Menurut Simon Nahak, berbicara mengenai pertanian, hal pertama yang diutamakan adalah air. Ketersediaan air adalah prioritas utama sebelum masuk pada teknis pertanian. Untuk itu dirinya berjanji kepada masyarakat Kabupaten Malaka, akan membenahi hal yang pertama adalah air untuk pertanian.

“Ketersediaan air adalah utama dalam bidang pertanian. Tanpa air, pertanian tidak bisa sukses dan berhasil baik. Untuk itu, kami akan utamakan ketersediaan air untuk pertanian dan air bersih untuk kebutuhan hidup kita. Lahan pertanian di Malaka sangat luas dan sangat cocok untuk pertanian, namun masih kekurangan air,” kata Simon Nahak saat berkampanye di Desa Kamanasa, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  Pemkab Malaka Selenggarakan Bupati Malaka Cup U-11

Simon menambahkan, di kabupaten lain, satu tahun 3 kali musim tanam sedangkan Malaka hanya 1 dan 2 kali saja. Itu karena menurutnya kekurangan ketersediaan air untuk mengairi persawahan. Sehingga Simon Nahak dan Kim Taolin berkomitmen, air jadi perhatian utama untuk mendapatkan hasil panen yang berlimpah agar salah program kerja swasembada pangan terjawab.

Selain air, Simon Nahak juga mengupas tuntas tentang komoditi utama Malaka yang wajib dibudidayakan untuk kesejahteraan petani di Malaka. Pengacara kondang Asal Malaka yang berkelana di Pulau Dewata selama puluhan tahun itu sebut, Padi (beras), Jagung, Singkong adalah komoditi pertanian utama di Malaka. Pasalnya kata Simon, tiga komoditi tersebut yang selama ini dari zaman dahulu kala menjadi hasil pertanian yang sudah terkenal.

Baca Juga:  Ikatan Kera Sakti Malaka Bagi Masker Kepada Masyarakat di Kota Betun

“Padi, Jagung dan Singkong adalah komoditi unggulan di Malaka. Pemerintah dalam hal ini harus fokus mendatangkan dan memberdayakan anak-anak asli putera daerah yang memiliki ilmu pertanian untuk mendampingi para petani kita. Maksud agar petani kita dapat sukses dalam bidang pertanian modern, sehingga swasembada pangan dapat terwujud nyata,” ujar Simon Nahak.

Dosen Hukum itu menyentil program RPM (Revolusi Pertanian Malaka) milik Bupati Petahana Stefanus Bria Seran yang mengungguli komoditi Bawang Merah menjadi primadona di Malaka.

“Bawang Merah tidak cocok dikembangkan di tanah Malaka. Harusnya Padi, Jagung dan Singkong yang wajib diprioritaskan. Alasanya sederhana, makanan pokok kita itu beras, bukan Bawang Merah,” kata Simon Nahak.

“Karena yang bikin kita kenyang itu nasi, bukan bawang merah,” tambah Simon Nahak.

Di akhir orasi politiknya, Simon Nahak berjanji akan membuatkan brand beras lokal Malaka. Visi Simon Nahak adalah mengangkat komoditi Malaka agar ada nilai jual yang tinggi di luar daerah Malaka. Hal ini menurut Simon Nahak akan menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) jika brand beras itu ada.

Baca Juga:  Ketua ARAKSI: Terkait Laporan Stefanus Matutina ke Polisi, Saya Siap Hadir dan Didampingi 23 Kuasa Hukum

“Kita akan jual Beras Nona Malaka. Kita bikin brandnya, kita kemas yang bagus, lalu kita jual di luar Malaka. Kita jual Beras, bukan jual Bawang Merah,” imbuh Simon Nahak.

Hal senada disampaikan Calon wakil Bupati Kim Taolin, ketika menyampaikan orasi politiknya di Desa Kamanasa. Bahwa menurutnya, Desa Kamanasa merupakan desa yang memiliki luasan lahan basah yang sangat cocok untuk tanaman padi dan tanaman hortikultura lainnya.

Menurut Kim Taolin, untuk areal persawahan, masalah paling vital adalah ketersediaan air. Sehingga perlu diatasi dengan meminta pendapat orang-orang yang mempunyai keahlian di bidang pengairan.

“Kalau kita punya orang-orang yang punya keahlian di bidang pengairan, maka kebutuhan air bagi tanaman akan teratasi dan kita akan sama dengan daerah lain yang setiap tahun 3 kali musim tanam, bukan seperti saat ini, hanya maksimal 2 kali tanam,” pungkasnya. (fecos/tim)